KK
Mari, Puji Raja Surga
Praise, My Soul, The King Of Heaven
Informasi Lagu
383
Nomor
Do=D
Nada Dasar
Kode
KK 383
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
Do=D
Ketukan
2/4 ketuk
Metronom
92
Jumlah Bait
5 bait
Pencipta Lagu
John Goss (1869)
Pencipta Syair
Henry Francis Lyte (1834)
Penerjemah
Yamuger (1982)
Cross Ref.
KJ 288, NR 133, GB 13
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Mari, puji Raja surga, persembahan bawalah! DitebusNya
jiwa-raga, maka puji namaNya! Puji Dia, puji Dia,
puji Raja semesta!
Puji Yang kekal rahmatNya bagi umat dalam aib,
dulu, kini, selamanya panjang sabar, mahabaik.
Puji Dia, puji Dia, yang setiaNya ajaib!
Bagai Bapa yang penyayang, siapa kita Ia tahu;
tangan kasihNya menatang di tengah bahaya maut.
Puji Dia, puji Dia, kasihNya seluas laut!
Kita bagai bunga saja, layu habis musimnya,
tapi keadaan Raja tak berubah, tak lemah.
Puji Dia, puji Dia, yang kekal kuasaNya!
Sujudlah, hai bala surga, abdi Allah terdekat;
turut, bintang, bulan, surya, tiap waktu dan tempat.
Puji Dia, puji Dia, Sumber kasih dan berkat!
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
Sama Tema
Persembahan
Sejarah Lagu
"Mari, Puji Raja Surga" atau "Praise, My Soul, The King of Heaven" adalah salah satu himne Kristen paling agung dan dicintai sepanjang masa. Kisah di baliknya adalah perpaduan antara spiritualitas mendalam seorang penyair yang menderita dan kejeniusan musik seorang komponis yang mampu menangkap esensi lirik tersebut, meskipun keduanya tidak pernah berkolaborasi secara langsung.
Mari kita selami kisah detail di balik himne yang megah ini.
---
### Bagian 1: Sang Penyair yang Beriman di Tengah Penderitaan – Henry Francis Lyte (Lirik)
**Henry Francis Lyte** (1793–1847) adalah seorang pendeta Anglikan dan penyair himne asal Inggris yang sering kali menghadapi tantangan kesehatan yang serius sepanjang hidupnya. Ia lahir di Ednam, Skotlandia, dan menempuh pendidikan di Trinity College Dublin, di mana ia menunjukkan bakat luar biasa dalam puisi.
**Kehidupan dan Pelayanan:**
Setelah ditahbiskan pada tahun 1815, Lyte melayani di beberapa paroki, namun kondisi kesehatannya (ia menderita tuberkulosis, penyakit yang sangat umum dan mematikan di zamannya) memaksanya untuk sering mencari iklim yang lebih hangat. Pada tahun 1823, ia menerima jabatan sebagai kurator di All Saints Church, Brixham, Devon, sebuah desa nelayan yang terpencil di pesisir selatan Inggris. Di sinilah ia menghabiskan sebagian besar sisa hidupnya, meskipun kesehatannya terus menurun.
Pelayanan Lyte di Brixham penuh tantangan. Ia melayani komunitas nelayan yang miskin dan keras, sering kali harus menghadapi kemiskinan dan kematian yang merajalelui. Pengalaman pribadinya dengan penyakit kronis dan seringnya menyaksikan penderitaan serta kematian di antara umatnya membentuk pandangan dunianya. Namun, di tengah semua itu, imannya tetap teguh, dan ia menemukan penghiburan dalam menulis puisi dan himne.
**Kelahiran "Praise, My Soul, The King of Heaven":**
Lyte menulis lirik "Praise, My Soul, The King of Heaven" pada tahun **1834**. Himne ini pertama kali diterbitkan dalam koleksinya sendiri yang berjudul *The Spirit of the Psalms* (1834), sebuah upaya untuk menulis ulang atau mengadaptasi Mazmur menjadi himne yang dapat dinyanyikan di gereja. Lirik ini didasarkan pada **Mazmur 103**, yang merupakan seruan yang penuh semangat untuk memuji Tuhan atas segala kebaikan dan kasih setia-Nya.
Meskipun Lyte sering menulis himne yang melankolis dan reflektif tentang kematian dan keabadian (yang paling terkenal adalah "Abide With Me," yang ditulisnya di ranjang kematiannya), "Praise, My Soul, The King of Heaven" adalah seruan yang penuh kemenangan dan optimisme. Ia menekankan kemurahan hati Allah yang tak terbatas, kesetiaan-Nya yang abadi, dan kebesaran-Nya sebagai Raja, Bapa, dan Penyembuh.
**Analisis Lirik:**
Lirik ini adalah sebuah mahakarya pujian:
* **Stanza 1:** Memanggil jiwa untuk memuji Raja Surga, menggarisbawahi kebesaran dan kemuliaan-Nya.
* **Stanza 2:** Menggambarkan Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara yang agung, yang jubah-Nya adalah cahaya dan yang menopang alam semesta.
* **Stanza 3:** Menyoroti sifat-sifat Allah sebagai "Bapa penuh kasih," "Penyembuh duka," dan "Penebus dari kesengsaraan," yang mencerminkan pemahaman Lyte akan penderitaan dan pengharapan.
* **Stanza 4:** Mengajak seluruh ciptaan – malaikat, manusia, langit, dan bumi – untuk bergabung dalam paduan suara pujian.
Lirik ini, yang lahir dari hati seorang pria yang tahu betul arti penderitaan dan penghiburan ilahi, adalah testimoni abadi akan iman yang tak tergoyahkan.
Lyte meninggal dunia pada tahun 1847 di Nice, Prancis, saat mencari iklim yang lebih hangat, setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit. Ia meninggalkan warisan himne yang tak ternilai harganya.
---
### Bagian 2: Sang Komponis yang Mengabadikan – Sir John Goss (Musik)
Meskipun lirik "Praise, My Soul, The King of Heaven" telah ada sejak tahun 1834, himne ini belum memiliki melodi yang benar-benar membuatnya bersinar dan dikenal luas. Barulah puluhan tahun kemudian, seorang komponis hebat muncul untuk memberikan melodi yang sempurna.
**Sir John Goss** (1800–1880) adalah seorang organis gereja dan komponis Inggris terkemuka. Ia adalah murid dari Thomas Attwood (yang juga murid Mozart) dan pada tahun 1838 ia menjadi organis di Katedral St. Paul yang prestisius di London. Goss adalah figur penting dalam musik gereja Inggris abad ke-19, dikenal karena karya paduan suaranya dan kontribusinya pada musik himne.
**Kelahiran Tune "LAUDA ANIMA":**
Pada tahun **1869**, John Goss diminta untuk berkontribusi pada koleksi himne baru bernama *The Hymnary*. Ia memilih lirik "Praise, My Soul, The King of Heaven" karya Henry Francis Lyte dan menggubah melodi yang megah dan bersemangat khusus untuk lirik tersebut. Ia menamai melodi ini **"LAUDA ANIMA,"** yang dalam bahasa Latin berarti "Pujilah, Jiwaku" – secara langsung merujuk pada baris pembuka himne tersebut.
**Analisis Musik "LAUDA ANIMA":**
Melodi "LAUDA ANIMA" adalah salah satu yang paling sempurna yang pernah digubah untuk sebuah himne.
* **Kemegahan dan Kekuatan:** Melodi ini dibuka dengan nada yang kuat dan menanjak, segera menangkap semangat pujian yang agung dari liriknya.
* **Dapat Dinyanyikan:** Meskipun megah, melodinya mudah diingat dan dinyanyikan oleh jemaat, menjadikannya sangat populer.
* **Kesesuaian dengan Lirik:** Ada harmoni yang luar biasa antara irama dan penekanan lirik dengan struktur musiknya. Bagian-bagian yang lebih tinggi dan melodi yang "mengangkat" sesuai dengan seruan pujian, sementara bagian yang lebih stabil memberikan fondasi.
* **Harmoni Kaya:** Harmonisasi yang diciptakan Goss menambah kedalaman dan kekayaan emosional pada himne, membuatnya terdengar meriah dan khusyuk sekaligus.
Goss, yang kemudian dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Victoria pada tahun 1872, terus berkarya hingga akhir hayatnya. Melodi "LAUDA ANIMA" menjadi salah satu pencapaian terbesarnya, memastikan bahwa lirik Lyte akan terus dinyanyikan dan dihayati oleh jutaan orang.
---
### Bagian 3: Kesatuan Takdir dan Warisan Abadi
Yang menarik adalah Lyte dan Goss tidak pernah bertemu atau berkolaborasi. Lyte telah meninggal 22 tahun sebelum Goss menggubah "LAUDA ANIMA." Ini adalah contoh yang indah dari bagaimana dua jiwa yang terpisah oleh waktu dan ruang dapat bersatu melalui seni untuk menciptakan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar penjumlahan bagian-bagiannya.
Ketika melodi "LAUDA ANIMA" karya Goss dipasangkan dengan lirik Lyte, himne ini segera menjadi sangat populer. Perpaduan antara lirik yang penuh makna dan spiritual dengan melodi yang megah dan menginspirasi menciptakan sebuah karya yang tak tertandingi dalam katalog himne Kristen.
**Dampak dan Popularitas:**
* "Praise, My Soul, The King of Heaven" dengan cepat diadopsi oleh berbagai denominasi Kristen di seluruh dunia.
* Sering dinyanyikan dalam acara-acara kenegaraan dan kerajaan di Inggris, termasuk pernikahan kerajaan dan upacara-upacara besar lainnya, karena kemegahan dan keagungannya. Ini menunjukkan universalitas pesannya.
* Terjemahan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia ("Mari, Puji Raja Surga"), memastikan bahwa pesannya dapat menyentuh hati orang-orang di seluruh dunia.
Himne ini bukan hanya sekadar lagu; ia adalah doa, deklarasi iman, dan seruan universal untuk memuji kebesaran Allah. Melalui kisah Henry Francis Lyte yang berjuang dan John Goss yang visioner, kita mendapatkan sebuah himne yang terus menginspirasi, mengangkat, dan menyatukan jutaan hati dalam pujian kepada Raja Surga.
Mari kita selami kisah detail di balik himne yang megah ini.
---
### Bagian 1: Sang Penyair yang Beriman di Tengah Penderitaan – Henry Francis Lyte (Lirik)
**Henry Francis Lyte** (1793–1847) adalah seorang pendeta Anglikan dan penyair himne asal Inggris yang sering kali menghadapi tantangan kesehatan yang serius sepanjang hidupnya. Ia lahir di Ednam, Skotlandia, dan menempuh pendidikan di Trinity College Dublin, di mana ia menunjukkan bakat luar biasa dalam puisi.
**Kehidupan dan Pelayanan:**
Setelah ditahbiskan pada tahun 1815, Lyte melayani di beberapa paroki, namun kondisi kesehatannya (ia menderita tuberkulosis, penyakit yang sangat umum dan mematikan di zamannya) memaksanya untuk sering mencari iklim yang lebih hangat. Pada tahun 1823, ia menerima jabatan sebagai kurator di All Saints Church, Brixham, Devon, sebuah desa nelayan yang terpencil di pesisir selatan Inggris. Di sinilah ia menghabiskan sebagian besar sisa hidupnya, meskipun kesehatannya terus menurun.
Pelayanan Lyte di Brixham penuh tantangan. Ia melayani komunitas nelayan yang miskin dan keras, sering kali harus menghadapi kemiskinan dan kematian yang merajalelui. Pengalaman pribadinya dengan penyakit kronis dan seringnya menyaksikan penderitaan serta kematian di antara umatnya membentuk pandangan dunianya. Namun, di tengah semua itu, imannya tetap teguh, dan ia menemukan penghiburan dalam menulis puisi dan himne.
**Kelahiran "Praise, My Soul, The King of Heaven":**
Lyte menulis lirik "Praise, My Soul, The King of Heaven" pada tahun **1834**. Himne ini pertama kali diterbitkan dalam koleksinya sendiri yang berjudul *The Spirit of the Psalms* (1834), sebuah upaya untuk menulis ulang atau mengadaptasi Mazmur menjadi himne yang dapat dinyanyikan di gereja. Lirik ini didasarkan pada **Mazmur 103**, yang merupakan seruan yang penuh semangat untuk memuji Tuhan atas segala kebaikan dan kasih setia-Nya.
Meskipun Lyte sering menulis himne yang melankolis dan reflektif tentang kematian dan keabadian (yang paling terkenal adalah "Abide With Me," yang ditulisnya di ranjang kematiannya), "Praise, My Soul, The King of Heaven" adalah seruan yang penuh kemenangan dan optimisme. Ia menekankan kemurahan hati Allah yang tak terbatas, kesetiaan-Nya yang abadi, dan kebesaran-Nya sebagai Raja, Bapa, dan Penyembuh.
**Analisis Lirik:**
Lirik ini adalah sebuah mahakarya pujian:
* **Stanza 1:** Memanggil jiwa untuk memuji Raja Surga, menggarisbawahi kebesaran dan kemuliaan-Nya.
* **Stanza 2:** Menggambarkan Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara yang agung, yang jubah-Nya adalah cahaya dan yang menopang alam semesta.
* **Stanza 3:** Menyoroti sifat-sifat Allah sebagai "Bapa penuh kasih," "Penyembuh duka," dan "Penebus dari kesengsaraan," yang mencerminkan pemahaman Lyte akan penderitaan dan pengharapan.
* **Stanza 4:** Mengajak seluruh ciptaan – malaikat, manusia, langit, dan bumi – untuk bergabung dalam paduan suara pujian.
Lirik ini, yang lahir dari hati seorang pria yang tahu betul arti penderitaan dan penghiburan ilahi, adalah testimoni abadi akan iman yang tak tergoyahkan.
Lyte meninggal dunia pada tahun 1847 di Nice, Prancis, saat mencari iklim yang lebih hangat, setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit. Ia meninggalkan warisan himne yang tak ternilai harganya.
---
### Bagian 2: Sang Komponis yang Mengabadikan – Sir John Goss (Musik)
Meskipun lirik "Praise, My Soul, The King of Heaven" telah ada sejak tahun 1834, himne ini belum memiliki melodi yang benar-benar membuatnya bersinar dan dikenal luas. Barulah puluhan tahun kemudian, seorang komponis hebat muncul untuk memberikan melodi yang sempurna.
**Sir John Goss** (1800–1880) adalah seorang organis gereja dan komponis Inggris terkemuka. Ia adalah murid dari Thomas Attwood (yang juga murid Mozart) dan pada tahun 1838 ia menjadi organis di Katedral St. Paul yang prestisius di London. Goss adalah figur penting dalam musik gereja Inggris abad ke-19, dikenal karena karya paduan suaranya dan kontribusinya pada musik himne.
**Kelahiran Tune "LAUDA ANIMA":**
Pada tahun **1869**, John Goss diminta untuk berkontribusi pada koleksi himne baru bernama *The Hymnary*. Ia memilih lirik "Praise, My Soul, The King of Heaven" karya Henry Francis Lyte dan menggubah melodi yang megah dan bersemangat khusus untuk lirik tersebut. Ia menamai melodi ini **"LAUDA ANIMA,"** yang dalam bahasa Latin berarti "Pujilah, Jiwaku" – secara langsung merujuk pada baris pembuka himne tersebut.
**Analisis Musik "LAUDA ANIMA":**
Melodi "LAUDA ANIMA" adalah salah satu yang paling sempurna yang pernah digubah untuk sebuah himne.
* **Kemegahan dan Kekuatan:** Melodi ini dibuka dengan nada yang kuat dan menanjak, segera menangkap semangat pujian yang agung dari liriknya.
* **Dapat Dinyanyikan:** Meskipun megah, melodinya mudah diingat dan dinyanyikan oleh jemaat, menjadikannya sangat populer.
* **Kesesuaian dengan Lirik:** Ada harmoni yang luar biasa antara irama dan penekanan lirik dengan struktur musiknya. Bagian-bagian yang lebih tinggi dan melodi yang "mengangkat" sesuai dengan seruan pujian, sementara bagian yang lebih stabil memberikan fondasi.
* **Harmoni Kaya:** Harmonisasi yang diciptakan Goss menambah kedalaman dan kekayaan emosional pada himne, membuatnya terdengar meriah dan khusyuk sekaligus.
Goss, yang kemudian dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Ratu Victoria pada tahun 1872, terus berkarya hingga akhir hayatnya. Melodi "LAUDA ANIMA" menjadi salah satu pencapaian terbesarnya, memastikan bahwa lirik Lyte akan terus dinyanyikan dan dihayati oleh jutaan orang.
---
### Bagian 3: Kesatuan Takdir dan Warisan Abadi
Yang menarik adalah Lyte dan Goss tidak pernah bertemu atau berkolaborasi. Lyte telah meninggal 22 tahun sebelum Goss menggubah "LAUDA ANIMA." Ini adalah contoh yang indah dari bagaimana dua jiwa yang terpisah oleh waktu dan ruang dapat bersatu melalui seni untuk menciptakan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar penjumlahan bagian-bagiannya.
Ketika melodi "LAUDA ANIMA" karya Goss dipasangkan dengan lirik Lyte, himne ini segera menjadi sangat populer. Perpaduan antara lirik yang penuh makna dan spiritual dengan melodi yang megah dan menginspirasi menciptakan sebuah karya yang tak tertandingi dalam katalog himne Kristen.
**Dampak dan Popularitas:**
* "Praise, My Soul, The King of Heaven" dengan cepat diadopsi oleh berbagai denominasi Kristen di seluruh dunia.
* Sering dinyanyikan dalam acara-acara kenegaraan dan kerajaan di Inggris, termasuk pernikahan kerajaan dan upacara-upacara besar lainnya, karena kemegahan dan keagungannya. Ini menunjukkan universalitas pesannya.
* Terjemahan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia ("Mari, Puji Raja Surga"), memastikan bahwa pesannya dapat menyentuh hati orang-orang di seluruh dunia.
Himne ini bukan hanya sekadar lagu; ia adalah doa, deklarasi iman, dan seruan universal untuk memuji kebesaran Allah. Melalui kisah Henry Francis Lyte yang berjuang dan John Goss yang visioner, kita mendapatkan sebuah himne yang terus menginspirasi, mengangkat, dan menyatukan jutaan hati dalam pujian kepada Raja Surga.