KPJ
Pracaya Lan Pasrah
Befiehl du deine Wege
Informasi Lagu
133
Nomor
Do=D
Nada Dasar
Kode
KPJ 133
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Nada Dasar
Do=D
Ketukan
2/2 ketuk
Metronom
0
Jumlah Bait
4 bait
Pencipta Lagu
Johannes Gijsbertus Bastiaans (1868)
Pencipta Syair
Paul Gerhardt (1868)
Cross Ref.
KPKA 79, NR 130, KK 530, NR 129
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Pracayaa lan pasrah mring Allah Makwasa,
salir prihatinira tamtu enggal sirna.
Ngambah margining Gusti sira den berkahi,
tansah antuk kabegjan, datan kawirangan.
Lamun sira nggresula, iku tanpa guna;
tuwas muwuhi susah, angedohken bungah.
becik nitèni berkah peparingé Allah,
mrih salir sedyanira tinuntun sembada.
Sapa bisa njajagi mring karsaning Gusti?
Sira tan darbé kwasa ngulur umurira,
mung tansah mbudidaya sinartan pandonga,
suméndhé mring Pangéran, murih kaleksanan.
Lamun nyangga momotan, ingancam bebaya,
ngungsia mring Pangeran, ywa semplah ing driya;
sira rineksa Gusti, mrih datan bilai,
tan sandé linuwaran wah sinung kraharjan.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Pracaya Lan Pasrah"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Percaya dan Berserahlah"*) adalah gubahan dari himne Jerman yang sangat terkenal, **"Befiehl du deine Wege"**.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat dua sosok utama: **Paul Gerhardt** (penulis syair) dan **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (komponis melodi yang sering dikaitkan dengan tradisi lagu ini).
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Latar Belakang Penulis Syair: Paul Gerhardt (1607–1676)
Paul Gerhardt adalah seorang pendeta Lutheran di Jerman yang hidup di masa yang sangat kelam, yaitu **Perang Tiga Puluh Tahun** (1618–1648). Masa ini adalah salah satu periode paling destruktif dalam sejarah Eropa, yang menyebabkan kelaparan, wabah penyakit, dan kehancuran moral.
**Kisah di balik syairnya:**
Pada tahun 1653, Gerhardt menulis himne ini. Konon, ia menulisnya dalam masa kesedihan yang mendalam. Ia kehilangan banyak anggota keluarganya, dipecat dari pekerjaannya karena alasan teologis, dan hidup dalam pengasingan.
Syair "Befiehl du deine Wege" (Serahkanlah jalan hidupmu) didasarkan pada **Mazmur 37:5**: *"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak."*
Gerhardt ingin menyampaikan pesan bahwa di tengah badai kehidupan yang tampak tidak terkendali, Tuhan tetap memegang kendali. Stanza pertama lagu ini secara harfiah berbunyi: *"Serahkanlah jalan hidupmu dan segala yang membebanimu kepada kesetiaan kasih Allah yang bertahta di surga."*
### 2. Musik dan Johannes Gijsbertus Bastiaans
Melodi yang paling identik dengan syair Gerhardt ini dikenal dengan nama *Herzlich tut mich verlangen* (sering dikaitkan dengan Hans Leo Hassler). Namun, peran **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (1812–1875), seorang organis dan komponis asal Belanda, sangat krusial dalam mempopulerkan dan mengaransemen lagu ini dalam tradisi Protestan di wilayah Eropa, termasuk pengaruhnya hingga ke gereja-gereja di Indonesia.
Bastiaans adalah tokoh musik gereja yang sangat dihormati. Ia banyak melakukan harmonisasi ulang atas himne-himne klasik (seperti karya Bach dan Gerhardt) agar dapat dinyanyikan dengan lebih khidmat di gereja-gereja reformasi. Melalui aransemennya, lagu ini mendapatkan karakter "pasrah" yang mendalam—nada yang tenang, lambat, dan kontemplatif.
### 3. Makna dalam Budaya Indonesia: "Pracaya Lan Pasrah"
Dalam bahasa Jawa, lagu ini menjadi sangat ikonik. Kata *"Pracaya"* (Percaya) dan *"Pasrah"* (Berserah) menangkap esensi teologi Paul Gerhardt secara sempurna:
* **Pracaya (Percaya):** Bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik, meskipun mata manusia tidak bisa melihatnya.
* **Pasrah (Berserah):** Melepaskan kendali atas ego dan kekhawatiran diri sendiri ke dalam tangan Tuhan.
Bagi masyarakat Kristen di Jawa, lagu ini sering dinyanyikan saat masa-masa duka (seperti pemakaman) atau saat jemaat berada dalam titik terendah dalam hidup mereka. Musik yang dibuat oleh tokoh seperti Bastiaans memberikan ruang bagi jemaat untuk tidak hanya menyanyi, tetapi melakukan "kontemplasi" atau perenungan batin.
### Ringkasan Pesan Lagu
Kisah lagu ini adalah kisah tentang **kemenangan iman atas ketakutan**. Paul Gerhardt membuktikan bahwa meskipun seseorang kehilangan segalanya—harta, keluarga, dan posisi—ia tetap memiliki Allah yang tidak akan pernah meninggalkan ciptaan-Nya.
Lagu ini menjadi pengingat abadi bahwa:
1. **Dunia ini berubah,** tetapi Tuhan tidak.
2. **Kekhawatiran adalah beban yang sia-sia,** jika kita sudah menyerahkannya kepada Yang Maha Kuasa.
3. **Kesabaran dalam penderitaan** adalah bentuk tertinggi dari ketaatan seorang beriman.
Saat Anda mendengar atau menyanyikan "Pracaya Lan Pasrah", Anda sebenarnya sedang melantunkan doa seorang pria yang hidup di tengah reruntuhan perang 400 tahun lalu, yang memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan adalah nahkoda di tengah badai hidupnya.
Untuk memahami kisah di balik lagu ini, kita harus melihat dua sosok utama: **Paul Gerhardt** (penulis syair) dan **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (komponis melodi yang sering dikaitkan dengan tradisi lagu ini).
Berikut adalah detail kisahnya:
### 1. Latar Belakang Penulis Syair: Paul Gerhardt (1607–1676)
Paul Gerhardt adalah seorang pendeta Lutheran di Jerman yang hidup di masa yang sangat kelam, yaitu **Perang Tiga Puluh Tahun** (1618–1648). Masa ini adalah salah satu periode paling destruktif dalam sejarah Eropa, yang menyebabkan kelaparan, wabah penyakit, dan kehancuran moral.
**Kisah di balik syairnya:**
Pada tahun 1653, Gerhardt menulis himne ini. Konon, ia menulisnya dalam masa kesedihan yang mendalam. Ia kehilangan banyak anggota keluarganya, dipecat dari pekerjaannya karena alasan teologis, dan hidup dalam pengasingan.
Syair "Befiehl du deine Wege" (Serahkanlah jalan hidupmu) didasarkan pada **Mazmur 37:5**: *"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak."*
Gerhardt ingin menyampaikan pesan bahwa di tengah badai kehidupan yang tampak tidak terkendali, Tuhan tetap memegang kendali. Stanza pertama lagu ini secara harfiah berbunyi: *"Serahkanlah jalan hidupmu dan segala yang membebanimu kepada kesetiaan kasih Allah yang bertahta di surga."*
### 2. Musik dan Johannes Gijsbertus Bastiaans
Melodi yang paling identik dengan syair Gerhardt ini dikenal dengan nama *Herzlich tut mich verlangen* (sering dikaitkan dengan Hans Leo Hassler). Namun, peran **Johannes Gijsbertus Bastiaans** (1812–1875), seorang organis dan komponis asal Belanda, sangat krusial dalam mempopulerkan dan mengaransemen lagu ini dalam tradisi Protestan di wilayah Eropa, termasuk pengaruhnya hingga ke gereja-gereja di Indonesia.
Bastiaans adalah tokoh musik gereja yang sangat dihormati. Ia banyak melakukan harmonisasi ulang atas himne-himne klasik (seperti karya Bach dan Gerhardt) agar dapat dinyanyikan dengan lebih khidmat di gereja-gereja reformasi. Melalui aransemennya, lagu ini mendapatkan karakter "pasrah" yang mendalam—nada yang tenang, lambat, dan kontemplatif.
### 3. Makna dalam Budaya Indonesia: "Pracaya Lan Pasrah"
Dalam bahasa Jawa, lagu ini menjadi sangat ikonik. Kata *"Pracaya"* (Percaya) dan *"Pasrah"* (Berserah) menangkap esensi teologi Paul Gerhardt secara sempurna:
* **Pracaya (Percaya):** Bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik, meskipun mata manusia tidak bisa melihatnya.
* **Pasrah (Berserah):** Melepaskan kendali atas ego dan kekhawatiran diri sendiri ke dalam tangan Tuhan.
Bagi masyarakat Kristen di Jawa, lagu ini sering dinyanyikan saat masa-masa duka (seperti pemakaman) atau saat jemaat berada dalam titik terendah dalam hidup mereka. Musik yang dibuat oleh tokoh seperti Bastiaans memberikan ruang bagi jemaat untuk tidak hanya menyanyi, tetapi melakukan "kontemplasi" atau perenungan batin.
### Ringkasan Pesan Lagu
Kisah lagu ini adalah kisah tentang **kemenangan iman atas ketakutan**. Paul Gerhardt membuktikan bahwa meskipun seseorang kehilangan segalanya—harta, keluarga, dan posisi—ia tetap memiliki Allah yang tidak akan pernah meninggalkan ciptaan-Nya.
Lagu ini menjadi pengingat abadi bahwa:
1. **Dunia ini berubah,** tetapi Tuhan tidak.
2. **Kekhawatiran adalah beban yang sia-sia,** jika kita sudah menyerahkannya kepada Yang Maha Kuasa.
3. **Kesabaran dalam penderitaan** adalah bentuk tertinggi dari ketaatan seorang beriman.
Saat Anda mendengar atau menyanyikan "Pracaya Lan Pasrah", Anda sebenarnya sedang melantunkan doa seorang pria yang hidup di tengah reruntuhan perang 400 tahun lalu, yang memilih untuk tetap percaya bahwa Tuhan adalah nahkoda di tengah badai hidupnya.
Cross Reference
KPKA 79, NR 130, KK 530, NR 129
Serahkan Pada Tuhan
KK
Pracaya Lan Pasraha
KPKA
Karunia Baik Semua
NR
Kepada Tuhan jua
NR
Sama Tema
Kidung Pangakening Pitados
Aku Duwe Pamarta
KPJ
Allah Ingkang Masuci
KPJ
Allah Kang Dados Pepadhang
KPJ
Allah Yeku Pangen Kula
KPJ
Allah Yeku Pangen Satuhu
KPJ
Allahe Para Pracaya
KPJ
Amarema
KPJ
Amung Kumandel Iku
KPJ
Amung Wonten Ing Sariraning Gusti Yesus
KPJ
Gesang Kebak Kekeran
KPJ
Gusti Pangayom Kang Setya
KPJ
Gusti Pangungsen Kula
KPJ
Gusti Yesus Pamarta
KPJ
Gusti Yesus Pangen Kula
KPJ
Gusti Yesus Sang Pamarta
KPJ
Gusti, Sestu Kula Tresna
KPJ
Iba Rahjeng Tyang Kang Sami Sumendhe
KPJ
Kabegjan Kang Sejati
KPJ
Kala Kula Dhawah
KPJ
Kasetyaning Allah Datan Gingsir
KPJ
Krana Gusti Kula
KPJ
Kula Mboten Badhe Nilar
KPJ
Kula Nggunggung-Nggunggung Gusti
KPJ
Kula Pitados
KPJ
Kula Pitados Mring Gusti
KPJ
Kula Sestu Ndherek Gusti
KPJ
Lamun Kula Mlampah
KPJ
Nadyan Kula Nandhang Sangsara
KPJ
Nggen Kawula Makarya
KPJ
Nitenana Sihe Gusti
KPJ
Nyebuta "Gusti" Mring Sang Kristus
KPJ
Paduka Pangen Utami
KPJ
Para Bangsa Samya Ngraman
KPJ
Pitulung Kita Kang Rosa
KPJ
Pundi Margi Ingkang Kwawi Ngingkiraken
KPJ
Rahayu Wong Kang Mursid
KPJ
Rahayu Wong Wedi-Asih
KPJ
Sakehing Was-Sumelangmu Pasrahna
KPJ
Sang Kristus Tameng Santosa
KPJ
Sang Yehuwah, Yen Allah Kula
KPJ
Sihe Allah Gung Sanyata
KPJ
Tiyang Pitados
KPJ
Tyang Duraka Samya Nyatroni Kawula
KPJ
Yen Kula Sumrep, O Gusti
KPJ
Yen Nunggil Lan Gusti
KPJ
Yen Praharaning Urip Anerjang
KPJ
Yen Sira Sangsara
KPJ
Yesus Roti Panguripan
KPJ