Informasi Lagu
127
Nomor
do=c
Nada Dasar
Kode
KK 127
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do=c
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
86
Pencipta Lagu
Tradisional Tiongkok
Pencipta Syair
Frank Wilson Price
Penerjemah
Ferdinand Suleeman
Cross Ref.
NKB 33
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 1 bait
1. Agung kasih-Mu, Allah Bapa, sandang-pangan cukup Kauberi. Aku mau memuji-Mu slama-lamanya. Kau bak angin yang segar; berhembuslah! 2. Jangan cemas, hai umat Allah! Tuhan tetap mencukupimu. Kasih-Nya amat besar dinyatakan-Nya. Bunga dihiasi-Nya; betapa kau? 3. Salomo tiada mengimbangi keindahan bakung di lembah yang tidak menghasilkan jubah sehelai. Janganlah engkau gentar. Allah setia! Syair: Tian-shang di Fu-qin zhen shi-ci bei, Chao Tzu-chen, 1931 Great Are Your Mercies, Frank Wilson Price, 1953, terj. Ferdinand Suleeman, 1990 Lagu: Tradisional Tiongkok
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KK 127 1
Slide 2 — KK 127 2
Slide 3 — KK 127 3
Partitur / Not
Partitur Chord KK 127
Cross Reference
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Agung Kasihmu, Allah Bapa" (dikenal juga sebagai "Great Are Your Mercies" dalam bahasa Inggris, dan "Tian-Shang Di Fu-Qin Zhen Shi-Ci Bei" dalam bahasa Mandarin) adalah sebuah narasi yang mendalam tentang iman, harapan, dan kekuatan spiritual di tengah badai kehidupan. Lagu ini bukan sekadar himne, melainkan cerminan dari pergumulan dan keyakinan seorang misionaris di Tiongkok yang sedang dilanda kekacauan.

Mari kita selami kisahnya dengan detail:

---

### **Latar Belakang Sang Pengarang: Frank Wilson Price**

Frank Wilson Price (1895–1974) adalah seorang misionaris Presbiterian Amerika yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pelayanan di Tiongkok. Ia adalah putra dari Samuel Franklin Price, seorang misionaris yang juga melayani di Tiongkok. Frank Price tiba di Tiongkok pada tahun 1920-an, sebuah periode yang penuh gejolak dalam sejarah Tiongkok.

Pada saat itu, Tiongkok sedang menghadapi serangkaian krisis besar:
1. **Era Panglima Perang (Warlord Era):** Setelah runtuhnya Dinasti Qing, Tiongkok terpecah belah di bawah kendali berbagai panglima perang regional yang saling bertempur.
2. **Perang Saudara Tiongkok:** Konflik sengit antara Partai Nasionalis (Kuomintang) dan Partai Komunis.
3. **Invasi Jepang:** Agresi Kekaisaran Jepang yang semakin meningkat, terutama sejak tahun 1930-an, yang menyebabkan pendudukan dan kekejaman besar-besaran, termasuk Pembantaian Nanjing (Nanjing Massacre) pada tahun 1937-1938.

Frank Wilson Price bertugas di Nanking (sekarang Nanjing), salah satu kota terpenting di Tiongkok saat itu. Ia dikenal tidak hanya sebagai penginjil, tetapi juga sebagai seorang pendidik dan penerjemah yang aktif dalam mengembangkan himne dan literatur Kristen berbahasa Mandarin. Ia mengajar di Nanking Theological Seminary dan juga terlibat dalam upaya bantuan kemanusiaan selama masa perang.

### **Kelahiran Sebuah Himne di Tengah Kekacauan**

Di tengah semua kekacauan, penderitaan, dan ketidakpastian yang ia saksikan setiap hari—kemiskinan, kelaparan, pengungsian, kekerasan, dan kematian—Frank Wilson Price merasakan kebutuhan mendesak untuk menyampaikan pesan penghiburan dan harapan kepada jemaat dan masyarakat Tiongkok. Ia melihat banyak orang Tiongkok yang kehilangan segalanya, hidup dalam ketakutan, dan membutuhkan jangkar spiritual.

Diperkirakan bahwa Price menulis lirik "Great Are Your Mercies" pada tahun 1930-an, kemungkinan besar sebelum puncak kekejaman Pembantaian Nanjing, tetapi pada saat ketegangan dan penderitaan sudah sangat terasa. Ia ingin menciptakan sebuah himne yang sederhana, mudah dipahami, tetapi memiliki kekuatan teologis yang mendalam untuk berbicara tentang karakter Allah yang tak berubah di tengah dunia yang terus berubah.

Liriknya terinspirasi oleh renungannya tentang Mazmur 103:8, "TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia." dan juga Mazmur 89:1-2, "Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya... Aku hendak berkata: "Kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit.""

Frank Price menulis himne ini dalam bahasa Inggris awalnya. Namun, untuk memastikan himne ini dapat menjangkau hati orang-orang Tiongkok, ia menerjemahkannya atau bekerja sama dengan penerjemah Tiongkok untuk menghasilkan versi Mandarin: **"Tian-Shang Di Fu-Qin Zhen Shi-Ci Bei" (?????????)**, yang secara harfiah berarti "Bapa Surgawi, sesungguhnya kasih setia-Mu sangatlah besar/penuh belas kasihan."

### **Harmoni Tiongkok dan Pesan Universal**

Salah satu aspek penting yang membuat lagu ini begitu populer dan sering dikaitkan dengan "Tradisional Tiongkok" adalah **melodinya**. Melodi "Great Are Your Mercies" memiliki nuansa yang sangat akrab dengan telinga orang Tiongkok. Seringkali disebut memiliki kualitas seperti **lagu rakyat (folk song) Tiongkok**, yang membuatnya terasa "milik sendiri" bagi jemaat Kristen Tiongkok, bukan sekadar himne asing dari Barat. Sederhana, mudah dinyanyikan, dan sangat menyentuh.

Penggunaan melodi yang akrab ini adalah strategi yang cerdas dalam misi, memungkinkan pesan Injil disampaikan melalui bentuk seni yang sudah diterima secara budaya. Ini juga menjelaskan mengapa lagu ini sering disebut sebagai karya "Tradisional Tiongkok" meskipun liriknya ditulis oleh seorang misionaris Amerika—karena ia telah sepenuhnya meresap ke dalam tradisi musik rohani Tiongkok.

### **Makna dan Dampak "Agung Kasihmu, Allah Bapa"**

Lirik himne ini berfokus pada sifat-sifat Allah yang tak tergoyahkan:
* **Kasih Setia (Mercy) yang Agung:** Menggambarkan Allah sebagai Bapa yang penuh kasih, belas kasihan, dan kesabaran yang tak terbatas.
* **Penghiburan di Tengah Kesulitan:** Mengajarkan untuk melihat melampaui penderitaan duniawi dan bersandar pada janji-janji Allah.
* **Sumber Harapan:** Memberikan kekuatan bagi mereka yang putus asa, mengingatkan bahwa meskipun dunia goyah, Allah tetap setia dan tak berubah.

Lagu ini menjadi sangat populer di kalangan umat Kristen Tiongkok. Pada masa-masa penganiayaan, perang, dan penderitaan, himne ini menjadi sumber penghiburan, kekuatan, dan harapan yang vital. Bagi banyak orang Kristen Tiongkok yang kehilangan rumah, keluarga, dan mata pencarian, lagu ini menjadi pengingat bahwa "Agung Kasihmu, Allah Bapa" tidak pernah berkesudahan, dan bahwa mereka tidak sendirian dalam penderitaan mereka.

### **Warisan Abadi**

"Agung Kasihmu, Allah Bapa" terus menjadi salah satu himne yang paling dicintai dan sering dinyanyikan di gereja-gereja Tiongkok, baik di daratan Tiongkok maupun di komunitas diaspora Tiongkok di seluruh dunia. Lagu ini juga telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia, di mana ia juga sangat populer.

Kisah di balik lagu ini adalah bukti bagaimana iman dapat menembus batasan budaya dan geografis, dan bagaimana sebuah pesan sederhana tentang kasih setia Allah dapat memberikan harapan di tengah keputusasaan terbesar. Ini adalah warisan Frank Wilson Price—seorang misionaris yang, melalui kata-kata dan melodi, berhasil merajut harapan di hati jutaan orang yang menderita.
Kembali ke KK