Informasi Lagu
83
Nomor
Kode
BE 83
Buku
Buku Ende
Metronom
0
Cross Ref.
KJ 160, BN 83, KK 238
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Na lao do birubiru i mamorsan angka dosa Ni nasa hajolmaon i di benget ni rohana Diporsan do sahitta i dilehon do diriNa i Tu tangan ni pamunu, ditaoni do na bernit i Ro di na tos hosaNa i Didok: Naeng porsanonku.
Ianggo birubiru i, ima alealengku Na paluahon tondingki disuru Debatangku Didok mandok AnakNa i sai topot ma pardosa i Naung sun tinoruanku balga tutu do rimashi Alai tarbaen do mombun i horhonon ni mudarMu
“Na olo au, ale Amang. Sian sandok rohangku Pasauthon lomo ni rohaM, rohaM sambing do guru” O holong ni rohaNa i tung aha do tudosanmi Na songon ho margogo? Dilehon Debata hape AnakNa lao manaon sude sitaonon ni na mago
Saleleng na mangolu au, naeng ingotonku Jesus. Sude na binaenMi di au, hataM naeng hupatulus. Ho naeng haholonganku do, huhut ihuthononku Ho Di dalan hangoluan tung ingkon Ho, nampuna ahu, Mangolu manang mate au sai Ho do tioponku
O Tuhan hinauliMi sai naeng endehononku Diringku ma peleanMi na naeng seahononku O Jesus jalo ma au on pasiat ma pamujingkon Baen sangap di goarMu pasahat au tu surgo i Marhitehite mudarMi baen intan di tumpalMu. .
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — BE 83 1
Slide 2 — BE 83 2
Slide 3 — BE 83 3
Slide 4 — BE 83 4
Slide 5 — BE 83 5
Partitur / Not
Partitur Chord BE 83
Sejarah Lagu
Kisah mendalam di balik salah satu himne Prapaskah (Lent) yang paling menyentuh dan teologis, "Ein Lämmlein geht und trägt die Schuld" (Sang Anak Domba yang Kudus Berjalan dan Memikul Dosa).

Himne ini adalah perpaduan indah antara lirik yang mendalam dan melodi yang khidmat, yang secara efektif mengkomunikasikan inti dari pengorbanan Yesus Kristus. Kisah di baliknya melibatkan dua tokoh penting dari era yang berbeda dalam sejarah Kekristenan Jerman.

---

### I. Sang Penulis Lirik: Paul Gerhardt (1607-1676)

Paul Gerhardt adalah salah satu penulis himne Lutheran Jerman terpenting dari abad ke-17. Ia hidup di masa yang penuh gejolak dan penderitaan, yaitu selama dan setelah Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648), salah satu konflik paling brutal dan merusak dalam sejarah Eropa. Perang ini tidak hanya menyebabkan kehancuran fisik yang luas, tetapi juga membawa penderitaan pribadi yang mendalam bagi Gerhardt. Ia kehilangan empat dari lima anaknya, dan tak lama kemudian, istrinya juga meninggal dunia.

Meskipun menghadapi tragedi bertubi-tubi, Gerhardt dikenal karena imannya yang teguh dan kemampuannya untuk menemukan penghiburan dan harapan di tengah keputusasaan. Himne-himnenya bukan untuk meratapi penderitaan, melainkan untuk menegaskan iman yang tak tergoyahkan pada kasih karunia dan kedaulatan Allah. Ia menulis sekitar 139 himne, banyak di antaranya masih dinyanyikan hingga hari ini.

**Kisah di Balik Lirik "Ein Lämmlein geht und trägt die Schuld":**

Lirik "Ein Lämmlein geht und trägt die Schuld" ditulis oleh Paul Gerhardt kemungkinan besar pada pertengahan abad ke-17 (sekitar tahun 1647-1667). Himne ini adalah ekspresi mendalam tentang makna Jumat Agung dan Paskah, memusatkan perhatian pada Yesus sebagai "Anak Domba Allah" yang mengurbankan diri.

Gerhardt menggunakan citra "anak domba" yang diambil langsung dari Alkitab (misalnya, Yohanes 1:29, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!"). Ia dengan cermat menggambarkan penderitaan Yesus Kristus di kayu salib, bukan hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi sebagai tindakan penebusan yang pribadi dan universal.

Dalam liriknya, Gerhardt menekankan kontras yang tajam:
* **Anak Domba yang Tak Bersalah:** Yesus digambarkan sebagai anak domba yang murni dan tak bercela, yang sama sekali tidak memiliki dosa atau kesalahan.
* **Memikul Beban Dosa:** Anak domba yang tak bersalah ini secara sukarela memikul beban dosa seluruh umat manusia. Ini adalah konsep teologis **penebusan pengganti** (substitutionary atonement), di mana yang tidak bersalah mati sebagai ganti yang bersalah.
* **Penderitaan:** Liriknya tidak menghindar dari gambaran penderitaan fisik Yesus – mahkota duri, penyaliban, dan kematian yang menyakitkan. Namun, semua itu dilihat melalui lensa kasih karunia dan tujuan ilahi.
* **Tujuan:** Semua penderitaan ini memiliki tujuan: untuk membebaskan umat manusia dari belenggu dosa dan kematian, serta untuk memberikan pengampunan dan kedamaian.

Gerhardt menulis himne ini sebagai bentuk meditasi yang kuat tentang Prapaskah dan kematian Kristus, mendorong jemaat untuk merenungkan dalamnya kasih Allah dan pengorbanan yang dilakukan demi keselamatan mereka. Bahasa puitisnya yang lugas dan jujur membuatnya sangat menyentuh hati.

---

### II. Sang Komponis / Asal Melodi: Wolfgang Dachstein (sekitar 1487-1551) dan Melodi Pra-Gerhardt

Melodi yang umumnya digunakan untuk "Ein Lämmlein geht und trägt die Schuld" jauh lebih tua dari lirik Paul Gerhardt. Melodi ini sering dikaitkan dengan **Wolfgang Dachstein**, seorang komponis, organis, dan penyanyi Jerman dari era Reformasi Protestan (abad ke-16).

Dachstein dikenal karena karyanya dalam himne-himne Reformasi. Ia adalah seorang biarawan Dominikan yang kemudian menjadi Protestan dan melayani sebagai organis katedral di Strassburg (Strasbourg). Ia menggubah atau mengatur melodi untuk banyak teks himne yang digunakan dalam gereja-gereja Protestan awal.

**Kisah di Balik Melodi:**

Melodi yang kita kenal untuk himne ini awalnya tidak ditulis untuk teks Gerhardt. Melodi ini sebenarnya dikaitkan dengan himne "O Lamm Gottes, unschuldig" (Ya Anak Domba Allah, yang tak bersalah), yang merupakan terjemahan Jerman dari "Agnus Dei" (Anak Domba Allah) Latin. Himne "O Lamm Gottes, unschuldig" ini ditulis oleh Nikolaus Decius pada tahun 1523, dan melodinya sering dikaitkan dengan Dachstein atau Decius sendiri. Melodi ini juga digunakan oleh Johann Sebastian Bach dalam karyanya "St. Matthew Passion."

**Bagaimana Melodi ini Bersatu dengan Lirik Gerhardt?**

Praktik umum dalam himnologi (studi dan praktik himne) adalah untuk menyandingkan teks baru dengan melodi yang sudah dikenal dan dicintai oleh jemaat. Melodi yang sudah ada untuk "O Lamm Gottes, unschuldig" memiliki karakter yang sangat cocok dengan lirik Gerhardt:
* **Kesesuaian Emosional:** Melodinya khidmat, mengalir, dan mudah dihafal, mencerminkan keseriusan dan kesedihan yang sesuai dengan tema penderitaan Anak Domba Allah.
* **Kesesuaian Teologis:** Baik teks Decius maupun Gerhardt berbicara tentang Yesus sebagai Anak Domba yang mengurbankan diri untuk dosa dunia, sehingga melodi yang sama dapat dengan mudah melayani kedua teks tersebut.

Para editor himne kemudian secara resmi menyandingkan lirik Gerhardt dengan melodi Dachstein/Decius yang sudah ada. Pasangan ini terbukti sangat kuat dan bertahan lama, menjadikannya salah satu himne Prapaskah yang paling dicintai dan sering dinyanyikan.

---

### Kesimpulan

"Ein Lämmlein geht und trägt die Schuld" adalah bukti keindahan dan kekuatan himnologi. Ini adalah sebuah mahakarya yang lahir dari penderitaan pribadi Paul Gerhardt di tengah kekacauan sejarah, di mana ia menemukan penghiburan dan makna dalam pengorbanan Kristus. Dikombinasikan dengan melodi abadi dari era Reformasi, himne ini terus menjadi sumber meditasi, penghiburan, dan penyembahan, terutama selama musim Prapaskah dan Jumat Agung, mengingatkan umat percaya akan kedalaman kasih karunia ilahi yang tak terbatas melalui Anak Domba Allah yang tak bersalah.
Kembali ke BE