Informasi Lagu
242
Nomor
Kode
GB 242
Buku
Gita Bakti
Metronom
0
Jumlah Bait
3 bait
Cross Ref.
NKB 17, KPPK 27, NKI 265, BLP 19
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Oh, kasih Allah yang besar, jauh melebihi apapun. Menjangkau bintang manapun, bahkan neraka terendah. Karna besarlah kasih-Nya dibrikan Putra-Nya. Oleh darah-Nya damailah, Allah dan manusia. Reff Oh, kasih Allah mulia, tiada bandingannya. Oh, kasih Allah slamanya di sorga terdengar.
Bumi dan juga isinya akan berlalu masanya. Tetapi kasih mulia, takkan berakhir slamanya Lagu malaikat terdengar agungkan kasih-Nya; kasih-Nya pasti dan tetap, menebus manusia. Reff
Walau samudra tintanya dan langit biru kanfasnya; tak cukup panjang lebarnya menulis kasih mulia. Samudra luas kan kering melukis kasih-Nya, bentangan langit pun kecil menjadi kanfasnya. Reff
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — GB 242 1
Slide 2 — GB 242 2
Slide 3 — GB 242 3
Slide 4 — GB 242 4
Partitur / Not
Partitur Chord GB 242
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu pujian **"Agunglah Kasih Allahku" (The Love of God)** adalah salah satu cerita yang paling mengharukan dalam sejarah musik rohani. Lagu ini tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari keterbatasan dan sebuah penemuan yang luar biasa.

Berikut adalah detail kisah di baliknya:

### 1. Penulis: Frederick Martin Lehman
Frederick M. Lehman adalah seorang pria yang hidup dalam kesederhanaan. Ia bekerja sebagai buruh di pabrik keju di California pada awal abad ke-20. Meski hidupnya sulit dan tidak memiliki latar belakang pendidikan teologi formal, ia memiliki pengabdian yang mendalam kepada Tuhan.

### 2. Situasi Penulisan (Tahun 1917)
Pada tahun 1917, Lehman sedang mengalami masa-masa sulit secara finansial. Ia merasa sangat tertekan oleh beban hidup. Di tengah kegelisahannya, ia merasa sangat perlu untuk menuliskan sesuatu yang membesarkan hatinya tentang kasih Tuhan yang tidak berkesudahan.

Ia mulai menulis bait pertama dan bagian *chorus* (refrain) lagu tersebut di secarik kertas yang ia temukan, bahkan terkadang di balik nota pengiriman barang di pabrik keju tempatnya bekerja.

### 3. Penemuan Bait Ketiga: "Permata yang Hilang"
Ini adalah bagian yang paling melegenda. Setelah menulis dua bait pertama, Lehman merasa perlu menambahkan satu bait lagi tentang betapa luas dan dalamnya kasih Tuhan yang tidak mungkin bisa diukur oleh manusia. Namun, ia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

Beberapa waktu kemudian, saat Lehman sedang mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa (asylum), ia melihat sebuah tulisan di dinding salah satu ruangan. Tulisan itu ternyata adalah sebuah puisi kuno dari bahasa Yahudi (Aramaic) yang berjudul *"Hymn of Glory"* (Pujian Kemuliaan), yang ditulis oleh seorang rabi Yahudi bernama Meir ben Isaac Nehorai pada abad ke-11.

Tulisan di dinding itu berbunyi:
> *"Jika langit menjadi kertas, dan seluruh samudra menjadi tinta; jika setiap tangkai menjadi pena, dan setiap orang di bumi menjadi penulis; maka tidak akan cukup untuk menuliskan tentang kasih Tuhan, karena kasih-Nya lebih tinggi dari langit dan lebih dalam dari samudra."*

Lehman sangat terpesona. Ia menyalin kata-kata tersebut dan menjadikannya **bait ketiga** dari lagunya. Gabungan dari pemikiran Lehman sendiri dan puisi kuno tersebut menciptakan lirik yang begitu kuat dan mendalam.

### 4. Makna Lagu
Lagu ini merefleksikan iman bahwa kasih Allah adalah sesuatu yang melampaui logika manusia.
* **Bait 1 & 2:** Menggambarkan kebesaran Allah dalam ciptaan dan bagaimana kasih itu tetap bertahan meski manusia berdosa.
* **Bait 3:** Menggunakan metafora "langit menjadi kertas" untuk menegaskan bahwa bahasa manusia dan seluruh sumber daya di dunia tidak akan pernah cukup untuk mendeskripsikan betapa besarnya kasih Allah yang rela mengorbankan Anak-Nya bagi umat manusia.

### 5. Warisan
Lagu ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1917. Sejak saat itu, "Agunglah Kasih Allahku" menjadi salah satu himne yang paling dicintai di seluruh dunia. Lagu ini telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa dan dinyanyikan oleh jutaan orang.

**Pesan Moral:**
Kisah lagu ini mengajarkan kita bahwa sebuah karya besar bisa lahir dari seseorang yang sederhana, dalam kondisi sulit, dan melalui perenungan yang mendalam. Kata-kata yang ditulis Lehman di pabrik keju itu kini menjadi pengingat abadi bagi umat Kristen di seluruh dunia bahwa kasih Allah memang "tiada bandingnya" dan "tetap teguh selamanya."