KK
Hai, Dengar Tembang Malaikat
Heerlijk Klonk Het Lied Der Englen
Informasi Lagu
175
Nomor
Kode
KK 175
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Sekolah Minggu Inggris
Pencipta Syair
Johannes Corstianus De Puy
Penerjemah
Isaak Tupamahu
Cross Ref.
KJ 104
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Hai, dengar tembang malaikat bergema di Efrata:
"Bagi Allah kemuliaan ditakhtaNya yang megah!"
Damai surga diberiNya diantara manusia
Yang sedia menerima Yesus Kristus, Penebus!
Yesus datang dalam dunia bagai anak yang kecil,
tapi sungguh, Anak itu adalah Imanuel!
PeraduanNya palungan, bahkan salib takhtaNya;
Yesus rela menderita agar kita slamatlah.
Di palungan dan salibNya kita sujud menyembah
dan percaya bahwa Dia Juruslamat dunia.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
Sama Tema
Natal
Anak Yang Dijanji
KK
Alam Raya Berkumandang
KK
Anak Maria Dalam Palungan
KK
Bernyanyilah Merdu
KK
Bintang-Bintang Cemerlang
KK
Dalam Kota Raja Daud
KK
Di Dalam Palungan
KK
Di Dalam Palungan
KK
Di Betlehem T'lah Lahir
KK
Di Malam Sunyi Bergema
KK
Di Palungan Dibaringkan
KK
Dunia Kedinginan
KK
Gembala Yang Ada Di Padang
KK
Gerangan Bayi Apakah
KK
Gita Surga Bergema
KK
Hai Anak Semua
KK
Hai Dunia, Gembiralah
KK
Hai Gembala Efrata
KK
Hai Kota Mungil Betlehem
KK
Hai Mari, Berhimpun
KK
Hai, Siarkan Di Gunung
KK
Hai Umat, Puji Allahmu
KK
Jauh Dari Surga Datangku
KK
Kandang Domba Itu Rumahnya
KK
'Kau, Yesus, Raja Mahakaya
KK
Lahir Kristus Di Dunia
KK
Malam Kudus
KK
Mari, Gembala, Ke Kandang
KK
Mari, Lihatlah Semua
KK
Muliakanlah
KK
Bayi Yang Terbaring Di Palungan
KK
Pada Hari Natal
KK
Siapa Gerangan Sang Raja
KK
S'lamat, S'lamat Datang
KK
Sungguh Mulia
KK
T'lah Turun Ke Dunia
KK
Waktu Malam Yang Sepi
KK
Ya Anak Kecil
KK
Yang Dipuji Kaum Gembala
KK
Tiap Tahun Kembali
KK
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu Natal yang indah dan abadi ini, "Hai, Dengar Tembang Malaikat" (atau dalam bahasa aslinya, "Heerlijk Klonk Het Lied Der Engelen").
Identitas "Sekolah Minggu Inggris" sebagai pencipta lagu ini seringkali menjadi kesalahpahaman. Sebenarnya, lagu ini adalah karya dari seorang pendeta dan penulis himne asal Belanda bernama **Johannes Corstianus De Puy**. Ia adalah sosok sentral di balik banyak lagu anak-anak gereja yang populer di masanya.
### Johannes Corstianus De Puy: Sang Pencipta
* **Latar Belakang:** Johannes Corstianus De Puy lahir di Belanda pada tahun 1838 dan meninggal pada tahun 1918. Ia adalah seorang pendeta Gereja Reformasi Belanda (Nederlands Hervormde Kerk) dan juga seorang pendidik yang sangat peduli dengan pendidikan agama anak-anak.
* **Visi dan Misi:** Pada abad ke-19, gerakan sekolah minggu (Zondagsschool) di Belanda berkembang pesat. De Puy menyadari kebutuhan akan lagu-lagu dan materi pengajaran yang sesuai untuk anak-anak, yang bisa menyampaikan kebenaran Alkitab dengan cara yang sederhana, menarik, dan mudah diingat. Ia memiliki talenta luar biasa dalam menciptakan lirik dan terkadang melodi yang ceria dan mendidik. Banyak karyanya diterbitkan dalam koleksi lagu-lagu anak-anak gereja seperti "Zondagsschool Liederen."
* **Karya Lain:** Selain "Heerlijk Klonk Het Lied Der Engelen," De Puy juga menulis banyak lagu anak-anak lainnya yang menjadi bagian penting dari pendidikan agama di Belanda dan menyebar ke berbagai belahan dunia melalui misi Kristen.
### Kisah di Balik "Heerlijk Klonk Het Lied Der Engelen"
1. **Inspirasi Alkitabiah:** Lagu ini secara langsung terinspirasi dari kisah Natal yang dicatat dalam Injil Lukas pasal 2, terutama ayat 8-14. Bagian ini menceritakan tentang para gembala di padang Efrata yang sedang menjaga domba mereka di malam hari. Tiba-tiba, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada mereka, dan kemuliaan Tuhan menyinari mereka. Malaikat itu membawa kabar baik tentang kelahiran Juruselamat, Yesus Kristus, di kota Daud. Kemudian, sejumlah besar bala tentara surga ikut memuji Allah dengan nyanyian, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
2. **Tujuan Penulisan:** De Puy menulis lagu ini dengan tujuan untuk menghidupkan kembali narasi Natal bagi anak-anak sekolah minggu. Ia ingin anak-anak bisa membayangkan suasana malam Natal pertama, mendengar "suara" nyanyian malaikat yang merdu, dan merasakan sukacita serta kekaguman para gembala.
3. **Gaya dan Pesan:**
* **Kesederhanaan:** Liriknya sangat sederhana dan langsung, mudah dipahami oleh anak-anak. Ia tidak menggunakan bahasa teologis yang rumit, melainkan narasi yang jelas.
* **Visualisasi:** Lagu ini menciptakan gambaran yang hidup: "Heerlijk klonk het lied der engelen" (Merdu sekali nyanyian malaikat) membawa pendengar langsung ke padang tempat para gembala berada.
* **Sukacita dan Pujian:** Nada lagunya ceria dan penuh pujian, mencerminkan sukacita besar atas kelahiran Kristus dan kemuliaan Allah.
* **Inti Pesan Natal:** Lagu ini berhasil menyampaikan inti pesan Natal: bahwa Allah telah mengutus Putera-Nya ke dunia, membawa damai sejahtera bagi umat manusia.
### Perjalanan ke Indonesia: "Hai, Dengar Tembang Malaikat"
1. **Misi Belanda:** Ketika para misionaris Belanda datang ke Indonesia (saat itu Hindia Belanda) pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, mereka membawa serta banyak himne dan lagu-lagu gereja dari tanah air mereka. Lagu-lagu sekolah minggu De Puy, yang sudah populer di Belanda, menjadi pilihan alami untuk diajarkan kepada anak-anak pribumi yang baru mengenal Kekristenan.
2. **Proses Penerjemahan:** Lagu "Heerlijk Klonk Het Lied Der Engelen" kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Proses penerjemahan lagu gereja seringkali melibatkan beberapa individu atau komite gereja untuk memastikan liriknya akurat secara teologis, puitis, dan tetap sesuai dengan irama serta melodi aslinya. Meskipun nama spesifik penerjemah ke bahasa Indonesia tidak selalu dicatat secara luas untuk setiap himne, ini adalah bagian dari upaya besar gereja untuk memiliki lagu-lagu dalam bahasa lokal.
3. **Popularitas di Sekolah Minggu Indonesia:** Lagu ini dengan cepat menjadi favorit di kalangan anak-anak sekolah minggu di Indonesia. Kesederhanaan liriknya, melodi yang mudah diingat, dan pesan Natal yang kuat membuatnya sangat cocok untuk pengajaran dan perayaan Natal. Ini adalah alasan mengapa lagu ini sering dikaitkan dengan "Sekolah Minggu Inggris" di Indonesia – mungkin karena popularitasnya yang luar biasa di sekolah-sekolah minggu, yang seringkali mengadopsi model atau materi yang datang dari pengaruh Barat (termasuk Belanda/Inggris). Namun, yang perlu ditekankan adalah De Puy adalah pencipta aslinya.
4. **Bagian dari Warisan:** "Hai, Dengar Tembang Malaikat" masuk ke dalam berbagai buku nyanyian gereja di Indonesia, seperti Kidung Jemaat (KJ) dan Nyanyian Rohani (NR), mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lagu Natal klasik yang tak lekang oleh waktu.
### Kesimpulan
"Hai, Dengar Tembang Malaikat" adalah lebih dari sekadar lagu Natal. Ini adalah warisan dari Johannes Corstianus De Puy, seorang pendeta Belanda yang berdedikasi untuk mengajarkan Injil kepada anak-anak melalui musik. Melalui melodi yang sederhana namun memukau dan lirik yang lugas, lagu ini berhasil menangkap keajaiban dan sukacita malam Natal, meneruskannya dari generasi ke generasi di Belanda, Indonesia, dan di seluruh dunia. Lagu ini mengingatkan kita akan nyanyian malaikat yang merdu, damai sejahtera di bumi, dan kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi.
Identitas "Sekolah Minggu Inggris" sebagai pencipta lagu ini seringkali menjadi kesalahpahaman. Sebenarnya, lagu ini adalah karya dari seorang pendeta dan penulis himne asal Belanda bernama **Johannes Corstianus De Puy**. Ia adalah sosok sentral di balik banyak lagu anak-anak gereja yang populer di masanya.
### Johannes Corstianus De Puy: Sang Pencipta
* **Latar Belakang:** Johannes Corstianus De Puy lahir di Belanda pada tahun 1838 dan meninggal pada tahun 1918. Ia adalah seorang pendeta Gereja Reformasi Belanda (Nederlands Hervormde Kerk) dan juga seorang pendidik yang sangat peduli dengan pendidikan agama anak-anak.
* **Visi dan Misi:** Pada abad ke-19, gerakan sekolah minggu (Zondagsschool) di Belanda berkembang pesat. De Puy menyadari kebutuhan akan lagu-lagu dan materi pengajaran yang sesuai untuk anak-anak, yang bisa menyampaikan kebenaran Alkitab dengan cara yang sederhana, menarik, dan mudah diingat. Ia memiliki talenta luar biasa dalam menciptakan lirik dan terkadang melodi yang ceria dan mendidik. Banyak karyanya diterbitkan dalam koleksi lagu-lagu anak-anak gereja seperti "Zondagsschool Liederen."
* **Karya Lain:** Selain "Heerlijk Klonk Het Lied Der Engelen," De Puy juga menulis banyak lagu anak-anak lainnya yang menjadi bagian penting dari pendidikan agama di Belanda dan menyebar ke berbagai belahan dunia melalui misi Kristen.
### Kisah di Balik "Heerlijk Klonk Het Lied Der Engelen"
1. **Inspirasi Alkitabiah:** Lagu ini secara langsung terinspirasi dari kisah Natal yang dicatat dalam Injil Lukas pasal 2, terutama ayat 8-14. Bagian ini menceritakan tentang para gembala di padang Efrata yang sedang menjaga domba mereka di malam hari. Tiba-tiba, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada mereka, dan kemuliaan Tuhan menyinari mereka. Malaikat itu membawa kabar baik tentang kelahiran Juruselamat, Yesus Kristus, di kota Daud. Kemudian, sejumlah besar bala tentara surga ikut memuji Allah dengan nyanyian, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
2. **Tujuan Penulisan:** De Puy menulis lagu ini dengan tujuan untuk menghidupkan kembali narasi Natal bagi anak-anak sekolah minggu. Ia ingin anak-anak bisa membayangkan suasana malam Natal pertama, mendengar "suara" nyanyian malaikat yang merdu, dan merasakan sukacita serta kekaguman para gembala.
3. **Gaya dan Pesan:**
* **Kesederhanaan:** Liriknya sangat sederhana dan langsung, mudah dipahami oleh anak-anak. Ia tidak menggunakan bahasa teologis yang rumit, melainkan narasi yang jelas.
* **Visualisasi:** Lagu ini menciptakan gambaran yang hidup: "Heerlijk klonk het lied der engelen" (Merdu sekali nyanyian malaikat) membawa pendengar langsung ke padang tempat para gembala berada.
* **Sukacita dan Pujian:** Nada lagunya ceria dan penuh pujian, mencerminkan sukacita besar atas kelahiran Kristus dan kemuliaan Allah.
* **Inti Pesan Natal:** Lagu ini berhasil menyampaikan inti pesan Natal: bahwa Allah telah mengutus Putera-Nya ke dunia, membawa damai sejahtera bagi umat manusia.
### Perjalanan ke Indonesia: "Hai, Dengar Tembang Malaikat"
1. **Misi Belanda:** Ketika para misionaris Belanda datang ke Indonesia (saat itu Hindia Belanda) pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, mereka membawa serta banyak himne dan lagu-lagu gereja dari tanah air mereka. Lagu-lagu sekolah minggu De Puy, yang sudah populer di Belanda, menjadi pilihan alami untuk diajarkan kepada anak-anak pribumi yang baru mengenal Kekristenan.
2. **Proses Penerjemahan:** Lagu "Heerlijk Klonk Het Lied Der Engelen" kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Proses penerjemahan lagu gereja seringkali melibatkan beberapa individu atau komite gereja untuk memastikan liriknya akurat secara teologis, puitis, dan tetap sesuai dengan irama serta melodi aslinya. Meskipun nama spesifik penerjemah ke bahasa Indonesia tidak selalu dicatat secara luas untuk setiap himne, ini adalah bagian dari upaya besar gereja untuk memiliki lagu-lagu dalam bahasa lokal.
3. **Popularitas di Sekolah Minggu Indonesia:** Lagu ini dengan cepat menjadi favorit di kalangan anak-anak sekolah minggu di Indonesia. Kesederhanaan liriknya, melodi yang mudah diingat, dan pesan Natal yang kuat membuatnya sangat cocok untuk pengajaran dan perayaan Natal. Ini adalah alasan mengapa lagu ini sering dikaitkan dengan "Sekolah Minggu Inggris" di Indonesia – mungkin karena popularitasnya yang luar biasa di sekolah-sekolah minggu, yang seringkali mengadopsi model atau materi yang datang dari pengaruh Barat (termasuk Belanda/Inggris). Namun, yang perlu ditekankan adalah De Puy adalah pencipta aslinya.
4. **Bagian dari Warisan:** "Hai, Dengar Tembang Malaikat" masuk ke dalam berbagai buku nyanyian gereja di Indonesia, seperti Kidung Jemaat (KJ) dan Nyanyian Rohani (NR), mengukuhkan posisinya sebagai salah satu lagu Natal klasik yang tak lekang oleh waktu.
### Kesimpulan
"Hai, Dengar Tembang Malaikat" adalah lebih dari sekadar lagu Natal. Ini adalah warisan dari Johannes Corstianus De Puy, seorang pendeta Belanda yang berdedikasi untuk mengajarkan Injil kepada anak-anak melalui musik. Melalui melodi yang sederhana namun memukau dan lirik yang lugas, lagu ini berhasil menangkap keajaiban dan sukacita malam Natal, meneruskannya dari generasi ke generasi di Belanda, Indonesia, dan di seluruh dunia. Lagu ini mengingatkan kita akan nyanyian malaikat yang merdu, damai sejahtera di bumi, dan kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi.