KK
Kusongsong Bagaimana
Wie Soll Ich Dich Empfangen
Informasi Lagu
149
Nomor
do=bes
Nada Dasar
Kode
KK 149
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do=bes
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
92
Jumlah Bait
10 bait
Pencipta Lagu
Melchior Teschner (1614)
Pencipta Syair
Paul Gerhardt (1653)
Penerjemah
Hermanus Arie Pandopo (H.A. Van Dop) (1977)
Cross Ref.
KJ 85, NR 21, MK 10, BE 39, KPJ 231
Syair / Lirik
10 bait
Kusongsong bagaimana, ya Yesus, datang-Mu?
Engkau Terang buana, Kau Surya hidupku!
Kiranya Kau sendiri Penyuluh jalanku,
supaya kuyakini tujuan janji-Mu.
Kaum Sion menaburkan kembang di jalan-Mu;
ku ikut mengelukan Dikau di hatiku.
Kunyanyi Hosiana, ya Raja, tolonglah!
Pada-Mulah kiranya hamba-Mu berserah.
Betapa Kau berkorban hendak menghiburku
di kala ku di jurang sengsara kemelut.
Kau datang, Juruslamat, dengan sejahtera:
Keluh-kesahku tamat dan hatiku cerah.
Di saat ku terpasung, Kau membebaskanku:
segala aib dan malu terhapus oleh-Mu.
Pada-Mu Kautambahi mahkota mulia,
bahagia abadi, pusaka yang baka!
Sebabnya Kautinggalkan takhta-Mu yang megah,
kasih-Mulah belaka terhadap dunia.
Kau rela menderita sengsara dan cela,
segala dukacita dengan manusia.
Hai insan yang berduka, tabahkan hatimu,
dan pandanglah ke muka, hai kamu yang lesu:
telah di ambang pintu Penolong mulia,
dengan harapan itu jiwamu pun lega.
Tak usah cari jalan, tak usah berlelah,
bersusah siang-malam mengatur datang-Nya.
Sengaja Ia datang melipur laramu,
menaruh kasih sayang, membuka belenggu.
Kendati hutang dosa membuatmu gentar,
pada-Nya kau sentosa, anugrah-Nya besar!
Bagimu Ia datang menjadi Penebus;
sejahtra Kerajaan warisanmu terus!
Tak lagi menakutkan kuasa yang gelap:
semua lawan Tuhan menghilang serempak.
Segra Rajamu datang penuh karunia
membawa kemenangan selama-lamanya!
Yang datang menghakimi seisi dunia,
rahmani dan rahimi membela umat-Nya.
Ya datang, Matahari, sinari umat-Mu;
pada-Mu kami cari bahagia penuh.
Slide Lirik
10 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
KJ 85, NR 21, MK 10, BE 39, KPJ 231
Beha Ma Panjalongku
BE
Kusongsong Bagaimana
KJ
Kadospundi, Dhuh Gusti
KPJ
Kusongsong bagaimana
MK
Kunantikan Betapa, Ya Tuhan, Datang-Mu
NR
Sama Tema
Adven
Kau Yang Lama Dinantikan
KK
Kiranya Langit Terbelah
KK
Pencipta Bintang Semesta
KK
Tumbuhlah Tunas Baru
KK
Hai Waris Kerajaan
KK
Gapuramu Lapangkanlah
KK
O,Datanglah Imanuel
KK
Putri Son, Nyanyilah
KK
Soraklah, Hai Umatnya
KK
Terbitlah Bintang Timur
KK
Hatiku Bersukaria
KK
Ya Yesus, Dikau Kurindukan
KK
Sejarah Lagu
Lagu "Kusongsong Bagaimana" (atau "Wie soll ich dich empfangen" dalam bahasa aslinya) adalah sebuah himne Adven yang kaya akan sejarah dan makna teologis, ditulis oleh penyair himne Lutheran Jerman yang agung, **Paul Gerhardt**, dengan melodi yang sering dikaitkan dengan **Melchior Teschner**, meskipun aslinya berasal dari **Hans Leo Hassler**. Kisah di baliknya adalah perpaduan antara penderitaan pribadi, kehancuran sosial, dan kejeniusan musikal yang melampaui batas-batas genre.
Mari kita telusuri detailnya:
---
### 1. Paul Gerhardt: Sang Penyair di Tengah Badai (Lirik)
* **Latar Belakang Hidup & Era:** Paul Gerhardt (1607–1676) adalah salah satu liris himne Protestan terbesar Jerman, sering disebut sebagai "Lutheran terkemuka setelah Luther." Ia hidup pada masa yang sangat sulit dan penuh gejolak dalam sejarah Jerman: **Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648)**. Ini adalah konflik agama dan politik yang menghancurkan sebagian besar Eropa Tengah, menyebabkan jutaan kematian akibat pertempuran, kelaparan, dan wabah penyakit. Gerhardt sendiri mengalami langsung kehancuran ini.
* Ia lahir di Gräfenhainichen, Saksonia, dan menempuh pendidikan teologi di Wittenberg.
* Ia tidak mendapatkan penugasan pendeta sampai usia 45 tahun karena kekacauan perang.
* Ia mengalami banyak penderitaan pribadi: ia kehilangan istri dan empat dari lima anaknya dalam usia muda. Ia juga pernah terusir dari rumahnya dan harus menghadapi kemiskinan.
* **Konteks Penulisan "Wie soll ich dich empfangen":** Ditulis sekitar tahun 1653 dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1667 dalam kumpulan himne Johann Crüger, himne ini adalah ekspresi Adven yang mendalam. Kata-kata "Wie soll ich dich empfangen" (Bagaimana aku harus menyambut-Mu?) bukanlah sekadar pertanyaan retoris, melainkan sebuah refleksi dari hati yang bergelut.
* **Penderitaan vs. Harapan:** Di tengah kehancuran, kemiskinan, dan keputusasaan yang meluas akibat perang, Gerhardt menemukan pelipur lara dan harapan dalam iman Kristennya. Himne-himnenya sering kali mencerminkan realisme yang brutal tentang penderitaan, namun selalu diakhiri dengan kepercayaan yang teguh pada kasih dan anugerah Allah.
* **Adven sebagai Kebutuhan Mendesak:** Bagi Gerhardt dan orang-orang sezamannya, kedatangan Kristus bukan hanya perayaan nostalgia, tetapi sebuah kebutuhan yang mendesak. Dunia mereka sangat membutuhkan Juruselamat, pembawa damai, dan penghiburan.
* **Inti Lirik:** Himne ini adalah undangan yang tulus dan rendah hati kepada Kristus untuk datang. Gerhardt mengungkapkan kerinduan akan kehadiran Kristus sebagai Raja Damai yang akan membawa terang ke dalam kegelapan dunia. Liriknya juga mencerminkan pertanyaan tentang kelayakan manusia untuk menyambut Tuhan, namun akhirnya berpuncak pada janji anugerah dan belas kasihan-Nya.
### 2. Melchior Teschner / Hans Leo Hassler: Melodi yang Tak Terduga (Melodi)
* **Asal-Usul Melodi:** Melodi yang kita kenal sekarang, yang begitu akrab bagi banyak orang Kristen, memiliki sejarah yang mengejutkan dan tidak biasa.
* **Hans Leo Hassler (1564–1612):** Melodi aslinya pertama kali muncul dalam sebuah lagu cinta sekuler berjudul "Mein G'müt ist mir verwirret" (Pikiranku kacau) oleh komposer Jerman Hans Leo Hassler, yang diterbitkan pada tahun 1601 dalam koleksi "Lustgarten neuer teutscher Gesäng." Ini adalah lagu cinta yang melankolis, mengekspresikan kesedihan karena cinta yang hilang atau tidak terbalas.
* **Melchior Teschner (1584–1635):** Melodi ini kemudian diadaptasi dan dipopulerkan sebagai lagu gereja oleh Melchior Teschner, seorang kantor dan komposer. Sekitar tahun 1613, Teschner menerbitkan melodi ini dengan lirik himne Latin "Valet will ich dir geben" (Aku akan mengucapkan selamat tinggal kepadamu), sebuah lagu tentang perpisahan dengan dunia dan kerinduan akan Surga. Adaptasi Teschner inilah yang membuat melodi ini menjadi sangat populer dalam konteks gerejawi.
* **Paul Gerhardt & "O Haupt voll Blut und Wunden":** Di sinilah koneksi yang paling mendalam terjadi. Paul Gerhardt tidak hanya menggunakan melodi Teschner/Hassler untuk "Wie soll ich dich empfangen," tetapi juga untuk himne Paskah (Passion) paling terkenal di dunia: **"O Haupt voll Blut und Wunden" (O Kepala yang Berlumuran Darah dan Luka)**, yang merupakan adaptasi dari himne Latin abad pertengahan.
* **Makna Teologis Melodi yang Sama:**
* **Adven dan Paskah yang Terhubung:** Penggunaan melodi yang sama untuk himne Adven ("Kusongsong Bagaimana") dan himne Paskah ("O Kepala yang Berlumuran Darah dan Luka") adalah sebuah pernyataan teologis yang mendalam dan jenius. Ini secara musikal menghubungkan palungan Betlehem dengan salib di Golgota.
* **Pernyataan Iman:** Gerhardt dengan brilian menyiratkan bahwa kedatangan Kristus (Adven) secara intrinsik terkait dengan pengorbanan-Nya (Paskah). Kristus lahir ke dunia *untuk* mati bagi dosa manusia. Kegembiraan Adven tidak dapat dipisahkan dari penderitaan dan penebusan Paskah.
* **Transformasi Melodi:** Melodi yang awalnya adalah lagu cinta sekuler yang melankolis, di tangan Gerhardt dan Teschner, diangkat menjadi salah satu melodi himne paling kuat dan dikenal dalam tradisi Kristen, membawa beban kesedihan Adven (kerinduan akan Juruselamat di dunia yang hancur) dan kesedihan Paskah (penderitaan Kristus), namun selalu berujung pada harapan dan penebusan.
---
### Kesimpulan
"Kusongsong Bagaimana" adalah lebih dari sekadar lagu Adven. Ia adalah cerminan dari iman yang teguh di tengah badai kehidupan, ditulis oleh seorang pria yang telah kehilangan segalanya kecuali imannya. Melodinya, dengan sejarahnya yang kompleks, memperdalam makna liriknya, secara musikal menghubungkan kelahiran Raja dengan kematian Penebus, dan mengundang kita untuk merenungkan seluruh kisah penebusan Kristus setiap kali kita menyanyikannya di masa Adven. Ini adalah himne yang berbicara tentang penderitaan, kerinduan, harapan, dan anugerah Ilahi yang tak terbatas.
Mari kita telusuri detailnya:
---
### 1. Paul Gerhardt: Sang Penyair di Tengah Badai (Lirik)
* **Latar Belakang Hidup & Era:** Paul Gerhardt (1607–1676) adalah salah satu liris himne Protestan terbesar Jerman, sering disebut sebagai "Lutheran terkemuka setelah Luther." Ia hidup pada masa yang sangat sulit dan penuh gejolak dalam sejarah Jerman: **Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648)**. Ini adalah konflik agama dan politik yang menghancurkan sebagian besar Eropa Tengah, menyebabkan jutaan kematian akibat pertempuran, kelaparan, dan wabah penyakit. Gerhardt sendiri mengalami langsung kehancuran ini.
* Ia lahir di Gräfenhainichen, Saksonia, dan menempuh pendidikan teologi di Wittenberg.
* Ia tidak mendapatkan penugasan pendeta sampai usia 45 tahun karena kekacauan perang.
* Ia mengalami banyak penderitaan pribadi: ia kehilangan istri dan empat dari lima anaknya dalam usia muda. Ia juga pernah terusir dari rumahnya dan harus menghadapi kemiskinan.
* **Konteks Penulisan "Wie soll ich dich empfangen":** Ditulis sekitar tahun 1653 dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1667 dalam kumpulan himne Johann Crüger, himne ini adalah ekspresi Adven yang mendalam. Kata-kata "Wie soll ich dich empfangen" (Bagaimana aku harus menyambut-Mu?) bukanlah sekadar pertanyaan retoris, melainkan sebuah refleksi dari hati yang bergelut.
* **Penderitaan vs. Harapan:** Di tengah kehancuran, kemiskinan, dan keputusasaan yang meluas akibat perang, Gerhardt menemukan pelipur lara dan harapan dalam iman Kristennya. Himne-himnenya sering kali mencerminkan realisme yang brutal tentang penderitaan, namun selalu diakhiri dengan kepercayaan yang teguh pada kasih dan anugerah Allah.
* **Adven sebagai Kebutuhan Mendesak:** Bagi Gerhardt dan orang-orang sezamannya, kedatangan Kristus bukan hanya perayaan nostalgia, tetapi sebuah kebutuhan yang mendesak. Dunia mereka sangat membutuhkan Juruselamat, pembawa damai, dan penghiburan.
* **Inti Lirik:** Himne ini adalah undangan yang tulus dan rendah hati kepada Kristus untuk datang. Gerhardt mengungkapkan kerinduan akan kehadiran Kristus sebagai Raja Damai yang akan membawa terang ke dalam kegelapan dunia. Liriknya juga mencerminkan pertanyaan tentang kelayakan manusia untuk menyambut Tuhan, namun akhirnya berpuncak pada janji anugerah dan belas kasihan-Nya.
### 2. Melchior Teschner / Hans Leo Hassler: Melodi yang Tak Terduga (Melodi)
* **Asal-Usul Melodi:** Melodi yang kita kenal sekarang, yang begitu akrab bagi banyak orang Kristen, memiliki sejarah yang mengejutkan dan tidak biasa.
* **Hans Leo Hassler (1564–1612):** Melodi aslinya pertama kali muncul dalam sebuah lagu cinta sekuler berjudul "Mein G'müt ist mir verwirret" (Pikiranku kacau) oleh komposer Jerman Hans Leo Hassler, yang diterbitkan pada tahun 1601 dalam koleksi "Lustgarten neuer teutscher Gesäng." Ini adalah lagu cinta yang melankolis, mengekspresikan kesedihan karena cinta yang hilang atau tidak terbalas.
* **Melchior Teschner (1584–1635):** Melodi ini kemudian diadaptasi dan dipopulerkan sebagai lagu gereja oleh Melchior Teschner, seorang kantor dan komposer. Sekitar tahun 1613, Teschner menerbitkan melodi ini dengan lirik himne Latin "Valet will ich dir geben" (Aku akan mengucapkan selamat tinggal kepadamu), sebuah lagu tentang perpisahan dengan dunia dan kerinduan akan Surga. Adaptasi Teschner inilah yang membuat melodi ini menjadi sangat populer dalam konteks gerejawi.
* **Paul Gerhardt & "O Haupt voll Blut und Wunden":** Di sinilah koneksi yang paling mendalam terjadi. Paul Gerhardt tidak hanya menggunakan melodi Teschner/Hassler untuk "Wie soll ich dich empfangen," tetapi juga untuk himne Paskah (Passion) paling terkenal di dunia: **"O Haupt voll Blut und Wunden" (O Kepala yang Berlumuran Darah dan Luka)**, yang merupakan adaptasi dari himne Latin abad pertengahan.
* **Makna Teologis Melodi yang Sama:**
* **Adven dan Paskah yang Terhubung:** Penggunaan melodi yang sama untuk himne Adven ("Kusongsong Bagaimana") dan himne Paskah ("O Kepala yang Berlumuran Darah dan Luka") adalah sebuah pernyataan teologis yang mendalam dan jenius. Ini secara musikal menghubungkan palungan Betlehem dengan salib di Golgota.
* **Pernyataan Iman:** Gerhardt dengan brilian menyiratkan bahwa kedatangan Kristus (Adven) secara intrinsik terkait dengan pengorbanan-Nya (Paskah). Kristus lahir ke dunia *untuk* mati bagi dosa manusia. Kegembiraan Adven tidak dapat dipisahkan dari penderitaan dan penebusan Paskah.
* **Transformasi Melodi:** Melodi yang awalnya adalah lagu cinta sekuler yang melankolis, di tangan Gerhardt dan Teschner, diangkat menjadi salah satu melodi himne paling kuat dan dikenal dalam tradisi Kristen, membawa beban kesedihan Adven (kerinduan akan Juruselamat di dunia yang hancur) dan kesedihan Paskah (penderitaan Kristus), namun selalu berujung pada harapan dan penebusan.
---
### Kesimpulan
"Kusongsong Bagaimana" adalah lebih dari sekadar lagu Adven. Ia adalah cerminan dari iman yang teguh di tengah badai kehidupan, ditulis oleh seorang pria yang telah kehilangan segalanya kecuali imannya. Melodinya, dengan sejarahnya yang kompleks, memperdalam makna liriknya, secara musikal menghubungkan kelahiran Raja dengan kematian Penebus, dan mengundang kita untuk merenungkan seluruh kisah penebusan Kristus setiap kali kita menyanyikannya di masa Adven. Ini adalah himne yang berbicara tentang penderitaan, kerinduan, harapan, dan anugerah Ilahi yang tak terbatas.