KK
Masyhurkan Rajamu
Rejoice, The Lord Is Kings
Informasi Lagu
276
Nomor
do = d
Nada Dasar
Kode
KK 276
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do = d
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
108
Jumlah Bait
5 bait
Pencipta Lagu
John Darwall (1770)
Pencipta Syair
Charles Wesley (1744)
Penerjemah
Epafroditus Laurentius Pohan Shn (E.L. Pohan) (1969)
Cross Ref.
KJ 224, KPPK 8, NP 76
Syair / Lirik
5 bait
Masyhurkan Rajamu,
Allah Mahabesar;
ucapkan syukurmu,
bernyanyi bergemar!
Suaramu
dan hatimu berpadu ‘muji Tuhanmu!
Tuhanmu Penebus,
yang melepaskan ‘kau,
memb’rikan darah-Nya
pembasuh dosamu.
Suaramu
dan hatimu berpadu ‘muji Tuhanmu!
Buana, langitpun
di bawah kuasa-Nya.
Kunci neraka, maut
di’brikan pada-Nya.
Suaramu
dan hatimu berpadu ‘muji Tuhanmu!
Di muka takhta-Nya
semua bertelut;
musuh-Nya menyembah
tersungkur bersujud.
Suaramu
dan hatimu berpadu ‘muji Tuhanmu!
Nantikan bersyukur
Sang Hakim semesta,
yang datang menjemput
semua hamba-Nya.
Suaramu
dan hatimu berpadu ‘muji Tuhanmu!
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
Sama Tema
Kenaikan Tuhan Yesus
Sejarah Lagu
Kisah mendalam di balik lagu pujian yang penuh semangat, "Rejoice, The Lord Is King" atau "Masyhurkan Rajamu," dengan menyoroti peran Charles Wesley sebagai penulis lirik dan John Darwall sebagai komposer salah satu melodi paling terkenalnya.
---
### **Latar Belakang Abad Ke-18: Kebangunan Rohani dan Gejolak Sosial**
Untuk memahami lagu ini, kita perlu kembali ke Inggris pada abad ke-18. Ini adalah masa yang penuh gejolak: Revolusi Industri sedang bergulir, terjadi perubahan sosial yang drastis, kemiskinan merajalela, dan Gereja Inggris menghadapi periode apatis. Di tengah-tengah kekeringan spiritual ini, muncullah gerakan Metodisme yang dipimpin oleh dua bersaudara yang brilian, John dan Charles Wesley.
Charles Wesley (1707-1788) adalah jantung dari gerakan ini dalam hal musik. Dia adalah seorang penyair dan penulis lirik yang tak tertandingi, yang telah menulis lebih dari 6.000 himne sepanjang hidupnya. Himne-himne ini bukan sekadar lagu; mereka adalah alat teologis yang ampuh untuk mengajarkan doktrin, menginspirasi iman, dan menyatukan umat dalam ibadah yang penuh semangat.
### **Charles Wesley: Pena Penuh Api dan Sukacita Sorgawi**
"Rejoice, The Lord Is King" ditulis oleh Charles Wesley dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1747 dalam koleksinya yang berjudul *Hymns for Our Lord's Resurrection* (Himne untuk Kebangkitan Tuhan Kita). Judul asli himne ini adalah "On the Ascension" (Tentang Kenaikan), yang memberikan petunjuk kunci tentang fokus teologisnya.
**Konteks Penulisan:**
Wesley dan saudaranya, John, sering menghadapi perlawanan dan penganiayaan karena "kebangunan rohani" yang mereka bawa. Mereka diusir dari gereja-gereja resmi dan dipaksa berkhotbah di lapangan terbuka kepada ribuan orang miskin dan terpinggirkan. Namun, alih-alih menyerah pada keputusasaan, Wesley justru menulis lagu-lagu yang meluap-luap dengan sukacita dan keyakinan akan kedaulatan Kristus yang tak tergoyahkan.
**Pesan Teologis:**
Dalam "Rejoice, The Lord Is King," Wesley tidak hanya merayakan kenaikan Kristus sebagai peristiwa masa lalu, tetapi sebagai *realitas yang sedang berlangsung*. Kristus bukan hanya Tuhan yang mati dan bangkit, tetapi Dia adalah Raja yang berkuasa *sekarang*, memerintah dari takhta-Nya di surga. Himne ini adalah seruan untuk:
1. **Sukacita yang Tak Terbendung:** Meskipun ada kesulitan di bumi, umat percaya memiliki alasan untuk bersukacita karena Raja mereka adalah Tuhan yang Mahakuasa.
2. **Kedaulatan Kristus:** Ini adalah pengingat bahwa Kristus adalah Raja atas segala raja, penguasa atas segala kekuasaan. Tidak ada kekuatan, baik di bumi maupun di neraka, yang dapat mengalahkan Dia.
3. **Harapan yang Hidup:** Kenaikan Kristus menjamin kedatangan-Nya yang kedua kali dan kemenangan akhir atas dosa dan maut.
4. **Penyembahan yang Aktif:** Liriknya mengajak umat untuk tidak hanya percaya, tetapi juga untuk secara aktif mengangkat suara mereka dalam pujian dan penyembahan.
**Analisis Lirik Kunci:**
* **Stanza 1:** "Rejoice, the Lord is King! Your Lord and King adore! Mortals, give thanks and sing, and triumph evermore." Ini adalah seruan pembuka yang berani dan penuh semangat. Ini bukan sekadar ajakan, melainkan perintah untuk bersukacita karena Dia adalah Raja kita.
* **Stanza 2:** "He sits at God’s right hand till all His foes submit. And bow to His command, and fall beneath His feet." Menggambarkan posisi Kristus yang berkuasa di sebelah kanan Allah Bapa, menguasai segala sesuatu. Ini adalah gambaran dari kemenangan mutlak.
* **Stanza 3:** "He all His foes shall quell, shall all our sins destroy. And every bosom swell with pure seraphic joy." Penegasan kembali kemenangan-Nya atas musuh dan dosa, membawa sukacita surgawi yang murni ke dalam hati umat-Nya.
* **Stanza 4:** "Rejoice in glorious hope! Jesus, the Judge, shall come, and take His servants up to their eternal home." Mengarahkan pandangan ke masa depan, pada kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai Hakim, membawa umat-Nya ke rumah kekal mereka. Ini adalah puncak dari harapan Kristen.
Lirik Wesley penuh dengan gambaran yang kuat, bahasa yang berwibawa, dan ritme yang bersemangat, membuatnya sempurna untuk dinyanyikan oleh jemaat yang ingin menyatakan iman mereka dengan gairah.
---
### **John Darwall: Melodi yang Mengangkat Roh**
Sekarang, mari kita bicara tentang John Darwall (1731-1789). Darwall adalah seorang pendeta Anglikan dan komposer amatir yang hidup pada generasi setelah Charles Wesley. Dia melayani sebagai rektor di Walsall, Staffordshire, Inggris, selama 37 tahun. Meskipun bukan seorang musisi profesional, Darwall memiliki bakat untuk melodi yang kuat dan mudah dinyanyikan.
**Koneksi Melodi "Darwall's 148th":**
John Darwall dikenal karena melodi himnenya yang paling terkenal, yang disebut **"Darwall's 148th."** Melodi ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1770 dalam koleksinya yang berjudul *Harmonia Sacra, or a Collection of Psalm Tunes and Anthems*. Nama "148th" menunjukkan bahwa melodi ini awalnya ditulis untuk Mazmur 148, yang memiliki meter atau pola suku kata yang sama dengan himne Charles Wesley, yaitu **meter panjang (8.8.8.8.8.8.)**.
Meskipun Charles Wesley menulis liriknya pada tahun 1747 dan John Darwall mengarang melodinya pada tahun 1770, keduanya tidak pernah berkolaborasi secara langsung untuk lagu ini. Penyatuan antara lirik Wesley dan melodi Darwall terjadi secara organik dalam sejarah himnologi. Para editor himne di kemudian hari menyadari betapa sempurnanya melodi "Darwall's 148th" yang megah dan bersemangat itu cocok dengan lirik "Rejoice, The Lord Is King" yang penuh sukacita dan kemenangan.
**Karakteristik Melodi "Darwall's 148th":**
* **Megah dan Kuat:** Melodinya memiliki perasaan yang kuat dan agung, sangat cocok dengan tema kerajaan dan kedaulatan dalam lirik Wesley.
* **Irama yang Jelas:** Iramanya yang jelas dan bersemangat mendorong jemaat untuk bernyanyi dengan penuh semangat dan partisipasi.
* **Mudah Diingat:** Meskipun kuat, melodinya tidak terlalu rumit, sehingga mudah diingat dan dinyanyikan oleh jemaat dari berbagai latar belakang musik.
Melodi ini bukan satu-satunya yang digunakan untuk "Rejoice, The Lord Is King" (ada juga melodi lain seperti "Gopsal" atau "Llanfair"), tetapi "Darwall's 148th" telah menjadi salah satu yang paling populer dan ikonik, sehingga lagu ini sering disebut sebagai "Rejoice, The Lord Is King, to Darwall's 148th."
---
### **Warisan dan Dampak "Rejoice, The Lord Is King"**
Gabungan lirik yang berapi-api dari Charles Wesley dan melodi yang megah dari John Darwall telah menciptakan sebuah mahakarya himne yang melampaui waktu dan denominasi.
* **Penyemangat Iman:** Selama berabad-abad, lagu ini telah menjadi sumber penghiburan dan kekuatan bagi umat percaya yang menghadapi kesulitan, mengingatkan mereka akan kuasa dan kedaulatan Kristus yang tidak pernah gagal.
* **Seruan untuk Ibadah:** Ini adalah panggilan untuk ibadah yang penuh sukacita, sebuah pengingat bahwa ibadah Kristen harus dipenuhi dengan keyakinan akan kemenangan Kristus.
* **Jembatan Antar Generasi:** Lagu ini terus dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia, dari jemaat Metodis hingga Anglikan, Protestan, dan bahkan Katolik, menjembatani generasi dan tradisi.
* **Relevansi Abadi:** Pesan tentang kedaulatan Kristus dan sukacita dalam harapan-Nya tetap relevan di setiap zaman, memberikan jangkar spiritual di tengah dunia yang terus berubah.
"Rejoice, The Lord Is King" bukan sekadar lagu lama; ia adalah monumen abadi bagi iman Kristen yang optimis dan penuh kemenangan, sebuah warisan dari dua pria yang, melalui kata-kata dan melodi mereka, terus memasyhurkan Raja di atas segala raja.
---
### **Latar Belakang Abad Ke-18: Kebangunan Rohani dan Gejolak Sosial**
Untuk memahami lagu ini, kita perlu kembali ke Inggris pada abad ke-18. Ini adalah masa yang penuh gejolak: Revolusi Industri sedang bergulir, terjadi perubahan sosial yang drastis, kemiskinan merajalela, dan Gereja Inggris menghadapi periode apatis. Di tengah-tengah kekeringan spiritual ini, muncullah gerakan Metodisme yang dipimpin oleh dua bersaudara yang brilian, John dan Charles Wesley.
Charles Wesley (1707-1788) adalah jantung dari gerakan ini dalam hal musik. Dia adalah seorang penyair dan penulis lirik yang tak tertandingi, yang telah menulis lebih dari 6.000 himne sepanjang hidupnya. Himne-himne ini bukan sekadar lagu; mereka adalah alat teologis yang ampuh untuk mengajarkan doktrin, menginspirasi iman, dan menyatukan umat dalam ibadah yang penuh semangat.
### **Charles Wesley: Pena Penuh Api dan Sukacita Sorgawi**
"Rejoice, The Lord Is King" ditulis oleh Charles Wesley dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1747 dalam koleksinya yang berjudul *Hymns for Our Lord's Resurrection* (Himne untuk Kebangkitan Tuhan Kita). Judul asli himne ini adalah "On the Ascension" (Tentang Kenaikan), yang memberikan petunjuk kunci tentang fokus teologisnya.
**Konteks Penulisan:**
Wesley dan saudaranya, John, sering menghadapi perlawanan dan penganiayaan karena "kebangunan rohani" yang mereka bawa. Mereka diusir dari gereja-gereja resmi dan dipaksa berkhotbah di lapangan terbuka kepada ribuan orang miskin dan terpinggirkan. Namun, alih-alih menyerah pada keputusasaan, Wesley justru menulis lagu-lagu yang meluap-luap dengan sukacita dan keyakinan akan kedaulatan Kristus yang tak tergoyahkan.
**Pesan Teologis:**
Dalam "Rejoice, The Lord Is King," Wesley tidak hanya merayakan kenaikan Kristus sebagai peristiwa masa lalu, tetapi sebagai *realitas yang sedang berlangsung*. Kristus bukan hanya Tuhan yang mati dan bangkit, tetapi Dia adalah Raja yang berkuasa *sekarang*, memerintah dari takhta-Nya di surga. Himne ini adalah seruan untuk:
1. **Sukacita yang Tak Terbendung:** Meskipun ada kesulitan di bumi, umat percaya memiliki alasan untuk bersukacita karena Raja mereka adalah Tuhan yang Mahakuasa.
2. **Kedaulatan Kristus:** Ini adalah pengingat bahwa Kristus adalah Raja atas segala raja, penguasa atas segala kekuasaan. Tidak ada kekuatan, baik di bumi maupun di neraka, yang dapat mengalahkan Dia.
3. **Harapan yang Hidup:** Kenaikan Kristus menjamin kedatangan-Nya yang kedua kali dan kemenangan akhir atas dosa dan maut.
4. **Penyembahan yang Aktif:** Liriknya mengajak umat untuk tidak hanya percaya, tetapi juga untuk secara aktif mengangkat suara mereka dalam pujian dan penyembahan.
**Analisis Lirik Kunci:**
* **Stanza 1:** "Rejoice, the Lord is King! Your Lord and King adore! Mortals, give thanks and sing, and triumph evermore." Ini adalah seruan pembuka yang berani dan penuh semangat. Ini bukan sekadar ajakan, melainkan perintah untuk bersukacita karena Dia adalah Raja kita.
* **Stanza 2:** "He sits at God’s right hand till all His foes submit. And bow to His command, and fall beneath His feet." Menggambarkan posisi Kristus yang berkuasa di sebelah kanan Allah Bapa, menguasai segala sesuatu. Ini adalah gambaran dari kemenangan mutlak.
* **Stanza 3:** "He all His foes shall quell, shall all our sins destroy. And every bosom swell with pure seraphic joy." Penegasan kembali kemenangan-Nya atas musuh dan dosa, membawa sukacita surgawi yang murni ke dalam hati umat-Nya.
* **Stanza 4:** "Rejoice in glorious hope! Jesus, the Judge, shall come, and take His servants up to their eternal home." Mengarahkan pandangan ke masa depan, pada kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai Hakim, membawa umat-Nya ke rumah kekal mereka. Ini adalah puncak dari harapan Kristen.
Lirik Wesley penuh dengan gambaran yang kuat, bahasa yang berwibawa, dan ritme yang bersemangat, membuatnya sempurna untuk dinyanyikan oleh jemaat yang ingin menyatakan iman mereka dengan gairah.
---
### **John Darwall: Melodi yang Mengangkat Roh**
Sekarang, mari kita bicara tentang John Darwall (1731-1789). Darwall adalah seorang pendeta Anglikan dan komposer amatir yang hidup pada generasi setelah Charles Wesley. Dia melayani sebagai rektor di Walsall, Staffordshire, Inggris, selama 37 tahun. Meskipun bukan seorang musisi profesional, Darwall memiliki bakat untuk melodi yang kuat dan mudah dinyanyikan.
**Koneksi Melodi "Darwall's 148th":**
John Darwall dikenal karena melodi himnenya yang paling terkenal, yang disebut **"Darwall's 148th."** Melodi ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1770 dalam koleksinya yang berjudul *Harmonia Sacra, or a Collection of Psalm Tunes and Anthems*. Nama "148th" menunjukkan bahwa melodi ini awalnya ditulis untuk Mazmur 148, yang memiliki meter atau pola suku kata yang sama dengan himne Charles Wesley, yaitu **meter panjang (8.8.8.8.8.8.)**.
Meskipun Charles Wesley menulis liriknya pada tahun 1747 dan John Darwall mengarang melodinya pada tahun 1770, keduanya tidak pernah berkolaborasi secara langsung untuk lagu ini. Penyatuan antara lirik Wesley dan melodi Darwall terjadi secara organik dalam sejarah himnologi. Para editor himne di kemudian hari menyadari betapa sempurnanya melodi "Darwall's 148th" yang megah dan bersemangat itu cocok dengan lirik "Rejoice, The Lord Is King" yang penuh sukacita dan kemenangan.
**Karakteristik Melodi "Darwall's 148th":**
* **Megah dan Kuat:** Melodinya memiliki perasaan yang kuat dan agung, sangat cocok dengan tema kerajaan dan kedaulatan dalam lirik Wesley.
* **Irama yang Jelas:** Iramanya yang jelas dan bersemangat mendorong jemaat untuk bernyanyi dengan penuh semangat dan partisipasi.
* **Mudah Diingat:** Meskipun kuat, melodinya tidak terlalu rumit, sehingga mudah diingat dan dinyanyikan oleh jemaat dari berbagai latar belakang musik.
Melodi ini bukan satu-satunya yang digunakan untuk "Rejoice, The Lord Is King" (ada juga melodi lain seperti "Gopsal" atau "Llanfair"), tetapi "Darwall's 148th" telah menjadi salah satu yang paling populer dan ikonik, sehingga lagu ini sering disebut sebagai "Rejoice, The Lord Is King, to Darwall's 148th."
---
### **Warisan dan Dampak "Rejoice, The Lord Is King"**
Gabungan lirik yang berapi-api dari Charles Wesley dan melodi yang megah dari John Darwall telah menciptakan sebuah mahakarya himne yang melampaui waktu dan denominasi.
* **Penyemangat Iman:** Selama berabad-abad, lagu ini telah menjadi sumber penghiburan dan kekuatan bagi umat percaya yang menghadapi kesulitan, mengingatkan mereka akan kuasa dan kedaulatan Kristus yang tidak pernah gagal.
* **Seruan untuk Ibadah:** Ini adalah panggilan untuk ibadah yang penuh sukacita, sebuah pengingat bahwa ibadah Kristen harus dipenuhi dengan keyakinan akan kemenangan Kristus.
* **Jembatan Antar Generasi:** Lagu ini terus dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia, dari jemaat Metodis hingga Anglikan, Protestan, dan bahkan Katolik, menjembatani generasi dan tradisi.
* **Relevansi Abadi:** Pesan tentang kedaulatan Kristus dan sukacita dalam harapan-Nya tetap relevan di setiap zaman, memberikan jangkar spiritual di tengah dunia yang terus berubah.
"Rejoice, The Lord Is King" bukan sekadar lagu lama; ia adalah monumen abadi bagi iman Kristen yang optimis dan penuh kemenangan, sebuah warisan dari dua pria yang, melalui kata-kata dan melodi mereka, terus memasyhurkan Raja di atas segala raja.