Informasi Lagu
56
Nomor
Kode
KPPK 56
Buku
Kidung Puji-Pujian Kristen
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 60, KK 130, NP 102
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Hai, semua ciptaan-Nya, bernyanyi dan memujilah! Halleluya, halleluya. Sinar mentari memancar, trang lembut bulan di langit. Halleluya, halleluya. Halleluya, halleluya.
Air jernih mengalirlah, bagai musik kidung indah, halleluya, halleluya. Kaulah sumber terang baka, Yang membrikan kehangatan. Halleluya, halleluya. Halleluya, halleluya.
Hai, semua ciptaan-Nya, Bersujud dan menyembahlah! Halleluya, halleluya. Puji, Bapa, Putra dan Roh, puji Dia Allah yang Esa. Halleluya, halleluya. Halleluya, halleluya.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KPPK 56 1
Slide 2 — KPPK 56 2
Slide 3 — KPPK 56 3
Partitur / Not
Partitur Chord KPPK 56
Sejarah Lagu
Lagu **"All Creatures of Our God and King"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Marilah Ciptaan Tuhan"*) adalah salah satu kidung pujian paling megah dan abadi dalam sejarah kekristenan. Kisah di baliknya adalah perjalanan panjang selama berabad-abad yang melibatkan seorang mistikus Italia, rasa sakit, dan kebutuhan untuk menghibur umat di Inggris.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu ini:

### 1. Sumber Inspirasi: Santo Fransiskus dari Asisi (1225)
Akar lagu ini berasal dari puisi berjudul ***Cantico di frate Sole*** (Kidung Saudara Matahari) yang ditulis oleh **Santo Fransiskus dari Asisi** sekitar tahun 1225.

Ada detail tragis di balik penulisan kidung ini:
* **Kondisi Fransiskus:** Saat menulisnya, Fransiskus sudah berada di penghujung hidupnya. Ia menderita sakit parah, hampir buta karena infeksi mata yang kronis, dan merasa kesepian setelah ditinggal oleh para pengikutnya yang sedang berdebat mengenai aturan ordo.
* **Momen Pencerahan:** Meskipun dalam keadaan sakit fisik dan mental yang berat, Fransiskus justru mendapatkan penglihatan tentang kebaikan Tuhan melalui alam semesta. Ia mendiktekan kidung ini kepada muridnya sebagai bentuk kepasrahan dan syukur. Ia memanggil alam semesta—matahari, bulan, angin, air, api, dan bumi—sebagai "saudara" dan "saudari", merayakan ciptaan sebagai cerminan kemuliaan Sang Pencipta.

### 2. Transformasi ke Bahasa Inggris: William H. Draper (1926)
Selama berabad-abad, puisi Fransiskus tetap dalam bahasa Italia kuno (dialek Umbria) dan digunakan di lingkungan ordo Fransiskan. Barulah pada awal abad ke-20, **William H. Draper** (1855–1933), seorang pendeta Anglikan di Inggris, mengadaptasinya.

Kisah di balik versi Draper pun cukup unik:
* **Tujuan Pendidikan:** Draper menulis lirik bahasa Inggris ini untuk anak-anak di sebuah sekolah di Leeds, Inggris. Ia ingin mengajar mereka cara memuji Tuhan melalui alam dengan lagu yang megah namun mudah dinyanyikan.
* **Konteks Waktu:** Lagu ini diterbitkan dalam *The English Hymnal* pada tahun 1926. Draper mengadaptasi struktur Fransiskus namun menyesuaikannya ke dalam metrum (irama) yang cocok untuk dinyanyikan oleh jemaat besar.

### 3. Melodi: *Lasst uns erfreuen* (1623)
Lagu ini tidak lengkap tanpa melodinya yang ikonik, yaitu *Lasst uns erfreuen*.
* Melodi ini berasal dari buku nyanyian Jerman yang diterbitkan di Cologne pada tahun 1623.
* Ini adalah melodi "Paskah" yang meriah, yang sangat kontras dengan latar belakang penulisan puisi aslinya yang ditulis dalam penderitaan. Perpaduan antara lirik Fransiskus yang puitis-kontemplatif dengan musik Jerman yang kuat dan penuh kemenangan inilah yang membuat lagu ini terasa begitu megah.

### 4. Makna Teologis
Pesan utama dari lagu ini adalah **"Panentheisme Kristen"** yang positif (Tuhan ada di dalam segala sesuatu). Berbeda dengan pandangan yang menganggap dunia material sebagai sesuatu yang berdosa, Fransiskus mengajak umat untuk melihat alam sebagai sarana penyembahan:
* **Matahari (Saudara Matahari)** melambangkan terang Tuhan.
* **Bulan dan Bintang** melambangkan keindahan yang Tuhan taburkan di malam hari.
* **Angin, Air, dan Api** adalah kekuatan alam yang tunduk pada kehendak Tuhan.
* **Kematian (Saudari Maut)**—di bagian akhir kidung Fransiskus—dilihat sebagai transisi menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta.

### Kesimpulan
Lagu *All Creatures of Our God and King* adalah perpaduan lintas zaman:
1. **Abad ke-13:** Perenungan mendalam seorang santo yang sedang sekarat tentang keindahan Tuhan di tengah penderitaan.
2. **Abad ke-17:** Melodi Jerman yang membangkitkan semangat dan kegembiraan.
3. **Abad ke-20:** Adaptasi William Draper yang menjadikannya kidung wajib dalam ibadah di seluruh dunia.

Saat kita menyanyikannya hari ini, kita sebenarnya sedang menyuarakan kekaguman yang sama dengan yang dirasakan oleh Fransiskus dari Asisi 800 tahun yang lalu: sebuah ajakan untuk menyadari bahwa setiap elemen di bumi memiliki peran dalam memuji Tuhan.
Kembali ke KPPK