KPJ
Apa Kowe Bisa Ngetung
Weisst Du, Wie Viel Sternlein Stehen
Informasi Lagu
373
Nomor
Do=F
Nada Dasar
Kode
KPJ 373
Buku
Kidung Pasamuwan Jawi
Nada Dasar
Do=F
Ketukan
3/4 ketuk
Metronom
96
Jumlah Bait
3 bait
Pencipta Lagu
Jerman
Pencipta Syair
Wilhelm Hey (1789)
Cross Ref.
KK 429, KC 7, KJ 68
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Apa kowe bisa ngetung lintang kang neng angkasa?
Mangkono uga mring mendhung dalah sakehing mega?
Kabeh iku nut pangrehe Pangeran kang nitahake,
ora ana siji bae kang uwal king astane.
Apa kowe wruh cacahe lemud - lemud ing njaba?
Apa kowe wruh wernane iwak jroning sagara?
Kabeh iku saben dina deningoni Hyang Makwasa;
ora ana siji bae kang kliwatan takere.
Apa kowe weruh bocah kang atresna mring Gusti?
Saben dina mesthi tansah tumenga saos bekti.
Marang bocah kang ngibadah saben dina muji Allah,
Gusti mesthi datan kendhat amaringi sih-rahmat!
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu **"Weißt du, wie viel Sternlein stehen"** (Tahukah kamu berapa jumlah bintang) adalah salah satu lagu pengantar tidur (*Lullaby*) paling terkenal dalam bahasa Jerman. Lagu ini memiliki sejarah yang menyentuh, yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan, pengamatan alam, dan kasih sayang orang tua terhadap anaknya.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Pencipta: Wilhelm Hey
Lirik lagu ini ditulis oleh **Wilhelm Hey** (1789–1854), seorang pendeta dan penyair asal Jerman. Hey dikenal sebagai penulis cerita anak-anak dan puisi yang kental dengan nilai-nilai kristiani.
Puisi ini pertama kali diterbitkan pada tahun **1837** dalam bukunya yang berjudul *"Fünfzig Fabeln für Kinder"* (Lima puluh fabel untuk anak-anak). Tujuannya sederhana: ia ingin mengajarkan anak-anak untuk mengagumi keajaiban alam semesta sebagai ciptaan Tuhan, sekaligus menanamkan rasa tenang sebelum tidur.
### 2. Makna di Balik Lirik
Lagu ini tidak hanya sekadar menghitung bintang, tetapi memiliki kedalaman filosofis:
* **Rasa Ingin Tahu Anak:** Bait pertama dimulai dengan pertanyaan naif seorang anak tentang berapa jumlah bintang di langit.
* **Kekuasaan Tuhan:** Liriknya kemudian menjawab bahwa Tuhanlah yang menciptakan dan mengetahui jumlah setiap bintang. Ini memberikan rasa aman bagi anak bahwa ada "penjaga" besar di alam semesta.
* **Kepedulian Tuhan pada Individu:** Inti dari lagu ini terletak pada pesan bahwa **Tuhan tidak hanya peduli pada hal-hal besar seperti bintang, tetapi juga sangat mengenal dan peduli pada diri sang anak.**
* **Perlindungan:** Lagu ini menutup dengan permohonan agar Tuhan menjaga sang anak saat tidur, sehingga menciptakan suasana hati yang damai dan terlindungi bagi anak yang akan tidur.
### 3. Asal Usul Melodi
Lirik asli Wilhelm Hey awalnya tidak langsung menjadi lagu yang kita kenal sekarang. Melodi yang paling populer saat ini (yang dikenal di seluruh dunia berbahasa Jerman) baru muncul sekitar tahun **1818-1820** oleh seorang komposer bernama **Johann Friedrich Reichardt** (meskipun ada beberapa versi melodi lain yang beredar di abad ke-19).
Perpaduan antara puisi Hey yang sederhana namun mendalam dengan melodi yang tenang dan menenangkan inilah yang membuatnya bertahan selama hampir dua abad sebagai lagu pengantar tidur standar di Jerman.
### 4. Relevansi dan Budaya
Mengapa lagu ini begitu abadi?
* **Ketidakterbatasan:** Pertanyaan *"Berapa jumlah bintang?"* adalah pertanyaan universal yang pernah terlintas di benak setiap anak. Lagu ini mengubah ketakutan akan luasnya alam semesta yang gelap menjadi perasaan berada di bawah pengawasan yang penuh kasih.
* **Edukasi Moral:** Pada masanya, lagu ini dianggap sebagai alat pendidikan yang sempurna: mengajarkan astronomi dasar, kerendahan hati, dan iman kepada Tuhan secara bersamaan dalam format yang mudah diingat.
* **Warisan:** Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia (termasuk bahasa Indonesia, meski seringkali dalam bentuk terjemahan bebas). Di Jerman, lagu ini sering diajarkan di taman kanak-kanak dan dianggap sebagai warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.
### Inti Pesan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **seorang ayah/pendeta yang ingin anak-anaknya merasa aman di dunia yang luas.** Dengan mengajak mereka memandang bintang sebagai karya Tuhan, ia ingin mereka memahami bahwa meski mereka kecil dan dunia ini besar, mereka tidak pernah sendirian.
Jika Anda menyanyikan lagu ini, Anda sedang membawakan tradisi Jerman abad ke-19 yang sangat menghargai kehangatan keluarga dan ketenangan jiwa di tengah malam yang sunyi.
Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik lagu tersebut:
### 1. Pencipta: Wilhelm Hey
Lirik lagu ini ditulis oleh **Wilhelm Hey** (1789–1854), seorang pendeta dan penyair asal Jerman. Hey dikenal sebagai penulis cerita anak-anak dan puisi yang kental dengan nilai-nilai kristiani.
Puisi ini pertama kali diterbitkan pada tahun **1837** dalam bukunya yang berjudul *"Fünfzig Fabeln für Kinder"* (Lima puluh fabel untuk anak-anak). Tujuannya sederhana: ia ingin mengajarkan anak-anak untuk mengagumi keajaiban alam semesta sebagai ciptaan Tuhan, sekaligus menanamkan rasa tenang sebelum tidur.
### 2. Makna di Balik Lirik
Lagu ini tidak hanya sekadar menghitung bintang, tetapi memiliki kedalaman filosofis:
* **Rasa Ingin Tahu Anak:** Bait pertama dimulai dengan pertanyaan naif seorang anak tentang berapa jumlah bintang di langit.
* **Kekuasaan Tuhan:** Liriknya kemudian menjawab bahwa Tuhanlah yang menciptakan dan mengetahui jumlah setiap bintang. Ini memberikan rasa aman bagi anak bahwa ada "penjaga" besar di alam semesta.
* **Kepedulian Tuhan pada Individu:** Inti dari lagu ini terletak pada pesan bahwa **Tuhan tidak hanya peduli pada hal-hal besar seperti bintang, tetapi juga sangat mengenal dan peduli pada diri sang anak.**
* **Perlindungan:** Lagu ini menutup dengan permohonan agar Tuhan menjaga sang anak saat tidur, sehingga menciptakan suasana hati yang damai dan terlindungi bagi anak yang akan tidur.
### 3. Asal Usul Melodi
Lirik asli Wilhelm Hey awalnya tidak langsung menjadi lagu yang kita kenal sekarang. Melodi yang paling populer saat ini (yang dikenal di seluruh dunia berbahasa Jerman) baru muncul sekitar tahun **1818-1820** oleh seorang komposer bernama **Johann Friedrich Reichardt** (meskipun ada beberapa versi melodi lain yang beredar di abad ke-19).
Perpaduan antara puisi Hey yang sederhana namun mendalam dengan melodi yang tenang dan menenangkan inilah yang membuatnya bertahan selama hampir dua abad sebagai lagu pengantar tidur standar di Jerman.
### 4. Relevansi dan Budaya
Mengapa lagu ini begitu abadi?
* **Ketidakterbatasan:** Pertanyaan *"Berapa jumlah bintang?"* adalah pertanyaan universal yang pernah terlintas di benak setiap anak. Lagu ini mengubah ketakutan akan luasnya alam semesta yang gelap menjadi perasaan berada di bawah pengawasan yang penuh kasih.
* **Edukasi Moral:** Pada masanya, lagu ini dianggap sebagai alat pendidikan yang sempurna: mengajarkan astronomi dasar, kerendahan hati, dan iman kepada Tuhan secara bersamaan dalam format yang mudah diingat.
* **Warisan:** Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia (termasuk bahasa Indonesia, meski seringkali dalam bentuk terjemahan bebas). Di Jerman, lagu ini sering diajarkan di taman kanak-kanak dan dianggap sebagai warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.
### Inti Pesan
Kisah di balik lagu ini adalah kisah tentang **seorang ayah/pendeta yang ingin anak-anaknya merasa aman di dunia yang luas.** Dengan mengajak mereka memandang bintang sebagai karya Tuhan, ia ingin mereka memahami bahwa meski mereka kecil dan dunia ini besar, mereka tidak pernah sendirian.
Jika Anda menyanyikan lagu ini, Anda sedang membawakan tradisi Jerman abad ke-19 yang sangat menghargai kehangatan keluarga dan ketenangan jiwa di tengah malam yang sunyi.
Cross Reference
Sama Tema
Kidung Kategorial
Aja Duwe Panduga-Panyakrabawa!
KPJ
Aku Sasedulur
KPJ
Den Ulukna Klwawan Girang
KPJ
Dhuh Gusti, Pangayoman Kawula
KPJ
Kacang Mangsa Ninggala Lanjaran
KPJ
Kaleganing Atine Wong Tuwa
KPJ
Kawula Para Abdi Kasepuhan
KPJ
Lah Aku Bocah Rahayu
KPJ
Mara Kanca - Mudha Kristen
KPJ
Nalikane Cilikanku
KPJ
Payo Kanca Padha Budhal
KPJ
Pepacangan Kang Prayogi
KPJ
Rahayu Kang Mlarat Ing Budi
KPJ
Srengenge Nyunar
KPJ
Welingku Mring Anak-Putu
KPJ
Sampun Dugi Wancinipun
KPJ
Timbalan Pandhita
KPJ