KPPK
Penuhilah Pialaku
Fill My Cup, Lord
Informasi Lagu
272
Nomor
Kode
KPPK 272
Buku
Kidung Puji-Pujian Kristen
Metronom
0
Cross Ref.
KK 529, KPJ 193, PKJ 245
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Bagaikan wanita di tepi sumur, mencari yang puaskanku,
kudengar Tuhanku berkata, "Engkau tak akan dahaga pula."
Penuhilah, pialaku ini, sejuk dan hilangkan dahaga,
roti sorga membri hidup padaku, penuhi pialaku limpahlah!
Di dunia ni orang sedang mencari, kenikmatan dunia fana,
da sesuatu yang tak ternilai, di dalam-Nya kau kan diberi-Nya.
Hai, sobatku apa yang kau dapatkan? Tiada yang memuaskanmu,
namun kau akan dislamatkan, asalkan kau mau mohon pada-Nya.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
KK 529, KPJ 193, PKJ 245
Seperti Wanita Di Pinggir Sumur
KK
Kadi Wanita Aneng Pinggir Sumur
KPJ
Seperti Wanita di Pinggir Sumur
PKJ
Sama Tema
Kehidupan Umat Kristen - Doa Dan Harapan
Yang Letih Datanglah pada-Nya
KPPK
Adakah Namaku di Buku Hayat-Mu?
KPPK
Kehendak Tuhan Jadilah
KPPK
Penuhiku dengan Firman-Mu
KPPK
Lebih Kasihi-Mu, O Tuhanku
KPPK
Doa Bapa Kami
KPPK
Sucikan Hatiku, O Tuhanku
KPPK
Tunjukkan Jalan-Mu O, Tuhanku
KPPK
'Ku Mau Setia
KPPK
Kumohon Bagimu
KPPK
Saat Kau Berdoa
KPPK
Memperkenankan Hati Tuhan
KPPK
Dengar Doa Anak-Mu, Tuhan
KPPK
Sandar pada Tuhan, Menang 'kan Seteru
KPPK
Bukan Aku, Namun Kristus Tuhanku
KPPK
Lebih Dekat pada-Mu
KPPK
Tuhan, Kucinta-Mu Lord,
KPPK
Domba Allah, Ajarkanlah Firman-Mu
KPPK
Janganlah Kau Tinggalkanku
KPPK
Indahnya Saat Berdoa
KPPK
Setiap Saat
KPPK
Semoga 'Ku Memuji Dia
KPPK
Buka Mataku, Tuhan
KPPK
'Ku Mau Serupa Tuhan
KPPK
Seperti Yesus
KPPK
Hatiku Merindukan Yesus
KPPK
Bukakan Mataku, Tuhan
KPPK
Kupancarkan Keindahan-Mu
KPPK
Sejarah Lagu
Lagu **"Fill My Cup, Lord"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi "Isi Pialaku, Tuhan" atau dalam beberapa versi yang merujuk pada kisah wanita Samaria sebagai "Seperti Wanita di Pinggir Sumur") adalah salah satu lagu rohani klasik yang paling dicintai di dunia.
Kisah di balik lagu ini sangat menyentuh karena berkaitan dengan keputusasaan manusia yang kemudian menemukan jawaban dalam janji Tuhan. Berikut adalah detail kisah dan latar belakangnya:
### 1. Penulis: Richard Blanchard
Lagu ini ditulis oleh **Richard Eugene Blanchard Sr.** (1925–2004), seorang pendeta Metodis asal Amerika Serikat. Blanchard bukanlah seorang penulis lagu profesional, melainkan seorang hamba Tuhan yang melayani dengan tulus.
### 2. Latar Belakang Penulisan (1959)
Peristiwa penulisan lagu ini terjadi pada tahun 1959. Saat itu, Blanchard sedang melayani di sebuah gereja di Florida. Kisah ini berawal dari sebuah situasi di mana ia merasa lelah secara emosional dan spiritual.
Menurut penuturan keluarganya, Blanchard sedang duduk di beranda rumahnya setelah melakukan kunjungan pastoral yang berat. Ia merasa "kosong" dan tidak berdaya untuk menghadapi berbagai masalah jemaat yang ia tanggung. Dalam kondisi yang sangat rentan tersebut, ia merenungkan kisah **pertemuan Yesus dengan wanita Samaria di sumur Yakub** (Yohanes 4).
### 3. Koneksi dengan Kisah Alkitab (Yohanes 4)
Alasan lagu ini sering disebut dengan judul "Seperti Wanita di Pinggir Sumur" adalah karena bait pertamanya terinspirasi langsung dari perikop tersebut:
* **Wanita Samaria:** Dalam Alkitab, wanita ini digambarkan sebagai seseorang yang haus akan kasih sayang, memiliki masa lalu yang kelam, dan mencari kepuasan hidup di tempat yang salah (lewat hubungan dengan banyak pria). Namun, ketika ia bertemu Yesus, ia menemukan "Air Hidup" yang membuat jiwanya tidak haus lagi.
* **Refleksi Blanchard:** Blanchard merasa dirinya serupa dengan wanita tersebut. Ia menyadari bahwa ia telah mencoba mengandalkan kekuatannya sendiri dalam melayani, namun ia gagal. Ia menyadari bahwa satu-satunya cara untuk melayani dengan benar adalah dengan membiarkan Tuhan "mengisi piala/hidupnya" terlebih dahulu.
### 4. Makna Liriknya
Lirik lagu ini mencerminkan transisi dari keputusasaan menuju penyerahan diri:
* **Bait pertama:** Mengakui bahwa semua pencarian duniawi (seperti yang dilakukan wanita Samaria) tidak akan pernah memuaskan jiwa.
* **Refrain (Chorus):** *"Fill my cup, Lord, I lift it up, Lord..."* (Isi pialaku, Tuhan, kuangkat bagi-Mu). Ini adalah doa penyerahan total. Blanchard mengakui bahwa dia tidak punya apa-apa untuk diberikan, dan ia meminta Tuhan untuk memberikan kuasa-Nya (Air Hidup) agar hidupnya kembali penuh.
### 5. Dampak Lagu Ini
Setelah menulis lagu tersebut, Blanchard awalnya hanya menyanyikannya sendiri atau di lingkungan gerejanya yang kecil. Namun, lagu ini dengan cepat menyebar karena kesederhanaan dan kedalaman teologinya. Lagu ini menjadi lagu wajib di banyak kebaktian, terutama saat momen perjamuan kudus atau saat pelayanan altar (altar call), di mana orang-orang datang untuk menyerahkan hidup mereka kembali kepada Tuhan.
### Kesimpulan
Lagu "Fill My Cup, Lord" lahir bukan dari kemegahan, melainkan dari **"kekosongan spiritual"**. Richard Blanchard menunjukkan bahwa setiap orang—bahkan seorang pendeta sekalipun—bisa mencapai titik di mana mereka merasa kering dan lelah. Namun, pesan utamanya adalah harapan: bahwa sesibuk apa pun atau seberat apa pun beban hidup, jika kita datang kepada Yesus dan "mengangkat piala kita," Ia berjanji akan mengisinya dengan damai sejahtera dan kekuatan yang tidak akan pernah habis.
Itulah sebabnya lagu ini tetap relevan hingga hari ini, karena setiap orang Kristen, pada suatu titik dalam hidupnya, pasti merasa perlu untuk berkata, *"Isi pialaku, Tuhan."*
Kisah di balik lagu ini sangat menyentuh karena berkaitan dengan keputusasaan manusia yang kemudian menemukan jawaban dalam janji Tuhan. Berikut adalah detail kisah dan latar belakangnya:
### 1. Penulis: Richard Blanchard
Lagu ini ditulis oleh **Richard Eugene Blanchard Sr.** (1925–2004), seorang pendeta Metodis asal Amerika Serikat. Blanchard bukanlah seorang penulis lagu profesional, melainkan seorang hamba Tuhan yang melayani dengan tulus.
### 2. Latar Belakang Penulisan (1959)
Peristiwa penulisan lagu ini terjadi pada tahun 1959. Saat itu, Blanchard sedang melayani di sebuah gereja di Florida. Kisah ini berawal dari sebuah situasi di mana ia merasa lelah secara emosional dan spiritual.
Menurut penuturan keluarganya, Blanchard sedang duduk di beranda rumahnya setelah melakukan kunjungan pastoral yang berat. Ia merasa "kosong" dan tidak berdaya untuk menghadapi berbagai masalah jemaat yang ia tanggung. Dalam kondisi yang sangat rentan tersebut, ia merenungkan kisah **pertemuan Yesus dengan wanita Samaria di sumur Yakub** (Yohanes 4).
### 3. Koneksi dengan Kisah Alkitab (Yohanes 4)
Alasan lagu ini sering disebut dengan judul "Seperti Wanita di Pinggir Sumur" adalah karena bait pertamanya terinspirasi langsung dari perikop tersebut:
* **Wanita Samaria:** Dalam Alkitab, wanita ini digambarkan sebagai seseorang yang haus akan kasih sayang, memiliki masa lalu yang kelam, dan mencari kepuasan hidup di tempat yang salah (lewat hubungan dengan banyak pria). Namun, ketika ia bertemu Yesus, ia menemukan "Air Hidup" yang membuat jiwanya tidak haus lagi.
* **Refleksi Blanchard:** Blanchard merasa dirinya serupa dengan wanita tersebut. Ia menyadari bahwa ia telah mencoba mengandalkan kekuatannya sendiri dalam melayani, namun ia gagal. Ia menyadari bahwa satu-satunya cara untuk melayani dengan benar adalah dengan membiarkan Tuhan "mengisi piala/hidupnya" terlebih dahulu.
### 4. Makna Liriknya
Lirik lagu ini mencerminkan transisi dari keputusasaan menuju penyerahan diri:
* **Bait pertama:** Mengakui bahwa semua pencarian duniawi (seperti yang dilakukan wanita Samaria) tidak akan pernah memuaskan jiwa.
* **Refrain (Chorus):** *"Fill my cup, Lord, I lift it up, Lord..."* (Isi pialaku, Tuhan, kuangkat bagi-Mu). Ini adalah doa penyerahan total. Blanchard mengakui bahwa dia tidak punya apa-apa untuk diberikan, dan ia meminta Tuhan untuk memberikan kuasa-Nya (Air Hidup) agar hidupnya kembali penuh.
### 5. Dampak Lagu Ini
Setelah menulis lagu tersebut, Blanchard awalnya hanya menyanyikannya sendiri atau di lingkungan gerejanya yang kecil. Namun, lagu ini dengan cepat menyebar karena kesederhanaan dan kedalaman teologinya. Lagu ini menjadi lagu wajib di banyak kebaktian, terutama saat momen perjamuan kudus atau saat pelayanan altar (altar call), di mana orang-orang datang untuk menyerahkan hidup mereka kembali kepada Tuhan.
### Kesimpulan
Lagu "Fill My Cup, Lord" lahir bukan dari kemegahan, melainkan dari **"kekosongan spiritual"**. Richard Blanchard menunjukkan bahwa setiap orang—bahkan seorang pendeta sekalipun—bisa mencapai titik di mana mereka merasa kering dan lelah. Namun, pesan utamanya adalah harapan: bahwa sesibuk apa pun atau seberat apa pun beban hidup, jika kita datang kepada Yesus dan "mengangkat piala kita," Ia berjanji akan mengisinya dengan damai sejahtera dan kekuatan yang tidak akan pernah habis.
Itulah sebabnya lagu ini tetap relevan hingga hari ini, karena setiap orang Kristen, pada suatu titik dalam hidupnya, pasti merasa perlu untuk berkata, *"Isi pialaku, Tuhan."*