Informasi Lagu
160
Nomor
Kode
PPK 160
Buku
Puji Pujian Kristen
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 453, KK 685, NKI 107, KPPK 150
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Yesus sahabat sejati yang membrikan sentosa Tiap hal boleh kubawa dalam doa padaNya Bila hatiku gelisah aku salah dan lemah karna lalai serahkan hidup dalam doa padaNya
Jika oleh pencobaan kacau balau hidupmu Jangan lagi putus asa pada Tuhan berseru Yesus kawan yang setia tidak ada taranya Ia tahu kelemahanmu naikkan doa padaNya
Adakah hatimu susah berbeban serta lelah Yesuslah pelindung kita naikkan doa padaNya Walau handai ta setia Yesus kawan yang baka Ia mau menghibur kita naikkan doa pada-Nya
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — PPK 160 1
Slide 2 — PPK 160 2
Slide 3 — PPK 160 3
Partitur / Not
Partitur Chord PPK 160
Sejarah Lagu
Kisah yang menyentuh hati di balik lagu himne klasik yang penuh penghiburan, "Yesus Kawan Yang Sejati" atau "What a Friend We Have in Jesus". Lagu ini adalah bukti nyata bagaimana penderitaan pribadi dapat diubah menjadi sumber kekuatan dan pengharapan bagi jutaan orang.

**Latar Belakang Para Pencipta:**

Ada dua nama besar di balik lagu ini:
1. **Joseph Medlicott Scriven (1819-1886): Penulis Lirik**
* Seorang imigran Irlandia-Kanada yang hidupnya dipenuhi tragedi pribadi.
2. **Charles Crozat Converse (1832-1918): Komposer Melodi**
* Seorang pengacara Amerika yang juga seorang komposer musik rohani amatir berbakat.

**Kisah Joseph Medlicott Scriven: Lirik yang Lahir dari Kesedihan**

Kisah utama dan yang paling mengharukan di balik lagu ini berasal dari penulis liriknya, Joseph Medlicott Scriven.

* **Awal Kehidupan Penuh Harapan di Irlandia:**
Scriven lahir pada tahun 1819 di Banbridge, County Down, Irlandia, dari keluarga yang berada dan berpendidikan. Ia mengenyam pendidikan di Trinity College Dublin, dan masa mudanya tampak menjanjikan. Ia adalah seorang pemuda yang saleh dan berintegasi tinggi.

* **Tragedi Pertama: Tunangan yang Hilang:**
Pada usia 25 tahun, Scriven bertunangan dengan seorang wanita yang sangat ia cintai. Mereka berencana menikah, dan kebahagiaan tampaknya sudah di depan mata. Namun, beberapa saat sebelum hari pernikahan mereka, tunangannya secara tragis tenggelam di Sungai Bann. Kehilangan yang tak terduga ini menghancurkan hati Scriven. Duka yang mendalam ini membuatnya mencari penghiburan dan kekuatan yang lebih dalam dalam imannya kepada Tuhan. Ia merasa terpanggil untuk menjalani hidup yang lebih sederhana dan melayani.

* **Pindah ke Kanada dan Kehidupan Pelayanan:**
Untuk mencoba melepaskan diri dari kenangan pahit di Irlandia, Scriven berimigrasi ke Kanada pada tahun 1845. Ia menetap di Port Hope, Ontario. Di sana, ia memulai hidup baru sebagai seorang guru dan tutor privat. Scriven dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, berbelas kasih, dan tak kenal lelah dalam melayani masyarakat. Ia mendedikasikan dirinya untuk membantu orang miskin, orang sakit, para janda, dan mereka yang membutuhkan. Ia seringkali memberikan semua yang ia miliki kepada orang lain, bahkan sampai-sampai ia sendiri hidup dalam kemiskinan. Ia adalah gambaran nyata dari kasih Kristus yang hidup.

* **Tragedi Kedua dan Penulisan Puisi "What a Friend We Have in Jesus":**
Bertahun-tahun kemudian, sekitar tahun 1855, Scriven menerima kabar yang menyedihkan dari Irlandia: ibunya yang tercinta jatuh sakit parah. Karena tidak bisa berada di samping ibunya, Scriven merasa sangat rindu dan sedih. Dalam kesendiriannya dan kerinduannya untuk menghibur ibunya dari kejauhan, ia menulis sebuah puisi. Puisi ini bukanlah untuk dipublikasikan atau dikenal dunia, melainkan sebagai surat pribadi yang penuh penghiburan dan keyakinan iman kepada ibunya. Ia ingin meyakinkan ibunya bahwa meskipun ia tidak bisa menemaninya, Tuhan Yesus adalah Sahabat sejati yang selalu ada, siap mendengarkan setiap doa dan menanggung setiap beban.

Dalam untaian kata-kata tersebut, Scriven mengungkapkan keyakinannya yang mendalam bahwa kita tidak perlu menanggung beban kesedihan dan dosa sendirian, karena ada seorang Sahabat yang setia, Yesus, yang siap mendengarkan dan menghibur kita.

Beberapa bait puisi itu berbunyi (terjemahan bebas):
*What a friend we have in Jesus,*
*All our sins and griefs to bear!*
*What a privilege to carry*
*Everything to God in prayer!*
*O what peace we often forfeit,*
*O what needless pain we bear,*
*All because we do not carry*
*Everything to God in prayer.*

(Sahabat kita Yesus,
Semua dosa dan dukacita kita Dia tanggung!
Betapa suatu kehormatan untuk membawa
Segala sesuatu kepada Tuhan dalam doa!
Oh, betapa seringnya kita kehilangan kedamaian,
Oh, betapa banyak rasa sakit yang tidak perlu kita tanggung,
Semua itu karena kita tidak membawa
Segala sesuatu kepada Tuhan dalam doa.)

* **Ditemukannya dan Dipublikasikannya Puisi:**
Bertahun-tahun kemudian, sekitar tahun 1868, Scriven sendiri jatuh sakit. Seorang teman yang menjenguknya menemukan manuskrip puisi tersebut tergeletak di meja Scriven. Teman itu bertanya tentang puisi tersebut, dan Scriven menjelaskan bahwa ia menuliskannya untuk menghibur ibunya dalam kesedihan. Terkesan oleh kedalaman dan keindahan puisi itu, sang teman (atau mungkin orang lain yang ia tunjukkan) merasa bahwa puisi ini harus dibagikan kepada dunia. Tanpa sepengetahuan dan persetujuan Scriven (yang terlalu rendah hati untuk mencari ketenaran), puisi itu akhirnya diterbitkan dalam kumpulan himne berjudul "Hymns of the Heart" pada tahun 1868.

* **Akhir Hidup Scriven:**
Scriven meninggal pada tahun 1886. Meskipun hidupnya dipenuhi penderitaan, ia tetap setia pada panggilannya untuk melayani dan menjadi teladan kasih Kristus. Ironisnya, namanya sebagai penulis lirik lagu ini baru dikenal secara luas setelah kematiannya.

**Kisah Charles Crozat Converse: Melodi yang Abadi**

Pada tahun yang sama ketika puisi Scriven diterbitkan (1868), seorang pengacara dan komposer amatir Amerika bernama Charles Crozat Converse menciptakan melodi untuk puisi tersebut.

* **Latar Belakang Converse:**
Charles Converse adalah seorang lulusan hukum dari Universitas Albany dan seorang pengusaha yang sukses. Namun, ia juga memiliki bakat musik yang luar biasa dan menyukai komposisi. Ia sering menulis musik untuk berbagai himne dan lagu rohani.

* **Penciptaan Melodi "CONVERSE":**
Ketika puisi Scriven mulai menyebar, Converse terinspirasi oleh liriknya yang mengharukan. Ia kemudian menciptakan melodi yang sederhana namun sangat indah, mudah diingat, dan penuh perasaan. Melodi ini, yang diberi nama "CONVERSE" (sesuai nama penciptanya), dengan sempurna menangkap esensi dan emosi dari lirik Scriven. Harmoni yang lembut dan ritme yang tenang sangat cocok dengan pesan penghiburan dan kedamaian yang disampaikan oleh lirik tersebut.

**Warisan Abadi Lagu Ini:**

Perpaduan antara lirik yang lahir dari penderitaan dan iman Joseph Scriven dengan melodi yang indah dari Charles Converse menghasilkan sebuah himne yang segera meresap ke dalam hati jutaan orang di seluruh dunia.

* **Penyebar Luasan:**
Lagu ini dengan cepat menyebar ke gereja-gereja di Amerika Utara dan kemudian ke seluruh dunia. Liriknya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia sebagai "Yesus Kawan Yang Sejati".

* **Pesan yang Abadi:**
"What a Friend We Have in Jesus" telah menjadi sumber penghiburan yang tak terhingga bagi orang-orang yang menghadapi kesedihan, kesulitan, penyakit, dan kehilangan. Pesan intinya adalah tentang pentingnya membawa setiap beban dan kekhawatiran kita kepada Tuhan dalam doa, karena Dia adalah Sahabat yang sejati, yang selalu mendengarkan, peduli, dan siap menanggung beban kita.

* **Simbol Iman yang Teguh:**
Kisah di balik lagu ini juga menjadi inspirasi, menunjukkan bagaimana dari kedalaman penderitaan pribadi dapat muncul karya yang memberikan harapan dan kekuatan bagi banyak orang. Joseph Scriven, melalui hidupnya yang sederhana dan penuh tragedi, menjadi saluran bagi pesan iman yang abadi ini.

Lagu "Yesus Kawan Yang Sejati" bukan hanya sekadar lagu; ini adalah kesaksian hidup tentang kekuatan doa, kehadiran Tuhan yang setia, dan kemampuan iman untuk mengubah kesedihan menjadi sumber penghiburan bagi dunia.
Kembali ke PPK