Informasi Lagu
388
Nomor
Kode
KK 388
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Adrianus Djalimun
Pencipta Syair
Adrianus Djalimun
Penerjemah
Abdhi Khristianta Samuel
Cross Ref.
KKb 14(modif)
Dengarkan di YouTube
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KK 388 1
Slide 2 — KK 388 2
Slide 3 — KK 388 3
Slide 4 — KK 388 4
Partitur / Not
Partitur Chord KK 388
Sejarah Lagu
Lagu **"Ya, Tuhanku Yang Di Surga"** (atau dalam bahasa Sunda dikenal dengan judul **"Nun, Panuyun Nu Di Manggung"**) merupakan salah satu lagu rohani Kristen yang sangat ikonik, khususnya di kalangan jemaat Gereja Kristen Pasundan (GKP) dan gereja-gereja di tanah Jawa Barat.

Kisah di balik lagu ini tidak bisa dilepaskan dari sosok **Adrianus Djalimun**, seorang tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan melalui musik gerejawi dan penginjilan di lingkungan masyarakat Sunda.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik penciptaan lagu tersebut:

### 1. Sosok Adrianus Djalimun
Adrianus Djalimun bukanlah sekadar musisi, melainkan seorang penginjil dan guru yang memiliki beban besar agar Injil dapat diterima oleh masyarakat Sunda melalui jalur kebudayaan. Ia percaya bahwa cara terbaik untuk menyentuh hati orang Sunda adalah melalui bahasa ibu mereka, yakni Bahasa Sunda, yang memiliki nuansa kelembutan dan kesantunan yang kental.

### 2. Latar Belakang Penciptaan
Lagu ini lahir dari refleksi mendalam Djalimun akan ketergantungan manusia kepada Tuhan. Dalam budaya Sunda, konsep tentang "Manggung" (yang di atas/langit) menggambarkan Tuhan sebagai Yang Mahatinggi yang memelihara kehidupan manusia di bumi.

* **Pencarian Bahasa:** Djalimun ingin menciptakan lagu yang tidak terdengar "asing" atau "terjemahan" dari lagu barat. Ia ingin lagu tersebut terasa akrab di telinga jemaat Sunda, seperti sedang berbicara langsung kepada Tuhan dalam doa yang puitis.
* **Konteks Inkulturasi:** Pada masa itu (sekitar pertengahan abad ke-20), gereja-gereja di Jawa Barat sedang giat melakukan inkulturasi (memadukan iman Kristen dengan budaya lokal). Djalimun adalah salah satu pionir yang menulis lagu rohani dengan lirik Bahasa Sunda yang sangat halus (*loma* atau *lemes*).

### 3. Makna Lirik: "Nun, Panuyun Nu Di Manggung"
Judul lagu ini sendiri memiliki arti yang sangat mendalam:
* **"Nun"**: Kata seru untuk memanggil atau memohon dengan sangat hormat (serupa dengan "Ya Tuhan").
* **"Panuyun"**: Pemimpin, penuntun, atau pemberi jalan.
* **"Nu Di Manggung"**: Yang berada di tempat tinggi (Surga/Takhta Allah).

Liriknya menceritakan tentang kerendahan hati seseorang yang sadar bahwa tanpa tuntunan Tuhan, ia akan tersesat di dunia ini. Lagu ini sering dikategorikan sebagai lagu penutup ibadah atau doa syukur karena liriknya yang memohon penyertaan Tuhan dalam langkah hidup sehari-hari.

### 4. Warisan dan Dampak Lagu
Lagu ini menjadi "hymne" yang sangat penting bagi jemaat di Jawa Barat karena beberapa alasan:
* **Menembus Sekat Budaya:** Lagu ini membuktikan bahwa pesan Kristen bisa disampaikan dengan estetika budaya lokal tanpa menghilangkan esensi teologisnya.
* **Penggunaan dalam Ibadah:** Hingga saat ini, "Nun, Panuyun Nu Di Manggung" masih dinyanyikan di banyak kebaktian gereja-gereja di Jawa Barat dan diaspora Sunda.
* **Identitas Kristiani Sunda:** Lagu ini menjadi bukti sejarah bahwa ada upaya serius dari tokoh-tokoh seperti Adrianus Djalimun untuk menjadikan kekristenan sebagai bagian dari kekayaan budaya Sunda, bukan sebagai budaya yang dibawa dari luar.

### Kesimpulan
Kisah dibalik lagu ini adalah kisah tentang **kerinduan seorang hamba Tuhan untuk mendekatkan jemaat kepada Penciptanya melalui bahasa yang paling dekat dengan hati mereka.** Adrianus Djalimun tidak hanya menulis sebuah lagu, ia menulis sebuah doa kolektif yang jujur, rendah hati, dan sangat "Sunda".

Meskipun informasi mengenai tanggal tepat penciptaannya jarang terdokumentasikan dalam arsip publik yang luas, pengaruh lagu ini telah menjadi warisan rohani yang memperkaya peribadatan Kristen di Indonesia, khususnya dalam konteks budaya Sunda.
Kembali ke KK