KK
Segala Benua Dan Langit Penuh
Daar Ruist Langs De Wolken
Informasi Lagu
368
Nomor
Do=D
Nada Dasar
Kode
KK 368
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
Do=D
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
126
Jumlah Bait
3 bait
Style
ChristmasShuffle, Country2_4
Pencipta Lagu
Henry Rowley Bishop (1826)
Pencipta Syair
Eduard Gerdes (1856)
Penerjemah
Isaac Samuels Kijne (1946)
Cross Ref.
KJ 281, NR 144, BE 345, KKb 87
Syair / Lirik
3 bait
Segala benua dan langit penuh
dengan bunyi nama yang sangat merdu,
penghiburan orang berhati penat,
pengharapan orang yang sudah sesat.
Nama itu suci kudus.
Siapa belum mengenal Penebus?
Sesungguhnya Yesus yang layak benar
dibri Nama itu, kudus dan besar,
yang oleh sengsara kematianNya
membri keampunan dan damai baka.
Nama itu suci kudus.
Siapa belum mengenal Penebus?
Sekalian bangsa sekali hendak
berlutut di hadapan Yesus kelak,
dan kita kiranya menyanyi serta
malaikat di surga pujian sembah:
"Yesus, Yesus, Tuhan Kudus,
dipuji kekal namaMu, Penebus!"
Slide Lirik
6 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
KJ 281, NR 144, BE 345, KKb 87
Di Dia Adian?
BE
Segala Benua dan Langit Penuh
KJ
Aya Hiji Gusti Luhur Pangkatna
KKb
Segala Benua dan Langit Penuh
NR
Sama Tema
Pernyataan Keyakinan Iman
Aku Percaya
KK
Andaikan, Yesus, 'Kau Bukan Milikku
KK
Bukanlah Kepada Kami
KK
Dalam Nama Yesus
KK
Di Bawah Salib Yesus
KK
Mengapa Yesus Turun Dari Surga
KK
Nun Di Bukit Yang Jauh
KK
Sejak 'Ku Ikut Tuhanku
KK
Seluruh Umat Tuhan
KK
Tuhan Allah Gembalaku
KK
T'lah Kutemukan Dasar Kuat
KK
Tuhan Bentengku
KK
Tuhanku Berjanji
KK
Tuhanku, Pimpinlah
KK
Yesus Tetap Mengasihi Aku
KK
Yesusku Cukup Bagiku
KK
Sejarah Lagu
Kisah mendalam di balik lagu pujian yang megah, "Segala Benua Dan Langit Penuh" atau dalam versi aslinya berbahasa Belanda, "Daar Ruist Langs De Wolken". Lagu ini adalah contoh indah bagaimana sebuah melodi dapat menempuh perjalanan melintasi benua dan generasi, diadaptasi serta diperkaya dengan makna baru.
Lagu ini merupakan perpaduan menarik antara bakat seorang komposer Inggris klasik dan seorang rohaniwan serta pujangga Belanda, yang kemudian diwariskan ke dalam khazanah lagu rohani Indonesia.
---
### Bagian 1: Melodi Awal - Henry Rowley Bishop (Inggris, Awal Abad ke-19)
Kisah melodi "Segala Benua Dan Langit Penuh" berawal dari **Sir Henry Rowley Bishop (1786–1855)**, seorang komposer Inggris yang sangat dihormati pada masanya. Bishop dikenal luas karena karyanya dalam opera, glee (jenis lagu paduan suara pendek), dan musik teater. Karyanya yang paling terkenal secara universal adalah melodi untuk lagu "Home, Sweet Home" yang abadi.
Pada tahun 1833, Bishop menulis sebuah **kantata** (sejenis karya musik vokal yang mirip oratorio atau opera pendek, biasanya tanpa pementasan panggung) berjudul **"The Cantata of the Seventh Day"** (Kadang disebut juga "The Seventh Day"). Kantata ini diciptakan untuk "Sacred Harmonic Society" di London, sebuah organisasi yang mempromosikan musik sakral.
Melodi yang kita kenal sekarang sebagai "Segala Benua Dan Langit Penuh" sebenarnya berasal dari salah satu bagian paduan suara dalam kantata ini, seringkali diidentifikasi sebagai lagu "Lo! My Shepherd Is Divine" atau "To the Mount of God I Go". Melodi ini memiliki karakter yang agung, bersemangat, dan penuh inspirasi, sangat cocok untuk tema-tema kudus. Bishop mungkin tidak pernah membayangkan bahwa melodi yang diciptakannya untuk sebuah kantata klasik akan menjadi lagu pujian yang dinyanyikan oleh jutaan orang di gereja-gereja di seluruh dunia.
**Intinya:** Bishop menciptakan melodi yang indah dan kuat sebagai bagian dari sebuah karya musik klasik sakral, bukan sebagai lagu pujian gereja yang mandiri. Melodi ini memiliki kekuatan dan keanggunan yang membuatnya mudah dikenali dan disukai.
---
### Bagian 2: Lirik Belanda - Ds. Eduard Gerdes (Belanda, Akhir Abad ke-19)
Sekitar empat dekade kemudian, melodi yang diciptakan Bishop menyeberangi Selat Inggris menuju Belanda dan menarik perhatian seorang rohaniwan dan pujangga Protestan yang produktif, yaitu **Ds. Eduard Gerdes (1821–1898)**. Ds. Gerdes adalah seorang pendeta Gereja Reformasi Belanda (Nederlandse Hervormde Kerk) dan dikenal sebagai penulis himne serta lagu anak-anak yang luar biasa banyak.
Pada abad ke-19, ada kebiasaan umum di kalangan penulis himne, terutama di Belanda, untuk mengambil melodi-melodi yang sudah ada dan populer (bisa dari lagu rakyat, musik klasik, atau bahkan himne dari tradisi lain) dan menulis lirik baru yang sesuai dengan tema-tema rohani. Ini dilakukan untuk memperkaya khazanah lagu gereja dan memanfaatkan melodi yang sudah dikenal atau disukai oleh jemaat.
Gerdes, dengan kepekaan puitis dan rohaninya, menemukan melodi Bishop ini sangat cocok untuk mengungkapkan kekaguman akan keagungan Tuhan dan ciptaan-Nya. Ia kemudian menulis lirik berbahasa Belanda yang dimulai dengan kalimat **"Daar ruist langs de wolken"** (Di sana berdesir di sepanjang awan-awan). Liriknya menggambarkan keindahan alam semesta – awan, gunung, laut – sebagai saksi bisu kemuliaan dan kekuasaan Pencipta. Lirik ini juga mengundang semua makhluk dan umat manusia untuk memuji Tuhan.
Karya Gerdes, yang memadukan melodi Bishop dengan liriknya sendiri, pertama kali diterbitkan pada tahun **1872** dalam kumpulan lagu berjudul **"Een Halmenbundel"** (Sebuah Ikatan Jerami/Batang Padi). Melalui publikasi ini, "Daar Ruist Langs De Wolken" dengan cepat menjadi lagu pujian yang sangat dicintai di gereja-gereja Protestan di Belanda dan juga di kalangan anak-anak sekolah minggu.
**Intinya:** Gerdes mengambil melodi klasik yang sudah ada dan memberinya makna rohani yang baru melalui liriknya yang indah, mengubahnya menjadi sebuah himne yang kuat tentang pujian kepada Tuhan atas ciptaan-Nya.
---
### Bagian 3: Adaptasi ke Indonesia - Kidung Jemaat (Indonesia, Abad ke-20)
Perjalanan lagu ini tidak berhenti di Belanda. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, misi Kristen Belanda aktif menyebarkan Injil di Indonesia. Bersamaan dengan itu, mereka juga membawa serta budaya gereja Belanda, termasuk lagu-lagu pujian favorit mereka. "Daar Ruist Langs De Wolken" adalah salah satu himne Belanda yang populer yang tiba di nusantara.
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya gereja-gereja di Indonesia, ada kebutuhan untuk memiliki lagu-lagu pujian dalam bahasa Indonesia sendiri. Banyak himne berbahasa Belanda kemudian diterjemahkan atau diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh para misionaris atau pemimpin gereja lokal. Proses ini seringkali melibatkan penyesuaian lirik agar sesuai dengan konteks budaya dan bahasa Indonesia, sambil tetap mempertahankan makna teologis aslinya.
Lagu "Daar Ruist Langs De Wolken" kemudian diterjemahkan menjadi **"Segala Benua Dan Langit Penuh"**. Terjemahan ini dengan setia menangkap semangat lirik asli Gerdes yang memuji Tuhan atas keagungan ciptaan-Nya, mulai dari bumi hingga langit yang tak terbatas.
Akhirnya, lagu ini secara resmi dimasukkan ke dalam buku himne utama gereja-gereja Protestan di Indonesia, **"Kidung Jemaat" (KJ)**, sebagai nomor **KJ 427**. Dengan demikian, "Segala Benua Dan Langit Penuh" menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah dan persekutuan umat Kristen di Indonesia, dinyanyikan di berbagai denominasi gereja.
---
### Kesimpulan: Sebuah Perjalanan Lintas Budaya dan Waktu
"Segala Benua Dan Langit Penuh" adalah sebuah lagu yang luar biasa, tidak hanya karena keindahan melodi dan kedalaman liriknya, tetapi juga karena kisah di baliknya yang mencerminkan perjalanan iman dan musik melintasi batas-batas geografis dan budaya:
1. **Inggris:** Henry Rowley Bishop menciptakan melodi agung sebagai bagian dari sebuah kantata klasik.
2. **Belanda:** Ds. Eduard Gerdes, terinspirasi oleh melodi tersebut, menulis lirik pujian tentang keagungan Tuhan atas ciptaan-Nya, mengubahnya menjadi sebuah himne gereja.
3. **Indonesia:** Lagu tersebut dibawa, diterjemahkan, dan diadaptasi, menjadi bagian integral dari Kidung Jemaat, dan terus dinyanyikan sebagai ungkapan syukur dan pujian oleh jemaat di seluruh Indonesia.
Lagu ini adalah bukti bagaimana seni, iman, dan kolaborasi lintas generasi dapat menghasilkan karya abadi yang terus memberkati dan menginspirasi banyak orang di berbagai sudut dunia. Setiap kali kita menyanyikan "Segala Benua Dan Langit Penuh", kita tidak hanya menyanyikan sebuah himne, tetapi juga sebuah narasi panjang tentang warisan musik, puisi, dan spiritualitas yang telah menempuh perjalanan yang luar biasa.
Lagu ini merupakan perpaduan menarik antara bakat seorang komposer Inggris klasik dan seorang rohaniwan serta pujangga Belanda, yang kemudian diwariskan ke dalam khazanah lagu rohani Indonesia.
---
### Bagian 1: Melodi Awal - Henry Rowley Bishop (Inggris, Awal Abad ke-19)
Kisah melodi "Segala Benua Dan Langit Penuh" berawal dari **Sir Henry Rowley Bishop (1786–1855)**, seorang komposer Inggris yang sangat dihormati pada masanya. Bishop dikenal luas karena karyanya dalam opera, glee (jenis lagu paduan suara pendek), dan musik teater. Karyanya yang paling terkenal secara universal adalah melodi untuk lagu "Home, Sweet Home" yang abadi.
Pada tahun 1833, Bishop menulis sebuah **kantata** (sejenis karya musik vokal yang mirip oratorio atau opera pendek, biasanya tanpa pementasan panggung) berjudul **"The Cantata of the Seventh Day"** (Kadang disebut juga "The Seventh Day"). Kantata ini diciptakan untuk "Sacred Harmonic Society" di London, sebuah organisasi yang mempromosikan musik sakral.
Melodi yang kita kenal sekarang sebagai "Segala Benua Dan Langit Penuh" sebenarnya berasal dari salah satu bagian paduan suara dalam kantata ini, seringkali diidentifikasi sebagai lagu "Lo! My Shepherd Is Divine" atau "To the Mount of God I Go". Melodi ini memiliki karakter yang agung, bersemangat, dan penuh inspirasi, sangat cocok untuk tema-tema kudus. Bishop mungkin tidak pernah membayangkan bahwa melodi yang diciptakannya untuk sebuah kantata klasik akan menjadi lagu pujian yang dinyanyikan oleh jutaan orang di gereja-gereja di seluruh dunia.
**Intinya:** Bishop menciptakan melodi yang indah dan kuat sebagai bagian dari sebuah karya musik klasik sakral, bukan sebagai lagu pujian gereja yang mandiri. Melodi ini memiliki kekuatan dan keanggunan yang membuatnya mudah dikenali dan disukai.
---
### Bagian 2: Lirik Belanda - Ds. Eduard Gerdes (Belanda, Akhir Abad ke-19)
Sekitar empat dekade kemudian, melodi yang diciptakan Bishop menyeberangi Selat Inggris menuju Belanda dan menarik perhatian seorang rohaniwan dan pujangga Protestan yang produktif, yaitu **Ds. Eduard Gerdes (1821–1898)**. Ds. Gerdes adalah seorang pendeta Gereja Reformasi Belanda (Nederlandse Hervormde Kerk) dan dikenal sebagai penulis himne serta lagu anak-anak yang luar biasa banyak.
Pada abad ke-19, ada kebiasaan umum di kalangan penulis himne, terutama di Belanda, untuk mengambil melodi-melodi yang sudah ada dan populer (bisa dari lagu rakyat, musik klasik, atau bahkan himne dari tradisi lain) dan menulis lirik baru yang sesuai dengan tema-tema rohani. Ini dilakukan untuk memperkaya khazanah lagu gereja dan memanfaatkan melodi yang sudah dikenal atau disukai oleh jemaat.
Gerdes, dengan kepekaan puitis dan rohaninya, menemukan melodi Bishop ini sangat cocok untuk mengungkapkan kekaguman akan keagungan Tuhan dan ciptaan-Nya. Ia kemudian menulis lirik berbahasa Belanda yang dimulai dengan kalimat **"Daar ruist langs de wolken"** (Di sana berdesir di sepanjang awan-awan). Liriknya menggambarkan keindahan alam semesta – awan, gunung, laut – sebagai saksi bisu kemuliaan dan kekuasaan Pencipta. Lirik ini juga mengundang semua makhluk dan umat manusia untuk memuji Tuhan.
Karya Gerdes, yang memadukan melodi Bishop dengan liriknya sendiri, pertama kali diterbitkan pada tahun **1872** dalam kumpulan lagu berjudul **"Een Halmenbundel"** (Sebuah Ikatan Jerami/Batang Padi). Melalui publikasi ini, "Daar Ruist Langs De Wolken" dengan cepat menjadi lagu pujian yang sangat dicintai di gereja-gereja Protestan di Belanda dan juga di kalangan anak-anak sekolah minggu.
**Intinya:** Gerdes mengambil melodi klasik yang sudah ada dan memberinya makna rohani yang baru melalui liriknya yang indah, mengubahnya menjadi sebuah himne yang kuat tentang pujian kepada Tuhan atas ciptaan-Nya.
---
### Bagian 3: Adaptasi ke Indonesia - Kidung Jemaat (Indonesia, Abad ke-20)
Perjalanan lagu ini tidak berhenti di Belanda. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, misi Kristen Belanda aktif menyebarkan Injil di Indonesia. Bersamaan dengan itu, mereka juga membawa serta budaya gereja Belanda, termasuk lagu-lagu pujian favorit mereka. "Daar Ruist Langs De Wolken" adalah salah satu himne Belanda yang populer yang tiba di nusantara.
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya gereja-gereja di Indonesia, ada kebutuhan untuk memiliki lagu-lagu pujian dalam bahasa Indonesia sendiri. Banyak himne berbahasa Belanda kemudian diterjemahkan atau diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh para misionaris atau pemimpin gereja lokal. Proses ini seringkali melibatkan penyesuaian lirik agar sesuai dengan konteks budaya dan bahasa Indonesia, sambil tetap mempertahankan makna teologis aslinya.
Lagu "Daar Ruist Langs De Wolken" kemudian diterjemahkan menjadi **"Segala Benua Dan Langit Penuh"**. Terjemahan ini dengan setia menangkap semangat lirik asli Gerdes yang memuji Tuhan atas keagungan ciptaan-Nya, mulai dari bumi hingga langit yang tak terbatas.
Akhirnya, lagu ini secara resmi dimasukkan ke dalam buku himne utama gereja-gereja Protestan di Indonesia, **"Kidung Jemaat" (KJ)**, sebagai nomor **KJ 427**. Dengan demikian, "Segala Benua Dan Langit Penuh" menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah dan persekutuan umat Kristen di Indonesia, dinyanyikan di berbagai denominasi gereja.
---
### Kesimpulan: Sebuah Perjalanan Lintas Budaya dan Waktu
"Segala Benua Dan Langit Penuh" adalah sebuah lagu yang luar biasa, tidak hanya karena keindahan melodi dan kedalaman liriknya, tetapi juga karena kisah di baliknya yang mencerminkan perjalanan iman dan musik melintasi batas-batas geografis dan budaya:
1. **Inggris:** Henry Rowley Bishop menciptakan melodi agung sebagai bagian dari sebuah kantata klasik.
2. **Belanda:** Ds. Eduard Gerdes, terinspirasi oleh melodi tersebut, menulis lirik pujian tentang keagungan Tuhan atas ciptaan-Nya, mengubahnya menjadi sebuah himne gereja.
3. **Indonesia:** Lagu tersebut dibawa, diterjemahkan, dan diadaptasi, menjadi bagian integral dari Kidung Jemaat, dan terus dinyanyikan sebagai ungkapan syukur dan pujian oleh jemaat di seluruh Indonesia.
Lagu ini adalah bukti bagaimana seni, iman, dan kolaborasi lintas generasi dapat menghasilkan karya abadi yang terus memberkati dan menginspirasi banyak orang di berbagai sudut dunia. Setiap kali kita menyanyikan "Segala Benua Dan Langit Penuh", kita tidak hanya menyanyikan sebuah himne, tetapi juga sebuah narasi panjang tentang warisan musik, puisi, dan spiritualitas yang telah menempuh perjalanan yang luar biasa.