Informasi Lagu
125
Nomor
Kode
NKB 125
Buku
Nyanyikanlah Kidung Baru
Metronom
0
Pencipta Lagu
John S. Norris
Pencipta Syair
E.W. Blandy
Penerjemah
Tim Nyanyian GKI
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
‘Ku dengar panggilan Tuhan, ‘ku dengar panggilan Tuhan, ‘ku dengar panggilan Tuhan: “Pikul salib, ikutlah Aku!” Aku mau mengikut Dia, aku mau mengikut Dia, aku mau mengikut Dia, ikut Dia, Yesus, Tuhanku
‘Ku mau ikut walau sukar, ‘ku mau ikut walau sukar, ‘ku mau ikut walau sukar: ‘kan ‘ku ikut Dia s’lamanya. Aku mau mengikut Dia, aku mau mengikut Dia, aku mau mengikut Dia, ikut Dia, Yesus, Tuhanku
Meski jalanku mendaki, meski jalanku mendaki, meski jalanku mendaki: ‘kan ‘ku ikut Dia s’lamanya. Aku mau mengikut Dia, aku mau mengikut Dia, aku mau mengikut Dia, ikut Dia, Yesus, Tuhanku
DilimpahkanNya anug’rah, dilimpahkanNya anug’rah, dilimpahkanNya anug’rah: dan ‘ku ikut Dia s’lamanya. Aku mau mengikut Dia, aku mau mengikut Dia, aku mau mengikut Dia, ikut Dia, Yesus, Tuhanku
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — NKB 125 1
Slide 2 — NKB 125 2
Slide 3 — NKB 125 3
Slide 4 — NKB 125 4
Partitur / Not
Partitur Chord NKB 125
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Ku Dengar Panggilan Tuhan"** (atau dalam bahasa Inggris berjudul **"Where He Leads Me I Will Follow"**) adalah salah satu kisah yang sangat menyentuh tentang penyerahan diri total kepada kehendak Tuhan. Lagu ini bukan sekadar melodi, melainkan kesaksian iman yang lahir dari pergumulan pribadi.

Berikut adalah detail sejarah dan kisah di balik lagu ini:

### 1. Latar Belakang Penulis
Lagu ini ditulis oleh **Richard (Dick) Blandy** (E.W. Blandy) pada tahun 1890. Kisah ini dimulai ketika Blandy, seorang pemuda yang pada saat itu sedang mengalami pergumulan hebat dalam hidupnya, menghadiri sebuah kebaktian kebangunan rohani di sebuah gereja di Amerika Serikat.

### 2. Momen Inspirasi (Pergumulan di Altar)
Pada masa itu, Blandy sedang berada di persimpangan jalan. Ia merasa Tuhan memanggilnya untuk melakukan sesuatu yang sangat sulit baginya—sesuatu yang menuntut ketaatan penuh, namun ia merasa takut dan ragu.

Dalam kebaktian tersebut, Blandy maju ke depan (ke altar) untuk berdoa. Saat berlutut di sana, ia bergumul dengan hatinya sendiri. Ia berkata kepada Tuhan, *"Tuhan, aku tidak tahu ke mana Engkau akan membawaku, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, aku memutuskan untuk mengikuti-Mu ke mana pun Engkau memimpin."*

Sambil berlutut di altar itulah, bait pertama lagu ini mulai terbentuk di pikirannya:
*“I can hear my Savior calling...”* (Aku dengar Juruselamatku memanggil)
*“Take thy cross and follow, follow Me.”* (Pikullah salibmu dan ikutlah Aku)

### 3. Proses Penulisan
Blandy kemudian mencatat kata-kata tersebut. Ia menuliskan sebuah janji setia bahwa ia tidak akan lagi menanyakan "ke mana" atau "bagaimana" jalannya, melainkan hanya berfokus pada "siapa" yang memimpinnya.

Liriknya sangat sederhana namun sangat mendalam:
* **"Where He leads me I will follow"** (Ke mana pun Ia memimpin, aku akan mengikuti).
* **"I'll go with Him, with Him all the way"** (Aku akan pergi bersama-Nya, bersama-Nya sampai akhir).

### 4. Peran John S. Norris
Meskipun liriknya ditulis oleh Blandy, lagu ini sering dikaitkan dengan **John S. Norris**. Norris adalah seorang komposer dan penerbit musik gerejawi yang kemudian menyusun melodi untuk lirik Blandy tersebut.

Norris-lah yang memublikasikan lagu ini ke dalam buku nyanyian, sehingga lagu ini tersebar luas ke seluruh dunia. Tanpa komposisi musik yang diciptakan Norris, pesan iman Blandy mungkin tidak akan bisa dinyanyikan dan menjadi berkat bagi jutaan orang selama lebih dari satu abad.

### 5. Makna Teologis
Lagu ini tetap relevan hingga hari ini karena menggambarkan esensi dari **ketaatan seorang murid**.
* **Kepercayaan:** Menunjukkan bahwa percaya kepada Tuhan berarti siap "buta" terhadap masa depan, karena kita percaya pada karakter Tuhan yang memimpin.
* **Penyangkalan Diri:** Lirik "Pikullah salibmu" adalah pengingat bahwa mengikuti Tuhan seringkali menuntut harga yang harus dibayar, namun janji penyertaan-Nya ("I'll go with Him... all the way") adalah kekuatan utamanya.

### Kesimpulan
Kisah "Ku Dengar Panggilan Tuhan" mengajarkan kita bahwa lagu rohani yang paling kuat sering kali bukan lahir dari teori teologi yang rumit, melainkan dari **lutut yang gemetar di depan altar Tuhan**. Lagu ini adalah sebuah janji pribadi Blandy yang kemudian menjadi lagu kebangsaan bagi setiap orang percaya yang sedang berani melangkah dalam ketaatan, meskipun tidak tahu apa yang menanti di depan jalan mereka.

Saat ini, lagu tersebut telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dan tetap menjadi lagu wajib dalam berbagai ibadah di seluruh dunia, termasuk di Indonesia (sering ditemukan di buku *Kidung Jemaat* atau *Nyanyikanlah Kidung Baru*).