Informasi Lagu
635
Nomor
Es
Nada Dasar
Kode
KK 635
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
Es
Ketukan
2 ketuk
Metronom
100
Jumlah Bait
1 bait
Style
16LasamDjayaD, Gondang
Pencipta Lagu
Bonar Gultom (Gorga)
Pencipta Syair
Bonar Gultom (Gorga)
Penerjemah
Bonar Gultom (Gorga)
Cross Ref.
PKJ 285, KPJ 145
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 1 bait
Bila badai hidup menerpamu dan cobaan pun datang mengganggu, hanya satu janji harapanmu; ya, janji Tuhanmu, pegang teguh. Biar gunung-gunung pun beranjak, serta bukit-bukit pun bergoncang, kasih dan setia dari Tuhan ‘kan melindungimu, tetap teguh. Pegang selalu janji Tuhan, jangan lepaskan, walau siang atau malam; enyahlah takut atau bimbang: Tuhanlah pemilik hidupmu, hidupmu. Biar gunung-gunung pun beranjak, serta bukit-bukit pun bergoncang, kasih dan setia dari Tuhan ‘kan melindungimu, tetap teduh. ‘kan melindungimu, tetap teduh.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KK 635 1
Slide 2 — KK 635 2
Slide 3 — KK 635 3
Slide 4 — KK 635 4
Partitur / Not
Partitur Chord KK 635
Sejarah Lagu
Lagu **"Bila Badai Hidup Menerpamu"** (dalam bahasa Batak berjudul **"Nang Humuntal Pe Angka Robean"**) adalah salah satu lagu rohani yang paling ikonik dan mendalam maknanya bagi masyarakat Kristen di Indonesia, khususnya masyarakat Batak.

Berikut adalah detail kisah dan latar belakang di balik terciptanya lagu yang fenomenal ini:

### 1. Sosok Sang Pencipta: Bonar Gultom (Gorga)
Bonar Gultom, atau yang lebih dikenal dengan nama pena **Gorga**, adalah seorang komponis besar asal Batak. Ia bukan sekadar pembuat lagu, tetapi seorang yang memiliki kedalaman spiritual dan kecintaan yang luar biasa pada musik gerejawi. Bonar Gultom dikenal sebagai sosok yang sangat menghayati iman Kristennya melalui nada dan syair.

### 2. Inspirasi: "It Is Well With My Soul"
Banyak yang menyebut bahwa lagu ini memiliki semangat yang senada dengan lagu klasik dunia *"It Is Well With My Soul"* (Tenanglah Jiwaku) karya Horatio Spafford.

Kisah di balik lagu "Bila Badai Hidup Menerpamu" lahir dari **pengalaman pergumulan hidup Bonar Gultom sendiri.** Sebagai manusia, ia tidak luput dari masa-masa sulit, duka cita, dan tantangan hidup yang berat. Lagu ini ditulis bukan sebagai sekadar lirik puitis, melainkan sebagai sebuah **"doa yang dinyanyikan"** di tengah badai kehidupan yang nyata.

### 3. Makna Filosofis (Bahasa Batak: *Nang Humuntal Pe Angka Robean*)
Judul bahasa Batak lagu ini, *Nang Humuntal Pe Angka Robean*, memiliki makna yang sangat dalam:
* *Nang Humuntal*: Walaupun berguncang/bergelombang.
* *Angka Robean*: Bukit-bukit atau gunung-gunung.

Secara puitis, kalimat ini menggambarkan situasi di mana gunung-gunung yang seharusnya kokoh pun seakan berguncang dan longsor. Ini adalah metafora untuk masalah hidup yang sangat berat—seberat apa pun masalahnya, setinggi apa pun ancamannya, iman tidak boleh goyah.

### 4. Pesan Utama Lagu
Lagu ini memberikan pesan penenang bagi siapa pun yang sedang mengalami depresi, kekecewaan, atau kehilangan. Poin-poin penting dalam liriknya:
* **Penyertaan Tuhan:** Bahwa manusia tidak berjalan sendirian.
* **Harapan:** Di balik badai, pasti ada kasih setia Tuhan yang menopang.
* **Keteguhan Hati:** Mengajak pendengarnya untuk tetap menatap ke depan dengan iman, karena "badai" hanyalah sementara, sedangkan kasih Tuhan itu kekal.

### 5. Mengapa Lagu Ini Begitu Melegenda?
Ada beberapa alasan mengapa lagu karya Bonar Gultom ini tetap relevan hingga hari ini:

1. **Kedekatan Emosional:** Banyak orang merasa bahwa liriknya "berbicara" langsung kepada situasi pribadi mereka.
2. **Harmoni Musik:** Bonar Gultom dikenal ahli dalam menyusun harmoni yang megah namun menyentuh hati (khas gaya kor/paduan suara gerejawi).
3. **Penggunaan dalam Ibadah:** Lagu ini menjadi lagu "wajib" dalam berbagai kebaktian penghiburan (duka cita) di gereja-gereja, terutama di tanah Batak dan perantauan, karena mampu memberikan kekuatan bagi keluarga yang berduka.

### Kesimpulan
Lagu "Bila Badai Hidup Menerpamu" adalah kesaksian iman Bonar Gultom bahwa **kualitas hidup seseorang tidak ditentukan oleh ketiadaan badai, melainkan oleh kekuatan imannya saat badai itu datang.**

Hingga kini, warisan lagu dari Bonar Gultom ini terus dinyanyikan sebagai pengingat bahwa saat "bukit-bukit berguncang" dan hidup terasa tidak adil, Tuhan tetap menjadi jangkar yang kokoh bagi jiwa manusia.