Informasi Lagu
144
Nomor
do=d
Nada Dasar
Kode
KK 144
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do=d
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
100
Jumlah Bait
3 bait
Style
FunkPopRock
Pencipta Lagu
John Robson Sweney (1880)
Pencipta Syair
Fanny Jane Crosby (1880)
Penerjemah
Epafroditus Laurentius Pohan Shn (E.L. Pohan) (1971)
Cross Ref.
KJ 145, KPPK 109, NP 65, BE 399, BN 399, KC 70
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 1 bait
Mari tuturkan kembali kisah yang indah benar, warta berharga sekali: Yesus Pahlawan besar! Bahwa di malam lahir-Nya malak menyanyi merdu: “Hormat dibri bagi Allah: dunia beroleh restu.” Reff Mari tuturkan kembali kisah yang indah benar, warta berharga sekali: Yesus Pahlawan besar! 2. Waktu Almasih puasa di padang tandus gersang, untuk dosaku digoda, tapi akhirnya menang. Mari tuturkan derita dan sengsara-Nya pedih; untuk manusia yang hina Ia disiksa perih. Reff 3. Tuhan dipaku di salib, tubuh memar didera, mati-Nya nista dan aib, lalu dikubur segra. Warta gembira sekali: “Kubur tak dapat menang; Tuhan tlah hidup kembali!” Kita beroleh senang. Reff
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KK 144 1
Slide 2 — KK 144 2
Slide 3 — KK 144 3
Slide 4 — KK 144 4
Partitur / Not
Partitur Chord KK 144
Sejarah Lagu
"Mari Tuturkan Kembali" atau "Tell Me the Story of Jesus" adalah salah satu himne rohani yang paling dicintai dan abadi, dikenal karena kesederhanaan liriknya yang menyentuh hati dan melodi yang mudah diingat. Lagu ini adalah buah karya dua tokoh besar dalam sejarah musik rohani Amerika: **Fanny Jane Crosby** (penulis lirik) dan **John Robson Sweney** (komposer).

Mari kita telusuri kisah di balik penciptaan lagu yang indah ini:

### 1. Sosok di Balik Lirik: Fanny Jane Crosby (1820-1915)

Fanny Crosby adalah salah satu penulis himne paling produktif dalam sejarah, dengan lebih dari 8.000 lirik yang telah diterbitkan. Yang luar biasa, ia buta sejak usia enam minggu karena kesalahan medis. Meskipun demikian, kehidupannya dipenuhi dengan cahaya rohani dan semangat yang luar biasa. Ia sering mengatakan bahwa kebutaannya adalah berkat tersembunyi, karena itu memungkinkannya untuk berkonsentrasi pada dunia batin dan hubungannya dengan Tuhan tanpa gangguan visual.

Crosby memiliki kemampuan luar biasa untuk mengarang lirik dengan cepat. Ia seringkali akan menulis sebuah himne lengkap dalam hitungan menit setelah seorang komposer memberikan sebuah melodi atau gagasan tema. Ingatannya tajam, dan ia memiliki pengetahuan mendalam tentang Alkitab yang memberinya inspirasi tanpa henti. Ciri khas tulisannya adalah kesederhanaan, kejelasan, dan fokus pada kasih Kristus dan janji keselamatan. Ia memiliki keinginan kuat untuk menyampaikan pesan Injil kepada semua orang, terutama anak-anak dan mereka yang belum mengenal Yesus, dengan cara yang paling mudah dipahami dan menyentuh.

### 2. Sosok di Balik Melodi: John Robson Sweney (1837-1899)

John Robson Sweney adalah seorang musisi, komposer, dan guru musik yang sangat dihormati. Ia pernah menjadi profesor musik di Pennsylvania Military Academy dan kemudian menjadi direktur musik di Gereja Baptis Bethany di Philadelphia. Sweney dikenal karena kemampuannya menciptakan melodi yang kuat, mengena, dan mudah dinyanyikan, yang sangat cocok untuk pertemuan kebangunan rohani dan nyanyian jemaat. Ia banyak berkolaborasi dengan Fanny Crosby dan penulis lirik lainnya, menciptakan banyak himne populer.

Sweney memiliki bakat untuk menyelaraskan melodi dengan emosi dan makna lirik, memastikan bahwa musiknya memperkuat pesan yang disampaikan oleh kata-kata.

### 3. Kisah di Balik Penciptaan Lagu (Tahun 1880)

Pada tahun 1880, John Robson Sweney, seperti yang sering dilakukannya, sedang mencari lirik untuk melodi baru yang telah ia gubah. Ia mungkin datang ke Fanny Crosby dengan melodi tersebut, atau mereka berdua mendiskusikan kebutuhan akan sebuah lagu yang secara langsung menceritakan kisah hidup Yesus.

Pada masa itu, banyak himne berfokus pada doktrin teologis yang mendalam atau pengalaman pribadi yang transformatif. Namun, ada juga kebutuhan akan narasi yang lebih lugas dan langsung tentang Yesus sendiri—kisah-Nya dari awal hingga akhir—yang dapat dipahami oleh anak-anak kecil di sekolah Minggu dan orang dewasa yang baru mengenal iman Kristen. Ini adalah keinginan bersama yang menjadi pendorong di balik lagu ini.

Ketika Sweney memainkan melodi untuk Crosby, atau menjelaskan idenya, pikiran Crosby langsung bergegas ke "kisah" yang paling agung: kisah Yesus Kristus. Ia tidak hanya menulis tentang Yesus, tetapi ia *menceritakan* Yesus. Ia membayangkan seorang anak kecil yang duduk mendengarkan dengan penuh perhatian, atau seorang pendengar yang rindu untuk mengenal Juruselamat.

Dengan cepat dan tanpa banyak revisi, Fanny Crosby mendiktekan lirik-liriknya. Ia memulai dengan kelahiran Yesus yang sederhana, berlanjut ke pelayanan-Nya yang penuh kasih dan mujizat, dan berpuncak pada pengorbanan-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya.

**Mari kita lihat bagaimana liriknya berkembang, menceritakan sebuah narasi yang lengkap:**

* **Ayat 1 (Kelahiran dan Masa Kecil):** Membawa kita ke malam Natal, kelahiran Yesus di Bethlehem yang sederhana, dikelilingi oleh para gembala dan malaikat.
* *Tell me the story of Jesus, Write on my heart every word; Tell me the story most precious, Sweetest that ever was heard. Tell how the angels in chorus Sang as they welcomed His birth, "Glory to God in the highest! Peace and good tidings to earth."*

* **Ayat 2 (Pelayanan dan Mujizat):** Melukiskan Yesus sebagai guru, penyembuh, dan Gembala yang baik. Menggambarkan mujizat-Nya, kasih-Nya pada anak-anak, dan ajaran-Nya yang penuh hikmat.
* *Tell how He taught in the temple, Preached on the hillside and plain; Calming the storm on the waters, Healing the sick and the lame. Tell how He loved little children, Suffered the lost to draw nigh; How He had pity for sinners, Bidding them look up and live.*

* **Ayat 3 (Penderitaan, Kematian, dan Kebangkitan):** Memuncak pada pengorbanan-Nya di Golgota, penderitaan-Nya, dan kemenangan-Nya atas maut.
* *Tell of the cross where they nailed Him, Writhing in anguish and pain; Tell of the grave where they laid Him, Tell how He liveth again. Love in that story so tender, Clearer than ever I see; Stay, let me weep while you linger, Jesus, to die for me!*

* **Refrain (Inti Permohonan):** Refrain adalah jantung lagu ini, permohonan yang tulus untuk terus menceritakan kisah kasih dan pengorbanan Yesus.
* *Tell me the story of Jesus, Write on my heart every word; Tell me the story most precious, Sweetest that ever was heard.*

Melodi Sweney, yang lembut namun agung, sangat cocok dengan narasi Crosby yang penuh kasih. Nada-nada yang sederhana memungkinkan pesan lirik untuk bersinar terang, membuatnya mudah untuk dinyanyikan dan diingat oleh semua orang.

### 4. Dampak dan Warisan

"Tell Me the Story of Jesus" dengan cepat menjadi favorit di gereja-gereja dan sekolah Minggu di seluruh dunia. Daya tariknya terletak pada kesederhanaan dan kedalaman emosionalnya. Lagu ini tidak hanya mengajarkan fakta-fakta tentang Yesus, tetapi juga mengundang pendengarnya untuk merenungkan kasih dan pengorbanan-Nya secara pribadi.

Hingga hari ini, lagu ini terus dinyanyikan di berbagai belahan dunia, melampaui generasi dan budaya. Ia menjadi pengantar yang sempurna bagi mereka yang baru mengenal iman Kristen, pengingat yang menyegarkan bagi orang-orang percaya lama, dan sebuah penghiburan yang abadi tentang kisah kasih terbesar yang pernah diceritakan. Ini adalah bukti genius kolaborasi antara seorang penulis lirik yang buta namun visioner dan seorang komposer yang melodius, yang bersama-sama menciptakan sebuah warisan rohani yang tak lekang oleh waktu.
Kembali ke KK