Informasi Lagu
45
Nomor
Kode
NKB 45
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
Thomas Tallis
Pencipta Syair
Thomas Ken
Penerjemah
H.A. Pandopo
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 6 bait
Pujian malam yang tenang padaMu, Allah, Sumber t’rang. Berilah aku berteduh di bawah sayap rahmatMu.
Ampuni dosa-dosaku yang ‘ku perbuat padaMu, agar berdamai hatiku denganMu dan sesamaku.
Buatlah jiwaku tent’ram lelap tidur dengan tenang, hingga di pagi yang cerah, bagiMu aku bekerja.
Jika gelisah tidurku, berikanlah sentosaMu. Jauhkan mimpi yang seram, agar tidurku pun tent’ram.
Nanti pun malam ‘kan lenyap diganti siang yang tetap, puji-pujian dariku, tak putus-putus bagiMu!
Pujilah Khalik semesta, Sumber segala kurnia, sorga dan bumi puji t’rus, Sang Bapa, Putra, Roh Kudus.
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 45
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Pujian Malam yang Tenang"** (atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai *Glory to Thee, My God, This Night*) adalah perpaduan antara sejarah teologi abad ke-17 dan melodi abadi yang melintasi zaman.

Berikut adalah detail kisah di baliknya:

### 1. Penulis Lirik: Thomas Ken (1637–1711)
Lirik lagu ini ditulis oleh **Thomas Ken**, seorang uskup Anglikan dari Bath dan Wells, Inggris. Ken dikenal sebagai sosok yang sangat teguh memegang prinsip imannya, bahkan ia sempat dipenjara oleh Raja James II karena keberaniannya menentang kebijakan sang raja.

Pada tahun 1674, saat ia menjadi pengajar di Winchester College (sebuah sekolah asrama laki-laki), Ken menulis tiga buah lagu himne untuk digunakan oleh para siswa: satu untuk pagi hari (*Awake, my soul, and with the sun*), satu untuk sore hari (*Glory to thee, my God, this night*), dan satu untuk tengah malam.

Tujuan awalnya sangat sederhana: Ken ingin para siswanya memiliki doa yang bisa mereka nyanyikan sendiri sebelum tidur agar mereka bisa merenungkan hari yang telah berlalu dan menyerahkan diri kepada perlindungan Tuhan. Lirik aslinya adalah bagian dari buku berjudul *A Manual of Prayers for the Use of the Scholars of Winchester College*.

### 2. Komposisi Musik: "Tallis’s Canon"
Nama **Thomas Tallis** (1505–1585) sering dikaitkan dengan lagu ini, namun perlu ada klarifikasi sejarah:

* **Thomas Tallis** adalah komposer besar dari era Tudor. Ia menulis sebuah karya berjudul *Canon* (dalam nada *Phrygian*) untuk buku nyanyian mazmur Uskup Parker pada tahun 1567.
* **Melodi yang kita kenal sekarang** sebagai "Tallis’s Canon" sebenarnya adalah adaptasi dari karya Tallis tersebut. Melodi ini memiliki struktur *canon* (karya musik di mana melodi yang sama diulangi oleh suara yang berbeda setelah jeda waktu tertentu), yang menciptakan suasana yang sangat tenang dan meditatif.

Jadi, meskipun liriknya ditulis oleh Thomas Ken pada tahun 1674, melodi dasarnya berasal dari karya Thomas Tallis yang sudah berusia sekitar 100 tahun lebih tua dari liriknya. Keduanya "dipertemukan" di kemudian hari hingga menjadi mahakarya himne malam yang paling dikenal di dunia.

### 3. Makna di Balik Lirik
Lirik *Glory to Thee, My God, This Night* sangat dalam karena bersifat sangat pribadi. Bait yang paling terkenal adalah:

> *"Glory to thee, my God, this night,*
> *For all the blessings of the light!*
> *Keep me, O keep me, King of kings,*
> *Beneath thine own almighty wings."*

Makna utamanya adalah **penyerahan diri**. Lagu ini mengajarkan orang percaya untuk:
1. **Bersyukur:** Mengingat segala berkat yang diterima sepanjang hari (cahaya).
2. **Mengaku Dosa:** Thomas Ken juga menyertakan bait tentang memohon pengampunan atas dosa yang dilakukan sepanjang hari itu.
3. **Berserah:** Membayangkan Tuhan sebagai pelindung yang "menutupi dengan sayap-Nya" selama tidur, yang secara simbolis mirip dengan kematian. Karena bagi orang Kristen abad ke-17, tidur dianggap sebagai "latihan kecil" sebelum kematian.

### 4. Warisan Sejarah
Lagu ini menjadi sangat legendaris di dunia Barat, khususnya di Inggris. Tradisi menyanyikan lagu ini di sekolah-sekolah asrama dan gereja-gereja bertahan selama berabad-abad.

Keunikan lagu ini terletak pada **keseimbangannya**: melodi *Canon* yang matematis dan teratur memberikan rasa tenang yang stabil, sementara liriknya memberikan rasa aman yang spiritual. Inilah sebabnya mengapa lagu ini tetap relevan dan masih sering dinyanyikan sebagai penutup kebaktian malam atau lagu pengantar tidur hingga hari ini.

Secara singkat, kisah lagu ini adalah tentang **seorang guru yang ingin murid-muridnya menutup hari dengan hati yang damai**, yang kemudian melodi dari seorang komposer besar masa lalu dipilih untuk membungkus doa tersebut menjadi abadi.