Informasi Lagu
18
Nomor
Kode
NP 18
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
tak dikenal
Pencipta Syair
James Montgomery
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Pujilah Tuhanmu, Hai umat pilihan; Segra padukan suaramu Dan pujilah Tuhan!
Tuhan Mahabesar Di atas skalian; Siapa tidak bergemar Menaikkan pujian?
Tuhanlah kuatmu, Dan mazmurmu juga; Kristuslah keslamatanmu, Masyhurkanlah segra!
Pujilah Tuhanmu, Allahmu pujalah; NamaNya mulia slalu, Selama-lamanya!
Partitur / Not
Partitur Chord NP 18
Sejarah Lagu
Lagu **"Pujilah Tuhanmu"** (atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan judul asli **"Stand Up and Bless the Lord Your God"**) adalah sebuah himne klasik yang memiliki akar sejarah yang kuat dalam tradisi gereja Protestan.

Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:

### 1. Penulis: James Montgomery (1771–1854)
Lagu ini ditulis oleh **James Montgomery**, seorang penyair, jurnalis, dan penulis himne asal Inggris yang sangat produktif. Berbeda dengan banyak penulis himne di zamannya yang merupakan pendeta, Montgomery adalah seorang awam.

Kehidupan Montgomery penuh dengan perjuangan. Ayahnya adalah seorang misionaris Moravia. Ia sempat dipenjara dua kali karena tulisannya yang dianggap kritis terhadap pemerintah Inggris saat itu. Namun, di balik kehidupan publiknya yang keras, ia adalah seorang Kristen yang sangat taat. Ia menulis lebih dari 400 himne sepanjang hidupnya, banyak di antaranya masih dinyanyikan hingga hari ini karena kedalaman teologis dan penggunaan bahasanya yang puitis.

### 2. Konteks Penulisan: Terinspirasi dari Alkitab
Lagu ini ditulis oleh Montgomery pada tahun **1824**. Inspirasi utamanya diambil langsung dari kitab **Nehemia 9:5b**, yang berbunyi:

> *"Bangkitlah, pujilah TUHAN, Allahmu, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya! Semoga dimuliakan nama-Mu yang mulia, yang ditinggikan mengatasi segala puji dan hormat!"*

Montgomery ingin menciptakan sebuah lagu yang berfungsi sebagai ajakan untuk beribadah (doxology) yang membangkitkan semangat jemaat. Ia merasa bahwa ibadah tidak boleh dilakukan dengan lesu atau pasif, melainkan harus melibatkan seluruh tubuh dan jiwa—seperti kata "Stand Up" (Bangkitlah) yang ia ambil dari ayat tersebut.

### 3. Makna Lirik
Secara teologis, lagu ini mengandung beberapa poin penting:
* **Ajakan untuk Bangkit:** "Stand up" bukan sekadar instruksi fisik, melainkan seruan untuk menunjukkan rasa hormat, antusiasme, dan kesiapan untuk melayani Tuhan.
* **Keabadian Tuhan:** Lagu ini menekankan sifat Tuhan yang kekal ("dari selama-lamanya sampai selama-lamanya").
* **Respon terhadap Anugerah:** Lagu ini dirancang untuk dinyanyikan setelah jemaat merenungkan kasih setia Tuhan, sehingga pujian tersebut menjadi respon yang spontan dan penuh syukur.

### 4. Mengapa Sering Disebut "Karya Tak Dikenal"?
Anda mungkin mendengar istilah "karya tak dikenal" karena dalam banyak buku nyanyian gereja (hymnal) lama, lagu ini sering kali dicetak tanpa atribusi penulis, atau karena banyaknya aransemen musik yang berbeda yang menyertainya. Namun, secara literatur sejarah, kepenulisan James Montgomery atas lirik ini sudah terverifikasi secara luas di arsip sejarah himne dunia.

### 5. Pengaruh Lagu dalam Ibadah
Lagu ini menjadi populer di Inggris pada abad ke-19 dan kemudian menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke gereja-gereja di Indonesia.

Di Indonesia, lagu ini sering diterjemahkan dan dimasukkan ke dalam buku nyanyian gereja seperti **Kidung Jemaat** atau buku nyanyian denominasi lainnya. Melodinya yang tegap, megah, dan penuh wibawa membuatnya sangat cocok untuk menjadi lagu pembuka ibadah atau lagu penutup yang mengajak jemaat untuk berkomitmen membawa semangat ibadah ke dalam kehidupan sehari-hari.

### Kesimpulan
Lagu "Pujilah Tuhanmu" adalah pengingat bahwa ibadah adalah sebuah tindakan yang **aktif**. James Montgomery tidak hanya ingin jemaat bernyanyi dengan bibir, tetapi juga "bangkit" dengan seluruh keberadaan mereka untuk memuliakan nama Tuhan yang telah memberikan anugerah yang tak terhingga.

Setiap kali lagu ini dinyanyikan, jemaat sedang diingatkan bahwa Tuhan bukan hanya untuk disembah dalam keheningan, tetapi diakui keberadaannya dengan semangat yang meluap-luap.