KK
Lihat Bunda Yang Berduka
Stabat Mater Dolorosa
Informasi Lagu
233
Nomor
Kode
KK 233
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Jerman
Pencipta Syair
Anonim Latin
Cross Ref.
KJ 172, NR 50, NR 51, BE 85, PS 639
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
10 bait
Lihat bunda yang berduka di depan salib Sang Putra;
air mata bergenang. O betapa jiwa ibu tersedu menanggung pilu,
bagai ditembus pedang.
Bunda Putra Tunggal Allah disebut "yang berbahagia"
kini sangat bersedih. Hatinya dirundung duka,
karna Putra yang termulia bersengsara di salib.
O siapa tidak pilu menyaksikan bunda Kristus menangisi
Putranya? Dan siapa tak tergugah menyelami duka bunda
Dalam siksa Anaknya?
Dilihatnya Yesus, Putra, yang tersiksa dan terluka
karna dosa umatNya dan bergumul sendirian
menghadapi kematian menyerahkan nyawaNya.
Wahai bunda, sumber kasih, biar turut kuhayati
dukamu yang mencekam; biar hatiku bernyala mengasihi
Putra Allah dan padaNya berkenan.
Biarlah sengsara aib dari Dia
yang tersalib tersemat di hatiku; biar siksa salib itu
yang ditanggungNya bagiku kudekap bersamamu.
Biar aku disampingmu pilu karna wafat Kristus
di sepanjang hidupku; inilah keinginanku:
di dekat salib Putramu besertamu tersedu.
O perawan yang terpilih, perkenankan aku ini
ikut dikau bersedih; biar kematian Tuhan
dan darahNya yang tercurah kukenangkan tak henti.
Biar aku pun terluka, menghayati salib Tuhan,
digerakkan kasihNya. Hatiku engkau kobarkan;
biar aku dibebaskan dalam penghakimanNya.
Biarlah salib Tuhanku jadi benteng naunganku
dan kurasa rahmatNya. Bila nanti aku mati,
biar aku mewarisi kemuliaan yang baka.
Slide Lirik
10 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Kisah di balik **"Stabat Mater Dolorosa"** (Ibu yang Berdiri Berduka) adalah salah satu narasi paling mendalam dalam sejarah kesusastraan dan musik Kristen. Lagu ini bukan sekadar nyanyian, melainkan sebuah puisi meditasi abad pertengahan yang menggambarkan penderitaan luar biasa Bunda Maria saat menyaksikan putranya, Yesus Kristus, disalibkan.
Berikut adalah detail kisah di balik karya abadi ini:
### 1. Asal Usul dan Penulis (Abad ke-13)
Meskipun sering dianggap anonim, para sejarawan musik dan teologi umumnya meyakini bahwa teks Latin ini ditulis oleh **Jacopone da Todi** (seorang biarawan Fransiskan asal Italia) pada akhir abad ke-13 (sekitar tahun 1230-1306).
* **Latar Belakang:** Jacopone adalah seorang pengacara sukses yang mengalami pertobatan radikal setelah istrinya meninggal dunia secara tragis. Ia kemudian bergabung dengan Ordo Fransiskan dan menghabiskan sisa hidupnya dalam kemiskinan dan kontemplasi.
* **Makna Teologis:** Puisi ini lahir dari tradisi spiritualitas Fransiskan yang menekankan *kemanusiaan* Yesus dan *perasaan* manusiawi orang-orang di sekitar-Nya. Fokusnya bukan pada teologi yang rumit, melainkan pada empati emosional: bagaimana rasanya bagi seorang ibu melihat anaknya menderita dan mati.
### 2. Isi Puisi: Sebuah Meditasi Penderitaan
Teks Latin asli terdiri dari 20 bait yang terbagi menjadi dua bagian utama:
* **Bagian Pertama (Bait 1-10):** Menggambarkan Maria yang berdiri di bawah salib (*Stabat Mater*). Ia digambarkan sebagai sosok yang hatinya tertusuk oleh pedang dukacita, sesuai dengan nubuat Simeon saat Yesus masih bayi.
* **Bagian Kedua (Bait 11-20):** Merupakan doa pribadi sang penyair kepada Bunda Maria. Ia memohon agar ia diizinkan ikut merasakan duka Maria, agar jiwanya terbakar oleh kasih Kristus, dan agar ia dilindungi pada hari penghakiman.
### 3. Transformasi menjadi Musik (Karya Agung Abadi)
Puisi ini menjadi sangat populer di Gereja Katolik dan diadopsi dalam Liturgi Pekan Suci. Karena kedalaman emosinya, banyak komposer besar sepanjang sejarah terobsesi untuk menggubah musik untuk teks ini.
Beberapa versi paling terkenal:
* **Giovanni Pierluigi da Palestrina (Abad 16):** Mengubahnya menjadi komposisi paduan suara polifonik yang sangat indah dan megah.
* **Giovanni Battista Pergolesi (1736):** Ditulis tepat sebelum kematiannya yang prematur. Versi ini dianggap sebagai salah satu karya musik sakral paling mengharukan dan dramatis yang pernah dibuat.
* **Franz Schubert, Gioachino Rossini, hingga Antonín Dvo?ák:** Masing-masing memberikan interpretasi orkestra yang besar dan megah, mencerminkan betapa universalnya tema "dukacita seorang ibu" ini.
### 4. Masuk ke Indonesia: "Lihat Bunda yang Berduka"
Di Indonesia, lagu ini dikenal luas di kalangan umat Katolik melalui lagu **"Lihat Bunda yang Berduka"** (sering dinyanyikan dalam iringan Jalan Salib atau ibadat Jumat Agung).
* **Adaptasi:** Lagu ini merupakan terjemahan bebas dari teks asli *Stabat Mater*. Fokus lirik bahasa Indonesianya adalah mengajak umat untuk merenungkan penderitaan Maria sebagai cerminan penderitaan manusia dan ajakan untuk setia mendampingi Tuhan.
* **Fungsi Liturgis:** Lagu ini memiliki fungsi untuk menciptakan suasana kontemplatif (hening dan merenung). Dalam tradisi liturgi, lagu ini dibawakan saat peringatan "Tujuh Kedukaan Bunda Maria" (*Our Lady of Sorrows*) yang dirayakan setiap tanggal 15 September.
### Mengapa Lagu Ini Begitu Kuat?
Kekuatan lagu ini terletak pada **universalisme duka**. Bagi orang percaya, lagu ini tidak hanya tentang Maria dan Yesus 2.000 tahun lalu. Ia berbicara tentang:
1. **Solidaritas dalam Penderitaan:** Bahwa Tuhan (melalui Yesus) dan orang-orang kudus (Maria) tahu rasanya menderita.
2. **Kemanusiaan:** Ia memanusiakan tokoh-tokoh suci, menjadikannya sosok yang bisa dirasakan kasih dan sakit hatinya oleh manusia biasa.
**Kesimpulan:**
*Stabat Mater* adalah jembatan emosional yang menghubungkan rasa sakit manusia di bumi dengan misteri penebusan di surga. Ketika kita mendengarkan atau menyanyikan "Lihat Bunda yang Berduka", kita sebenarnya sedang masuk ke dalam sebuah ruang hening untuk mengakui bahwa di balik iman yang teguh, ada sisi kemanusiaan yang juga bisa merasa sedih, kehilangan, dan berduka.
Berikut adalah detail kisah di balik karya abadi ini:
### 1. Asal Usul dan Penulis (Abad ke-13)
Meskipun sering dianggap anonim, para sejarawan musik dan teologi umumnya meyakini bahwa teks Latin ini ditulis oleh **Jacopone da Todi** (seorang biarawan Fransiskan asal Italia) pada akhir abad ke-13 (sekitar tahun 1230-1306).
* **Latar Belakang:** Jacopone adalah seorang pengacara sukses yang mengalami pertobatan radikal setelah istrinya meninggal dunia secara tragis. Ia kemudian bergabung dengan Ordo Fransiskan dan menghabiskan sisa hidupnya dalam kemiskinan dan kontemplasi.
* **Makna Teologis:** Puisi ini lahir dari tradisi spiritualitas Fransiskan yang menekankan *kemanusiaan* Yesus dan *perasaan* manusiawi orang-orang di sekitar-Nya. Fokusnya bukan pada teologi yang rumit, melainkan pada empati emosional: bagaimana rasanya bagi seorang ibu melihat anaknya menderita dan mati.
### 2. Isi Puisi: Sebuah Meditasi Penderitaan
Teks Latin asli terdiri dari 20 bait yang terbagi menjadi dua bagian utama:
* **Bagian Pertama (Bait 1-10):** Menggambarkan Maria yang berdiri di bawah salib (*Stabat Mater*). Ia digambarkan sebagai sosok yang hatinya tertusuk oleh pedang dukacita, sesuai dengan nubuat Simeon saat Yesus masih bayi.
* **Bagian Kedua (Bait 11-20):** Merupakan doa pribadi sang penyair kepada Bunda Maria. Ia memohon agar ia diizinkan ikut merasakan duka Maria, agar jiwanya terbakar oleh kasih Kristus, dan agar ia dilindungi pada hari penghakiman.
### 3. Transformasi menjadi Musik (Karya Agung Abadi)
Puisi ini menjadi sangat populer di Gereja Katolik dan diadopsi dalam Liturgi Pekan Suci. Karena kedalaman emosinya, banyak komposer besar sepanjang sejarah terobsesi untuk menggubah musik untuk teks ini.
Beberapa versi paling terkenal:
* **Giovanni Pierluigi da Palestrina (Abad 16):** Mengubahnya menjadi komposisi paduan suara polifonik yang sangat indah dan megah.
* **Giovanni Battista Pergolesi (1736):** Ditulis tepat sebelum kematiannya yang prematur. Versi ini dianggap sebagai salah satu karya musik sakral paling mengharukan dan dramatis yang pernah dibuat.
* **Franz Schubert, Gioachino Rossini, hingga Antonín Dvo?ák:** Masing-masing memberikan interpretasi orkestra yang besar dan megah, mencerminkan betapa universalnya tema "dukacita seorang ibu" ini.
### 4. Masuk ke Indonesia: "Lihat Bunda yang Berduka"
Di Indonesia, lagu ini dikenal luas di kalangan umat Katolik melalui lagu **"Lihat Bunda yang Berduka"** (sering dinyanyikan dalam iringan Jalan Salib atau ibadat Jumat Agung).
* **Adaptasi:** Lagu ini merupakan terjemahan bebas dari teks asli *Stabat Mater*. Fokus lirik bahasa Indonesianya adalah mengajak umat untuk merenungkan penderitaan Maria sebagai cerminan penderitaan manusia dan ajakan untuk setia mendampingi Tuhan.
* **Fungsi Liturgis:** Lagu ini memiliki fungsi untuk menciptakan suasana kontemplatif (hening dan merenung). Dalam tradisi liturgi, lagu ini dibawakan saat peringatan "Tujuh Kedukaan Bunda Maria" (*Our Lady of Sorrows*) yang dirayakan setiap tanggal 15 September.
### Mengapa Lagu Ini Begitu Kuat?
Kekuatan lagu ini terletak pada **universalisme duka**. Bagi orang percaya, lagu ini tidak hanya tentang Maria dan Yesus 2.000 tahun lalu. Ia berbicara tentang:
1. **Solidaritas dalam Penderitaan:** Bahwa Tuhan (melalui Yesus) dan orang-orang kudus (Maria) tahu rasanya menderita.
2. **Kemanusiaan:** Ia memanusiakan tokoh-tokoh suci, menjadikannya sosok yang bisa dirasakan kasih dan sakit hatinya oleh manusia biasa.
**Kesimpulan:**
*Stabat Mater* adalah jembatan emosional yang menghubungkan rasa sakit manusia di bumi dengan misteri penebusan di surga. Ketika kita mendengarkan atau menyanyikan "Lihat Bunda yang Berduka", kita sebenarnya sedang masuk ke dalam sebuah ruang hening untuk mengakui bahwa di balik iman yang teguh, ada sisi kemanusiaan yang juga bisa merasa sedih, kehilangan, dan berduka.
Cross Reference
KJ 172, NR 50, NR 51, BE 85, PS 639
Sai Ingoton Ni Rohangku
BE
Lihat Bunda yang Berduka
KJ
Lihat, Ibu Tuhan Kita
NR
B'ri Salib Tudungi Aku
NR
Lihat bunda yang berduka
PS
Sama Tema
Jumat Agung
Anak Domba Allah
KK
Golgota, Tempat Tuhanku Disalib
KK
Hai Dunia, Lihat Tuhan
KK
Kepala Yang Berdarah
KK
Kisah Nyata
KK
Lihatlah Anak Insan
KK
Mari Lihatlah Hari Terkelam
KK
Menjulang Nyata Atas Bukit Kala
KK
Penebusku Disalib
KK
Sang Anak Domba Yang Kudus
KK
Memandang Salib Rajaku
KK
Siapa Tergantung Di Salib Di Sana
KK
Tatkala ' Kau 'Kan Ditawan
KK
Tercurah Darah Tuhanku
KK
Tersalib Dan Sengsara
KK
Yesus, 'Kau Kehidupanku
KK
Yesus, Tuhanku, Apakah Dosamu
KK
Ya Anak Domba Allah
KK