Informasi Lagu
394
Nomor
Kode
KK 394
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Style
FinalWaltz, 9-8Waltz
Pencipta Lagu
Georg Neumark
Pencipta Syair
Jan Jacob Lodewijk Ten Kate
Penerjemah
Hermanus Arie Pandopo (H.A. Van Dop)
Cross Ref.
KJ 309
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Biar ku tumbuh di batangMu, ya Pokok Anggur yang benar, supaya Kau hidupkan daku menjadi ranting yang segar. Jika Engkau beri berkat, aku berbuah yang lebat.
Tak mungkin aku kan mandiri, aku lemah di luarMu. Hanya di dalamMu sendiri limpahlah hidup bagiku. OlehMu buahku lebat; yang tak berbuah dikerat.
DenganMu saja ku bersatu, tak tercerai sesaat pun. KasihMu pandu di jalanku; ku hidup oleh hidupMu. Dengan salibMu ku menang, jikalau Kauberi terang.
Diriku milikMu abadi, Engkau tumbuhkan imanku. Yang dalam aku Kaumulai Kausempurnakan bagiMu. OlehMu kuncup merekah, hingga berbuah mulia.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — KK 394 1
Slide 2 — KK 394 2
Slide 3 — KK 394 3
Slide 4 — KK 394 4
Partitur / Not
Partitur Chord KK 394
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu **"Biar 'Ku Tumbuh Di Batangmu"** (atau dalam bahasa Belanda berjudul **"Laat m'in U blijven, groeien, bloeien"**) adalah sebuah perjalanan spiritual yang melintasi abad, melibatkan ketegangan sejarah, pengungsian, dan penemuan harapan di tengah keputusasaan.

Lagu ini merupakan hasil dari dua tokoh yang hidup di era yang sangat berbeda: **Georg Neumark** (pencipta melodi dan lirik asli Jerman) dan **J.J.L. Ten Kate** (penerjemah/penyair Belanda yang membawa lagu ini ke dunia berbahasa Belanda).

Berikut adalah detail kisah di baliknya:

### 1. Latar Belakang Georg Neumark (Abad ke-17)
Georg Neumark (1621–1681) adalah seorang penyair dan komposer Jerman. Kisah lagu ini berakar pada pengalaman pribadinya yang sangat traumatis selama **Perang Tiga Puluh Tahun** di Eropa.

Pada tahun 1640, Neumark sedang dalam perjalanan menuju Königsberg untuk melanjutkan studinya. Di tengah jalan, ia dirampok habis-habisan oleh para penjahat. Ia kehilangan semua uang, dokumen, dan harta bendanya. Selama beberapa bulan, ia hidup dalam kemiskinan ekstrem, menjadi pengungsi yang tidak memiliki masa depan jelas.

Dalam kondisi terpuruk itulah, ia menulis lagu aslinya dalam bahasa Jerman yang berjudul ***"Wer nur den lieben Gott lässt walten"*** (*Siapa yang membiarkan Tuhan yang mengasihi memimpin*). Lagu ini adalah ungkapan iman seorang pengungsi yang tidak punya apa-apa lagi selain kepercayaan kepada Tuhan. Ia percaya bahwa meski dunia tampak hancur, Tuhan akan memberikan jalan bagi mereka yang berserah.

### 2. Transformasi ke Bahasa Belanda: Peran J.J.L. Ten Kate
Berabad-abad kemudian, penyair Belanda **Jan Jacob Lodewijk Ten Kate** (1819–1889) mengadaptasi semangat lagu tersebut ke dalam bahasa Belanda. Ten Kate adalah seorang pendeta dan penyair produktif di Belanda yang dikenal karena kemampuan bahasanya yang sangat puitis.

Ia mengubah fokus lagu tersebut menjadi sebuah metafora tentang hubungan antara manusia dan Tuhan (seperti ranting dan batang pohon). Judul *"Laat m'in U blijven, groeien, bloeien"* (Biarkan aku tetap di dalam-Mu, bertumbuh, dan berbunga) mengambil inspirasi dari ajaran Alkitab dalam **Yohanes 15**, di mana Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai "Pokok Anggur" dan para pengikut-Nya sebagai "Ranting".

### 3. Makna Metaforis Lagu
Lagu ini bukan sekadar nyanyian religius biasa, melainkan sebuah pernyataan komitmen:

* **"Biar 'Ku Tumbuh Di Batangmu":** Ini adalah metafora tentang ketergantungan. Sebagaimana ranting tidak bisa hidup jika dipotong dari batang pohonnya (karena tidak akan mendapatkan nutrisi), manusia pun dianggap akan "mati" secara rohani jika memisahkan diri dari sumber kehidupan atau nilai-nilai kebaikan yang diyakininya.
* **"Bertumbuh dan Berbunga":** Kata-kata ini melambangkan proses kehidupan. Menjadi pengikut Tuhan atau memegang teguh iman bukan berarti pasif, melainkan harus menunjukkan tanda-tanda kehidupan, yaitu pertumbuhan karakter dan perbuatan baik ("buah").

### 4. Relevansi Lagu di Indonesia
Lagu ini masuk ke dalam daftar lagu rohani yang sangat populer di gereja-gereja di Indonesia (khususnya di kalangan gereja-gereja yang memiliki akar sejarah dari misi Belanda, seperti GKI, GPIB, dll). Dalam buku nyanyian gereja (seperti *Kidung Jemaat* atau *Pelengkap Kidung Jemaat*), lagu ini sering dinyanyikan sebagai doa penyerahan diri.

Bagi banyak orang, lagu ini memberikan rasa tenang karena ceritanya yang berawal dari **penderitaan Georg Neumark**. Ketika orang menyanyikan lagu ini, mereka sebenarnya sedang menyanyikan kesaksian seseorang yang telah kehilangan segalanya di tengah perang, namun menemukan bahwa "berpegang pada Tuhan" adalah satu-satunya hal yang membuat seseorang tetap bisa bertumbuh dan berbunga meski di masa tersulit sekalipun.

### Kesimpulan
Kisah lagu ini adalah kisah tentang **resiliensi (ketangguhan)**. Dari seorang pengungsi Jerman abad ke-17 yang dirampok dan putus asa, hingga menjadi bait puitis yang diterjemahkan oleh J.J.L. Ten Kate, lagu ini tetap relevan karena pesannya yang universal: bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh yang membutuhkan "batang" atau sumber kekuatan untuk tetap bisa tumbuh dan berbuah di tengah badai kehidupan.