PKJ
Kita Dirangkul Oleh Kuasa Kasih
Von guten Machten wunderbar geborgen
Informasi Lagu
238
Nomor
Kode
PKJ 238
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
Joseph Gelineau
Pencipta Syair
Dietrich Bonhoeffer
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Kita dirangkul oleh kuasa kasih,
menanti bagaimana akhirnya.
Tuhan dekat di malam dan di pagi;
setiap hari nyata rahmatNya.
Engkau, ya Tuhan, tahu kesakitan
yang masih dalam hati menekan.
Damai sempurna sudilah berikan
dan jiwa kami buatlah tent’ram.
Bila Engkau suguhkan cawan pahit,
penuh sengsara bagai empedu,
kami terima tanpa ragu hati,
kar’na datangnya dari tanganMu.
Namun kiranya satu kali lagi
hiburan sukacita Kauberi
kenangan manis kami peringati;
Engkau Pemilik kami abadi!
Dan bila nanti kabut kesunyian
membalut kami dalam s’limutnya,
biarlah kami mendengar pujian
umatMu dalam cah’ya mulia.
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Von guten Machten wunderbar geborgen"** (Dalam Kuasa Kasih yang Ajaib) adalah salah satu kidung rohani paling mengharukan dan mendalam dalam sejarah Kekristenan. Kisah di baliknya bukan sekadar tentang penulisan lagu, melainkan tentang iman di tengah kegelapan maut.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis: Dietrich Bonhoeffer
Dietrich Bonhoeffer adalah seorang teolog Protestan asal Jerman yang sangat berpengaruh. Ia dikenal karena perlawanannya yang berani terhadap rezim Nazi pimpinan Adolf Hitler. Bonhoeffer memandang ideologi Nazi sebagai sesuatu yang anti-Kristus dan merusak martabat manusia.
### 2. Latar Belakang Penulisan (Desember 1944)
Lagu ini sebenarnya merupakan sebuah puisi yang ditulis oleh Bonhoeffer pada **19 Desember 1944**. Saat itu, ia sedang mendekam di **Penjara Tegel, Berlin**.
* **Situasi:** Bonhoeffer telah ditangkap oleh Gestapo sejak April 1943 karena keterlibatannya dalam gerakan perlawanan terhadap Hitler.
* **Kondisi:** Menjelang Natal tahun 1944, situasi di penjara sangat suram. Ia telah dipindahkan ke kamp konsentrasi Buchenwald dan akhirnya ke kamp konsentrasi Flossenbürg. Ia tahu bahwa akhir hidupnya sudah dekat.
* **Tujuan:** Puisi ini ia tulis sebagai surat Natal untuk tunangannya, Maria von Wedemeyer, dan keluarganya. Ia ingin mengirimkan penghiburan kepada orang-orang yang ia cintai, sekaligus meneguhkan imannya sendiri bahwa meskipun ia berada di penjara, Tuhan tetap memegangnya erat.
### 3. Makna Puisi: "Di Bawah Naungan Kuasa yang Baik"
Puisi ini mencerminkan pergulatan batin Bonhoeffer. Bait-baitnya berbicara tentang:
* **Penyertaan Tuhan:** Meski ia berada dalam kesendirian dan penderitaan, ia merasa "dikelilingi oleh kuasa-kuasa yang baik" (*Von guten Machten*).
* **Kedamaian:** Ia menyerahkan masa lalunya, masa kini, dan masa depannya ke dalam tangan Tuhan.
* **Harapan:** Ia percaya bahwa meski tubuhnya dipenjara dan mungkin akan segera dieksekusi, jiwanya tetap aman dan dilindungi oleh kasih Tuhan yang melampaui kematian.
### 4. Akhir Hayat Bonhoeffer
Tidak lama setelah menulis puisi ini, tepatnya pada **9 April 1945**—hanya beberapa hari sebelum kamp pembebasan oleh tentara Sekutu—Dietrich Bonhoeffer dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung di kamp konsentrasi Flossenbürg. Kata-kata terakhirnya sebelum dieksekusi adalah, *"Ini adalah akhir, bagiku ini adalah awal kehidupan."*
Puisi yang ia tulis di penjara menjadi "wasiat rohani" yang sangat kuat bagi dunia.
### 5. Musik: Joseph Gelineau dan Siegfried Fietz
Puisi ini kemudian ditemukan oleh keluarga Bonhoeffer setelah perang berakhir. Banyak komposer mencoba memberikan melodi untuk kata-kata yang mendalam ini.
* **Versi yang populer:** Melodi yang paling dikenal secara luas saat ini diciptakan oleh musisi Jerman, **Siegfried Fietz**, pada tahun 1976. Melodinya yang syahdu dan kontemplatif berhasil menangkap suasana "penyerahan diri" yang digambarkan Bonhoeffer.
* **Joseph Gelineau:** Nama Joseph Gelineau sering dikaitkan dengan lagu ini dalam konteks literatur liturgi atau adaptasi musik rohani, karena ia adalah seorang komposer ternama asal Prancis yang banyak mengaransemen mazmur dan kidung untuk gereja. Namun, melodi yang paling ikonik dan mendunia untuk puisi Bonhoeffer ini memang adalah karya Siegfried Fietz.
### Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Lagu ini menjadi pengingat bahwa iman Kristen tidak menjanjikan kemudahan atau perlindungan dari penderitaan duniawi. Sebaliknya, iman menawarkan "tempat berlindung" yang tak terlihat di dalam Tuhan, yang justru menjadi paling nyata saat seseorang berada di titik terendah dalam hidupnya.
Liriknya (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia):
> *"Oleh kuasa kasih yang ajaib dan tenang,*
> *Kami dilindungi dan terhibur selalu.*
> *Hari demi hari, dengan kuasa-Mu,*
> *Kami menantikan masa depan yang baru."*
Kisah ini adalah kesaksian tentang bagaimana seseorang, bahkan dalam cengkeraman kematian, mampu mempertahankan harapan dan kedamaian melalui sebuah puisi yang kini telah menjadi salah satu lagu rohani yang paling banyak dinyanyikan di seluruh dunia.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Penulis: Dietrich Bonhoeffer
Dietrich Bonhoeffer adalah seorang teolog Protestan asal Jerman yang sangat berpengaruh. Ia dikenal karena perlawanannya yang berani terhadap rezim Nazi pimpinan Adolf Hitler. Bonhoeffer memandang ideologi Nazi sebagai sesuatu yang anti-Kristus dan merusak martabat manusia.
### 2. Latar Belakang Penulisan (Desember 1944)
Lagu ini sebenarnya merupakan sebuah puisi yang ditulis oleh Bonhoeffer pada **19 Desember 1944**. Saat itu, ia sedang mendekam di **Penjara Tegel, Berlin**.
* **Situasi:** Bonhoeffer telah ditangkap oleh Gestapo sejak April 1943 karena keterlibatannya dalam gerakan perlawanan terhadap Hitler.
* **Kondisi:** Menjelang Natal tahun 1944, situasi di penjara sangat suram. Ia telah dipindahkan ke kamp konsentrasi Buchenwald dan akhirnya ke kamp konsentrasi Flossenbürg. Ia tahu bahwa akhir hidupnya sudah dekat.
* **Tujuan:** Puisi ini ia tulis sebagai surat Natal untuk tunangannya, Maria von Wedemeyer, dan keluarganya. Ia ingin mengirimkan penghiburan kepada orang-orang yang ia cintai, sekaligus meneguhkan imannya sendiri bahwa meskipun ia berada di penjara, Tuhan tetap memegangnya erat.
### 3. Makna Puisi: "Di Bawah Naungan Kuasa yang Baik"
Puisi ini mencerminkan pergulatan batin Bonhoeffer. Bait-baitnya berbicara tentang:
* **Penyertaan Tuhan:** Meski ia berada dalam kesendirian dan penderitaan, ia merasa "dikelilingi oleh kuasa-kuasa yang baik" (*Von guten Machten*).
* **Kedamaian:** Ia menyerahkan masa lalunya, masa kini, dan masa depannya ke dalam tangan Tuhan.
* **Harapan:** Ia percaya bahwa meski tubuhnya dipenjara dan mungkin akan segera dieksekusi, jiwanya tetap aman dan dilindungi oleh kasih Tuhan yang melampaui kematian.
### 4. Akhir Hayat Bonhoeffer
Tidak lama setelah menulis puisi ini, tepatnya pada **9 April 1945**—hanya beberapa hari sebelum kamp pembebasan oleh tentara Sekutu—Dietrich Bonhoeffer dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung di kamp konsentrasi Flossenbürg. Kata-kata terakhirnya sebelum dieksekusi adalah, *"Ini adalah akhir, bagiku ini adalah awal kehidupan."*
Puisi yang ia tulis di penjara menjadi "wasiat rohani" yang sangat kuat bagi dunia.
### 5. Musik: Joseph Gelineau dan Siegfried Fietz
Puisi ini kemudian ditemukan oleh keluarga Bonhoeffer setelah perang berakhir. Banyak komposer mencoba memberikan melodi untuk kata-kata yang mendalam ini.
* **Versi yang populer:** Melodi yang paling dikenal secara luas saat ini diciptakan oleh musisi Jerman, **Siegfried Fietz**, pada tahun 1976. Melodinya yang syahdu dan kontemplatif berhasil menangkap suasana "penyerahan diri" yang digambarkan Bonhoeffer.
* **Joseph Gelineau:** Nama Joseph Gelineau sering dikaitkan dengan lagu ini dalam konteks literatur liturgi atau adaptasi musik rohani, karena ia adalah seorang komposer ternama asal Prancis yang banyak mengaransemen mazmur dan kidung untuk gereja. Namun, melodi yang paling ikonik dan mendunia untuk puisi Bonhoeffer ini memang adalah karya Siegfried Fietz.
### Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Lagu ini menjadi pengingat bahwa iman Kristen tidak menjanjikan kemudahan atau perlindungan dari penderitaan duniawi. Sebaliknya, iman menawarkan "tempat berlindung" yang tak terlihat di dalam Tuhan, yang justru menjadi paling nyata saat seseorang berada di titik terendah dalam hidupnya.
Liriknya (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia):
> *"Oleh kuasa kasih yang ajaib dan tenang,*
> *Kami dilindungi dan terhibur selalu.*
> *Hari demi hari, dengan kuasa-Mu,*
> *Kami menantikan masa depan yang baru."*
Kisah ini adalah kesaksian tentang bagaimana seseorang, bahkan dalam cengkeraman kematian, mampu mempertahankan harapan dan kedamaian melalui sebuah puisi yang kini telah menjadi salah satu lagu rohani yang paling banyak dinyanyikan di seluruh dunia.
Sama Tema
Hidup Bersama Tuhan
Adalah Hal yang Tak 'Ku Tahu
PKJ
Adalah Seorang Menaburkan Benih
PKJ
Andaikan Surya Pagi Tersembunyi
PKJ
Bapa Sorgawi
PKJ
Berbahagialah Orang-Orang
PKJ
Berkilat Halilintar
PKJ
Di Dalam Suka, Di Dalam Duka
PKJ
Di Kala Hidupku Tent'ram
PKJ
Imanuel, Imanuel
PKJ
Jangan Kuatir 'Kan Hari Esok
PKJ
Janganlah Takut
PKJ
Jikalau Kristus Penolongku
PKJ
Kenapa Timbul Perpecahan
PKJ
Perubahan Besar
PKJ
Salib Kudus
PKJ
Tak 'Ku Tahu 'Kan Hari Esok
PKJ
Seindah Siang Disinari Terang
PKJ
Sejahtera Tuhan
PKJ
Sejenak Aku Menoleh
PKJ
Seperti Wanita di Pinggir Sumur
PKJ
Waktu Fajar di Taman Sepi
PKJ
Walau Tak Dapat Mata Memandang
PKJ
Ya Tuhan, Engkau Perlindunganku
PKJ
Ya Tuhan, Kuatkan Imanku
PKJ
Ya Tuhan, Ya Allahku
PKJ