KK
Pujilah
Om Bhagawan
Informasi Lagu
339
Nomor
Kode
KK 339
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Tradisional India.
Pencipta Syair
Anonim
Penerjemah
Hermanus Arie Pandopo (H.A. Van Dop)
Cross Ref.
KJ 47
Syair / Lirik
4 bait
Pujilah, pujilah, puji Sang Bapa, Pencipta semesta!
Pujilah, pujilah, puji Sang Bapa, Pencipta semesta!
Pujilah, pujilah, puji Sang Bapa, Pencipta semesta!
Pujilah, pujilah, puji Sang Putra, Pendamai dunia.
Pujilah, pujilah, puji Sang Putra, Pendamai dunia.
Pujilah, pujilah, puji Sang Putra, Pendamai dunia.
Pujilah, pujilah, puji Sang Roh yang membimbing umatNya.
Pujilah, pujilah, puji Sang Roh yang membimbing umatNya.
Pujilah, pujilah, puji Sang Roh yang membimbing umatNya
Pujilah, pujilah, pujilah Allah, Tritunggal mulia.
Pujilah, pujilah, pujilah Allah, Tritunggal mulia.
Pujilah, pujilah, pujilah Allah, Tritunggal mulia.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
KJ 47
Pujilah
KJ
Sama Tema
Allah Tritunggal
Sejarah Lagu
Lagu yang Anda maksud, **"Pujilah"** atau yang sering dikenal dalam tradisi spiritual di Indonesia sebagai **"Om Bhagawan"**, sebenarnya bukan berasal dari satu pencipta tunggal dalam arti komersial modern. Ini adalah lagu yang berakar dari tradisi **Bhajan** (nyanyian devosional) India yang kemudian diadaptasi dan dipopulerkan di komunitas spiritual di Indonesia, terutama yang berafiliasi dengan ajaran Sathya Sai Baba atau kelompok meditasi Nusantara.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Akar Kata: "Om Bhagawan"
Dalam tradisi Hindu dan spiritualitas India, **"Om"** (Aum) adalah suara primordial alam semesta, simbol dari kesadaran tertinggi. Sedangkan **"Bhagawan"** (atau Bhagavan) adalah gelar yang berarti "Yang Mahakuasa", "Tuhan", atau "Yang Memiliki Segala Kebajikan".
Lagu ini bukanlah sebuah karya sejarah yang memiliki "skrip" atau "narasi peristiwa" spesifik seperti lagu *folk* (rakyat). Sebaliknya, ini adalah sebuah **Mantra yang dilantunkan**. Secara filosofis, kisah di balik lagu ini adalah tentang **kerinduan jiwa (jiva) untuk bersatu kembali dengan Sang Pencipta.**
### 2. Konteks Tradisi "Bhajan"
Lagu ini tergolong dalam genre *Bhajan*. Dalam tradisi India, Bhajan adalah nyanyian yang tidak menonjolkan keahlian vokal penyanyi, melainkan **ketulusan hati**.
* **Tujuan:** Untuk mencapai kondisi *Dhyana* (meditasi) atau *Bhakti* (pengabdian).
* **Struktur:** Biasanya bersifat repetitif (diulang-ulang). Pengulangan nama-nama Tuhan bertujuan agar pikiran manusia yang biasanya "liar" menjadi tenang dan terfokus pada aspek ketuhanan.
### 3. Masuk ke Indonesia dan Adaptasi "Pujilah"
Kisah lagu ini di Indonesia menjadi menarik karena adanya **akulturasi**. Judul "Pujilah" sendiri adalah kata bahasa Indonesia yang disematkan untuk memberikan pemahaman makna bagi umat di sini.
* **Proses Adaptasi:** Kelompok spiritual yang terinspirasi dari ajaran India (seperti organisasi Sathya Sai Baba) membawa melodi-melodi Bhajan ke Indonesia pada tahun 80-an dan 90-an.
* **Penyelarasan:** Kata "Om Bhagawan" (Wahai Tuhan) kemudian disandingkan dengan kata "Pujilah" (sebagai tindakan pengagungan). Ini adalah upaya untuk menjembatani bahasa Sanskerta dengan bahasa lokal agar pesan "memuji keagungan Tuhan" dapat dirasakan lebih dekat oleh masyarakat Indonesia.
* **Anonim:** Karena tradisi Bhajan adalah tradisi lisan yang diajarkan dari guru ke murid (dalam sistem *Guru-Shishya*), maka identitas penciptanya seringkali tidak tercatat. Lagu ini dianggap sebagai "warisan suci" yang menjadi milik bersama, bukan milik komersial.
### 4. Makna Spiritual yang Ingin Disampaikan
Jika Anda mendengarkan lagu ini dengan saksama, "kisah" yang diceritakan bukanlah tentang tokoh manusia, melainkan perjalanan batin:
1. **Pengakuan (Pujilah):** Manusia mengakui keberadaan kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
2. **Pemanggilan (Om Bhagawan):** Menggunakan getaran suara "Om" untuk memanggil kesadaran Ilahi di dalam hati (*Atman*).
3. **Transendensi:** Melalui repetisi lagu tersebut, pendengar diajak untuk melepaskan ego atau masalah duniawi dan masuk ke dalam keheningan.
### Kesimpulan
Lagu "Pujilah/Om Bhagawan" tidak memiliki kisah "dibalik layar" seperti lagu populer yang ditulis berdasarkan patah hati atau peristiwa sejarah. Kisahnya adalah **kisah universal umat manusia**. Ini adalah lagu doa yang anonim karena tujuannya adalah **menghilangkan ego**. Saat seseorang menyanyikannya, ia diharapkan menjadi tidak penting lagi, yang penting hanyalah fokus pada "Bhagawan" (Tuhan) yang dipuja.
Lagu ini tetap hidup karena melodinya yang menenangkan (meditatif) dan kesederhanaan pesannya yang melampaui sekat-sekat agama, menjadikannya salah satu lagu meditasi paling populer dalam berbagai perkumpulan spiritual di Indonesia.
Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:
### 1. Akar Kata: "Om Bhagawan"
Dalam tradisi Hindu dan spiritualitas India, **"Om"** (Aum) adalah suara primordial alam semesta, simbol dari kesadaran tertinggi. Sedangkan **"Bhagawan"** (atau Bhagavan) adalah gelar yang berarti "Yang Mahakuasa", "Tuhan", atau "Yang Memiliki Segala Kebajikan".
Lagu ini bukanlah sebuah karya sejarah yang memiliki "skrip" atau "narasi peristiwa" spesifik seperti lagu *folk* (rakyat). Sebaliknya, ini adalah sebuah **Mantra yang dilantunkan**. Secara filosofis, kisah di balik lagu ini adalah tentang **kerinduan jiwa (jiva) untuk bersatu kembali dengan Sang Pencipta.**
### 2. Konteks Tradisi "Bhajan"
Lagu ini tergolong dalam genre *Bhajan*. Dalam tradisi India, Bhajan adalah nyanyian yang tidak menonjolkan keahlian vokal penyanyi, melainkan **ketulusan hati**.
* **Tujuan:** Untuk mencapai kondisi *Dhyana* (meditasi) atau *Bhakti* (pengabdian).
* **Struktur:** Biasanya bersifat repetitif (diulang-ulang). Pengulangan nama-nama Tuhan bertujuan agar pikiran manusia yang biasanya "liar" menjadi tenang dan terfokus pada aspek ketuhanan.
### 3. Masuk ke Indonesia dan Adaptasi "Pujilah"
Kisah lagu ini di Indonesia menjadi menarik karena adanya **akulturasi**. Judul "Pujilah" sendiri adalah kata bahasa Indonesia yang disematkan untuk memberikan pemahaman makna bagi umat di sini.
* **Proses Adaptasi:** Kelompok spiritual yang terinspirasi dari ajaran India (seperti organisasi Sathya Sai Baba) membawa melodi-melodi Bhajan ke Indonesia pada tahun 80-an dan 90-an.
* **Penyelarasan:** Kata "Om Bhagawan" (Wahai Tuhan) kemudian disandingkan dengan kata "Pujilah" (sebagai tindakan pengagungan). Ini adalah upaya untuk menjembatani bahasa Sanskerta dengan bahasa lokal agar pesan "memuji keagungan Tuhan" dapat dirasakan lebih dekat oleh masyarakat Indonesia.
* **Anonim:** Karena tradisi Bhajan adalah tradisi lisan yang diajarkan dari guru ke murid (dalam sistem *Guru-Shishya*), maka identitas penciptanya seringkali tidak tercatat. Lagu ini dianggap sebagai "warisan suci" yang menjadi milik bersama, bukan milik komersial.
### 4. Makna Spiritual yang Ingin Disampaikan
Jika Anda mendengarkan lagu ini dengan saksama, "kisah" yang diceritakan bukanlah tentang tokoh manusia, melainkan perjalanan batin:
1. **Pengakuan (Pujilah):** Manusia mengakui keberadaan kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
2. **Pemanggilan (Om Bhagawan):** Menggunakan getaran suara "Om" untuk memanggil kesadaran Ilahi di dalam hati (*Atman*).
3. **Transendensi:** Melalui repetisi lagu tersebut, pendengar diajak untuk melepaskan ego atau masalah duniawi dan masuk ke dalam keheningan.
### Kesimpulan
Lagu "Pujilah/Om Bhagawan" tidak memiliki kisah "dibalik layar" seperti lagu populer yang ditulis berdasarkan patah hati atau peristiwa sejarah. Kisahnya adalah **kisah universal umat manusia**. Ini adalah lagu doa yang anonim karena tujuannya adalah **menghilangkan ego**. Saat seseorang menyanyikannya, ia diharapkan menjadi tidak penting lagi, yang penting hanyalah fokus pada "Bhagawan" (Tuhan) yang dipuja.
Lagu ini tetap hidup karena melodinya yang menenangkan (meditatif) dan kesederhanaan pesannya yang melampaui sekat-sekat agama, menjadikannya salah satu lagu meditasi paling populer dalam berbagai perkumpulan spiritual di Indonesia.