KPPK
Nobatkanlah Raja!
Crown Him with Many Crowns
Informasi Lagu
10
Nomor
Kode
KPPK 10
Buku
Kidung Puji-Pujian Kristen
Metronom
0
Cross Ref.
KK 274, KJ 226, NP 78, KPPK 10
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
5 bait
Nobatkanlah Raja! Domba di takhta-Nya,
dengarlah suara pujian, berkumandang lebar!
Bangunlah jiwaku, bersorak dan puji,
Kristus yang mati gantiku, selama-lamanya.
Nobatkanlah Raja! Tuhan Sang Pengasih,
tanda luka paku, tombak, nyatakan kasih-Nya,
malaikat di sorga, tak dapat lukiskan,
kejadian ajaib ini, serta rahasianya.
Nobatkanlah Raja! Tuhan kehidupan,
yang mengalahkan kuasa maut, dan menylamatkanku,
pujilah pada-Nya, kan sgala rahmat-Nya,
dan mati tuk menebusku, bri hidup kekal-Nya.
Nobatkanlah Raja! Tuhan alam smesta,
Nama-Nya disebut Ajaib, dan Mahamulia,
raja-raja dunia, bertelut pada-Nya,
bri mahkota kepada-Nya, puji kan kasih-Nya.
Nobatkanlah Raja! Raja sgala raja,
Dialah Sang Maha Pencipta, bertakhta di sorga,
puji Dia Penebus, yang mati bagiku,
puji dan memuliakan-Nya, selama-lamanya.
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
Sama Tema
Kebaktian Umum - Hari Tuhan
Sejarah Lagu
Lagu "Crown Him With Many Crowns" (Dia Nobatkanlah) adalah salah satu himne Kristen yang paling agung dan dicintai sepanjang masa, mengundang umat untuk merenungkan dan memuji kemuliaan Yesus Kristus sebagai Raja segala raja. Kisah di balik penciptaannya adalah perpaduan antara inspirasi liris yang mendalam dan melodi yang megah, lahir dari dua tokoh yang berbeda namun karya mereka bersatu dengan sempurna.
### Bagian 1: Sang Pujangga – Matthew Bridges (1851)
Kisah dimulai dengan **Matthew Bridges** (1800–1894), seorang penyair dan penulis himne Inggris yang awalnya adalah seorang Anglikan, kemudian beralih ke Gereja Katolik Roma pada tahun 1848 di tengah gejolak Gerakan Oxford. Perpindahannya ke Katolik ini memberinya perspektif iman yang lebih dalam dan seringkali lebih kaya akan citra, meskipun dia telah menulis banyak himne sebelum perpindahannya.
1. **Inspirasi Alkitabiah:** Bridges sangat terinspirasi oleh Kitab Wahyu, khususnya Wahyu 19:12, yang menggambarkan Yesus Kristus yang datang kembali: "Mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota." Ayat ini menjadi landasan utama bagi liriknya, mendorongnya untuk merenungkan berbagai aspek kekuasaan dan kemuliaan Kristus. Istilah Yunani yang digunakan dalam Wahyu 19:12 untuk "mahkota" adalah *diademata* (diadem), yang mengacu pada mahkota kerajaan, bukan *stephanos* (mahkota kemenangan). Ini menunjukkan fokus pada otoritas dan kedaulatan Kristus.
2. **Motivasi Teologis:** Bridges ingin menciptakan himne yang merayakan Yesus sebagai Raja dengan segala atribut-Nya. Setiap bait (stanza) dari himne ini dimaksudkan untuk memahkotai Kristus dengan "mahkota" yang berbeda, mewakili peran dan sifat-Nya yang beragam:
* **Mahkota Sang Raja (King of Years):** Menggambarkan kekekalan-Nya dan kedaulatan-Nya atas waktu.
* **Mahkota Sang Domba (Lamb Upon His Throne):** Mengingat pengorbanan-Nya sebagai Domba Allah yang menebus dosa, namun sekarang telah dimuliakan.
* **Mahkota Sang Kasih (Lord of Love):** Menunjukkan kasih-Nya yang tak terbatas.
* **Mahkota Sang Hidup (Lord of Life):** Merayakan kemenangan-Nya atas maut dan pemberian hidup kekal.
* **Mahkota Sang Damai (Lord of Peace):** Menubuatkan pemerintahan-Nya yang akan membawa damai sejahtera universal.
* **Mahkota Sang Sorga (Lord of Heaven):** Menekankan asal-usul dan kekuasaan-Nya di surga.
3. **Publikasi Awal:** Lirik untuk "Crown Him With Many Crowns" pertama kali diterbitkan pada tahun **1851** dalam koleksi Bridges yang berjudul "Hymns of the Heart for the Children of God." Dalam versi aslinya, Bridges menulis **dua belas bait** yang masing-masing merenungkan mahkota yang berbeda untuk Kristus. Ini menunjukkan kedalaman perenungan teologisnya.
### Bagian 2: Sang Komposer – George Job Elvey (1868)
Meskipun Bridges telah menulis lirik yang kuat dan mendalam, lagu ini belum menjadi himne yang kita kenal sekarang tanpa melodi yang pas. Di sinilah peran **George Job Elvey** (1816–1893) masuk. Elvey adalah seorang organis dan komposer Inggris yang terkenal. Ia menjabat sebagai organis di St. George's Chapel, Windsor Castle, selama 47 tahun, sebuah posisi yang sangat bergengsi.
1. **Kebutuhan Melodi:** Tujuh belas tahun setelah Bridges menerbitkan liriknya, penyunting "Hymns Ancient and Modern" – salah satu buku himne Anglikan paling berpengaruh pada masanya – sedang mencari melodi yang cocok untuk lirik Bridges yang luar biasa.
2. **Penciptaan Melodi "DIADEMATA":** Pada tahun **1868**, Elvey diminta untuk menciptakan melodi untuk himne Bridges. Ia menanggapi dengan menggubah nada yang megah dan bersemangat yang kemudian dikenal sebagai **DIADEMATA** (dari bahasa Yunani *diadem* yang berarti mahkota kerajaan, mengacu pada Wahyu 19:12).
* Melodi Elvey dengan sempurna menangkap esensi lirik Bridges: agung, bersemangat, dan penuh penghormatan. Pola naik turunnya melodi menciptakan rasa kemuliaan dan kemenangan.
* Melodi ini dirancang agar mudah dinyanyikan oleh jemaat, namun tetap memiliki kekayaan harmonis yang cocok untuk paduan suara.
3. **Publikasi dan Popularitas:** Melodi "DIADEMATA" karya Elvey pertama kali diterbitkan bersama lirik Bridges dalam edisi revisi **"Hymns Ancient and Modern" pada tahun 1868**. Karena popularitas besar dari buku himne ini, kombinasi lirik Bridges dan melodi Elvey segera menyebar luas ke seluruh dunia Anglikan dan denominasi Protestan lainnya.
### Bagian 3: Warisan yang Kekal
Penggabungan lirik yang kaya dari Matthew Bridges dan melodi yang megah dari George Job Elvey menciptakan sebuah himne yang tak lekang oleh waktu.
* **Adaptasi:** Karena jumlah bait aslinya yang banyak, banyak buku himne modern biasanya memilih tiga hingga lima bait yang paling populer (sering kali "King of Years," "Lamb Upon His Throne," "Lord of Life," dan "Lord of Love") untuk dinyanyikan.
* **Signifikansi:** "Crown Him With Many Crowns" telah menjadi himne standar untuk perayaan Kristus Raja, Minggu Paskah, Adven, atau ibadah apa pun yang berpusat pada kedaulatan dan kemuliaan Kristus. Ia terus menginspirasi jutaan orang untuk memuji Yesus sebagai Raja dan Tuhan yang layak menerima segala kemuliaan dan pujian.
Kisah di balik lagu ini adalah contoh indah bagaimana dua individu, dengan bakat dan inspirasi yang berbeda, dapat menciptakan sebuah karya yang lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya, yang terus mengangkat hati dan suara umat percaya di seluruh dunia dalam ibadah kepada Raja yang berkuasa.
### Bagian 1: Sang Pujangga – Matthew Bridges (1851)
Kisah dimulai dengan **Matthew Bridges** (1800–1894), seorang penyair dan penulis himne Inggris yang awalnya adalah seorang Anglikan, kemudian beralih ke Gereja Katolik Roma pada tahun 1848 di tengah gejolak Gerakan Oxford. Perpindahannya ke Katolik ini memberinya perspektif iman yang lebih dalam dan seringkali lebih kaya akan citra, meskipun dia telah menulis banyak himne sebelum perpindahannya.
1. **Inspirasi Alkitabiah:** Bridges sangat terinspirasi oleh Kitab Wahyu, khususnya Wahyu 19:12, yang menggambarkan Yesus Kristus yang datang kembali: "Mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota." Ayat ini menjadi landasan utama bagi liriknya, mendorongnya untuk merenungkan berbagai aspek kekuasaan dan kemuliaan Kristus. Istilah Yunani yang digunakan dalam Wahyu 19:12 untuk "mahkota" adalah *diademata* (diadem), yang mengacu pada mahkota kerajaan, bukan *stephanos* (mahkota kemenangan). Ini menunjukkan fokus pada otoritas dan kedaulatan Kristus.
2. **Motivasi Teologis:** Bridges ingin menciptakan himne yang merayakan Yesus sebagai Raja dengan segala atribut-Nya. Setiap bait (stanza) dari himne ini dimaksudkan untuk memahkotai Kristus dengan "mahkota" yang berbeda, mewakili peran dan sifat-Nya yang beragam:
* **Mahkota Sang Raja (King of Years):** Menggambarkan kekekalan-Nya dan kedaulatan-Nya atas waktu.
* **Mahkota Sang Domba (Lamb Upon His Throne):** Mengingat pengorbanan-Nya sebagai Domba Allah yang menebus dosa, namun sekarang telah dimuliakan.
* **Mahkota Sang Kasih (Lord of Love):** Menunjukkan kasih-Nya yang tak terbatas.
* **Mahkota Sang Hidup (Lord of Life):** Merayakan kemenangan-Nya atas maut dan pemberian hidup kekal.
* **Mahkota Sang Damai (Lord of Peace):** Menubuatkan pemerintahan-Nya yang akan membawa damai sejahtera universal.
* **Mahkota Sang Sorga (Lord of Heaven):** Menekankan asal-usul dan kekuasaan-Nya di surga.
3. **Publikasi Awal:** Lirik untuk "Crown Him With Many Crowns" pertama kali diterbitkan pada tahun **1851** dalam koleksi Bridges yang berjudul "Hymns of the Heart for the Children of God." Dalam versi aslinya, Bridges menulis **dua belas bait** yang masing-masing merenungkan mahkota yang berbeda untuk Kristus. Ini menunjukkan kedalaman perenungan teologisnya.
### Bagian 2: Sang Komposer – George Job Elvey (1868)
Meskipun Bridges telah menulis lirik yang kuat dan mendalam, lagu ini belum menjadi himne yang kita kenal sekarang tanpa melodi yang pas. Di sinilah peran **George Job Elvey** (1816–1893) masuk. Elvey adalah seorang organis dan komposer Inggris yang terkenal. Ia menjabat sebagai organis di St. George's Chapel, Windsor Castle, selama 47 tahun, sebuah posisi yang sangat bergengsi.
1. **Kebutuhan Melodi:** Tujuh belas tahun setelah Bridges menerbitkan liriknya, penyunting "Hymns Ancient and Modern" – salah satu buku himne Anglikan paling berpengaruh pada masanya – sedang mencari melodi yang cocok untuk lirik Bridges yang luar biasa.
2. **Penciptaan Melodi "DIADEMATA":** Pada tahun **1868**, Elvey diminta untuk menciptakan melodi untuk himne Bridges. Ia menanggapi dengan menggubah nada yang megah dan bersemangat yang kemudian dikenal sebagai **DIADEMATA** (dari bahasa Yunani *diadem* yang berarti mahkota kerajaan, mengacu pada Wahyu 19:12).
* Melodi Elvey dengan sempurna menangkap esensi lirik Bridges: agung, bersemangat, dan penuh penghormatan. Pola naik turunnya melodi menciptakan rasa kemuliaan dan kemenangan.
* Melodi ini dirancang agar mudah dinyanyikan oleh jemaat, namun tetap memiliki kekayaan harmonis yang cocok untuk paduan suara.
3. **Publikasi dan Popularitas:** Melodi "DIADEMATA" karya Elvey pertama kali diterbitkan bersama lirik Bridges dalam edisi revisi **"Hymns Ancient and Modern" pada tahun 1868**. Karena popularitas besar dari buku himne ini, kombinasi lirik Bridges dan melodi Elvey segera menyebar luas ke seluruh dunia Anglikan dan denominasi Protestan lainnya.
### Bagian 3: Warisan yang Kekal
Penggabungan lirik yang kaya dari Matthew Bridges dan melodi yang megah dari George Job Elvey menciptakan sebuah himne yang tak lekang oleh waktu.
* **Adaptasi:** Karena jumlah bait aslinya yang banyak, banyak buku himne modern biasanya memilih tiga hingga lima bait yang paling populer (sering kali "King of Years," "Lamb Upon His Throne," "Lord of Life," dan "Lord of Love") untuk dinyanyikan.
* **Signifikansi:** "Crown Him With Many Crowns" telah menjadi himne standar untuk perayaan Kristus Raja, Minggu Paskah, Adven, atau ibadah apa pun yang berpusat pada kedaulatan dan kemuliaan Kristus. Ia terus menginspirasi jutaan orang untuk memuji Yesus sebagai Raja dan Tuhan yang layak menerima segala kemuliaan dan pujian.
Kisah di balik lagu ini adalah contoh indah bagaimana dua individu, dengan bakat dan inspirasi yang berbeda, dapat menciptakan sebuah karya yang lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya, yang terus mengangkat hati dan suara umat percaya di seluruh dunia dalam ibadah kepada Raja yang berkuasa.