Informasi Lagu
289
Nomor
Kode
NKI 289
Buku
Nyanyian Kemenangan Iman
Metronom
0
Style
FinalWaltz
Cross Ref.
NKB 3, KMM 33, GB 164, NP 15, K 58, KPPK 26
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Terpujilah Allah hikmat-Nya besar Begitu kasih-Nya ‘ntuk dunia cemar Sehingga dibrilah putra-Nya kudus Mengangkat manusia serta menebus. Pujilah, pujilah buatlah dunia Bergemar, bergemar mendengar suara-Nya Datang pada Allah demi putra-Nya B’ri puji pada-Nya sebab hikmat-Nya.
Tebusan sempurna kar’na dibayar Dengan darah Yesus yang tak bercemar Orang yang terhina pun dijanji-Nya Sesaat percaya diampuni-Nya.
Tiada terukur besar hikmat-Nya Penuhlah hatiku sebab Anak-Nya Dan amatlah k’lak hati kita senang Memandang Yesus dalam surga cerlang.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — NKI 289 1
Slide 2 — NKI 289 2
Slide 3 — NKI 289 3
Slide 4 — NKI 289 4
Partitur / Not
Partitur Chord NKI 289
Sejarah Lagu
Kisah yang mendalam dan penuh inspirasi di balik lagu pujian agung, "Terpujilah Allah" (To God Be The Glory), sebuah mahakarya kolaborasi antara Fanny Jane Crosby dan William Howard Doane.

**Latar Belakang Para Pencipta:**

1. **Fanny Jane Crosby (1820-1915): Sang Penyair Injil yang Buta Namun Penuh Visi**
Fanny Crosby adalah salah satu penulis himne paling produktif dalam sejarah Kristen, dengan lebih dari 8.000 himne atas namanya (beberapa di antaranya ditulis dengan nama samaran). Kisah hidupnya sendiri sudah merupakan kesaksian iman yang luar biasa. Ia menjadi buta pada usia enam minggu karena kesalahan medis. Namun, alih-alih membiarkan kebutaan menjadi penghalang, Fanny menganggapnya sebagai anugerah yang memungkinkannya untuk memusatkan perhatian pada Tuhan.

Ia sering berkata, "Jika seandainya saya bisa meminta satu permohonan saat lahir, itu adalah bahwa saya dilahirkan buta. Karena ketika saya masuk ke dalam gerbang surga, wajah pertama yang akan berseri-seri menyambut saya adalah wajah Juruselamat saya." Pandangan positif ini menjiwai seluruh tulisannya. Dia memiliki kemampuan luar biasa untuk menghafal, dan meskipun buta, dia bisa mendiktekan lirik-lirik himnenya dengan cepat. Iman, sukacita, dan pengharapan akan Surga selalu menjadi tema sentral dalam karyanya.

2. **William Howard Doane (1832-1915): Pengusaha, Penemu, dan Komposer Setia**
William Howard Doane adalah seorang pengusaha sukses, penemu, dan juga seorang komposer musik yang berdedikasi. Ia memegang banyak paten atas penemuannya, terutama di bidang manufaktur kayu, dan menjalankan perusahaan yang sangat menguntungkan. Namun, semangatnya untuk musik rohani tak kalah besar. Doane adalah seorang filantropis yang murah hati dan juga seorang komposer yang produktif, yang sering bekerja sama dengan Fanny Crosby.

Hubungan kerja mereka adalah simbiosis yang indah: Doane akan sering mengirimkan melodi atau tema tertentu kepada Crosby, dan Crosby akan dengan cepat menuliskan lirik yang sesuai, seringkali dalam waktu kurang dari setengah jam. Mereka berdua memiliki hati yang sama-sama bersemangat untuk memuliakan Tuhan melalui musik.

**Kelahiran "To God Be The Glory": Awal yang Tersembunyi**

Lagu "To God Be The Glory" ditulis sekitar tahun 1872-1875. Fanny Crosby menulis liriknya sebagai respons terhadap melodi yang diciptakan oleh William Howard Doane. Doane memasukkan lagu ini ke dalam salah satu koleksi himnenya, **"Brightest and Best"** yang diterbitkan pada tahun 1875.

Namun, yang menarik adalah bahwa pada awalnya, lagu ini tidak mendapatkan perhatian yang luas atau popularitas yang instan. Ia mungkin saja akan tetap menjadi salah satu dari ribuan himne yang kurang dikenal jika bukan karena intervensi ilahi dan seorang evangelis terkenal.

**Peran Dwight L. Moody dan Ira D. Sankey: Penemu Kembali dan Penyebar Luas**

Pada pertengahan tahun 1870-an, Dwight L. Moody, seorang penginjil besar Amerika, dan Ira D. Sankey, penyanyi dan direktur musiknya, sedang melakukan kampanye kebangunan rohani besar-besaran di Inggris dan Amerika Serikat. Mereka dikenal karena penggunaan himne dan musik sebagai bagian integral dari pelayanan mereka untuk menyentuh hati banyak orang.

Ketika Moody dan Sankey kembali dari pelayanan kebangunan rohani mereka yang sangat sukses di Inggris pada tahun 1875, mereka membawa serta banyak himne yang telah populer di sana. Namun, Sankey merasa bahwa mereka membutuhkan lebih banyak lagu-lagu baru dan kuat yang diciptakan di Amerika untuk kampanye kebangunan rohani mereka yang berikutnya.

Sankey kemudian menulis surat kepada Doane, meminta dia untuk mengirimkan himne-himne baru yang mungkin cocok untuk pelayanan mereka. Doane, merespons permintaan itu, mengirimkan Sankey beberapa lagu dari koleksi himnenya yang sudah diterbitkan, termasuk "To God Be The Glory."

Begitu Ira Sankey melihat dan mendengar melodi serta lirik "To God Be The Glory," ia segera menyadari potensi besar lagu ini. Melodi Doane yang kuat dan lirik Crosby yang penuh semangat dan teologis dengan sempurna menangkap esensi pesan Injil dan dorongan untuk memuji Tuhan atas keselamatan. Lirik-liriknya berbicara tentang karya besar Allah, pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, penebusan yang sempurna, dan janji kedatangan-Nya kembali.

Sankey dengan cepat memasukkan "To God Be The Glory" ke dalam kompilasi himne yang sangat berpengaruh, **"Gospel Hymns No. 2,"** yang diterbitkan pada tahun 1876. Dari sinilah, lagu ini meledak menjadi popularitas.

**Dampak dan Warisan:**

* **Penyebaran Global:** "To God Be The Glory" menjadi lagu kebangsaan bagi gerakan kebangunan rohani Moody dan Sankey. Jutaan orang di seluruh dunia mendengarnya, menyanyikannya, dan dihibur serta diinspirasi oleh pesan-pesannya. Lagu ini dengan cepat diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan menjadi pokok di gereja-gereja dan pertemuan-pertemuan Injil di seluruh dunia.
* **Pujian Tak Berkesudahan:** Inti dari lagu ini adalah pujian yang tak berkesudahan kepada Allah atas pekerjaan-Nya yang luar biasa, khususnya dalam memberikan Anak-Nya, Yesus Kristus, untuk penebusan umat manusia. Ini adalah sebuah himne yang merayakan kasih karunia Allah yang tak terhingga.
* **Kesaksian Fanny Crosby:** Bagi Fanny Crosby, popularitas lagu ini adalah validasi akan keyakinannya bahwa kebutaannya bukanlah kutukan, melainkan alat yang digunakan Tuhan untuk kemuliaan-Nya. Dia terus menulis hingga akhir hayatnya, selalu dengan tujuan tunggal untuk membawa jiwa-jiwa kepada Kristus melalui lagu-lagunya.

"Terpujilah Allah" bukan hanya sebuah lagu, tetapi sebuah kesaksian yang hidup tentang bagaimana Tuhan dapat menggunakan individu yang berdedikasi, bahkan dalam keterbatasan fisik, dan bagaimana Ia dapat mengorkestrasi penemuan kembali sebuah karya seni rohani pada waktu yang tepat untuk menginspirasi generasi dan membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Lagu ini terus dinyanyikan hingga hari ini, menggemakan pesan abadi bahwa segala kemuliaan hanyalah bagi Allah.
Kembali ke NKI