Informasi Lagu
27
Nomor
Kode
NP 27
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Henry Baker
Pencipta Syair
Ray Palmer
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Sumber hidupku, ya Yesus, yang menerangi jalanku, Di duniaku kecewa trus: Kini ku datang padaMu.
Sumber selamat, ya Yesus, Firman Tuhan, kekal, teguh, Yang mencari wajahMu trus Akan mendapat berkat-Mu. Amin.
UmatMu mohon, ya Yesus, Agar kelam dosa hilang; O sertailah kami trus, Pancarkan trangMu yang cerlang. Amin.
Partitur / Not
Partitur Chord NP 27
Sejarah Lagu
Lagu **"Sumber Hidupku, Ya Yesus"** (judul asli bahasa Inggris: *Jesus, Thou Joy of Loving Hearts*) adalah salah satu himne yang paling menyentuh hati dalam sejarah kekristenan. Lagu ini tidak lahir dari tangan satu orang saja, melainkan hasil dari "kolaborasi lintas waktu" antara seorang santo abad ke-12 dan seorang penerjemah abad ke-19.

Berikut adalah detail kisah dibalik penciptaan lagu ini:

### 1. Sumber Asli: Santo Bernardus dari Clairvaux (Abad ke-12)
Lirik asli dari lagu ini berasal dari puisi Latin berjudul **"Jesu Dulcis Memoria"** (Kenangan akan Yesus yang Manis). Penulisnya adalah **Santo Bernardus dari Clairvaux** (1090–1153), seorang abbas (pemimpin biara) dari ordo Cistercian di Prancis.

Bernardus dikenal sebagai seorang mistikus yang sangat mengasihi Yesus secara pribadi. Puisi ini ditulis sebagai luapan kasihnya yang mendalam kepada Kristus. Dalam teks aslinya, Bernardus menulis tentang bagaimana sukacita sejati tidak ditemukan dalam dunia, melainkan hanya dalam persekutuan intim dengan Tuhan. Puisi ini dianggap sebagai salah satu ekspresi cinta kasih Kristen yang paling indah yang pernah ditulis dalam bahasa Latin.

### 2. Ray Palmer: Sang Penerjemah (1858)
Berabad-abad kemudian, seorang pendeta dan penyair asal Amerika Serikat bernama **Ray Palmer (1808–1887)** menemukan puisi Latin tersebut. Ray Palmer dikenal sebagai penulis himne yang sangat puitis dan mendalam.

Pada tahun 1858, Palmer menerjemahkan beberapa bait dari *Jesu Dulcis Memoria* ke dalam bahasa Inggris. Ia tidak melakukan terjemahan kata demi kata yang kaku, melainkan menangkap esensi spiritual dan emosional dari puisi Bernardus. Hasil terjemahan Palmer inilah yang menjadi lirik lagu yang kita kenal sekarang: *“Jesus, thou Joy of loving hearts, Thou Fount of life, Thou Light of men...”*

Palmer berhasil mempertahankan suasana kontemplatif dan kerinduan jiwa akan kehadiran Kristus yang ada dalam puisi asli Bernardus.

### 3. Henry Baker: Sang Penggubah Melodi
Meskipun sering dikaitkan dengan nama Henry Baker, penting untuk memahami perannya. **Sir Henry Williams Baker (1821–1877)** adalah seorang pendeta Inggris yang sangat berjasa dalam menyusun buku himne *Hymns Ancient and Modern*.

Baker adalah orang yang mempopulerkan himne ini dengan memberikan melodi yang tepat agar mudah dinyanyikan oleh jemaat di gereja. Salah satu melodi yang paling ikonik untuk lirik ini adalah **"QUEBEC"** (juga dikenal sebagai "ST. PALMER"), yang digubah oleh Henry Baker sendiri.

### Makna dan Pesan Lagu
Lagu ini mencerminkan teologi **"Kerinduan akan Tuhan"**. Kisah dibalik lagu ini adalah perjalanan spiritual seorang manusia yang menyadari bahwa:
* Dunia ini tidak bisa memuaskan dahaga jiwa.
* Hanya Yesus yang menjadi "sumber hidup" (Fount of life).
* Sukacita (Joy) bukan berasal dari keadaan, melainkan dari keberadaan Yesus dalam hati orang percaya.

### Mengapa Lagu ini Penting?
Lagu ini menjadi jembatan antara tradisi monastik (pertapaan/kontemplasi) abad pertengahan dengan kebaktian gerejawi modern. Ketika kita menyanyikan lagu ini, kita sebenarnya sedang menyanyikan doa yang sama yang dinyanyikan oleh para biarawan di abad ke-12, yang kemudian dihidupkan kembali oleh Ray Palmer di abad ke-19.

**Lirik inti yang sering diingat (Terjemahan Bebas):**
> *Yesus, Sukacita hati yang mengasihi,*
> *Engkau Sumber hidup dan Terang manusia,*
> *Dari segala sukacita yang dunia berikan,*
> *Engkau adalah yang terbaik dan terutama.*

Kisah ini mengajarkan bahwa iman Kristen adalah sebuah kesinambungan; bahwa kerinduan kita akan Tuhan hari ini adalah kerinduan yang sama yang telah dialami oleh orang-orang percaya ratusan tahun yang lalu.