PKJ
Marilah, Pujilah Allah
Come, O Come, Let Us Praise/Lyjakle Taura P'ya
Informasi Lagu
24
Nomor
Kode
PKJ 24
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
Tradisional Myanmar
Pencipta Syair
University Christian Fellowship, Myanmar
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Marilah, pujilah Allah, Bapa Maha kuasa,
Khalik semesta, Maha kuasa, Khalik semesta.
Marilah, pujilah Kristus Yesus, Maha kasih,
Raja dunia, Maha kasih, Raja dunia.
Marilah, pujilah Roh Penghibur, Maha suci,
Sumber kurnia, Maha suci, Sumber kurnia.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sama Tema
Puji-pujian dan Pembukaan Ibadah
Abadi Tak Nampak
PKJ
Mulia, Mulia NamaNya
PKJ
Ajaib NamaNya
PKJ
Angkatlah Hatimu Pada Tuhan
PKJ
Bersoraklah dan Puji Tuhan
PKJ
Bersoraklah, Hai Alam Semesta
PKJ
Bersyukurlah Pada Tuhan
PKJ
Bukalah Gapura Indah
PKJ
Dengan Malaikat, Angkatlah
PKJ
Dengan Semarak Majulah
PKJ
Inilah Hari Minggu
PKJ
Kami Muliakan NamaMu
PKJ
Kita Masuk RumahNya
PKJ
Kunyanyikan Kasih Setia Tuhan
PKJ
Kusiapkan Hatiku, Tuhan
PKJ
Mari, Kawan-Kawan, Nyanyi Gembira
PKJ
Mari Kita Puji
PKJ
Mari Masuk ke RumahNya
PKJ
Mari Sembah
PKJ
Mari Semua, Mari Sembah Tuhan
PKJ
Mari Semua, Kini Bernyanyilah
PKJ
Marilah Kita Siapkan Hati Kita
PKJ
Marilah Memuji
PKJ
Muliakan Nama Tuhan
PKJ
Nyanyikanlah Haleluya
PKJ
Nyanyikanlah Nyanyian Baru
PKJ
Nyanyikan Tuhanmu Haleluya
PKJ
Patut Segenap yang Ada
PKJ
Puji Tuhan Allah
PKJ
Puji Tuhan, Pujilah NamaNya
PKJ
Puji Tuhan, Pujilah NamaNya
PKJ
Pujilah Allah, Pujilah
PKJ
Soraklah, Hai UmatNya
PKJ
Suci, Suci, Suci
PKJ
Yesus, Raja Damai
PKJ
Sejarah Lagu
Lagu **"Marilah, Pujilah Allah"** (dalam bahasa aslinya dikenal sebagai **"Lyjakle Taura P’ya"**) adalah sebuah kidung yang memiliki akar sejarah yang kuat dalam perkembangan Kekristenan di Myanmar (dulu Burma), khususnya di kalangan suku **Kachin**.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Konteks Budaya dan Asal Usul (Suku Kachin)
Lagu ini berasal dari tradisi suku Kachin, kelompok etnis yang mendiami wilayah utara Myanmar (Negara Bagian Kachin). Kekristenan masuk ke wilayah ini melalui misionaris baptis Amerika, **Adoniram Judson** (yang tiba di Burma tahun 1813) dan kemudian secara intensif dikembangkan oleh **Ola Hanson**, seorang misionaris asal Swedia yang bekerja di bawah naungan *American Baptist Missionary Union*.
Ola Hanson adalah tokoh kunci yang tidak hanya menginjili suku Kachin, tetapi juga menyusun sistem penulisan bahasa Kachin (Jingpho) serta menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa tersebut. Lagu "Lyjakle Taura P’ya" lahir dari lingkungan komunitas Kristen Kachin yang sedang berkembang pesat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
### 2. Makna "Lyjakle Taura P’ya"
Dalam bahasa Jingpho (bahasa utama suku Kachin), lagu ini secara harfiah adalah ajakan untuk memuji Tuhan.
* **Lyjakle:** Mengacu pada Tuhan, Sang Pencipta, atau Yang Mahatinggi.
* **Taura P’ya:** Berarti memuji, memuliakan, atau mengangkat suara untuk kebesaran-Nya.
Lagu ini bukan sekadar nyanyian liturgis, melainkan cerminan dari semangat orang-orang Kachin yang beralih dari kepercayaan animisme tradisional menuju iman Kristen. Lagu ini menjadi simbol "identitas baru" mereka sebagai umat Tuhan.
### 3. Peran University Christian Fellowship (UCF) Myanmar
Meskipun lagu ini berakar dari tradisi rakyat Kachin, popularitasnya di tingkat nasional Myanmar dan internasional dipopulerkan oleh **University Christian Fellowship (UCF)**.
Di Myanmar, UCF memainkan peran vital sebagai wadah bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang etnis (Kachin, Karen, Chin, Burman, dll.) untuk bersatu dalam iman. Lagu ini sering dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan mahasiswa lintas budaya. UCF mengaransemen ulang lagu ini agar bisa dinyanyikan secara paduan suara (*choral*) sehingga melintasi batas-batas bahasa kesukuan.
Melalui UCF, lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris (*"Come, O Come, Let Us Praise"*) dan bahasa Indonesia, sehingga menjadi bagian dari repertoar nyanyian gerejawi di berbagai negara.
### 4. Karakteristik Musik
Secara musikal, lagu ini memiliki karakteristik khas musik Asia Tenggara yang bersifat **pentatonik**. Jika Anda mendengarkan melodi aslinya, terasa nuansa kegembiraan yang sederhana namun megah. Struktur lagunya sangat lugas, menekankan pada ajakan kolektif (komunal). Hal ini mencerminkan budaya komunal masyarakat Myanmar yang sangat kuat, di mana ibadah bukan hanya urusan individu, melainkan perayaan seluruh komunitas.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Ada tiga alasan utama mengapa lagu ini sangat dihormati:
1. **Ketahanan Iman:** Suku Kachin di Myanmar telah mengalami sejarah panjang konflik dan penindasan. Lagu ini menjadi "lagu kebangsaan rohani" yang membangkitkan harapan di tengah penderitaan.
2. **Integritas Budaya:** Lagu ini membuktikan bahwa Kekristenan di Myanmar tidak menghilangkan budaya asli, melainkan mengkristenkan musik dan bahasa lokal, sehingga terasa sangat dekat di hati masyarakatnya.
3. **Persatuan:** Karena dipopulerkan melalui gerakan mahasiswa (UCF), lagu ini menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman etnis di Myanmar yang sering kali terpecah belah oleh konflik politik.
### Kesimpulan
"Marilah, Pujilah Allah" adalah warisan iman dari gereja di Myanmar yang menunjukkan bagaimana sebuah tradisi suku di pegunungan utara dapat bertransformasi menjadi nyanyian yang mampu menyatukan orang dari berbagai bangsa. Lagu ini adalah bukti bahwa Injil dapat berakar dalam budaya lokal, menghasilkan pujian yang jujur, penuh sukacita, dan mampu bertahan melintasi zaman.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Konteks Budaya dan Asal Usul (Suku Kachin)
Lagu ini berasal dari tradisi suku Kachin, kelompok etnis yang mendiami wilayah utara Myanmar (Negara Bagian Kachin). Kekristenan masuk ke wilayah ini melalui misionaris baptis Amerika, **Adoniram Judson** (yang tiba di Burma tahun 1813) dan kemudian secara intensif dikembangkan oleh **Ola Hanson**, seorang misionaris asal Swedia yang bekerja di bawah naungan *American Baptist Missionary Union*.
Ola Hanson adalah tokoh kunci yang tidak hanya menginjili suku Kachin, tetapi juga menyusun sistem penulisan bahasa Kachin (Jingpho) serta menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa tersebut. Lagu "Lyjakle Taura P’ya" lahir dari lingkungan komunitas Kristen Kachin yang sedang berkembang pesat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
### 2. Makna "Lyjakle Taura P’ya"
Dalam bahasa Jingpho (bahasa utama suku Kachin), lagu ini secara harfiah adalah ajakan untuk memuji Tuhan.
* **Lyjakle:** Mengacu pada Tuhan, Sang Pencipta, atau Yang Mahatinggi.
* **Taura P’ya:** Berarti memuji, memuliakan, atau mengangkat suara untuk kebesaran-Nya.
Lagu ini bukan sekadar nyanyian liturgis, melainkan cerminan dari semangat orang-orang Kachin yang beralih dari kepercayaan animisme tradisional menuju iman Kristen. Lagu ini menjadi simbol "identitas baru" mereka sebagai umat Tuhan.
### 3. Peran University Christian Fellowship (UCF) Myanmar
Meskipun lagu ini berakar dari tradisi rakyat Kachin, popularitasnya di tingkat nasional Myanmar dan internasional dipopulerkan oleh **University Christian Fellowship (UCF)**.
Di Myanmar, UCF memainkan peran vital sebagai wadah bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang etnis (Kachin, Karen, Chin, Burman, dll.) untuk bersatu dalam iman. Lagu ini sering dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan mahasiswa lintas budaya. UCF mengaransemen ulang lagu ini agar bisa dinyanyikan secara paduan suara (*choral*) sehingga melintasi batas-batas bahasa kesukuan.
Melalui UCF, lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris (*"Come, O Come, Let Us Praise"*) dan bahasa Indonesia, sehingga menjadi bagian dari repertoar nyanyian gerejawi di berbagai negara.
### 4. Karakteristik Musik
Secara musikal, lagu ini memiliki karakteristik khas musik Asia Tenggara yang bersifat **pentatonik**. Jika Anda mendengarkan melodi aslinya, terasa nuansa kegembiraan yang sederhana namun megah. Struktur lagunya sangat lugas, menekankan pada ajakan kolektif (komunal). Hal ini mencerminkan budaya komunal masyarakat Myanmar yang sangat kuat, di mana ibadah bukan hanya urusan individu, melainkan perayaan seluruh komunitas.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Ada tiga alasan utama mengapa lagu ini sangat dihormati:
1. **Ketahanan Iman:** Suku Kachin di Myanmar telah mengalami sejarah panjang konflik dan penindasan. Lagu ini menjadi "lagu kebangsaan rohani" yang membangkitkan harapan di tengah penderitaan.
2. **Integritas Budaya:** Lagu ini membuktikan bahwa Kekristenan di Myanmar tidak menghilangkan budaya asli, melainkan mengkristenkan musik dan bahasa lokal, sehingga terasa sangat dekat di hati masyarakatnya.
3. **Persatuan:** Karena dipopulerkan melalui gerakan mahasiswa (UCF), lagu ini menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman etnis di Myanmar yang sering kali terpecah belah oleh konflik politik.
### Kesimpulan
"Marilah, Pujilah Allah" adalah warisan iman dari gereja di Myanmar yang menunjukkan bagaimana sebuah tradisi suku di pegunungan utara dapat bertransformasi menjadi nyanyian yang mampu menyatukan orang dari berbagai bangsa. Lagu ini adalah bukti bahwa Injil dapat berakar dalam budaya lokal, menghasilkan pujian yang jujur, penuh sukacita, dan mampu bertahan melintasi zaman.