KPPK
Beri Terbaikmu
Our Best
Informasi Lagu
342
Nomor
Kode
KPPK 342
Buku
Kidung Puji-Pujian Kristen
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Style
CountryShuffle
Pencipta Lagu
Grant Colfax Tullar (1912)
Pencipta Syair
Salathiel C. Kirk (1912)
Cross Ref.
KK 560, NP 299, NKB 126, BLP 214
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Dengar seruan-Nya, "Bri terbaikmu,"
rendah atau tinggi, Dia melihat.
Kerja semampumu, tak menuntut,
tak perlu dipuji, Dia yang tahu.
Reff
Semua kerja diberkati-Nya,
Dia mau kita berhati sungguh.
Meski yang kau mampu tak berarti,
melayanilah Dia sekuatmu.
Tak ingin dipuji, tak tergoyah,
memperkenankan-Nya, Dia senanglah.
Kerja dengan sungguh, tak mengeluh,
semua ditempuh sebaikmu.
Hari kan berlalu, dengan pesat,
bekerjalah cepat, Dia kan uji.
Tatkala Ia datang, damai senang,
ada pahala sedang menunggu.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
KK 560, NP 299, NKB 126, BLP 214
Tuhan Memanggilmu
BLP
Tuhan Memanggilmu
KK
Tuhan Memanggilmu
NKB
B'ri yang Terbaik
NP
Bila Kau Pernah Cinta Yesus
KPPK
Sampai ke Ujung Bumi
KPPK
Di Mezbah-Nya Sembahkanlah Korbanmu
KPPK
Serahkan yang Terbaik pada-Nya
KPPK
Meski Sedikit, Ia Berkenan
KPPK
O Yesus, Aku Berjanji
KPPK
Yang Pandai Sembah Ilmu
KPPK
Yang Kupersembahkan, Berasal Dari-Mu
KPPK
Bagi Yesus Tuhanku
KPPK
Pakai Hidupku Ini
KPPK
Pakai Hidupku Ini
KPPK
Kusembahkan Hidupku
KPPK
Hidupku Ini Kuserahkan
KPPK
Sejarah Lagu
Lagu "Tuhan Memanggilmu" atau yang dalam bahasa aslinya berjudul "Our Best" adalah sebuah himne yang sangat kuat dan inspiratif, yang telah menyentuh hati jutaan orang di seluruh dunia. Kisah di balik penciptaannya adalah sebuah refleksi mendalam tentang dedikasi dan panggilan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
Pencipta lirik lagu ini adalah **Grant Colfax Tullar** (1869-1950), seorang evangelis, penulis himne, dan penerbit musik yang bersemangat. Sedangkan melodinya digubah oleh **Salathiel C. Kirk** (1881-1936), seorang komposer dan musisi yang sering berkolaborasi dengan Tullar. Lagu ini diciptakan pada tahun **1912**.
**Kisah Inspirasi di Balik Lirik (oleh Grant Colfax Tullar):**
Kisah ini berawal dari pengalaman pribadi Grant Colfax Tullar di sebuah pertemuan kebangunan rohani. Tullar adalah seorang pengamat yang cermat dan sangat peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, terutama dalam konteks pelayanan gerejawi.
Pada suatu malam, Tullar menghadiri sebuah kebaktian di mana seorang pengkhotbah berbicara dengan penuh gairah dan kekuatan tentang pentingnya memberikan yang terbaik bagi Tuhan – bukan hanya sisa-sisa atau apa yang bisa disisihkan, tetapi yang paling utama dari hidup, waktu, talenta, dan harta benda kita. Pengkhotbah itu menekankan pentingnya konsekrasi total, pengabdian sepenuh hati, dan pengorbanan yang tulus.
Di tengah-tengah khotbah yang membakar semangat itu, Tullar memperhatikan seorang pemuda yang datang ke depan untuk memberikan persembahan. Pemuda itu terlihat ragu-ragu dan akhirnya, dengan sedikit canggung, ia meletakkan sebuah uang receh (sering disebut 'nickel' atau lima sen pada masa itu) ke dalam wadah persembahan.
Pemandangan itu menusuk hati Tullar. Bukan karena jumlah persembahan itu sendiri yang kecil, melainkan kontrasnya dengan seruan untuk memberikan "yang terbaik" yang baru saja disampaikan oleh pengkhotbah. Tullar merenung: "Apakah ini yang kita berikan kepada Tuhan? Sisa-sisa? Sesuatu yang kita anggap tidak terlalu berharga? Sementara Tuhan telah memberikan yang terbaik-Nya, yaitu Anak-Nya yang tunggal?"
Tullar merasa sangat tertekan oleh pengamatan ini. Ia menyadari bahwa banyak orang Kristen, termasuk dirinya sendiri, seringkali cenderung memberikan kepada Tuhan apa yang tersisa setelah mereka memenuhi keinginan dan kebutuhan pribadi mereka, bukannya memberikan yang terbaik sebagai prioritas utama. Ia merenungkan betapa seringnya kita memberikan waktu luang kita, talenta yang tidak terlalu kita gunakan, atau uang yang "tidak terlalu kita butuhkan" kepada Tuhan, alih-alih memberikan puncak dari segala yang kita miliki.
Terinspirasi oleh kejadian itu dan di bawah dorongan Roh Kudus yang kuat, Tullar bergegas pulang malam itu. Perasaan dan pikiran yang mendalam itu mengalir menjadi kata-kata, dan ia mulai menulis lirik-lirik yang kini dikenal sebagai "Our Best." Setiap bait dan setiap baris adalah refleksi dari perjuangan batinnya dan panggilannya untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan.
**Kolaborasi dengan Salathiel C. Kirk:**
Setelah menyelesaikan liriknya, Tullar tahu bahwa pesan yang kuat ini membutuhkan melodi yang sama kuatnya untuk dapat menjangkau hati banyak orang. Ia kemudian membawa lirik-lirik yang mendalam itu kepada temannya sekaligus kolaboratornya yang sering, Salathiel C. Kirk.
Kirk, dengan kepekaan musikalnya yang luar biasa, mampu menangkap esensi pesan Tullar dan menuangkannya ke dalam melodi yang kuat, mengalir, dan mudah diingat. Melodi Kirk memberikan bobot emosional dan urgensi pada setiap kata Tullar, menjadikannya sebuah himne yang benar-benar menggetarkan jiwa. Perpaduan lirik yang tulus dan melodi yang indah menciptakan sebuah karya yang abadi.
**Pesan dan Dampak "Our Best":**
Inti pesan dari "Our Best" atau "Tuhan Memanggilmu" adalah sebuah seruan untuk konsekrasi total, pengabdian tanpa syarat, dan pemberian yang sepenuh hati kepada Tuhan. Lagu ini menantang setiap pendengarnya untuk memeriksa kembali tingkat komitmen mereka:
* **Waktu:** Apakah kita memberikan waktu terbaik dan paling produktif kita untuk melayani Tuhan, atau hanya sisa-sisa waktu luang kita?
* **Talenta:** Apakah kita menggunakan bakat dan kemampuan terbaik kita untuk memuliakan Tuhan, ataukah kita menyimpannya untuk kepentingan diri sendiri dan hanya memberikan kemampuan "biasa-biasa saja" kepada gereja?
* **Harta:** Apakah kita memberikan persembahan yang tulus dan murah hati dari yang terbaik yang kita miliki, atau hanya memberikan apa yang tersisa?
* **Hidup:** Apakah seluruh hidup kita, dengan segala kekuatan dan semangatnya, didedikasikan untuk Kristus, ataukah kita hanya memberikan sebagian kecil dari diri kita?
Himne ini dengan cepat menyebar luas di kalangan gereja-gereja Injili dan pertemuan kebangunan rohani di Amerika Utara dan kemudian ke seluruh dunia. Pesannya yang universal dan menantang resonansi dengan banyak orang Kristen yang merindukan kehidupan yang lebih berdedikasi kepada Tuhan.
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer dengan judul "Tuhan Memanggilmu" dan sering dinyanyikan dalam kebaktian, KKR, pertemuan pemuda, dan acara-acara rohani lainnya. Pesannya yang kuat tentang pentingnya pengabdian total dan memberikan "yang terbaik" masih relevan hingga hari ini, mendorong setiap orang percaya untuk merenungkan kembali kualitas persembahan hidup mereka kepada Tuhan yang telah memberikan segalanya bagi mereka.
Hingga kini, "Tuhan Memanggilmu" tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa panggilan Tuhan bukan untuk sisa-sisa kita, melainkan untuk **yang terbaik** dari diri kita.
Pencipta lirik lagu ini adalah **Grant Colfax Tullar** (1869-1950), seorang evangelis, penulis himne, dan penerbit musik yang bersemangat. Sedangkan melodinya digubah oleh **Salathiel C. Kirk** (1881-1936), seorang komposer dan musisi yang sering berkolaborasi dengan Tullar. Lagu ini diciptakan pada tahun **1912**.
**Kisah Inspirasi di Balik Lirik (oleh Grant Colfax Tullar):**
Kisah ini berawal dari pengalaman pribadi Grant Colfax Tullar di sebuah pertemuan kebangunan rohani. Tullar adalah seorang pengamat yang cermat dan sangat peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya, terutama dalam konteks pelayanan gerejawi.
Pada suatu malam, Tullar menghadiri sebuah kebaktian di mana seorang pengkhotbah berbicara dengan penuh gairah dan kekuatan tentang pentingnya memberikan yang terbaik bagi Tuhan – bukan hanya sisa-sisa atau apa yang bisa disisihkan, tetapi yang paling utama dari hidup, waktu, talenta, dan harta benda kita. Pengkhotbah itu menekankan pentingnya konsekrasi total, pengabdian sepenuh hati, dan pengorbanan yang tulus.
Di tengah-tengah khotbah yang membakar semangat itu, Tullar memperhatikan seorang pemuda yang datang ke depan untuk memberikan persembahan. Pemuda itu terlihat ragu-ragu dan akhirnya, dengan sedikit canggung, ia meletakkan sebuah uang receh (sering disebut 'nickel' atau lima sen pada masa itu) ke dalam wadah persembahan.
Pemandangan itu menusuk hati Tullar. Bukan karena jumlah persembahan itu sendiri yang kecil, melainkan kontrasnya dengan seruan untuk memberikan "yang terbaik" yang baru saja disampaikan oleh pengkhotbah. Tullar merenung: "Apakah ini yang kita berikan kepada Tuhan? Sisa-sisa? Sesuatu yang kita anggap tidak terlalu berharga? Sementara Tuhan telah memberikan yang terbaik-Nya, yaitu Anak-Nya yang tunggal?"
Tullar merasa sangat tertekan oleh pengamatan ini. Ia menyadari bahwa banyak orang Kristen, termasuk dirinya sendiri, seringkali cenderung memberikan kepada Tuhan apa yang tersisa setelah mereka memenuhi keinginan dan kebutuhan pribadi mereka, bukannya memberikan yang terbaik sebagai prioritas utama. Ia merenungkan betapa seringnya kita memberikan waktu luang kita, talenta yang tidak terlalu kita gunakan, atau uang yang "tidak terlalu kita butuhkan" kepada Tuhan, alih-alih memberikan puncak dari segala yang kita miliki.
Terinspirasi oleh kejadian itu dan di bawah dorongan Roh Kudus yang kuat, Tullar bergegas pulang malam itu. Perasaan dan pikiran yang mendalam itu mengalir menjadi kata-kata, dan ia mulai menulis lirik-lirik yang kini dikenal sebagai "Our Best." Setiap bait dan setiap baris adalah refleksi dari perjuangan batinnya dan panggilannya untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan.
**Kolaborasi dengan Salathiel C. Kirk:**
Setelah menyelesaikan liriknya, Tullar tahu bahwa pesan yang kuat ini membutuhkan melodi yang sama kuatnya untuk dapat menjangkau hati banyak orang. Ia kemudian membawa lirik-lirik yang mendalam itu kepada temannya sekaligus kolaboratornya yang sering, Salathiel C. Kirk.
Kirk, dengan kepekaan musikalnya yang luar biasa, mampu menangkap esensi pesan Tullar dan menuangkannya ke dalam melodi yang kuat, mengalir, dan mudah diingat. Melodi Kirk memberikan bobot emosional dan urgensi pada setiap kata Tullar, menjadikannya sebuah himne yang benar-benar menggetarkan jiwa. Perpaduan lirik yang tulus dan melodi yang indah menciptakan sebuah karya yang abadi.
**Pesan dan Dampak "Our Best":**
Inti pesan dari "Our Best" atau "Tuhan Memanggilmu" adalah sebuah seruan untuk konsekrasi total, pengabdian tanpa syarat, dan pemberian yang sepenuh hati kepada Tuhan. Lagu ini menantang setiap pendengarnya untuk memeriksa kembali tingkat komitmen mereka:
* **Waktu:** Apakah kita memberikan waktu terbaik dan paling produktif kita untuk melayani Tuhan, atau hanya sisa-sisa waktu luang kita?
* **Talenta:** Apakah kita menggunakan bakat dan kemampuan terbaik kita untuk memuliakan Tuhan, ataukah kita menyimpannya untuk kepentingan diri sendiri dan hanya memberikan kemampuan "biasa-biasa saja" kepada gereja?
* **Harta:** Apakah kita memberikan persembahan yang tulus dan murah hati dari yang terbaik yang kita miliki, atau hanya memberikan apa yang tersisa?
* **Hidup:** Apakah seluruh hidup kita, dengan segala kekuatan dan semangatnya, didedikasikan untuk Kristus, ataukah kita hanya memberikan sebagian kecil dari diri kita?
Himne ini dengan cepat menyebar luas di kalangan gereja-gereja Injili dan pertemuan kebangunan rohani di Amerika Utara dan kemudian ke seluruh dunia. Pesannya yang universal dan menantang resonansi dengan banyak orang Kristen yang merindukan kehidupan yang lebih berdedikasi kepada Tuhan.
Di Indonesia, lagu ini menjadi sangat populer dengan judul "Tuhan Memanggilmu" dan sering dinyanyikan dalam kebaktian, KKR, pertemuan pemuda, dan acara-acara rohani lainnya. Pesannya yang kuat tentang pentingnya pengabdian total dan memberikan "yang terbaik" masih relevan hingga hari ini, mendorong setiap orang percaya untuk merenungkan kembali kualitas persembahan hidup mereka kepada Tuhan yang telah memberikan segalanya bagi mereka.
Hingga kini, "Tuhan Memanggilmu" tetap menjadi pengingat yang kuat bahwa panggilan Tuhan bukan untuk sisa-sisa kita, melainkan untuk **yang terbaik** dari diri kita.