PKJ
Patut Segenap yang Ada
Let All Mortal Flesh Keep Silence
Informasi Lagu
29
Nomor
la=d
Nada Dasar
Kode
PKJ 29
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Nada Dasar
la=d
Ketukan
2/4 ketuk
Metronom
72
Jumlah Bait
4 bait
Pencipta Lagu
tradisional Perancis (1800)
Pencipta Syair
Gerard Moultrie (1829)
Penerjemah
H.A. Pandopo (1987)
Cross Ref.
KMM 36 , NKB 6, KK 46
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Patut segenap yang ada diam dan sujud sembah,
mengosongkan pikirannya dari barang dunia,
kar’na Tuhan sungguh hadir, patut dipermulia.
Maha raja alam raya, lahir dari Maria, –
Tuhan yang telah menjadi serendah manusia,
bagai Roti yang sorgawi, memberikan diriNya.
Malak mengiringi Dia, Putra Allah yang esa,
Cah’-ya dari Cah’-ya murni hadir dalam dunia.
Kuasa Iblis harus mundur, kegelapan pun enyah.
Serafim menutup wajah, kerubim sujud sembah,
sungkem dihadapan Dia dan menyanyi tak lelah:
Haleluya, Haleluya, Tuhan Maha mulia!
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik salah satu himne Kristen paling mistis dan agung, "Patut Segenap Yang Ada / Let All Mortal Flesh Keep Silence." Lagu ini adalah jembatan yang menghubungkan liturgi kuno Gereja Timur dengan ibadah Kristen modern di Barat, dipenuhi dengan getaran spiritual yang mendalam.
### Asal Mula Kuno: Liturgi St. Yakobus dan Gereja Timur
Kisah lagu ini dimulai ribuan tahun lalu, jauh sebelum Gerard Moultrie lahir. Lirik aslinya bukanlah ciptaan Moultrie, melainkan sebuah teks yang sangat kuno yang merupakan bagian dari **"Liturgy of St. James" (Liturgi St. Yakobus)**, salah satu liturgi Kristen tertua yang masih digunakan, khususnya di Gereja Ortodoks Antiokhia dan beberapa tradisi Ortodoks Timur lainnya. Liturgi ini diyakini berasal dari Yerusalem pada abad ke-4, dan secara tradisional dikaitkan dengan Rasul Yakobus, saudara Tuhan Yesus.
Teks aslinya ditulis dalam bahasa **Yunani Koine** (?????), dan dikenal sebagai **"Sigesato pasa sarx broteia" (???????? ???? ???? ???????)**, yang secara harfiah berarti "Biarlah setiap daging fana berdiam diri."
Dalam Liturgi St. Yakobus, teks ini dinyanyikan pada momen yang sangat sakral yang disebut **"Great Entrance" (Pintu Masuk Agung)**. Ini adalah prosesi di mana roti dan anggur (yang akan dikonsekrasikan menjadi Ekaristi atau Komuni Kudus) dibawa dari prothesis (meja persiapan) ke altar utama. Momen ini bukan sekadar pemindahan fisik, melainkan dipandang sebagai kedatangan Kristus sendiri yang akan mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban.
Tujuan dari himne ini pada saat itu adalah untuk menanamkan rasa hormat, kekaguman, dan ketenangan yang mendalam di antara umat. Ini adalah seruan agar semua makhluk fana—manusia—berdiam diri, merenung, dan menyadari bahwa mereka akan menyaksikan dan berpartisipasi dalam misteri ilahi yang melampaui pemahaman manusia. Kehadiran Allah yang mahasuci begitu dekat, sehingga bahkan malaikat-malaikat pun digambarkan bergetar dan menyembunyikan wajah mereka.
### Sang Penerjemah: Gerard Moultrie
Di sinilah peran **Gerard Moultrie (1829–1885)**, seorang imam Anglikan, cendekiawan, dan penulis himne Inggris, menjadi sangat penting. Pada abad ke-19, ada minat yang tumbuh di Gereja Inggris untuk memperkaya ibadah mereka dengan kekayaan liturgi dari Gereja-gereja Timur yang kuno. Moultrie adalah salah satu pelopor dalam gerakan ini.
Pada tahun **1864**, Moultrie menerjemahkan teks Yunani kuno "Sigesato pasa sarx broteia" ke dalam bahasa Inggris. Terjemahannya bukan sekadar literal, melainkan puitis dan sangat sensitif terhadap nuansa teologis serta spiritual dari teks aslinya. Ia berhasil menangkap esensi dari ketakjuban, kerendahan hati, dan misteri yang terkandung dalam himne kuno tersebut.
Judul terjemahannya, **"Let All Mortal Flesh Keep Silence,"** dengan segera menjadi klasik. Kata-katanya sangat kuat dan ikonik:
* "Let all mortal flesh keep silence, and with fear and trembling stand;
Ponder nothing earthly minded, for with blessing in His hand,
Christ our God to earth descendeth, our full homage to demand."
(Biarlah segenap yang fana berdiam diri, dan berdiri dengan takut dan gemetar;
Janganlah memikirkan hal-hal duniawi, karena dengan berkat di tangan-Nya,
Kristus Allah kita turun ke bumi, menuntut penghormatan penuh kita.)
Moultrie tidak hanya menerjemahkan; ia menghidupkan kembali himne ini untuk generasi baru. Ia melihat keindahan dan kekuatan spiritual dalam liturgi Ortodoks Timur yang seringkali tidak dikenal di Barat, dan melalui terjemahannya, ia menjembatani jurang budaya dan bahasa.
### Musik dan Kebangkitan Modern
Setelah terjemahan Moultrie, himne ini semakin dikenal, tetapi kekuatannya benar-benar meledak ketika dipadukan dengan melodi tertentu.
Melodi paling terkenal yang mengiringi lirik ini bukanlah ciptaan baru, melainkan sebuah lagu pengantar tidur Natal (carol) Prancis kuno dari Abad Pertengahan yang dikenal sebagai **"Picardy"** (dari daerah Picardy di Prancis). Melodi ini memiliki nuansa yang khusyuk, melankolis, dan agung, yang secara sempurna melengkapi getaran misterius dari lirik Moultrie.
Pengaturan melodi "Picardy" untuk "Let All Mortal Flesh Keep Silence" yang paling berpengaruh adalah oleh komposer Inggris **Ralph Vaughan Williams** dalam **The English Hymnal (1906)**. Perpaduan antara lirik kuno yang diterjemahkan Moultrie dan melodi abad pertengahan yang diaransemen oleh Vaughan Williams menciptakan sebuah karya yang transenden dan tak terlupakan.
### Makna dan Dampak Spiritual
"Patut Segenap Yang Ada" adalah lebih dari sekadar lagu ibadah; ini adalah sebuah meditasi teologis dan spiritual yang mendalam.
1. **Kehadiran Ilahi yang Tak Terukur:** Himne ini adalah pengingat yang kuat akan kedekatan dan kekudusan Tuhan. Ini menyerukan agar kita mengesampingkan kekhawatiran duniawi dan mempersiapkan hati kita untuk menghadapi Dia yang "turun ke bumi."
2. **Kerendahan Hati dan Kekaguman:** Gambaran tentang malaikat-malaikat yang "menyelubungi wajah mereka" dan "bergetar" di hadapan Allah menekankan betapa kecil dan tidak layaknya kita di hadapan kemuliaan-Nya. Ini memanggil kita untuk merendahkan diri dalam kekaguman.
3. **Eskatologi dan Kedatangan Kristus:** Ayat terakhir lagu ini, yang berbicara tentang Kristus yang "datang dengan kerumunan para malaikat" dan "pasukan yang tak terhitung," menghubungkan momen Ekaristi dengan Kedatangan Kedua Kristus di akhir zaman, mengingatkan kita akan harapan dan janji-Nya.
4. **Jembatan antara Langit dan Bumi:** Lagu ini menggambarkan momen ibadah sebagai titik di mana tirai antara dunia fana dan alam surgawi menipis, memungkinkan kita untuk merasakan sekilas kemuliaan ilahi.
Hingga hari ini, "Patut Segenap Yang Ada / Let All Mortal Flesh Keep Silence" tetap menjadi salah satu himne yang paling dicintai dan dihormati di berbagai denominasi Kristen, terutama selama Adven, Misa Komuni, atau bahkan dalam ibadah pemakaman. Kekuatan liriknya, keindahan melodinya, dan kedalaman spiritualnya terus menggetarkan jiwa, mengajak setiap pendengarnya untuk berhenti sejenak, merenung, dan membiarkan "segenap yang fana berdiam diri" di hadapan Yang Mahakuasa.
### Asal Mula Kuno: Liturgi St. Yakobus dan Gereja Timur
Kisah lagu ini dimulai ribuan tahun lalu, jauh sebelum Gerard Moultrie lahir. Lirik aslinya bukanlah ciptaan Moultrie, melainkan sebuah teks yang sangat kuno yang merupakan bagian dari **"Liturgy of St. James" (Liturgi St. Yakobus)**, salah satu liturgi Kristen tertua yang masih digunakan, khususnya di Gereja Ortodoks Antiokhia dan beberapa tradisi Ortodoks Timur lainnya. Liturgi ini diyakini berasal dari Yerusalem pada abad ke-4, dan secara tradisional dikaitkan dengan Rasul Yakobus, saudara Tuhan Yesus.
Teks aslinya ditulis dalam bahasa **Yunani Koine** (?????), dan dikenal sebagai **"Sigesato pasa sarx broteia" (???????? ???? ???? ???????)**, yang secara harfiah berarti "Biarlah setiap daging fana berdiam diri."
Dalam Liturgi St. Yakobus, teks ini dinyanyikan pada momen yang sangat sakral yang disebut **"Great Entrance" (Pintu Masuk Agung)**. Ini adalah prosesi di mana roti dan anggur (yang akan dikonsekrasikan menjadi Ekaristi atau Komuni Kudus) dibawa dari prothesis (meja persiapan) ke altar utama. Momen ini bukan sekadar pemindahan fisik, melainkan dipandang sebagai kedatangan Kristus sendiri yang akan mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban.
Tujuan dari himne ini pada saat itu adalah untuk menanamkan rasa hormat, kekaguman, dan ketenangan yang mendalam di antara umat. Ini adalah seruan agar semua makhluk fana—manusia—berdiam diri, merenung, dan menyadari bahwa mereka akan menyaksikan dan berpartisipasi dalam misteri ilahi yang melampaui pemahaman manusia. Kehadiran Allah yang mahasuci begitu dekat, sehingga bahkan malaikat-malaikat pun digambarkan bergetar dan menyembunyikan wajah mereka.
### Sang Penerjemah: Gerard Moultrie
Di sinilah peran **Gerard Moultrie (1829–1885)**, seorang imam Anglikan, cendekiawan, dan penulis himne Inggris, menjadi sangat penting. Pada abad ke-19, ada minat yang tumbuh di Gereja Inggris untuk memperkaya ibadah mereka dengan kekayaan liturgi dari Gereja-gereja Timur yang kuno. Moultrie adalah salah satu pelopor dalam gerakan ini.
Pada tahun **1864**, Moultrie menerjemahkan teks Yunani kuno "Sigesato pasa sarx broteia" ke dalam bahasa Inggris. Terjemahannya bukan sekadar literal, melainkan puitis dan sangat sensitif terhadap nuansa teologis serta spiritual dari teks aslinya. Ia berhasil menangkap esensi dari ketakjuban, kerendahan hati, dan misteri yang terkandung dalam himne kuno tersebut.
Judul terjemahannya, **"Let All Mortal Flesh Keep Silence,"** dengan segera menjadi klasik. Kata-katanya sangat kuat dan ikonik:
* "Let all mortal flesh keep silence, and with fear and trembling stand;
Ponder nothing earthly minded, for with blessing in His hand,
Christ our God to earth descendeth, our full homage to demand."
(Biarlah segenap yang fana berdiam diri, dan berdiri dengan takut dan gemetar;
Janganlah memikirkan hal-hal duniawi, karena dengan berkat di tangan-Nya,
Kristus Allah kita turun ke bumi, menuntut penghormatan penuh kita.)
Moultrie tidak hanya menerjemahkan; ia menghidupkan kembali himne ini untuk generasi baru. Ia melihat keindahan dan kekuatan spiritual dalam liturgi Ortodoks Timur yang seringkali tidak dikenal di Barat, dan melalui terjemahannya, ia menjembatani jurang budaya dan bahasa.
### Musik dan Kebangkitan Modern
Setelah terjemahan Moultrie, himne ini semakin dikenal, tetapi kekuatannya benar-benar meledak ketika dipadukan dengan melodi tertentu.
Melodi paling terkenal yang mengiringi lirik ini bukanlah ciptaan baru, melainkan sebuah lagu pengantar tidur Natal (carol) Prancis kuno dari Abad Pertengahan yang dikenal sebagai **"Picardy"** (dari daerah Picardy di Prancis). Melodi ini memiliki nuansa yang khusyuk, melankolis, dan agung, yang secara sempurna melengkapi getaran misterius dari lirik Moultrie.
Pengaturan melodi "Picardy" untuk "Let All Mortal Flesh Keep Silence" yang paling berpengaruh adalah oleh komposer Inggris **Ralph Vaughan Williams** dalam **The English Hymnal (1906)**. Perpaduan antara lirik kuno yang diterjemahkan Moultrie dan melodi abad pertengahan yang diaransemen oleh Vaughan Williams menciptakan sebuah karya yang transenden dan tak terlupakan.
### Makna dan Dampak Spiritual
"Patut Segenap Yang Ada" adalah lebih dari sekadar lagu ibadah; ini adalah sebuah meditasi teologis dan spiritual yang mendalam.
1. **Kehadiran Ilahi yang Tak Terukur:** Himne ini adalah pengingat yang kuat akan kedekatan dan kekudusan Tuhan. Ini menyerukan agar kita mengesampingkan kekhawatiran duniawi dan mempersiapkan hati kita untuk menghadapi Dia yang "turun ke bumi."
2. **Kerendahan Hati dan Kekaguman:** Gambaran tentang malaikat-malaikat yang "menyelubungi wajah mereka" dan "bergetar" di hadapan Allah menekankan betapa kecil dan tidak layaknya kita di hadapan kemuliaan-Nya. Ini memanggil kita untuk merendahkan diri dalam kekaguman.
3. **Eskatologi dan Kedatangan Kristus:** Ayat terakhir lagu ini, yang berbicara tentang Kristus yang "datang dengan kerumunan para malaikat" dan "pasukan yang tak terhitung," menghubungkan momen Ekaristi dengan Kedatangan Kedua Kristus di akhir zaman, mengingatkan kita akan harapan dan janji-Nya.
4. **Jembatan antara Langit dan Bumi:** Lagu ini menggambarkan momen ibadah sebagai titik di mana tirai antara dunia fana dan alam surgawi menipis, memungkinkan kita untuk merasakan sekilas kemuliaan ilahi.
Hingga hari ini, "Patut Segenap Yang Ada / Let All Mortal Flesh Keep Silence" tetap menjadi salah satu himne yang paling dicintai dan dihormati di berbagai denominasi Kristen, terutama selama Adven, Misa Komuni, atau bahkan dalam ibadah pemakaman. Kekuatan liriknya, keindahan melodinya, dan kedalaman spiritualnya terus menggetarkan jiwa, mengajak setiap pendengarnya untuk berhenti sejenak, merenung, dan membiarkan "segenap yang fana berdiam diri" di hadapan Yang Mahakuasa.
Cross Reference
KMM 36 , NKB 6, KK 46
Patut Segenap Yang Ada
KK
Patut Segenap Yang Ada
KMM
Patut Segenap yang Ada
NKB
Sama Tema
Puji-pujian dan Pembukaan Ibadah
Abadi Tak Nampak
PKJ
Mulia, Mulia NamaNya
PKJ
Ajaib NamaNya
PKJ
Angkatlah Hatimu Pada Tuhan
PKJ
Bersoraklah dan Puji Tuhan
PKJ
Bersoraklah, Hai Alam Semesta
PKJ
Bersyukurlah Pada Tuhan
PKJ
Bukalah Gapura Indah
PKJ
Dengan Malaikat, Angkatlah
PKJ
Dengan Semarak Majulah
PKJ
Inilah Hari Minggu
PKJ
Kami Muliakan NamaMu
PKJ
Kita Masuk RumahNya
PKJ
Kunyanyikan Kasih Setia Tuhan
PKJ
Kusiapkan Hatiku, Tuhan
PKJ
Mari, Kawan-Kawan, Nyanyi Gembira
PKJ
Mari Kita Puji
PKJ
Mari Masuk ke RumahNya
PKJ
Mari Sembah
PKJ
Mari Semua, Mari Sembah Tuhan
PKJ
Mari Semua, Kini Bernyanyilah
PKJ
Marilah Kita Siapkan Hati Kita
PKJ
Marilah Memuji
PKJ
Marilah, Pujilah Allah
PKJ
Muliakan Nama Tuhan
PKJ
Nyanyikanlah Haleluya
PKJ
Nyanyikanlah Nyanyian Baru
PKJ
Nyanyikan Tuhanmu Haleluya
PKJ
Puji Tuhan Allah
PKJ
Puji Tuhan, Pujilah NamaNya
PKJ
Puji Tuhan, Pujilah NamaNya
PKJ
Pujilah Allah, Pujilah
PKJ
Soraklah, Hai UmatNya
PKJ
Suci, Suci, Suci
PKJ
Yesus, Raja Damai
PKJ