Informasi Lagu
6
Nomor
Kode
PKJ 6
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Jumlah Bait
2 bait
Style
Cool8Beat
Pencipta Lagu
Robert G. McCutchan
Pencipta Syair
George Herbert
Cross Ref.
KK 10, NKB 5, GB 23
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 2 bait
Bersoraklah, hai alam semesta, Kau Allahku! Di langit bergema pujian yang megah, dan bumi pun penuh pujian yang merdu, Bersoraklah, hai alam semesta, Kau Allahku!
Bersoraklah, hai alam semesta, Kau Rajaku! Gereja bersyukur, bermadah, bermazmur; di hati umatnya pujian menggema. Bersoraklah, hai alam semesta, Kau Rajaku!
Slide Lirik 2 slide
Slide 1 — PKJ 6 1
Slide 2 — PKJ 6 2
Partitur / Not
Partitur Chord PKJ 6
Sejarah Lagu
Kisah detail di balik lagu pujian yang megah dan penuh makna, "Bersoraklah, Hai Alam Semesta / Let All The World In Every Corner Sing." Kisah ini sebenarnya adalah pertemuan indah dari tiga kontributor yang hidup di zaman berbeda, yang karyanya disatukan oleh seorang editor dan ahli himne yang brilian.

Kita akan membagi kisahnya menjadi tiga bagian utama: pencipta lirik (teks), pencipta melodi (nada), dan kemudian orang yang menyatukan serta mempopulerkannya.

---

### Bagian 1: Lirik – George Herbert (Abad ke-17)

**George Herbert (1593-1633)** adalah seorang penyair Inggris dan pendeta Anglikan dari era Metafisika. Ia dikenal karena puisinya yang dalam, penuh refleksi spiritual, dan penggunaan citra yang cerdas serta seringkali mengejutkan. Ia adalah salah satu tokoh kunci dalam tradisi puisi religius Inggris.

1. **Latar Belakang Herbert:**
* Lahir dari keluarga bangsawan Wales yang terpelajar.
* Mendapatkan pendidikan yang sangat baik di Westminster School dan Trinity College, Cambridge.
* Awalnya diharapkan akan mengejar karier di istana atau politik, bahkan menjadi orator publik Universitas Cambridge. Namun, ia merasakan panggilan yang kuat menuju pelayanan gereja.
* Pada tahun 1630, ia ditahbiskan menjadi pendeta di paroki Bemerton, Wiltshire, di mana ia melayani dengan dedikasi tinggi hingga akhir hayatnya yang singkat akibat TBC.

2. **Karyanya yang Agung: *The Temple***
* Sebagian besar puisi Herbert dikumpulkan dalam satu volume berjudul *The Temple: Sacred Poems and Private Ejaculations*, yang diterbitkan secara anumerta pada tahun 1633, tak lama setelah kematiannya.
* Karya ini adalah eksplorasi perjalanan seorang individu dalam mencari Tuhan, perjuangan iman, kegembiraan, keraguan, dan penyerahan diri.
* *The Temple* disusun secara arsitektural, mulai dari "Porch" (serambi), "Church-floor" (lantai gereja), hingga "Altar" dan bagian-bagian lain, mencerminkan struktur gereja sebagai tempat ibadah dan juga jiwa manusia sebagai kuil Tuhan.

3. **Teks "Let All The World In Every Corner Sing":**
* Puisi ini sebenarnya adalah bagian dari sebuah puisi yang lebih panjang berjudul **"Praise (I)"** dalam koleksi *The Temple*.
* Baris pertama dan intinya adalah: "Let all the world in every corner sing / My God and King."
* **Makna dan Tema:**
* **Pujian Universal:** Herbert mengajak seluruh alam semesta—mulai dari yang kecil ("every corner," "small things") hingga yang besar, dari suara manusia hingga ciptaan tak bersuara—untuk bersatu dalam pujian kepada Tuhan.
* **Omnipresensi Tuhan:** Ini mencerminkan keyakinan bahwa Tuhan hadir di mana-mana dan segala sesuatu adalah bukti keagungan-Nya.
* **Panggilan untuk Mengakui:** Herbert mendorong umat manusia untuk tidak hanya mengakui kebesaran Tuhan dalam hal-hal besar, tetapi juga dalam detail-detail terkecil kehidupan dan ciptaan.
* **Sederhana namun Kuat:** Seperti banyak puisinya, "Praise (I)" menggunakan bahasa yang relatif sederhana tetapi membawa kedalaman teologis dan emosional yang luar biasa. Itu adalah seruan yang jelas dan tidak ambigu untuk menyembah Tuhan dengan segala keberadaan.

* Teks Herbert ini, dengan metrumnya yang kuat dan pesan yang jelas, sudah siap untuk dinyanyikan, meskipun pada masanya, ia tidak menuliskan melodi khusus untuknya.

---

### Bagian 2: Melodi – Joseph Haydn (Abad ke-18)

Melodi yang paling umum dipadukan dengan teks Herbert ini adalah nada yang dikenal sebagai **"AUSTRIAN HYMN"** (atau "O DU LIEBER AUGUSTIN," meskipun itu adalah lagu rakyat yang berbeda dengan melodi yang mirip secara struktural). Melodi ini aslinya digubah oleh komposer klasik Austria yang agung:

**Franz Joseph Haydn (1732-1809)** adalah salah satu komponis paling penting dari periode Klasik, sering disebut "Bapak Simfoni" dan "Bapak Kuartet Gesek."

1. **Asal-usul Melodi: Anthem Nasional Austria**
* Melodi yang kini kita kenal sebagai "AUSTRIAN HYMN" bukanlah awalnya diciptakan sebagai lagu pujian gereja.
* Pada tahun 1797, Austria sedang menghadapi ancaman serius dari pasukan Napoleon. Dalam suasana patriotisme yang meningkat, seorang diplomat Austria bernama Gottfried van Swieten menyarankan agar Austria memiliki lagu kebangsaan sendiri, mirip dengan "God Save the King" di Inggris.
* Haydn, yang saat itu sudah menjadi komponis terkenal di seluruh Eropa, menerima tugas ini. Ia terinspirasi oleh lagu kebangsaan Inggris dan juga lagu-lagu rakyat Kroasia dari masa kecilnya.
* Ia menggubah lagu **"Gott erhalte Franz den Kaiser" (God Save Emperor Francis)**, sebuah lagu untuk menghormati Kaisar Franz II. Melodi ini menjadi sangat populer di Austria sebagai lagu kebangsaan.

2. **Karakteristik Melodi:**
* Melodi ini memiliki karakter yang agung, berwibawa, namun juga mudah diingat dan dinyanyikan.
* Strukturnya yang sederhana namun kuat, dengan frase-frase yang berulang dan progresi akor yang harmonis, membuatnya ideal untuk nyanyian massal.
* Haydn sendiri sangat menyukai melodi ini; ia bahkan menggunakannya sebagai tema dalam gerakan kedua Kuartet Gesek Op. 76 No. 3 (dikenal sebagai "Kaisermelodie" atau "Emperor Quartet"). Ia sering memainkannya di piano pada hari-hari terakhir hidupnya.

3. **Transisi ke Hymnody:**
* Karena keindahan, kekuatan, dan kesesuaian metrumnya (Common Meter Double/CMD, metrum yang sama dengan teks Herbert), melodi "Gott erhalte Franz den Kaiser" secara bertahap diadopsi untuk digunakan dengan berbagai teks himne berbahasa Inggris dan Jerman.
* Ini adalah praktik umum dalam sejarah himnologi: melodi yang kuat dan populer sering kali dipinjam dan diadaptasi untuk tujuan ibadah, asalkan metrumnya cocok.

---

### Bagian 3: Sang Editor – Robert Guy McCutchan (Abad ke-20)

Di sinilah peran **Robert Guy McCutchan (1877-1958)** masuk ke dalam cerita. Penting untuk dipahami bahwa McCutchan bukanlah penggubah lirik atau melodi asli dari lagu ini. Perannya lebih sebagai seorang **hymnologist, editor, dan kompilator** ulung yang berperan besar dalam menyatukan, mengatur, dan mempopulerkan kombinasi teks George Herbert dengan melodi Joseph Haydn dalam buku-buku pujian modern.

1. **Latar Belakang McCutchan:**
* Seorang ahli musik gereja, pendidik, dan editor himne asal Amerika Serikat.
* Ia mengabdikan hidupnya untuk studi himnologi, mengedit banyak buku pujian yang berpengaruh.
* Ia adalah Dekan School of Music di DePauw University dari 1911 hingga 1944.
* McCutchan adalah seorang ahli dalam meneliti sejarah himne, mengidentifikasi teks dan melodi terbaik, serta memastikan bahwa aransemennya cocok untuk nyanyian jemaat.

2. **Peran dalam "Let All The World In Every Corner Sing":**
* Sebagai editor himnal, McCutchan bertanggung jawab untuk memilih dan memasangkan teks-teks lirik yang bagus dengan melodi-melodi yang sesuai dan mudah dinyanyikan.
* Ia dikenal sebagai editor utama untuk beberapa himnal Kristen yang penting di Amerika Serikat, termasuk:
* *Methodist Hymnal* (1935)
* *Hymns of the United Church* (1930)
* Dalam himnal-himnal inilah, atau melalui karyanya dalam kompilasi dan standardisasi himne, McCutchan (dan editor himnal lainnya dari era yang sama) mengukuhkan praktik memadukan teks "Let All The World In Every Corner Sing" karya George Herbert dengan melodi "AUSTRIAN HYMN" karya Joseph Haydn.
* Ia mungkin juga membuat penyesuaian aransemen harmonis minor agar sesuai dengan standar nyanyian jemaat pada zamannya, atau memastikan atribusi yang benar kepada Herbert dan Haydn.

3. **Signifikansi McCutchan:**
* Tanpa para editor seperti McCutchan, banyak kombinasi teks dan melodi yang sekarang kita anggap "klasik" mungkin tidak akan pernah mencapai popularitas dan konsistensi seperti saat ini.
* Mereka adalah kurator warisan musik gereja, memastikan bahwa lagu-lagu terbaik dari berbagai zaman disatukan dan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam format yang mudah diakses dan dinyanyikan oleh jemaat.

---

### Kesimpulan: Sebuah Kolaborasi Tak Langsung yang Abadi

Jadi, kisah di balik "Bersoraklah, Hai Alam Semesta / Let All The World In Every Corner Sing" adalah contoh indah dari kolaborasi lintas waktu:

1. **George Herbert** di abad ke-17 memberikan kita lirik yang mendalam dan abadi, sebuah seruan universal untuk memuji Tuhan.
2. **Joseph Haydn** di akhir abad ke-18 menciptakan melodi yang agung dan kuat, awalnya sebagai lagu kebangsaan, yang kemudian terbukti sangat cocok untuk tujuan ibadah.
3. **Robert Guy McCutchan** (dan para editor himnal lainnya) di awal abad ke-20 bertindak sebagai jembatan, dengan bijaksana memilih dan memadukan lirik Herbert dengan melodi Haydn, lalu mempopulerkannya melalui himnal-himnal Kristen yang banyak digunakan.

Hasilnya adalah sebuah lagu pujian yang memadukan kedalaman spiritual, keindahan musikal, dan kemudahan bagi jemaat untuk menyanyikannya, menjadikannya salah satu lagu pujian yang paling dicintai dan sering dinyanyikan di seluruh dunia Kristen. Ini adalah bukti bahwa seni dan iman dapat melintasi waktu dan budaya untuk menginspirasi generasi demi generasi.
Kembali ke PKJ