Informasi Lagu
464
Nomor
Kode
KK 464
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Style
Cool8Beat
Pencipta Lagu
Johann Cruger
Pencipta Syair
Martin Rinckart
Cross Ref.
KJ 287b, NR 16, BE 4, KKb 24
Dengarkan di YouTube
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KK 464 1
Slide 2 — KK 464 2
Slide 3 — KK 464 3
Partitur / Not
Partitur Chord KK 464
Sejarah Lagu
Kisah yang mendalam dan penuh makna di balik lagu pujian yang megah, "Nun Danket Alle Gott" (Sekarang B'ri Syukur) atau dalam bahasa Inggris, "Now Thank We All Our God". Kisah ini melibatkan dua tokoh utama dan latar belakang sejarah yang sangat kelam namun menghasilkan ekspresi iman yang luar biasa.

### Latar Belakang Sejarah: Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648)

Untuk memahami konteks lagu ini, kita harus mundur ke abad ke-17 di Eropa Tengah, khususnya Jerman. Ini adalah masa **Perang Tiga Puluh Tahun**, konflik paling menghancurkan dalam sejarah Eropa hingga Perang Dunia I. Ini bukan hanya perang agama antara Protestan dan Katolik, tetapi juga perebutan kekuasaan politik yang melibatkan banyak negara besar Eropa.

Konsekuensi dari perang ini sangat mengerikan:
* **Kematian Massal:** Diperkirakan 4 hingga 8 juta orang tewas, sebagian besar warga sipil. Beberapa wilayah kehilangan hingga 75% populasinya.
* **Kelaparan dan Wabah Penyakit:** Pasukan yang bergerilya membawa serta penyakit dan merampok hasil panen, menyebabkan kelaparan parah dan wabah penyakit seperti pes.
* **Kehancuran Ekonomi:** Infrastruktur hancur, pertanian lumpuh, dan ekonomi macet.
* **Penderitaan Manusia yang Tak Terhingga:** Kekerasan, penyiksaan, dan keputusasaan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Di tengah kegelapan inilah, dua nama muncul: **Martin Rinckart** (penulis lirik) dan **Johann Crüger** (komposer melodi).

---

### Bagian 1: Kisah Martin Rinckart dan Lirik "Nun Danket Alle Gott"

**Martin Rinckart (1586-1649)** adalah seorang pastor Lutheran yang tinggal di kota kecil **Eilenburg**, Saxony, Jerman. Eilenburg adalah salah satu kota yang paling menderita selama Perang Tiga Puluh Tahun. Kota ini dikepung berkali-kali oleh berbagai pasukan yang berbeda, dijarah, dibakar, dan menjadi pusat penderitaan manusia yang ekstrem.

Bayangkan kehidupan Rinckart:
* **Pastor yang Setia di Tengah Neraka:** Sejak tahun 1617, Rinckart melayani sebagai pastor di Eilenburg. Selama tiga puluh tahun perang, dia tetap tinggal di posnya, bahkan ketika banyak pejabat dan pemimpin kota melarikan diri.
* **Beban yang Tak Terbayangkan:** Rinckart tidak hanya mengurus kebutuhan rohani jemaatnya, tetapi juga menjadi tulang punggung masyarakat yang hancur. Ketika wabah pes melanda Eilenburg pada tahun 1637, ia adalah satu-satunya pastor yang tersisa. Dia menguburkan ribuan orang – diperkirakan hingga 4.000 orang dalam satu tahun saja – seringkali harus menguburkan 40-50 jenazah dalam sehari. Konon, Rinckart bahkan menguburkan jenazah istrinya sendiri pada masa-masa kelam itu.
* **Pemimpin Multitasking:** Dengan hancurnya struktur pemerintahan kota, Rinckart juga mengambil alih banyak tugas sipil. Dia sering bertindak sebagai bendahara kota, hakim, dan bahkan bernegosiasi dengan pasukan pendudukan untuk menyelamatkan kotanya dari kehancuran total.
* **Iman yang Tak Goyah:** Di tengah kelaparan, penyakit, kematian massal, dan keputusasaan yang meluas, iman Rinckart tetap menjadi mercusuar harapan. Dia menyaksikan begitu banyak penderitaan sehingga ia dapat dengan mudah menyerah pada keputusasaan, namun ia memilih untuk memegang teguh keyakinannya pada pemeliharaan Tuhan.

**Bagaimana Lirik Ini Tercipta?**

Awalnya, Rinckart menulis teks ini sebagai **"Tischlied"** (lagu meja atau doa syukur sebelum makan) untuk keluarganya pada tahun **1636**. Teks ini pertama kali muncul dalam dramanya, "Der fromme David," dan kemudian diterbitkan secara independen. Meskipun dimaksudkan sebagai doa syukur sederhana, liriknya mencerminkan kedalaman imannya yang diuji dalam api penderitaan:

* **Stanza 1:** Panggilan untuk bersyukur kepada Allah, sumber segala berkat, yang telah menopang kita dari rahim ibu dan akan terus menyertai kita. Ini adalah pengakuan atas anugerah Allah di tengah kekurangan.
* **Stanza 2:** Permohonan agar Allah melindungi kita dari kejahatan, memberikan kedamaian, dan menuntun kita dalam hidup ini. Ini adalah doa untuk perlindungan di tengah bahaya dan kekacauan.
* **Stanza 3:** Pujian bagi Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus yang kekal, dengan nyanyian dan sukacita yang tak berkesudahan. Ini adalah penegasan iman dan pengharapan akan kemuliaan surgawi, meskipun hidup di bumi penuh kesengsaraan.

Lirik ini bukan hanya tentang bersyukur atas makanan di meja, tetapi tentang bersyukur atas kehidupan itu sendiri, atas pemeliharaan Tuhan yang tak terlihat namun nyata, di tengah-tengah kehancuran yang total. Ini adalah seruan untuk memuji Tuhan bukan *karena* keadaan baik, tetapi *meskipun* keadaan buruk, sebagai tindakan iman dan ketaatan.

---

### Bagian 2: Kisah Johann Crüger dan Melodi "Nun Danket Alle Gott"

**Johann Crüger (1598-1662)** adalah seorang komposer dan organis gereja yang sangat berpengaruh pada masanya. Dia menjabat sebagai **Kantor dan Kapellmeister** (direktur musik) di Gereja St. Nikolaus di Berlin. Crüger dikenal karena komitmennya untuk membuat musik gereja yang sederhana, mudah dinyanyikan, namun tetap agung dan teologis.

* **Penyusun Kidung Jemaat yang Prolifik:** Crüger adalah editor dari salah satu koleksi himne Protestan yang paling penting dan populer di Jerman abad ke-17: **"Praxis Pietatis Melica"** (Praktik Kesalehan Melodis), yang pertama kali diterbitkan pada tahun **1647**. Buku ini memuat lebih dari 400 himne, termasuk banyak karya Crüger sendiri dan melodi untuk lirik-lirik yang sudah ada.
* **Pertemuan Lirik dan Melodi:** Pada edisi tahun 1647 inilah, Crüger menyatukan lirik Martin Rinckart dengan melodi yang telah ia gubah atau atur. Melodi Crüger untuk "Nun Danket Alle Gott" dikenal karena kesederhanaan, kekuatan, dan kemudahannya untuk dinyanyikan oleh jemaat. Melodi ini memiliki nuansa yang khusyuk namun penuh harapan, yang sangat cocok dengan pesan liriknya.

Ketika lirik yang penuh makna dari Rinckart bertemu dengan melodi yang kuat dan mudah diingat dari Crüger, lagu ini segera menjadi sangat populer. Ini adalah paduan sempurna antara teks yang menyentuh jiwa dan musik yang menguatkan hati.

---

### Dampak dan Warisan

1. **Himne Kemenangan dan Syukur:** Meskipun awalnya ditulis di tengah penderitaan, "Nun Danket Alle Gott" menjadi lagu syukur yang paling sering dinyanyikan ketika **Perang Tiga Puluh Tahun berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Westphalia pada tahun 1648**. Seluruh Jerman yang lelah perang akhirnya bisa menarik napas lega, dan lagu Rinckart-Crüger menjadi ekspresi kolektif atas kelegaan dan rasa syukur mereka kepada Tuhan atas berakhirnya konflik yang mengerikan itu. Lagu ini menjadi semacam "lagu kebangsaan" rasa syukur bagi bangsa Jerman.

2. **Pengaruh Abadi:**
* **Johann Sebastian Bach:** Salah satu komposer terbesar sepanjang masa, Johann Sebastian Bach, mengagumi melodi ini dan menggunakannya dalam beberapa karyanya, termasuk dua kantata (BWV 79 dan BWV 192). Ini semakin mengukuhkan tempatnya dalam sejarah musik gereja.
* **Terjemahan Global:** Pada tahun 1858, **Catherine Winkworth**, seorang penerjemah himne Jerman yang brilian, menerjemahkan lagu ini ke dalam bahasa Inggris dengan judul **"Now Thank We All Our God."** Terjemahan Winkworth sangat setia pada makna aslinya dan memungkinkan lagu ini menyebar ke seluruh dunia Anglo-Saxon dan selanjutnya.
* **Penggunaan Modern:** Hingga hari ini, "Nun Danket Alle Gott" atau "Now Thank We All Our God" tetap menjadi salah satu lagu pujian yang paling dicintai dan sering dinyanyikan di gereja-gereja Protestan di seluruh dunia. Di Indonesia, lagu ini dikenal dengan judul "Sekarang B'ri Syukur" dan terdapat dalam banyak buku kidung jemaat.

### Kesimpulan

Kisah di balik "Nun Danket Alle Gott" adalah kisah tentang iman yang luar biasa di tengah cobaan yang ekstrem. Martin Rinckart tidak menulis lirik ini dari menara gading atau dalam suasana damai, melainkan dari kedalaman penderitaan yang tak terbayangkan. Ia adalah seorang gembala yang tetap setia pada jemaatnya yang sekarat, seorang pemimpin yang tak kenal lelah, dan seorang hamba Tuhan yang memilih untuk bersyukur bahkan ketika semua yang ada di sekitarnya runtuh.

Johann Crüger kemudian memberikan melodi yang sempurna untuk lirik tersebut, menciptakan sebuah karya yang tidak hanya agung secara musikal tetapi juga mampu menyuarakan rasa syukur dan pengharapan yang mendalam. Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah lagu yang melampaui waktu dan terus menginspirasi jutaan orang untuk bersyukur kepada Tuhan, bukan hanya di saat-saat baik, tetapi juga di tengah badai kehidupan. Lagu ini adalah pengingat abadi akan kekuatan iman, ketahanan roh manusia, dan pemeliharaan Allah yang tak berkesudahan.
Kembali ke KK