KPPK
Dahulu di Kota Daud
Once in Royal David's City
Informasi Lagu
101
Nomor
Kode
KPPK 101
Buku
Kidung Puji-Pujian Kristen
Metronom
0
Cross Ref.
MK 50, KC 61, PS 453, KJ 113 ,NR 37, KK 165, NP 56
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Dahulu di kota Daud, suatu kandang yang rendah.
Sang Bayi dibaringkannya, di palungan yang hina.
Marialah ibu-Nya, Sang Kristus bayi mulia.
Dia yang turun dari sorga, Allah Yang Maha Mulia.
Berdiam di kandang hina, berbaring di palungan.
Rela rendahkan diri, jadi sobat manusia.
Tak lagi tinggal di kandang, tak dapat kulihat-Nya.
Dan kelak ku kan jumpa Dia, di sisi kanan Bapa.
Sekitar takhta Bapa, berjubah putih mulia.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
MK 50, KC 61, PS 453, KJ 113 ,NR 37, KK 165, NP 56
Dalam Kota Raja Daud
KC
Dalam Kota Raja Daud
KJ
Dalam Kota Raja Daud
KK
Dalam kota Raja Daud
MK
Di Neg'ri Raja Daud
NP
Adalah di Kota Daud
NR
Dalam kota Raja Daud
PS
Sama Tema
Yesus Kristus - Kelahiran Yesus
O, Datang Imanuel
KPPK
Betapa Besar Girangnya
KPPK
Dunia Gemar dan Soraklah
KPPK
Kau Telah Tinggalkan Sorga Mulia
KPPK
Dengar Malaikat Nyanyi
KPPK
Dengar Malak Memuji
KPPK
Hai, Malaikat dari Sorga
KPPK
Hai Bangkitlah! Sambut Hari Mulia
KPPK
Di Dalam Palungan - I
KPPK
Di Dalam Palungan - II
KPPK
Tuhanku di Palungan
KPPK
Siapa yang di Palungan
KPPK
Siapakah Bayi yang Tertidur
KPPK
Bayi Kudus, Bayi Lembut
KPPK
Kota Kecil Betlehem
KPPK
Tidur Lelap Bethlehem
KPPK
Kami Majus dari Timur
KPPK
Lahirnya Seorang Raja
KPPK
Di Malam Sunyi Nan Cerah
KPPK
Beritakanlah Di Gunung
KPPK
Berita Natal Yang Pertama
KPPK
Hai, Mari Berhimpun
KPPK
Mari Tuturkan Kisah Yesus
KPPK
Aku Tak Tahu
KPPK
Bunyi Bel
KPPK
O Malam Kudus
KPPK
Malam Kudus
KPPK
Imanuel
KPPK
Gembala Menjaga Dombanya
KPPK
Kasih Penebusan
KPPK
Nama Yang Terindah
KPPK
Yesus Mencariku
KPPK
Sejarah Lagu
Lagu **"Once in Royal David's City"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Di Neg'ri Raja Daud"*) adalah salah satu kidung Natal paling ikonik di dunia. Kisah di balik lagu ini sangat menyentuh karena berakar dari keinginan seorang penulis untuk menjelaskan teologi yang mendalam kepada anak-anak dengan cara yang sederhana.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: Cecil Frances Alexander
Lagu ini ditulis oleh **Cecil Frances Alexander** (1818–1895), seorang penyair Irlandia yang dikenal karena menulis lagu-lagu rohani untuk anak-anak.
Pada tahun 1848, Cecil menerbitkan kumpulan puisi berjudul *Hymns for Little Children*. Motivasi utamanya menulis lagu ini adalah karena ia merasa sedih melihat anak-anak di sekolah Minggu yang kesulitan memahami bagian-bagian sulit dari **Pengakuan Iman Rasuli** (*Apostles' Creed*). Salah satu bagian yang paling sulit dipahami anak-anak adalah kalimat: *"Yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria."*
Cecil ingin menulis sebuah puisi yang bisa membuat anak-anak membayangkan betapa luar biasanya Tuhan yang begitu besar, rela menjadi bayi yang kecil, lemah, dan miskin di bumi.
### 2. Makna Lirik
Liriknya dimulai dengan penggambaran lokasi kelahiran Yesus yang sangat spesifik: *"Di negeri Raja Daud, ada kandang yang rendah."*
Cecil sengaja menekankan kontras:
* Yesus adalah Raja di atas segala raja, namun Ia tidak lahir di istana.
* Ia lahir di tempat yang hina (kandang), dibaringkan di palungan, dan diasuh oleh ibu yang miskin.
* Pesan utamanya adalah **kerendahan hati (humility)**. Jika Sang Pencipta alam semesta mau lahir di tempat yang begitu sederhana, maka Ia bisa dekat dengan siapa saja, bahkan dengan anak-anak kecil yang paling rendah sekalipun.
### 3. Komposer: Henry John Gauntlett
Meskipun liriknya ditulis pada tahun 1848, melodi yang kita kenal sekarang baru digabungkan beberapa tahun kemudian oleh **Henry John Gauntlett** (1805–1876).
Gauntlett adalah seorang organis dan komposer gerejawi asal Inggris. Pada tahun 1849, ia menerbitkan melodi tersebut dalam bukunya yang berjudul *Selected Christmas Carols*. Melodi ini, yang berjudul *"Irby"*, dianggap sangat pas dengan lirik Cecil karena nadanya yang tenang, syahdu, dan terasa seperti sebuah pengantar tidur yang suci.
### 4. Tradisi di King's College, Cambridge
Lagu ini menjadi legendaris di seluruh dunia berkat tradisi **"Nine Lessons and Carols"** di King's College Chapel, Cambridge, Inggris, yang disiarkan setiap malam Natal ke seluruh dunia oleh BBC.
Sejak tahun 1919, sudah menjadi tradisi tetap bahwa lagu ini menjadi lagu pembuka dalam kebaktian tersebut. Lagu ini selalu dimulai dengan **solo oleh seorang anggota paduan suara anak laki-laki (chorister)**.
Tradisi ini memiliki makna simbolis yang kuat: suara anak kecil yang polos dan sendirian di awal lagu mengingatkan pendengar akan ketidakberdayaan bayi Yesus di kandang Betlehem. Setelah bait pertama selesai, paduan suara masuk dan jemaat ikut bernyanyi, melambangkan sukacita seluruh dunia atas kelahiran Sang Juruselamat.
### Mengapa lagu ini begitu abadi?
Lagu ini tetap dicintai hingga sekarang karena:
1. **Kesederhanaan:** Liriknya tidak berusaha terdengar megah, melainkan menyampaikan kebenaran teologis melalui narasi yang mudah dipahami.
2. **Kemanusiaan Yesus:** Lagu ini mengajak kita untuk tidak hanya memandang Yesus sebagai sosok Tuhan yang jauh, tetapi sebagai bayi yang bisa merasa dingin, lapar, dan membutuhkan kasih sayang—sama seperti anak-anak.
3. **Kenyamanan:** Bait terakhir lagu ini memberikan janji yang indah bahwa suatu hari nanti, anak-anak Tuhan akan melihat Yesus di surga, di mana Ia tidak lagi menjadi bayi yang miskin, melainkan Raja yang mulia.
Singkatnya, lagu ini adalah sebuah "kotbah kecil" yang indah, yang diciptakan untuk membantu anak-anak memahami bahwa kelahiran Kristus adalah peristiwa yang inklusif—terbuka bagi siapa saja, tak peduli betapa sederhana hidup mereka.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu tersebut:
### 1. Penulis Lirik: Cecil Frances Alexander
Lagu ini ditulis oleh **Cecil Frances Alexander** (1818–1895), seorang penyair Irlandia yang dikenal karena menulis lagu-lagu rohani untuk anak-anak.
Pada tahun 1848, Cecil menerbitkan kumpulan puisi berjudul *Hymns for Little Children*. Motivasi utamanya menulis lagu ini adalah karena ia merasa sedih melihat anak-anak di sekolah Minggu yang kesulitan memahami bagian-bagian sulit dari **Pengakuan Iman Rasuli** (*Apostles' Creed*). Salah satu bagian yang paling sulit dipahami anak-anak adalah kalimat: *"Yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria."*
Cecil ingin menulis sebuah puisi yang bisa membuat anak-anak membayangkan betapa luar biasanya Tuhan yang begitu besar, rela menjadi bayi yang kecil, lemah, dan miskin di bumi.
### 2. Makna Lirik
Liriknya dimulai dengan penggambaran lokasi kelahiran Yesus yang sangat spesifik: *"Di negeri Raja Daud, ada kandang yang rendah."*
Cecil sengaja menekankan kontras:
* Yesus adalah Raja di atas segala raja, namun Ia tidak lahir di istana.
* Ia lahir di tempat yang hina (kandang), dibaringkan di palungan, dan diasuh oleh ibu yang miskin.
* Pesan utamanya adalah **kerendahan hati (humility)**. Jika Sang Pencipta alam semesta mau lahir di tempat yang begitu sederhana, maka Ia bisa dekat dengan siapa saja, bahkan dengan anak-anak kecil yang paling rendah sekalipun.
### 3. Komposer: Henry John Gauntlett
Meskipun liriknya ditulis pada tahun 1848, melodi yang kita kenal sekarang baru digabungkan beberapa tahun kemudian oleh **Henry John Gauntlett** (1805–1876).
Gauntlett adalah seorang organis dan komposer gerejawi asal Inggris. Pada tahun 1849, ia menerbitkan melodi tersebut dalam bukunya yang berjudul *Selected Christmas Carols*. Melodi ini, yang berjudul *"Irby"*, dianggap sangat pas dengan lirik Cecil karena nadanya yang tenang, syahdu, dan terasa seperti sebuah pengantar tidur yang suci.
### 4. Tradisi di King's College, Cambridge
Lagu ini menjadi legendaris di seluruh dunia berkat tradisi **"Nine Lessons and Carols"** di King's College Chapel, Cambridge, Inggris, yang disiarkan setiap malam Natal ke seluruh dunia oleh BBC.
Sejak tahun 1919, sudah menjadi tradisi tetap bahwa lagu ini menjadi lagu pembuka dalam kebaktian tersebut. Lagu ini selalu dimulai dengan **solo oleh seorang anggota paduan suara anak laki-laki (chorister)**.
Tradisi ini memiliki makna simbolis yang kuat: suara anak kecil yang polos dan sendirian di awal lagu mengingatkan pendengar akan ketidakberdayaan bayi Yesus di kandang Betlehem. Setelah bait pertama selesai, paduan suara masuk dan jemaat ikut bernyanyi, melambangkan sukacita seluruh dunia atas kelahiran Sang Juruselamat.
### Mengapa lagu ini begitu abadi?
Lagu ini tetap dicintai hingga sekarang karena:
1. **Kesederhanaan:** Liriknya tidak berusaha terdengar megah, melainkan menyampaikan kebenaran teologis melalui narasi yang mudah dipahami.
2. **Kemanusiaan Yesus:** Lagu ini mengajak kita untuk tidak hanya memandang Yesus sebagai sosok Tuhan yang jauh, tetapi sebagai bayi yang bisa merasa dingin, lapar, dan membutuhkan kasih sayang—sama seperti anak-anak.
3. **Kenyamanan:** Bait terakhir lagu ini memberikan janji yang indah bahwa suatu hari nanti, anak-anak Tuhan akan melihat Yesus di surga, di mana Ia tidak lagi menjadi bayi yang miskin, melainkan Raja yang mulia.
Singkatnya, lagu ini adalah sebuah "kotbah kecil" yang indah, yang diciptakan untuk membantu anak-anak memahami bahwa kelahiran Kristus adalah peristiwa yang inklusif—terbuka bagi siapa saja, tak peduli betapa sederhana hidup mereka.