PKJ
Hai Gembala Efrata
Herders, hoe ontwaakt gij niet?
Informasi Lagu
65
Nomor
Kode
PKJ 65
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
Anonim
Pencipta Syair
Anonim
Cross Ref.
NR 40, KK 177, GB 151
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Hai gembala Efrata, mari, bangun, tengoklah!
Suara malak dari sorga berkumandang diudara,
Gloria, gloria!
Kidung yang belum pernah terdengar didunia
bawa kabar yang senang dari langit yang cerlang.
Betlehem di Efrata, baik disana carilah
Anak dalam kain bedungan yang berbaring dipalungan:
Gloria, gloria!
Kanak-kanak itulah Tuhan seg’nap dunia.
Bangun, carilah terus Put’ra itu yang kudus.
Persembahan apakah kamu b’ri kepadaNya?
Hati rendah dipilihNya daripada harta dunia:
Gloria, gloria!
Mari mengabarkanlah sampai ujung dunia
kelahiran Putera, Jurus’lamat dunia.
Slide Lirik
6 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
Sama Tema
Masa Adven, Masa Natal, dan Epifania
Hai Umat Manusia
PKJ
Anak di Palungan
PKJ
Bayi Mungil
PKJ
Berkumandang di Angkasa Raya
PKJ
Di Saat Malam Sunyi Senyap
PKJ
Hai Umat, Puji Allahmu
PKJ
Itulah Natal Pertama
PKJ
O Tuhanku Yesus
PKJ
Rombongan Hewan Mencari Bayi
PKJ
S'lamat Datang Kami Ucapkan
PKJ
Waktu Malam Penuh Bintang Terang
PKJ
Siapa Gerangan Sang Raja
PKJ
T'lah Turun ke Dunia
PKJ
Waktu Malam yang Sepi
PKJ
Tuhanku, Biarlah Kini HambaMu Pergi
PKJ
Sejarah Lagu
Lagu **"Hai Gembala Efrata"** (dalam bahasa Belanda berjudul asli **"Herders, hoe ontwaakt gij niet?"**) adalah salah satu kidung Natal klasik yang sangat berakar dalam tradisi perayaan Natal di Belanda.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Asal-Usul dan Bahasa
Lagu ini merupakan lagu rakyat (folk song) tradisional Belanda. Judul aslinya, *Herders, hoe ontwaakt gij niet?*, secara harfiah berarti *"Para gembala, mengapa kalian tidak terbangun?"*.
Lagu ini tidak memiliki satu penulis tunggal yang terdokumentasi secara resmi (anonim), melainkan berkembang melalui tradisi lisan di masyarakat Belanda selama berabad-abad. Melodinya memiliki karakteristik musik Barok awal atau akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18, yang sering dikaitkan dengan tradisi musik gerejawi di Belanda Utara.
### 2. Makna dan Narasi Lirik
Lagu ini berbentuk ajakan atau "seruan" kepada para gembala yang sedang berjaga di padang Efrata pada malam Natal.
* **Panggilan untuk Bangun:** Liriknya dimulai dengan pertanyaan retoris kepada para gembala: "Mengapa kalian tidak terbangun?" Ini melambangkan panggilan Tuhan bagi jiwa-jiwa yang sedang "tertidur" (tidak peduli atau tidak sadar) untuk segera menyaksikan peristiwa besar yang akan terjadi.
* **Pesan Sukacita:** Lagu ini kemudian menarasikan bagaimana para gembala tersebut dipanggil untuk pergi ke Betlehem guna melihat bayi Yesus, sang Juruselamat dunia.
* **Suasana:** Lagu ini diciptakan untuk menciptakan suasana kontemplatif sekaligus penuh sukacita. Dalam tradisi Belanda, lagu ini sering dinyanyikan dalam persekutuan doa atau ibadah rumah tangga menjelang hari Natal.
### 3. Struktur Musik
Secara musikal, lagu ini dikenal karena nadanya yang lembut namun memiliki tempo yang ajak untuk bergerak (seperti melangkah menuju kandang Betlehem). Melodinya bersifat *pastoral* (berhubungan dengan kehidupan gembala), yang lazim digunakan dalam musik klasik untuk menggambarkan suasana pedesaan di sekitar Betlehem pada malam kelahiran Yesus.
### 4. Masuknya ke Indonesia
Kehadiran lagu ini di Indonesia tidak lepas dari sejarah misi zending Belanda di tanah air. Banyak lagu-lagu Natal dari Belanda diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dimasukkan ke dalam buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau *Pelengkap Kidung Jemaat*).
Di Indonesia, lagu ini lebih dikenal dengan judul **"Hai Gembala Efrata"**. Terjemahannya disesuaikan agar tetap mempertahankan rima dan makna teologisnya, yaitu ajakan untuk meninggalkan ketakutan dan keraguan, lalu bergegas menemui Sang Raja yang lahir di kandang domba.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Ikonik?
Ada beberapa alasan mengapa lagu ini tetap lestari:
* **Kesederhanaan:** Pesan yang disampaikan sangat lugas dan mudah dimengerti, bahkan oleh anak-anak.
* **Panggilan Pribadi:** Tidak seperti lagu Natal yang hanya bersifat memuji (seperti *Malam Kudus*), lagu ini bersifat *ajakan*. Pendengar seolah diajak langsung oleh penulisnya untuk ikut bersama para gembala.
* **Warisan Budaya:** Bagi banyak jemaat di Indonesia yang memiliki akar tradisi gereja Protestan yang kuat, lagu ini membangkitkan nostalgia masa kecil akan ibadah Natal yang khidmat.
### Lirik Singkat (Bahasa Indonesia):
*Hai gembala Efrata, bangkitlah dan bangunlah!*
*Dengar warta mulia: Kristus lahir bagi kita.*
*Mari pergi, jangan ragu, lihat bayi di palungan,*
*Sujud syukur, kasih tulus, bagi Raja kes'lamatan.*
**Kesimpulan:**
*Herders, hoe ontwaakt gij niet?* adalah saksi bisu bagaimana tradisi Natal rakyat Belanda tetap hidup hingga hari ini melalui nyanyian. Lagu ini berfungsi sebagai "panggilan untuk berjaga-jaga" secara spiritual, mengingatkan umat Kristiani bahwa berita kelahiran Yesus bukanlah berita yang hanya didengar, tetapi berita yang harus membuat kita "bangun" dan bergegas untuk menemui-Nya.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Asal-Usul dan Bahasa
Lagu ini merupakan lagu rakyat (folk song) tradisional Belanda. Judul aslinya, *Herders, hoe ontwaakt gij niet?*, secara harfiah berarti *"Para gembala, mengapa kalian tidak terbangun?"*.
Lagu ini tidak memiliki satu penulis tunggal yang terdokumentasi secara resmi (anonim), melainkan berkembang melalui tradisi lisan di masyarakat Belanda selama berabad-abad. Melodinya memiliki karakteristik musik Barok awal atau akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18, yang sering dikaitkan dengan tradisi musik gerejawi di Belanda Utara.
### 2. Makna dan Narasi Lirik
Lagu ini berbentuk ajakan atau "seruan" kepada para gembala yang sedang berjaga di padang Efrata pada malam Natal.
* **Panggilan untuk Bangun:** Liriknya dimulai dengan pertanyaan retoris kepada para gembala: "Mengapa kalian tidak terbangun?" Ini melambangkan panggilan Tuhan bagi jiwa-jiwa yang sedang "tertidur" (tidak peduli atau tidak sadar) untuk segera menyaksikan peristiwa besar yang akan terjadi.
* **Pesan Sukacita:** Lagu ini kemudian menarasikan bagaimana para gembala tersebut dipanggil untuk pergi ke Betlehem guna melihat bayi Yesus, sang Juruselamat dunia.
* **Suasana:** Lagu ini diciptakan untuk menciptakan suasana kontemplatif sekaligus penuh sukacita. Dalam tradisi Belanda, lagu ini sering dinyanyikan dalam persekutuan doa atau ibadah rumah tangga menjelang hari Natal.
### 3. Struktur Musik
Secara musikal, lagu ini dikenal karena nadanya yang lembut namun memiliki tempo yang ajak untuk bergerak (seperti melangkah menuju kandang Betlehem). Melodinya bersifat *pastoral* (berhubungan dengan kehidupan gembala), yang lazim digunakan dalam musik klasik untuk menggambarkan suasana pedesaan di sekitar Betlehem pada malam kelahiran Yesus.
### 4. Masuknya ke Indonesia
Kehadiran lagu ini di Indonesia tidak lepas dari sejarah misi zending Belanda di tanah air. Banyak lagu-lagu Natal dari Belanda diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dimasukkan ke dalam buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau *Pelengkap Kidung Jemaat*).
Di Indonesia, lagu ini lebih dikenal dengan judul **"Hai Gembala Efrata"**. Terjemahannya disesuaikan agar tetap mempertahankan rima dan makna teologisnya, yaitu ajakan untuk meninggalkan ketakutan dan keraguan, lalu bergegas menemui Sang Raja yang lahir di kandang domba.
### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Ikonik?
Ada beberapa alasan mengapa lagu ini tetap lestari:
* **Kesederhanaan:** Pesan yang disampaikan sangat lugas dan mudah dimengerti, bahkan oleh anak-anak.
* **Panggilan Pribadi:** Tidak seperti lagu Natal yang hanya bersifat memuji (seperti *Malam Kudus*), lagu ini bersifat *ajakan*. Pendengar seolah diajak langsung oleh penulisnya untuk ikut bersama para gembala.
* **Warisan Budaya:** Bagi banyak jemaat di Indonesia yang memiliki akar tradisi gereja Protestan yang kuat, lagu ini membangkitkan nostalgia masa kecil akan ibadah Natal yang khidmat.
### Lirik Singkat (Bahasa Indonesia):
*Hai gembala Efrata, bangkitlah dan bangunlah!*
*Dengar warta mulia: Kristus lahir bagi kita.*
*Mari pergi, jangan ragu, lihat bayi di palungan,*
*Sujud syukur, kasih tulus, bagi Raja kes'lamatan.*
**Kesimpulan:**
*Herders, hoe ontwaakt gij niet?* adalah saksi bisu bagaimana tradisi Natal rakyat Belanda tetap hidup hingga hari ini melalui nyanyian. Lagu ini berfungsi sebagai "panggilan untuk berjaga-jaga" secara spiritual, mengingatkan umat Kristiani bahwa berita kelahiran Yesus bukanlah berita yang hanya didengar, tetapi berita yang harus membuat kita "bangun" dan bergegas untuk menemui-Nya.