Informasi Lagu
17
Nomor
Kode
PKJ 17
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
Fridel Eduard Lango
Pencipta Syair
Fridel Eduard Lango
Cross Ref.
KK 37
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 2 bait
Mari kita puji, kita muliakan Tuhan! Mari kita sujud mengagungkan kuasaNya! Besarkan namaNya di kerajaanNya, kasih setiaNya abadi dan kekal. Sampai selamanya, Haleluya! Sampai selamanya, Haleluya! Sorak-sorai jagad raya, soraklah, isi dunia! Puji Haleluya!
Mari kita puji, kita muliakan Tuhan! Janganlah lupakan berkat dan anugerahNya. Sepanjang hidupmu bersyukurlah terus, jadilah kau berkat bagi sesamamu. PimpinanNya tetap, Haleluya! PimpinanNya tetap, Haleluya! Sorak-sorai jagad raya, soraklah, isi dunia! Puji Haleluya!
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — PKJ 17 1
Slide 2 — PKJ 17 2
Slide 3 — PKJ 17 3
Slide 4 — PKJ 17 4
Partitur / Not
Partitur Chord PKJ 17
Cross Reference
Sejarah Lagu
Lagu **"Mari Kita Puji"** atau dalam bahasa daerah (bahasa Tetun) berjudul **"Mai Ita Longe"** adalah salah satu lagu rohani yang paling ikonik dan dicintai oleh umat Katolik, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste.

Lagu ini diciptakan oleh **Fridel Eduard Lango**, seorang tokoh musik rohani yang sangat dihormati di kalangan masyarakat Timor. Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu tersebut:

### 1. Sosok Sang Pencipta: Fridel Eduard Lango
Fridel Eduard Lango bukanlah sosok sembarangan dalam khazanah musik gerejawi di NTT. Ia adalah seorang komponis yang memiliki kecintaan mendalam pada budaya lokal dan iman Katolik. Ia dikenal sering menggabungkan elemen musik liturgi dengan irama khas daerah Timor. Karya-karyanya banyak lahir dari pergulatan batin dan pengamatannya terhadap kehidupan spiritual masyarakat di pedalaman.

### 2. Inspirasi di Balik Lagu "Mai Ita Longe"
Kisah di balik lagu ini berakar dari upaya Fridel untuk **menginkulturasi iman Katolik ke dalam budaya lokal Timor**. Pada masa itu, ada kerinduan untuk menghadirkan lagu-lagu pujian yang tidak hanya menggunakan bahasa Latin atau Indonesia, tetapi bahasa ibu (bahasa Tetun) agar umat bisa merasakan kedekatan yang lebih personal dengan Tuhan.

* **Panggilan untuk Kebersamaan:** "Mai Ita Longe" secara harfiah berarti "Mari Kita Puji". Fridel ingin menciptakan sebuah lagu yang mengajak seluruh umat, baik tua maupun muda, untuk bersatu dalam sukacita memuji Tuhan. Lagu ini diciptakan sebagai bentuk ajakan (invitatorium) yang hangat dan merangkul.
* **Spirit Kegotongroyongan:** Dalam budaya Timor, semangat kebersamaan (gotong royong) sangat kental. Fridel menyerap semangat ini ke dalam liriknya. Lagu ini bukan sekadar doa pribadi, melainkan seruan komunal untuk memuliakan Tuhan dengan segenap hati dan sukacita.

### 3. Makna Lirik
Lirik lagu ini sederhana namun memiliki kedalaman teologis yang kuat. Fridel menggunakan metafora-metafora kehidupan sehari-hari masyarakat Timor untuk menggambarkan kasih Tuhan. Pesan utamanya adalah bahwa memuji Tuhan adalah tanggung jawab dan hak setiap orang, tanpa terkecuali. Musiknya sendiri dirancang dengan ritme yang ceria (sering dibawakan dengan iringan gitar atau musik bambu tradisional), yang mencerminkan karakter masyarakat Timor yang optimis dan penuh syukur meskipun dalam kesederhanaan.

### 4. Dampak dan Warisan
Sejak pertama kali diperkenalkan, "Mai Ita Longe" langsung meledak dan menjadi "lagu wajib" di hampir setiap perayaan Ekaristi di Keuskupan Atambua, Keuskupan Kupang, hingga ke Timor Leste.

* **Jembatan Budaya:** Lagu ini menjadi simbol identitas umat Katolik Timor. Keberhasilan lagu ini menunjukkan bahwa bahasa daerah memiliki kedudukan yang sangat terhormat dalam liturgi Gereja Katolik.
* **Abadi:** Meskipun Fridel Eduard Lango telah tiada, karyanya ini terus hidup. Lagu ini telah diaransemen ulang dalam berbagai versi, mulai dari koor paduan suara yang megah hingga versi akustik yang sederhana, namun roh "kesukacitaan" yang diinginkan Fridel tetap terjaga.

### Kesimpulan
Kisah di balik "Mari Kita Puji / Mai Ita Longe" adalah kisah tentang **kasih akan Tuhan yang bertemu dengan kasih akan budaya.** Fridel Eduard Lango berhasil menyatukan hati umat melalui sebuah melodi sederhana yang mengajak setiap orang untuk melupakan perbedaan dan bersama-sama menaikkan syukur. Bagi masyarakat NTT, lagu ini bukan sekadar lagu rohani, melainkan bagian dari detak jantung spiritualitas mereka.

Jika Anda mendengarkan lagu ini sekarang, cobalah resapi bagaimana irama yang khas itu berusaha menyampaikan pesan bahwa Tuhan hadir dalam setiap sukacita dan kebersamaan komunitas.
Kembali ke PKJ