NP
Mahabesar, O Tuhanku
How Great Thou Art
Informasi Lagu
17
Nomor
Kode
NP 17
Buku
Nyanyian Pujian
Metronom
0
Pencipta Lagu
Stuart K. Hine
Pencipta Syair
Stuart K. Hine
Cross Ref.
KJ 64, PPK 18, KPPK 14, NKI 201, NP 17
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
O Tuhanku, bila kumengagumi
Semesta alam hasil karyaMu,
Bintang dan guruh semua menjadi
Pertanda Mahakuasa Khalikku,
Aku memuji kebesaranMu,
Mahabesar, Penciptaku;
Aku memuji kebesaranMu,
Mahabesar, O Tuhanku!
Bila aku berjalan dalam hutan,
Mendengar kicau burung nan merdu,
Bila mendaki puncak pegunungan,
Memandang indahnya ciptaanMu,
Bila kuingat akan kasih Allah,
Hingga menyuruh AnakNya mati,
Rela disalib bagi manusia,
Lunaslah dosaku diampuni,
Bila Tuhan akan datang kembali,
Betapa sukacita hatiku!
Diantar pulang, masuk surga suci,
Akan kupuji kebesaranMu.
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"How Great Thou Art"** (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan sebagai *"Mahabesar, O Tuhanku"*) adalah salah satu lagu pujian (hymne) paling ikonik dan dicintai di dunia. Namun, menarik untuk diketahui bahwa lagu ini bukanlah sebuah karya yang ditulis dalam satu kali duduk, melainkan sebuah perjalanan lintas negara, bahasa, dan pengalaman spiritual.
Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu tersebut:
### 1. Akar dari Swedia (1885)
Kisah ini dimulai jauh sebelum Stuart K. Hine menulis lirik bahasa Inggrisnya. Pada tahun 1885, seorang pendeta asal Swedia bernama **Carl Boberg** sedang berjalan pulang setelah menghadiri kebaktian sore di daerah Teluk Mönsterås, Swedia.
Tiba-tiba, sebuah badai petir yang sangat dahsyat melanda daerah tersebut. Langit gelap, kilat menyambar, dan guntur menggelegar. Namun, tak lama kemudian, badai itu reda dengan cepat dan digantikan oleh sinar matahari yang cerah serta kicauan burung di hutan yang tenang.
Terpesona oleh kontras antara kedahsyatan badai dan kedamaian alam yang kembali pulih, Boberg merenungkan keagungan Tuhan. Ia kemudian menulis sebuah puisi berjudul **"O Store Gud"** (Ya Tuhan yang Besar). Puisi ini nantinya diberi melodi berdasarkan lagu rakyat tradisional Swedia.
### 2. Penemuan oleh Stuart K. Hine (1931)
Berpindah ke tahun 1931, seorang misionaris asal Inggris bernama **Stuart K. Hine** dan istrinya sedang melayani di pegunungan Carpathia, Ukraina. Saat itulah, mereka pertama kali mendengar lagu "O Store Gud" dinyanyikan oleh penduduk setempat dalam bahasa Rusia.
Hine sangat terkesan dengan keindahan melodi dan kedalaman maknanya. Ia kemudian memutuskan untuk menerjemahkan sebagian liriknya ke dalam bahasa Inggris dan menambahkan beberapa bait baru yang terinspirasi oleh pengalaman pelayanannya di sana.
### 3. Inspirasi di Balik Bait-Bait Lagu
Hine menambahkan bait-bait baru berdasarkan pengalaman nyata yang ia saksikan di Ukraina:
* **Bait Pertama & Kedua:** Terinspirasi langsung dari puisi asli Carl Boberg tentang kebesaran Tuhan yang terlihat di alam semesta (hutan, guntur, burung, dan pemandangan pegunungan).
* **Bait Ketiga:** Hine menulis bait ini setelah mendengar kisah tentang sepasang suami istri di sebuah desa di Ukraina yang dipisahkan karena penganiayaan iman. Mereka berdoa agar bisa bertemu kembali di surga. Hine terinspirasi untuk menulis tentang bagaimana Kristus datang untuk menebus dosa manusia dan memberikan harapan kekal, meski di tengah penderitaan hidup.
* **Bait Keempat:** Ditulis saat Perang Dunia II. Hine ingin mengekspresikan harapan bagi orang-orang yang menghadapi masa depan yang tidak pasti, bahwa Tuhan akan memanggil umat-Nya pulang suatu saat nanti.
### 4. Menjadi Fenomena Global
Setelah menyelesaikan lirik bahasa Inggrisnya, Hine menerbitkannya di Inggris pada tahun 1949. Namun, lagu ini awalnya belum terlalu dikenal luas di dunia.
Ketenaran lagu ini meledak pada tahun 1950-an berkat penginjil **Billy Graham**. Salah satu anggota tim musiknya, **George Beverly Shea** dan direktur musik **Cliff Barrows**, menemukan lagu ini dan membawakannya dalam rangkaian tur Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Billy Graham.
Lagu ini dinyanyikan terus-menerus selama serangkaian KKR Billy Graham di London pada tahun 1954 yang berlangsung selama 12 minggu. Kerumunan massa yang sangat besar sangat tersentuh oleh lagu tersebut, dan sejak saat itu, "How Great Thou Art" menjadi lagu wajib di hampir setiap gereja Kristen di dunia.
### Ringkasan Pesan
Kisah "How Great Thou Art" adalah bukti bagaimana sebuah karya seni bisa lahir dari perpaduan dua pengalaman yang berbeda:
1. **Pengalaman kekaguman** akan ciptaan Tuhan (Carl Boberg).
2. **Pengalaman perjumpaan** dengan kasih Tuhan di tengah penderitaan dan penantian (Stuart K. Hine).
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi pengingat yang kuat bagi banyak orang bahwa tidak peduli seberapa dahsyat "badai" dalam hidup kita, Tuhan tetap jauh lebih besar dan mampu memulihkan segalanya.
Berikut adalah kisah mendalam di balik terciptanya lagu tersebut:
### 1. Akar dari Swedia (1885)
Kisah ini dimulai jauh sebelum Stuart K. Hine menulis lirik bahasa Inggrisnya. Pada tahun 1885, seorang pendeta asal Swedia bernama **Carl Boberg** sedang berjalan pulang setelah menghadiri kebaktian sore di daerah Teluk Mönsterås, Swedia.
Tiba-tiba, sebuah badai petir yang sangat dahsyat melanda daerah tersebut. Langit gelap, kilat menyambar, dan guntur menggelegar. Namun, tak lama kemudian, badai itu reda dengan cepat dan digantikan oleh sinar matahari yang cerah serta kicauan burung di hutan yang tenang.
Terpesona oleh kontras antara kedahsyatan badai dan kedamaian alam yang kembali pulih, Boberg merenungkan keagungan Tuhan. Ia kemudian menulis sebuah puisi berjudul **"O Store Gud"** (Ya Tuhan yang Besar). Puisi ini nantinya diberi melodi berdasarkan lagu rakyat tradisional Swedia.
### 2. Penemuan oleh Stuart K. Hine (1931)
Berpindah ke tahun 1931, seorang misionaris asal Inggris bernama **Stuart K. Hine** dan istrinya sedang melayani di pegunungan Carpathia, Ukraina. Saat itulah, mereka pertama kali mendengar lagu "O Store Gud" dinyanyikan oleh penduduk setempat dalam bahasa Rusia.
Hine sangat terkesan dengan keindahan melodi dan kedalaman maknanya. Ia kemudian memutuskan untuk menerjemahkan sebagian liriknya ke dalam bahasa Inggris dan menambahkan beberapa bait baru yang terinspirasi oleh pengalaman pelayanannya di sana.
### 3. Inspirasi di Balik Bait-Bait Lagu
Hine menambahkan bait-bait baru berdasarkan pengalaman nyata yang ia saksikan di Ukraina:
* **Bait Pertama & Kedua:** Terinspirasi langsung dari puisi asli Carl Boberg tentang kebesaran Tuhan yang terlihat di alam semesta (hutan, guntur, burung, dan pemandangan pegunungan).
* **Bait Ketiga:** Hine menulis bait ini setelah mendengar kisah tentang sepasang suami istri di sebuah desa di Ukraina yang dipisahkan karena penganiayaan iman. Mereka berdoa agar bisa bertemu kembali di surga. Hine terinspirasi untuk menulis tentang bagaimana Kristus datang untuk menebus dosa manusia dan memberikan harapan kekal, meski di tengah penderitaan hidup.
* **Bait Keempat:** Ditulis saat Perang Dunia II. Hine ingin mengekspresikan harapan bagi orang-orang yang menghadapi masa depan yang tidak pasti, bahwa Tuhan akan memanggil umat-Nya pulang suatu saat nanti.
### 4. Menjadi Fenomena Global
Setelah menyelesaikan lirik bahasa Inggrisnya, Hine menerbitkannya di Inggris pada tahun 1949. Namun, lagu ini awalnya belum terlalu dikenal luas di dunia.
Ketenaran lagu ini meledak pada tahun 1950-an berkat penginjil **Billy Graham**. Salah satu anggota tim musiknya, **George Beverly Shea** dan direktur musik **Cliff Barrows**, menemukan lagu ini dan membawakannya dalam rangkaian tur Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Billy Graham.
Lagu ini dinyanyikan terus-menerus selama serangkaian KKR Billy Graham di London pada tahun 1954 yang berlangsung selama 12 minggu. Kerumunan massa yang sangat besar sangat tersentuh oleh lagu tersebut, dan sejak saat itu, "How Great Thou Art" menjadi lagu wajib di hampir setiap gereja Kristen di dunia.
### Ringkasan Pesan
Kisah "How Great Thou Art" adalah bukti bagaimana sebuah karya seni bisa lahir dari perpaduan dua pengalaman yang berbeda:
1. **Pengalaman kekaguman** akan ciptaan Tuhan (Carl Boberg).
2. **Pengalaman perjumpaan** dengan kasih Tuhan di tengah penderitaan dan penantian (Stuart K. Hine).
Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi pengingat yang kuat bagi banyak orang bahwa tidak peduli seberapa dahsyat "badai" dalam hidup kita, Tuhan tetap jauh lebih besar dan mampu memulihkan segalanya.
Cross Reference
KJ 64, PPK 18, KPPK 14, NKI 201, NP 17
Bila Kulihat Bintang Gemerlapan
KJ
Sungguh Besar Kau Allahku
KPPK
Ajaiblah Tuhan
NKI
Besarlah Allahku
PPK
Sama Tema
Allah, Bapa, Kemuliaan dan Kuasa