Informasi Lagu
72
Nomor
Kode
PKJ 72
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
Arnoldus Isaak Apituley
Pencipta Syair
Arnoldus Isaak Apituley
Cross Ref.
KK 192
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Siapa gerangan Sang Raja yang t’lah lahir? Ikut petunjuk para malaikat. Lekaslah cari Sang Bayi dipalungan, Dibungkus lampin; mari melihat! Nyanyikan sorak bergempita bagi Allah! Sang Jurus’lamat datang kedunia! Nyanyikan sorak bergempita bagi Allah! KelahiranNya membawa damai.
Nubuat lama yang dulu disabdakan kini ternyata t’lah digenapi. Sang Raja Damai pembawa t’rang abadi sekarang lahir; sorga bernyanyi.
Bayi yang kudus, Engkaulah Raja Damai. Benci Kau ubah menjadi kasih. Yang bermusuhan menjadi bersahabat, yang putus asa berpengharapan.
Ya Jurus’lamat, dengarlah doa kami. Tetaplah tinggal dihati kami. Berkati kami dan jadikanlah kami saluran berkat bagi sesama.
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — PKJ 72 1
Slide 2 — PKJ 72 2
Slide 3 — PKJ 72 3
Slide 4 — PKJ 72 4
Slide 5 — PKJ 72 5
Partitur / Not
Partitur Chord PKJ 72
Cross Reference
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu "Siapa Gerangan Sang Raja" atau dalam judul aslinya "Nu Zijt Wellekome" adalah sebuah narasi yang kaya akan sejarah gereja, semangat nasionalisme, dan upaya indigenisasi iman di Indonesia, khususnya di Maluku. Lagu ini bukan sekadar terjemahan, melainkan adaptasi yang mendalam oleh seorang tokoh penting dalam sejarah Gereja Protestan Maluku (GPM), Pdt. Arnoldus Isaak Apituley.

Mari kita selami kisah detailnya:

---

### **1. Asal Mula: "Nu Zijt Wellekome" - Sebuah Kidung Abad Pertengahan Belanda**

Sebelum kita membahas karya Apituley, penting untuk mengetahui asal-usul lagu ini. "Nu Zijt Wellekome" adalah salah satu kidung Natal tertua dan paling dicintai di Belanda, diperkirakan berasal dari abad ke-14 atau bahkan lebih awal. Kidung ini adalah contoh "Kerstlied" (lagu Natal) tradisional yang menceritakan kedatangan Yesus Kristus ke dunia. Liriknya sederhana namun mendalam, menggambarkan kegembiraan atas kelahiran Raja Damai.

Selama berabad-abad, kidung ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Natal di gereja-gereja Protestan dan Katolik di Belanda. Melodinya yang merdu dan liriknya yang penuh sukacita dibawa oleh para misionaris Belanda ke berbagai wilayah koloni, termasuk Hindia Belanda (Indonesia).

### **2. Era Kolonial dan Kebutuhan Akan Kidung Lokal**

Ketika Belanda berkuasa di Indonesia, bahasa Belanda menjadi bahasa gereja, pendidikan, dan pemerintahan. Kidung-kidung dan liturgi sebagian besar menggunakan bahasa Belanda. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul kebutuhan yang semakin mendesak untuk membuat ibadah menjadi lebih inklusif dan relevan bagi jemaat lokal yang tidak memahami bahasa Belanda.

Pijar-pijar nasionalisme mulai menyala di awal abad ke-20, dan ini juga merambat ke dalam kehidupan gerejawi. Ada keinginan kuat untuk memiliki literatur gereja, termasuk kidung, dalam bahasa Melayu (yang kemudian menjadi Bahasa Indonesia).

### **3. Arnoldus Isaak Apituley: Sang Tokoh Kunci**

Di sinilah peran **Arnoldus Isaak Apituley** menjadi sangat sentral. Lahir di Saparua, Maluku, pada tahun 1902, Apituley adalah seorang figur intelektual dan spiritual yang luar biasa. Ia menempuh pendidikan teologi di Belanda dan kembali ke Maluku sebagai pendeta. Apituley dikenal bukan hanya sebagai pengkhotbah ulung, tetapi juga sebagai seorang musisi, linguis, dan budayawan yang sangat mencintai tanah airnya.

Ia memiliki pemahaman mendalam tentang bahasa Belanda, bahasa Melayu/Indonesia, serta bahasa daerah Maluku. Visi Apituley adalah agar jemaat dapat beribadah sepenuhnya dalam bahasa yang mereka pahami, sehingga pesan Injil dapat meresap lebih dalam ke hati dan pikiran mereka.

### **4. Gelora Nasionalisme dan Proyek "Indigenisasi" Kidung**

Masa-masa sekitar Perang Dunia II dan setelah kemerdekaan Indonesia (1940-an hingga 1950-an) adalah periode yang penuh gejolak. Pendudukan Jepang, proklamasi kemerdekaan, dan perjuangan melawan Belanda yang ingin kembali, semuanya membangkitkan gelora semangat nasionalisme yang luar biasa.

Dalam konteks gereja, ini berarti perlunya memisahkan diri dari warisan kolonial secara bahasa dan budaya. Gereja-gereja di Indonesia, termasuk GPM, mulai secara aktif menerjemahkan dan mengadaptasi kidung-kidung asing, serta menciptakan kidung-kidung baru yang berakar pada budaya Indonesia.

Pada masa inilah, di bawah payung lembaga seperti **Komisi Revisi Injil dan Kidung (KRIS)** yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya **Yayasan Musik Gereja (YAMUGER)**, para cendekiawan gereja berkumpul untuk mengerjakan proyek raksasa: menciptakan buku nyanyian rohani berbahasa Indonesia yang komprehensif. Apituley adalah salah satu anggota kunci dari komisi ini, yang bertugas tidak hanya menerjemahkan tetapi juga menyusun dan menggubah lirik.

### **5. Lahirnya "Siapa Gerangan Sang Raja": Lebih dari Sekadar Terjemahan**

Apituley mengambil kidung "Nu Zijt Wellekome" yang sangat ia kenal dan cintai dari masa pendidikannya di Belanda. Namun, ia tidak sekadar menerjemahkan secara harfiah. Ia melakukan **adaptasi puitis dan teologis** yang brilian.

* **Judul:** Ia mengubah judul menjadi "Siapa Gerangan Sang Raja". Pemilihan kata "Siapa Gerangan" bukan hanya terjemahan, melainkan sebuah pertanyaan retoris yang menggugah, mengajak jemaat untuk merenungkan identitas Kristus yang lahir di kandang Betlehem. Ini menciptakan efek dramatis dan partisipatif yang kuat.
* **Keindahan Bahasa Indonesia:** Apituley sangat mahir dalam menggunakan kekayaan bahasa Indonesia. Ia memilih kata-kata yang mengalir, mudah diingat, dan tetap mempertahankan makna serta suasana sukacita dan kekudusan dari lagu aslinya.
* **Kesesuaian Metrum dan Melodi:** Tantangan terbesar dalam menerjemahkan lagu adalah menjaga agar lirik baru tetap pas dengan metrum dan melodi aslinya. Apituley berhasil melakukannya dengan sangat baik, sehingga lagu ini terasa alami dan mudah dinyanyikan dalam bahasa Indonesia.
* **Nuansa Teologis:** Ia memastikan bahwa setiap bait tetap menyampaikan pesan teologis inti tentang inkarnasi, kerendahan hati Yesus, dan misi penebusan-Nya, namun dengan sentuhan yang dapat dipahami dan dirasakan oleh jemaat Indonesia.

Dengan sentuhan Apituley, "Nu Zijt Wellekome" bertransformasi menjadi "Siapa Gerangan Sang Raja", sebuah lagu yang tidak lagi terasa asing atau sekadar "pinjaman" dari budaya lain, melainkan sebuah ekspresi iman yang otentik dalam konteks Indonesia.

### **6. Dampak dan Warisan**

"Siapa Gerangan Sang Raja" dengan cepat menjadi salah satu kidung Natal paling populer di gereja-gereja di Indonesia, terutama di GPM. Lagu ini dimasukkan dalam buku-buku nyanyian rohani gereja, termasuk **Buku Nyanyian Rohani (BNR)** yang diterbitkan oleh GPM dan kemudian dalam **Kidung Jemaat**, buku nyanyian resmi yang digunakan oleh banyak gereja Protestan di Indonesia.

Melalui karya Apituley dan rekan-rekannya, kidung-kidung yang dulunya hanya dapat diakses oleh segelintir orang yang berbahasa Belanda, kini dapat dinyanyikan dan dihayati oleh jutaan jemaat di seluruh nusantara. Ini adalah pencapaian besar dalam upaya indigenisasi teologi dan liturgi di Indonesia.

"Siapa Gerangan Sang Raja" bukan hanya lagu Natal yang indah. Ia adalah monumen sejarah yang melambangkan:
* Jembatan antara tradisi Eropa dan ekspresi iman Indonesia.
* Kecerdasan linguistik dan spiritual Pdt. Arnoldus Isaak Apituley.
* Semangat gereja-gereja Indonesia untuk menemukan identitasnya sendiri pasca-kolonial.
* Kemenangan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dalam ibadah.

Demikianlah kisah detail di balik lagu "Siapa Gerangan Sang Raja", sebuah mahakarya adaptasi yang terus memberkati jemaat di Indonesia hingga saat ini.
Kembali ke PKJ