Informasi Lagu
130
Nomor
Do=D
Nada Dasar
Kode
KK 130
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
Do=D
Ketukan
1 ketuk ketuk
Metronom
72
Jumlah Bait
7 bait
Style
PianoBallad
Pencipta Lagu
Peter Von Brachel (1623)
Pencipta Syair
William Henry Draper (1910)
Penerjemah
Hermanus Arie Pandopo (H.A. Van Dop) (1982)
Cross Ref.
NR 5, KC 124, KPJ 27, KJ 60, BLP 283
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 7 bait
Hai makhluk alam semesta, Tuhan Allahmu pujilah Haleluya, Haleluya! Surya perkasa dan terang, candra kartika cemerlang, puji Allah tiap kala: Haleluya, Haleluya, Haleluya!
Angin yang hebat menderu, awan berarak dan mendung, Haleluya, Haleluya, hawa cuaca yang cerah, musim penghujan marilah, puji Allah tiap kala: Haleluya, Haleluya, Haleluya!
Air yang murni dan jernih, penawar haus, pembersih, Haleluya, Haleluya, api penghangat, penyenang, gagah periang dan terang, puji Allah tiap kala: Haleluya, Haleluya, Haleluya!
Ibu pertiwi mulia, limpah dengan anugerah, Haleluya, Haleluya, bunga dan buah kauberi puspa semarak berseri; puji Allah tiap kala: Haleluya, Haleluya, Haleluya!
Kamu yang tabah bergelut, insan pengampun dan lembut, Haleluya, Haleluya, damai penghias hatimu; mahkota surga bagimu! Puji Allah tiap kala: Haleluya, Haleluya, Haleluya!
Hai maut, kau bersamaku, tiada yang luput darimu. Haleluya, Haleluya! Alangkah berbahagia yang mati dalam Tuhannya! Puji Allah tiap kala: Haleluya, Haleluya, Haleluya!
Hai segenap saudaraku, pujilah Tuhan Allahmu: Haleluya, Haleluya! Abdi berhati mulia, ucapkan syukur pada-Nya! Puji Allah tiap kala: Haleluya, Haleluya, Haleluya!
Slide Lirik 7 slide
Slide 1 — KK 130 1
Slide 2 — KK 130 2
Slide 3 — KK 130 3
Slide 4 — KK 130 4
Slide 5 — KK 130 5
Slide 6 — KK 130 6
Slide 7 — KK 130 7
Partitur / Not
Partitur Chord KK 130
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Hai Makhluk Alam Semesta" atau yang lebih dikenal secara internasional dengan judul "All Creatures of Our God and King" adalah sebuah perjalanan spiritual dan artistik yang melintasi berabad-abad, berawal dari seorang santo yang penuh kasih hingga menjadi salah satu himne yang paling dicintai di dunia. Mari kita selami kisahnya dengan detail.

---

### Bagian 1: Asal Mula — "Canticle of the Sun" (Nyanyian Sang Surya) oleh Santo Fransiskus dari Assisi (Abad ke-13)

Inti dari himne ini berawal dari sebuah mahakarya spiritual yang ditulis pada tahun 1225 oleh **Santo Fransiskus dari Assisi**, yang berjudul asli dalam bahasa Umbria (dialek awal Italia) sebagai **"Cantico delle Creature"** atau **"Laudes Creaturarum"** (Pujian bagi Makhluk Ciptaan), lebih dikenal sebagai **"Canticle of the Sun"** (Nyanyian Sang Surya).

**Konteks Kehidupan Santo Fransiskus:**
Pada masa itu, Fransiskus sudah sangat sakit, menderita glaukoma yang membuatnya hampir buta, dan berbagai penyakit lain yang dideritanya saat melayani orang miskin dan sakit. Ia berada di sebuah gubuk sederhana dekat Biara San Damiano di Assisi, tempat ia dirawat oleh saudari spiritualnya, Santa Klara. Meskipun dalam kondisi fisik yang sangat menyakitkan dan berada di ambang kematian, Fransiskus tidak kehilangan semangatnya. Sebaliknya, ia merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Tuhan dan seluruh ciptaan-Nya.

**Inspirasi dan Penulisan:**
"Canticle of the Sun" ditulis dalam bentuk puisi bebas, tanpa rima yang kaku, dan dimaksudkan untuk dinyanyikan atau dilantunkan. Ini adalah salah satu karya sastra tertua yang diketahui ditulis dalam bahasa Italia, bukan Latin. Puisi ini merupakan ekspresi puji-pujian yang mendalam kepada Tuhan melalui semua ciptaan-Nya – matahari, bulan, bintang-bintang, angin, air, api, bumi, bahkan kematian.

* **Pujian kepada Saudara Matahari:** Ia memuji matahari sebagai "Saudaraku Matahari," yang memberikan terang siang hari dan kehangatan. Ini menunjukkan perspektif unik Fransiskus yang melihat alam bukan hanya sebagai objek ciptaan, tetapi sebagai saudara dan saudari, bagian dari satu keluarga Ilahi.
* **Pujian kepada Saudari Bulan dan Bintang:** Demikian pula, bulan dan bintang dipandang sebagai "Saudariku Bulan" dan "Saudari Bintang."
* **Pujian kepada Elemen Alam:** Angin, awan, udara jernih, air, api – semua dipersonifikasikan dan dipuji sebagai manifestasi kemuliaan Tuhan.
* **Pujian kepada Saudari Ibu Bumi:** Bumi yang menopang kehidupan, menghasilkan buah, bunga, dan rumput.
* **Pujian kepada Mereka yang Mengampuni dan Menanggung Kesulitan:** Bagian ini ditambahkan setelah Fransiskus berhasil mendamaikan dua penguasa kota Assisi yang berselisih. Ini menunjukkan bahwa nyanyian ini tidak hanya tentang alam, tetapi juga tentang hubungan antarmanusia dan pencarian kedamaian.
* **Pujian kepada Saudari Kematian Jasmani:** Ini adalah bagian yang paling luar biasa. Fransiskus, yang sendiri mendekati kematian, menerima "Saudari Kematian Jasmani" sebagai bagian alami dari kehidupan, suatu gerbang menuju kehidupan kekal. Ini menunjukkan tingkat penyerahan dan kepercayaan yang luar biasa.

**Keunikan Pesan:**
"Canticle of the Sun" adalah sebuah ajaran teologis yang mendalam tentang persaudaraan universal – bukan hanya persaudaraan sesama manusia, tetapi persaudaraan dengan seluruh alam semesta. Fransiskus melihat jejak Tuhan dalam setiap elemen ciptaan, mendorong kita untuk melihat keindahan dan kesucian di sekitar kita.

---

### Bagian 2: Transformasi Menjadi Himne Modern — William Henry Draper (Awal Abad ke-20)

Lebih dari 700 tahun kemudian, puisi agung Santo Fransiskus ini diadaptasi ke dalam bahasa Inggris sebagai himne yang kita kenal sekarang.

**William Henry Draper (1855-1933):**
William Henry Draper adalah seorang pendeta Anglikan dan penulis himne asal Inggris. Ia menjabat sebagai Rektor di beberapa paroki dan dikenal karena kecintaannya pada himne dan musik gereja.

**Proses Adaptasi (1919):**
Pada tahun 1919, Draper ditugaskan untuk menulis sebuah himne untuk festival anak-anak di sebuah gereja di Leeds, Inggris. Ia mencari inspirasi yang bisa menyampaikan pesan kegembiraan dan puji-pujian yang sederhana dan dapat dipahami oleh anak-anak. Ia teringat akan "Canticle of the Sun" karya Santo Fransiskus.

Draper kemudian mengambil esensi dari puisi asli Fransiskus, menerjemahkannya, memparafrasakannya, dan menyusunnya menjadi bentuk stanza yang berima dan berirama agar cocok untuk dinyanyikan oleh jemaat. Ia mengambil inti dari setiap pujian kepada elemen alam dan mengubahnya menjadi seruan agar elemen-elemen tersebut, bersama dengan manusia, memuji Tuhan.

**Contoh Perbandingan (Pujian Matahari):**
* **Asli (Fransiskus):** "Terpujilah Engkau, Tuhanku, dengan semua ciptaan-Mu, terutama Saudaraku Matahari, yang melalui dia Engkau memberikan siang dan menerangi kami."
* **Draper (Himne):** "O Brother Sun with golden beam, O Sister Moon with silver gleam, O praise Him, O praise Him, Alleluia, Alleluia, Alleluia!" (Hai Saudara Matahari dengan sinar keemasan, Hai Saudari Bulan dengan kilau perak, Pujilah Dia, Pujilah Dia, Haleluya...)

Draper tidak melakukan terjemahan kata per kata, melainkan interpretasi puitis yang menangkap semangat dan maksud asli Fransiskus. Ia juga menambahkan refrein "O praise Him! O praise Him! Alleluia! Alleluia! Alleluia!" yang sangat mudah diingat dan dinyanyikan, menjadikan himne ini sangat cocok untuk ibadah berjemaah.

**Musik (Lasst uns erfreuen):**
Melodi yang paling umum digunakan untuk "All Creatures of Our God and King" adalah **"Lasst uns erfreuen,"** sebuah lagu rakyat Jerman yang riang dan kuat dari abad ke-17. Melodi ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1623 dalam sebuah koleksi lagu suci Jerman berjudul *Auserlesene Catholische Geistliche Kirchengesäng*. Karakteristik melodi ini—kuat, ceria, dan mudah dinyanyikan—sangat cocok dengan lirik puji-pujian universal dari himne tersebut. Ralph Vaughan Williams, seorang komposer dan editor himne terkenal, berjasa dalam mempopulerkan melodi ini di dunia berbahasa Inggris melalui *English Hymnal* pada tahun 1906.

---

### Bagian 3: Identitas "Peter Von Brachel" dan "Altissimo Omnipotente"

**Peter Von Brachel:**
Mengenai **Peter Von Brachel**, penting untuk meluruskan bahwa ia tidak dikenal sebagai penulis asli "Canticle of the Sun" atau penerjemah utama "All Creatures of Our God and King." Pencarian terhadap nama ini dalam konteks himne tersebut tidak menghasilkan informasi yang signifikan tentang peran utamanya sebagai penulis atau penerjemah inti. Kemungkinan besar, "Peter Von Brachel" adalah seorang arranger, komposer musik tambahan, atau penerjemah untuk versi spesifik dalam bahasa tertentu (misalnya, bahasa Indonesia untuk "Hai Makhluk Alam Semesta") yang kemudian dikreditkan dalam publikasi tertentu. Tanpa informasi lebih lanjut, peran utamanya dalam penciptaan inti himne ini tidak selevel dengan Santo Fransiskus atau W.H. Draper.

**Altissimo Omnipotente:**
Frasa **"Altissimo Omnipotente"** dalam judul yang Anda sebutkan mengacu pada bait pembuka dalam versi asli "Canticle of the Sun" karya Santo Fransiskus, yang sering kali dituliskan sebagai:
"Altissimu, Onnipotente, bon Signore..."
(Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa, Tuhanku yang baik...)

Ini adalah cara Fransiskus memulai pujiannya kepada Tuhan. Jadi, "Altissimo Omnipotente" bukanlah judul alternatif dari seluruh lagu, melainkan frasa kunci dari teks asli yang menekankan kemuliaan Tuhan.

---

### Bagian 4: Pesan dan Dampak Abadi

"All Creatures of Our God and King" telah menjadi salah satu himne yang paling dikenal dan dicintai di seluruh dunia Kristen, melampaui batas denominasi.

* **Pesan Universal:** Himne ini merayakan keindahan dan keragaman ciptaan Tuhan, mengajak semua untuk berpartisipasi dalam puji-pujian. Pesannya yang inklusif—memanggil matahari, bulan, angin, air, bumi, dan bahkan manusia—mencerminkan pandangan holistik Santo Fransiskus.
* **Ekumenis:** Karena akarnya yang dalam dalam tradisi Katolik (Santo Fransiskus) dan adaptasinya dalam tradisi Protestan (Draper, Anglikan), himne ini sering digunakan dalam ibadah antar-denominasi.
* **Relevansi Lingkungan:** Di zaman modern, himne ini semakin dihargai karena relevansinya dengan kesadaran lingkungan. Pesan Fransiskus tentang persaudaraan dengan alam semesta menjadi inspirasi bagi gerakan ekologi spiritual.
* **Harapan di Tengah Penderitaan:** Fakta bahwa Fransiskus menulisnya dalam kondisi sakit parah dan hampir buta menambah kedalaman dan kekuatan pada pesannya. Ini menjadi pengingat bahwa bahkan di tengah penderitaan, sukacita dan puji-pujian kepada Sang Pencipta tetap mungkin.

---

**Kesimpulan:**

Kisah "All Creatures of Our God and King" adalah sebuah jembatan antara zaman kuno dan modern, sebuah kesaksian tentang kekuatan iman, puji-pujian, dan keindahan alam. Berawal dari puisi seorang santo yang hampir buta di abad ke-13, melalui adaptasi puitis seorang pendeta di abad ke-20, dan diiringi melodi Jerman kuno, himne ini terus menginspirasi jutaan orang untuk mengangkat suara mereka dan memuji "Hai Makhluk Alam Semesta" kepada Tuhan mereka.
Kembali ke KK