Informasi Lagu
300
Nomor
Kode
NP 300
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Harry S. Mason
Pencipta Syair
Earl Marlatt
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 2 bait
"Kau sanggupkah," tanya Yesus, "Untuk minum cawanKu?" Kami sanggup, sungguh sanggup Sampai mati ikutMu. Ya, kami sanggup, kami milikMu; Ciptakan diri kami baru; Kami dibimbing oleh sinarMu Kepada Allah dan iman yang teguh.
"Kau sanggupkah?" bisik Yesus, Bergema selamanya; Dan umatNya yang berani Pasti kan menjawabNya:
Partitur / Not
Partitur Chord NP 300
Sejarah Lagu
Lagu **"Kau Sanggupkah?"** (judul asli: *Are Ye Able, Said the Master*) adalah salah satu himne yang paling menggugah dalam tradisi Kristen. Lagu ini bukan sekadar melodi indah, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang komitmen, penderitaan, dan kesediaan untuk mengikuti jejak Yesus Kristus.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu ini:

### 1. Pencipta: Kolaborasi antara Penulis dan Komposer
Lagu ini merupakan hasil kerja sama antara **Earl Marlatt** (penulis lirik) dan **Harry S. Mason** (penulis musik).

* **Earl Marlatt (1892–1976):** Ia adalah seorang profesor teologi di Boston University School of Theology. Marlatt dikenal sebagai sosok intelektual yang sangat mendalami spiritualitas.
* **Harry S. Mason (1881–1964):** Ia adalah seorang organis dan komposer gerejawi yang mahir. Ia memberikan melodi yang bernada megah namun reflektif, yang sangat cocok dengan kedalaman lirik Marlatt.

### 2. Latar Belakang Penulisan (1926)
Lirik lagu ini ditulis oleh Earl Marlatt pada tahun **1926**. Inspirasi utamanya berasal dari narasi Alkitab dalam **Matius 20:20-23**.

Dalam ayat tersebut, ibu dari Yakobus dan Yohanes (anak-anak Zebedeus) datang kepada Yesus meminta agar kedua anaknya duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam Kerajaan-Nya. Yesus kemudian bertanya kepada mereka:
> *"Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?"* (dalam bahasa Inggris: *"Are ye able to drink the cup that I shall drink?"*)

Yesus sedang menegaskan bahwa mengikuti-Nya bukan tentang kejayaan atau kedudukan, melainkan tentang **kesediaan untuk memikul salib, menanggung penderitaan, dan taat hingga akhir.**

### 3. Makna Mendalam di Balik Liriknya
Marlatt mengembangkan pertanyaan Yesus tersebut menjadi sebuah percakapan antara Yesus dan pengikut-Nya. Setiap bait lagu ini menggambarkan komitmen pengikut untuk menghadapi tantangan kehidupan yang sulit:

* **Bait Pertama:** Tentang kesanggupan meminum "cawan" (simbol penderitaan) dan dibaptis dengan "baptisan" (simbol kematian/pengorbanan) yang sama dengan Kristus.
* **Bait Kedua:** Tentang kesanggupan untuk tetap teguh meskipun harus menghadapi ejekan, penolakan, atau kesepian demi kebenaran.
* **Bait Ketiga:** Tentang kesediaan untuk menanggung beban dan tetap melayani meskipun lelah dan sakit hati.
* **Bait Keempat (Penutup):** Merupakan jawaban dari orang percaya. Meskipun mereka sadar bahwa mereka manusia lemah, mereka menjawab, *"Tuhan, dengan pertolongan-Mu, kami sanggup."*

### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Lagu ini menjadi sangat penting karena **kejujurannya.** Banyak lagu gereja berbicara tentang kemenangan dan sukacita, namun "Kau Sanggupkah?" berbicara tentang realitas iman yang berhadapan dengan kesulitan.

Lagu ini sering dinyanyikan dalam upacara penahbisan pendeta, acara pengutusan misionaris, atau momen-momen refleksi diri. Pertanyaan *"Kau sanggupkah?"* memaksa setiap pendengar untuk memeriksa isi hati mereka sendiri: *"Apakah saya bersedia mengikuti Yesus bukan hanya saat segalanya mudah, tetapi juga saat harus memikul salib?"*

### Kesimpulan
Secara teologis, lagu ini adalah sebuah **janji pengabdian.** Harry S. Mason dan Earl Marlatt berhasil mengubah teks Alkitab yang menantang menjadi sebuah himne yang menenangkan jiwa. Pesan utamanya adalah bahwa kita tidak perlu sanggup dengan kekuatan diri sendiri; kesanggupan itu muncul hanya karena kasih karunia dan penyertaan Kristus yang telah terlebih dahulu meminum "cawan" penderitaan bagi kita.

Di Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan ke dalam Kidung Jemaat atau buku nyanyian gerejawi lainnya, menjadi pengingat abadi bagi umat untuk terus setia mengikuti jejak Sang Guru.