Informasi Lagu
17
Nomor
Kode
NKI 17
Buku
Nyanyian Kemenangan Iman
Metronom
0
Cross Ref.
NP 36, NKI 17, KPPK 3, KJ 294
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Beribu lidah patutlah Memuji Tuhanku Dan mewartakan Kuasa-Nya Dengan kidung merdu.
Yesus nama-Mu cukuplah Menghibur yang sedih Membuat hati tenteram Pemaram yang pedih.
Dan kuasa iblis pun lenyap Lepas tawanannya Dosa betapapun besar Dibasuh darah-Nya.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — NKI 17 1
Slide 2 — NKI 17 2
Slide 3 — NKI 17 3
Partitur / Not
Partitur Chord NKI 17
Sejarah Lagu
Lagu **"O for a Thousand Tongues to Sing"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai **"Seribu Lidah Berpadu"**) adalah salah satu himne Kristen paling ikonik di dunia. Kisah di baliknya adalah sebuah perjalanan transformasi rohani yang luar biasa dari penulisnya, **Charles Wesley**.

Berikut adalah detail kisah di balik terciptanya mahakarya ini:

### 1. Latar Belakang: Pertobatan Charles Wesley
Charles Wesley (adik dari pendiri Metodisme, John Wesley) menulis syair lagu ini pada tanggal **21 Mei 1738**. Ini adalah hari yang sangat bersejarah baginya karena tepat satu hari sebelumnya, Charles mengalami pengalaman spiritual yang mendalam.

Pada masa itu, Charles menderita sakit parah (pleuritis). Dalam kondisi lemah dan bergumul dengan ketakutan akan kematian, ia merasa hatinya kosong. Ia kemudian mengalami pengalaman "pertobatan" di mana ia merasa keyakinannya kepada Yesus Kristus menjadi nyata dan personal. Ia menulis dalam jurnalnya bahwa ia merasakan kedamaian yang luar biasa dan pemulihan dari rasa takut.

### 2. Inspirasi Penulisan: "Ulang Tahun Pertobatanku"
Satu tahun setelah peristiwa tersebut, tepatnya pada tanggal 21 Mei 1739, Charles Wesley menulis sebuah puisi panjang sebagai peringatan atas hari pertobatannya. Puisi ini awalnya berjudul **"For the Anniversary Day of One's Conversion."**

Bait pertama dari puisi aslinya berbunyi:
> *"Glory to God, and praise, and love, / Be ever, ever given, / By saints below and saints above, / The church in earth and heaven."*

Namun, bait yang paling terkenal dan kemudian dijadikan lagu pembuka himne ini adalah bait ketujuh dari puisi tersebut:
> *"O for a thousand tongues to sing / My great Redeemer's praise / The glories of my God and King / The triumphs of his grace!"*

(Wahai, seandainya aku punya seribu lidah untuk menyanyikan pujian bagi Penebusku yang agung, kemuliaan Allah dan Rajaku, dan kemenangan kasih karunia-Nya!)

### 3. Makna di Balik "Seribu Lidah"
Frasa "Seribu Lidah" bukanlah sekadar hiperbola puitis. Charles Wesley mendapatkan inspirasi frasa ini dari mentornya, **Peter Böhler**, seorang penginjil dari Moravia.

Ketika Charles menceritakan betapa besarnya keinginan hatinya untuk memuji Tuhan setelah pertobatannya, Böhler menjawab dengan pernyataan yang menyentuh hati:
> *"Seandainya aku memiliki seribu lidah, aku akan menggunakannya semuanya untuk memuji Kristus."*

Kata-kata ini membekas di hati Charles, dan ia menuangkannya ke dalam syair yang kemudian menjadi himne yang menyebar ke seluruh dunia.

### 4. Melodi: Carl G. Glaser
Meskipun Charles Wesley menulis syairnya pada tahun 1739, melodi yang kita kenal sekarang (sering disebut sebagai lagu **"Azmon"**) tidak berasal dari Wesley.

Melodi ini diciptakan oleh **Carl Gotthelf Glaser** (1784–1829), seorang musisi dan guru musik asal Jerman. Melodi ini awalnya bukanlah musik gerejawi, melainkan sebuah karya instrumental. Kemudian, pada tahun 1839 (tepat 100 tahun setelah syairnya ditulis), **Lowell Mason**, seorang komposer Amerika terkemuka, mengadaptasi melodi Glaser untuk digabungkan dengan syair Charles Wesley.

Hasil gabungan ini menjadi sangat populer karena melodinya yang megah, bersemangat, dan mudah dinyanyikan oleh jemaat dalam jumlah besar.

### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Penting?
Lagu ini bukan sekadar lagu pujian biasa. Dalam tradisi Gereja Metodis, lagu ini hampir selalu menjadi **nomor urut pertama** dalam buku nyanyian gereja (Hymnal). Ini melambangkan pengakuan bahwa:
* Pujian kepada Allah adalah hal yang utama.
* Kasih karunia Tuhan adalah alasan utama seseorang percaya.
* Satu lidah (satu kehidupan manusia) saja tidak cukup untuk membalas kasih Tuhan yang begitu besar.

### Kesimpulan
"O for a Thousand Tongues to Sing" adalah perpaduan antara **kesaksian pribadi Charles Wesley** akan kasih karunia Allah, **nasihat rohani dari Peter Böhler**, dan **komposisi musik dari Carl G. Glaser**. Lagu ini tetap bertahan selama hampir 300 tahun karena pesan intinya yang jujur: sebuah kerinduan untuk memuji Tuhan seumur hidup dengan segala kemampuan yang dimiliki manusia.
Kembali ke NKI