Informasi Lagu
50
Nomor
Kode
NR 50
Buku
Nyanyian Rohani
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 172, KK 233, BE 85, PS 639
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Lihat, ibu Tuhan kita sangatlah berdukacita mandang palang Anak-Nya. Anak-Nya disengsarakan, dan pedang yang diramalkan menembuskan hati-Nya.
Pahit sangatlah sedihnya karna siksa dan pedihnya susah buat hatinya. Tapi kasih Anak Allah akan orang yang bersalah tahan sampai mati-Nya.
Hati kita mengenangkan, Yesus mati dipalangkan, agar kita ditebus. Cari sungai kasihan-Nya yang berpancar selamanya dari palang-Nya kudus.
Bri salib tudungi aku; Yesus, maut-Mu selaku tempat perlindunganku. Dan, ketika tubuh mati, brilah dengan suka hati jiwa masuk firdaus-Mu.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — NR 50 1
Slide 2 — NR 50 2
Slide 3 — NR 50 3
Slide 4 — NR 50 4
Partitur / Not
Partitur Chord NR 50
Sejarah Lagu
Kisah di balik **"Stabat Mater Dolorosa"** (Ibu yang Berdiri Berduka) adalah salah satu narasi paling mendalam dalam sejarah kesusastraan dan musik Kristen. Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan sebuah puisi meditasi abad pertengahan yang menggambarkan penderitaan luar biasa Bunda Maria saat menyaksikan putranya, Yesus Kristus, disalibkan.

Berikut adalah detail kisah di balik karya abadi ini:

### 1. Asal Usul dan Penulis (Abad ke-13)
Meskipun sering dianggap anonim, para sejarawan musik dan teologi umumnya meyakini bahwa teks Latin ini ditulis oleh **Jacopone da Todi** (seorang biarawan Fransiskan asal Italia) pada akhir abad ke-13 (sekitar tahun 1230-1306).

* **Latar Belakang:** Jacopone adalah seorang pengacara sukses yang mengalami pertobatan radikal setelah istrinya meninggal dunia secara tragis. Ia kemudian bergabung dengan Ordo Fransiskan dan menghabiskan sisa hidupnya dalam kemiskinan dan kontemplasi.
* **Makna Teologis:** Puisi ini lahir dari tradisi spiritualitas Fransiskan yang menekankan *kemanusiaan* Yesus dan *perasaan* manusiawi orang-orang di sekitar-Nya. Fokusnya bukan pada teologi yang rumit, melainkan pada empati emosional: bagaimana rasanya bagi seorang ibu melihat anaknya menderita dan mati.

### 2. Isi Puisi: Sebuah Meditasi Penderitaan
Teks Latin asli terdiri dari 20 bait yang terbagi menjadi dua bagian utama:
* **Bagian Pertama (Bait 1-10):** Menggambarkan Maria yang berdiri di bawah salib (*Stabat Mater*). Ia digambarkan sebagai sosok yang hatinya tertusuk oleh pedang dukacita, sesuai dengan nubuat Simeon saat Yesus masih bayi.
* **Bagian Kedua (Bait 11-20):** Merupakan doa pribadi sang penyair kepada Bunda Maria. Ia memohon agar ia diizinkan ikut merasakan duka Maria, agar jiwanya terbakar oleh kasih Kristus, dan agar ia dilindungi pada hari penghakiman.

### 3. Transformasi menjadi Musik (Karya Agung Abadi)
Puisi ini menjadi sangat populer di Gereja Katolik dan diadopsi dalam Liturgi Pekan Suci. Karena kedalaman emosinya, banyak komposer besar sepanjang sejarah terobsesi untuk menggubah musik untuk teks ini.

Beberapa versi paling terkenal:
* **Giovanni Pierluigi da Palestrina (Abad 16):** Mengubahnya menjadi komposisi paduan suara polifonik yang sangat indah dan megah.
* **Giovanni Battista Pergolesi (1736):** Ditulis tepat sebelum kematiannya yang prematur. Versi ini dianggap sebagai salah satu karya musik sakral paling mengharukan dan dramatis yang pernah dibuat.
* **Franz Schubert, Gioachino Rossini, hingga Antonín Dvo?ák:** Masing-masing memberikan interpretasi orkestra yang besar dan megah, mencerminkan betapa universalnya tema "dukacita seorang ibu" ini.

### 4. Masuk ke Indonesia: "Lihat Bunda yang Berduka"
Di Indonesia, lagu ini dikenal luas di kalangan umat Katolik melalui lagu **"Lihat Bunda yang Berduka"** (sering dinyanyikan dalam iringan Jalan Salib atau ibadat Jumat Agung).

* **Adaptasi:** Lagu ini merupakan terjemahan bebas dari teks asli *Stabat Mater*. Fokus lirik bahasa Indonesianya adalah mengajak umat untuk merenungkan penderitaan Maria sebagai cerminan penderitaan manusia dan ajakan untuk setia mendampingi Tuhan.
* **Fungsi Liturgis:** Lagu ini memiliki fungsi untuk menciptakan suasana kontemplatif (hening dan merenung). Dalam tradisi liturgi, lagu ini dibawakan saat peringatan "Tujuh Kedukaan Bunda Maria" (*Our Lady of Sorrows*) yang dirayakan setiap tanggal 15 September.

### Mengapa Lagu Ini Begitu Kuat?
Kekuatan lagu ini terletak pada **universalisme duka**. Bagi orang percaya, lagu ini tidak hanya tentang Maria dan Yesus 2.000 tahun lalu. Ia berbicara tentang:
1. **Solidaritas dalam Penderitaan:** Bahwa Tuhan (melalui Yesus) dan orang-orang kudus (Maria) tahu rasanya menderita.
2. **Kemanusiaan:** Ia memanusiakan tokoh-tokoh suci, menjadikannya sosok yang bisa dirasakan kasih dan sakit hatinya oleh manusia biasa.

**Kesimpulan:**
*Stabat Mater* adalah jembatan emosional yang menghubungkan rasa sakit manusia di bumi dengan misteri penebusan di surga. Ketika kita mendengarkan atau menyanyikan "Lihat Bunda yang Berduka", kita sebenarnya sedang masuk ke dalam sebuah ruang hening untuk mengakui bahwa di balik iman yang teguh, ada sisi kemanusiaan yang juga bisa merasa sedih, kehilangan, dan berduka.