NR
Hai Kaum Tuhan Hu, Allahmu Benar
Informasi Lagu
9
Nomor
Kode
NR 9
Buku
Nyanyian Rohani
Metronom
0
Cross Ref.
KK 19,KC 125, KPJ 239, KJ 4
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Hai kaum Tuhan Hu, Allahmu benar
bri nyanyian mu berbunyi besar.
Yang mahamulia dan Sumber hayat,
muliakanlah Dia, segala tempat!
Yang rumah-Nya trang yang Mahakudus,
bri Anak-Nya yang hendak menebus
manusia yang hina di dunia cemar.
Hai, puji kasih-Nya yang heran benar.
Ya Allah Esa, Penabur berkat,
terima sembah segala jemaat.
Kuasa dan hikmat, syukur bagi-Mu,
ya pokok selamat, kekal dan teguh.
Slide Lirik
3 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
KK 19,KC 125, KPJ 239, KJ 4
Hai Mari Sembah
KC
Hai Mari Sembah
KJ
Hai Mari Sembah
KK
Pinuji Tansah
KPJ
Sama Tema
Pujian Dan Sembahyang
Hormat Bagi Bapa Serta Anak dan Rohul'kudus
NR
Ya Tuhan, Kami Puji Nama-Mu Besar
NR
Hormat Bagi Allah Bapa, Hormat Bagi Anak-Nya
NR
Kudus, Kudus, Kuduslah, Tuhan Mahakuasa
NR
Hai Makhluk Allah-hu Besar
NR
Dengarlah, Allahmu Esa
NR
Nyanyianku Memuji Allah Jua
NR
Haleluya, Hai Pujilah
NR
Pujilah Tuhanmu, Raja yang mahamulia
NR
Kami Puji Engkau, Hu
NR
B'ri Hormatmu dan Pujian
NR
Haleluya, Hormat dan Pujian
NR
Kesukaan yang Ceria Hanya Ada Pada-Mu
NR
Hormat dan Puji Kepada Tuhan
NR
Sekarang B'ri Syukur, Besarkan Nama Tuhan
NR
Ya Bapa Kami Mahabaik
NR
Anugerah Tuhan kami Yesus Kristus
NR
Berkati dan Lindung Kami, Hu
NR
Sejarah Lagu
Kisah detail di balik lagu rohani yang sangat dicintai ini, "Hai Mari Sembah" atau "O Worship the King". Menariknya, atribusi yang Anda sebutkan memiliki sedikit pergeseran sejarah yang perlu kita luruskan untuk mendapatkan gambaran yang paling akurat.
Lagu "O Worship the King" (yang diterjemahkan menjadi "Hai Mari Sembah" dalam bahasa Indonesia, sering ditemukan di buku nyanyian gereja seperti Kidung Jemaat) adalah sebuah mahakarya pujian yang menggabungkan lirik dan melodi dari periode waktu yang berbeda dan dari pencipta yang berbeda pula.
---
### Bagian 1: Lirik – "O Worship the King" (Ditulis oleh Robert Grant, bukan William Kethe)
Poin pertama yang perlu diluruskan adalah mengenai penulis liriknya. Meskipun William Kethe memang seorang penulis himne penting di era Reformasi Protestan (terkenal dengan "All People That on Earth Do Dwell" yang didasarkan pada Mazmur 100), lirik untuk "O Worship the King" sebenarnya ditulis oleh **Sir Robert Grant (1779-1838)**.
1. **Siapa Robert Grant?**
* Robert Grant adalah seorang pengacara, politikus, dan administrator kolonial Inggris yang lahir di India (saat itu British India).
* Ia adalah seorang yang saleh dan sangat berkomitmen pada imannya. Selain karirnya di bidang hukum dan politik (ia pernah menjadi anggota parlemen dan Gubernur Bombay), ia juga dikenal sebagai seorang penyair dan penulis himne yang berbakat.
* Ia menulis sejumlah himne, tetapi "O Worship the King" adalah karyanya yang paling terkenal dan abadi.
2. **Konteks Penulisan Lirik:**
* Grant menulis lirik ini pada tahun **1833**.
* Ia terinspirasi oleh **Mazmur 104** dari Alkitab, sebuah mazmur yang dengan indah menggambarkan keagungan Tuhan sebagai Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Mazmur ini memuji Tuhan atas kuasa-Nya dalam menciptakan langit, bumi, laut, serta atas pemeliharaan-Nya terhadap segala makhluk hidup.
* Grant berhasil menangkap esensi pujian Mazmur 104 dan menuangkannya ke dalam bait-bait yang penuh semangat dan kekaguman.
3. **Makna dan Tema Lirik:**
* Lirik "O Worship the King" adalah seruan untuk memuliakan Tuhan atas keagungan, kuasa, dan kasih-Nya.
* Setiap bait menyoroti aspek-aspek kebesaran Tuhan:
* **Bait 1:** Seruan untuk memuliakan Raja segala raja, Pujian dan kemuliaan bagi-Nya.
* **Bait 2:** Menggambarkan Tuhan sebagai Pencipta yang melingkupi diri dengan cahaya, mendirikan bumi, dan menghiasi langit dengan awan. Ini adalah gambaran langsung dari Mazmur 104.
* **Bait 3:** Mengungkapkan pemeliharaan Tuhan atas ciptaan-Nya – gunung, laut, guntur, angin badai, semuanya melayani kehendak-Nya.
* **Bait 4:** Menekankan kebaikan dan kemurahan Tuhan yang tak terbatas, bagaimana Dia menyediakan bagi semua makhluk.
* **Bait 5:** Mengakui keterbatasan manusia dan memohon anugerah Tuhan, serta menekankan kesetiaan Tuhan yang tak pernah gagal.
* **Bait 6:** Puncak pujian, menyatakan bahwa Tuhan adalah Bapa, Pelindung, dan Sahabat abadi yang harus disembah selamanya.
* Liriknya dicirikan oleh bahasa yang agung namun mudah dipahami, penuh dengan citra-citra alam dan ekspresi kekaguman.
---
### Bagian 2: Melodi – "Lyons" (Dikaitkan dengan Johann Michael Haydn)
Melodi yang paling umum digunakan untuk "O Worship the King" adalah **"Lyons"**. Melodi ini memiliki sejarah yang menarik dan sering dikaitkan dengan **Johann Michael Haydn (1737-1806)**, adik dari komposer Joseph Haydn yang lebih terkenal.
1. **Siapa Johann Michael Haydn?**
* Seorang komposer Austria yang sangat produktif di era Klasik.
* Ia menghabiskan sebagian besar karirnya di Salzburg, di mana ia adalah direktur musik katedral dan juga guru dari Carl Maria von Weber.
* Ia dikenal terutama untuk musik sakralnya: misanya, requiem, te deum, dan berbagai karya gerejawi lainnya. Karya-karyanya dihargai karena keindahan melodi dan kekayaan harmoninya.
2. **Asal Usul Melodi "Lyons":**
* Melodi "Lyons" diyakini berasal dari bagian-bagian dalam **"Deutsches Hochamt" (Misa Agung Jerman)** atau karya sakral lainnya oleh Johann Michael Haydn.
* Khususnya, bagian **"Tantum Ergo"** (sebuah himne Ekaristi yang liriknya ditulis oleh Thomas Aquinas) atau "Te Deum" dari Haydn sering disebut sebagai sumber inspirasi atau adaptasi.
* Penting untuk dicatat bahwa Haydn sendiri tidak menulisnya sebagai "himne" dalam format yang kita kenal sekarang, melainkan sebagai bagian dari karya musik gerejawi yang lebih besar. Melodi tersebut kemudian diadaptasi dan disederhanakan agar cocok untuk nyanyian jemaat di gereja.
* Nama "Lyons" kemungkinan diberikan oleh penyusun himne setelah melodi tersebut diadopsi ke dalam himne bahasa Inggris, meskipun alasannya tidak selalu jelas dan bisa saja merujuk pada kota atau individu tertentu.
3. **Karakteristik Melodi "Lyons":**
* Melodi ini memiliki nuansa yang megah dan penuh semangat, cocok dengan keagungan liriknya.
* Struktur melodinya kuat, mudah diingat, dan memiliki ritme yang mantap, membuatnya ideal untuk dinyanyikan oleh jemaat.
* Kombinasi antara lirik yang inspiratif dan melodi yang agung menciptakan pengalaman pujian yang powerful.
---
### Bagian 3: Pertemuan Lirik dan Melodi, serta Perjalanan ke Indonesia
1. **Penyatuan Lirik dan Melodi:**
* Lirik Robert Grant dan melodi Johann Michael Haydn (atau adaptasinya) bertemu di himnal-himnal Inggris pada pertengahan hingga akhir abad ke-19.
* Para penyusun himnal, seperti yang terlibat dalam pembuatan *Hymns Ancient and Modern* (1861), sering mencari melodi yang tepat untuk lirik-lirik baru atau yang sudah ada. Melodi "Lyons" terbukti menjadi pasangan yang sempurna untuk keagungan "O Worship the King".
* Sejak saat itu, kombinasi ini menjadi sangat populer di seluruh dunia Kristen berbahasa Inggris.
2. **"Hai Mari Sembah" di Indonesia:**
* Lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Hai Mari Sembah".
* Terjemahan ini (seperti banyak terjemahan himne lainnya) dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gereja-gereja di Indonesia agar jemaat dapat menyanyikan lagu pujian dalam bahasa mereka sendiri.
* "Hai Mari Sembah" menjadi salah satu lagu yang paling dikenal dan dinyanyikan di gereja-gereja Protestan dan Katolik di Indonesia, dan termasuk dalam koleksi himne seperti *Kidung Jemaat (KJ)* dan *Puji Syukur*.
* Makna dan pesan pujiannya yang universal membuatnya relevan bagi umat beriman di berbagai budaya dan bahasa.
---
### Kesimpulan
Jadi, kisah di balik "Hai Mari Sembah / O Worship the King" adalah kisah tentang perpaduan sempurna antara:
* **Lirik yang agung dan terinspirasi Mazmur 104** dari **Sir Robert Grant** (abad ke-19).
* **Melodi yang megah dan penuh semangat** yang diadaptasi dari karya musik sakral **Johann Michael Haydn** (abad ke-18).
Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah himne abadi yang telah mengangkat hati jutaan orang untuk memuji Tuhan atas keagungan-Nya sebagai Pencipta dan Pemelihara semesta. Meskipun William Kethe adalah figur penting dalam sejarah himne, ia tidak terkait langsung dengan penciptaan lagu "O Worship the King".
Lagu "O Worship the King" (yang diterjemahkan menjadi "Hai Mari Sembah" dalam bahasa Indonesia, sering ditemukan di buku nyanyian gereja seperti Kidung Jemaat) adalah sebuah mahakarya pujian yang menggabungkan lirik dan melodi dari periode waktu yang berbeda dan dari pencipta yang berbeda pula.
---
### Bagian 1: Lirik – "O Worship the King" (Ditulis oleh Robert Grant, bukan William Kethe)
Poin pertama yang perlu diluruskan adalah mengenai penulis liriknya. Meskipun William Kethe memang seorang penulis himne penting di era Reformasi Protestan (terkenal dengan "All People That on Earth Do Dwell" yang didasarkan pada Mazmur 100), lirik untuk "O Worship the King" sebenarnya ditulis oleh **Sir Robert Grant (1779-1838)**.
1. **Siapa Robert Grant?**
* Robert Grant adalah seorang pengacara, politikus, dan administrator kolonial Inggris yang lahir di India (saat itu British India).
* Ia adalah seorang yang saleh dan sangat berkomitmen pada imannya. Selain karirnya di bidang hukum dan politik (ia pernah menjadi anggota parlemen dan Gubernur Bombay), ia juga dikenal sebagai seorang penyair dan penulis himne yang berbakat.
* Ia menulis sejumlah himne, tetapi "O Worship the King" adalah karyanya yang paling terkenal dan abadi.
2. **Konteks Penulisan Lirik:**
* Grant menulis lirik ini pada tahun **1833**.
* Ia terinspirasi oleh **Mazmur 104** dari Alkitab, sebuah mazmur yang dengan indah menggambarkan keagungan Tuhan sebagai Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Mazmur ini memuji Tuhan atas kuasa-Nya dalam menciptakan langit, bumi, laut, serta atas pemeliharaan-Nya terhadap segala makhluk hidup.
* Grant berhasil menangkap esensi pujian Mazmur 104 dan menuangkannya ke dalam bait-bait yang penuh semangat dan kekaguman.
3. **Makna dan Tema Lirik:**
* Lirik "O Worship the King" adalah seruan untuk memuliakan Tuhan atas keagungan, kuasa, dan kasih-Nya.
* Setiap bait menyoroti aspek-aspek kebesaran Tuhan:
* **Bait 1:** Seruan untuk memuliakan Raja segala raja, Pujian dan kemuliaan bagi-Nya.
* **Bait 2:** Menggambarkan Tuhan sebagai Pencipta yang melingkupi diri dengan cahaya, mendirikan bumi, dan menghiasi langit dengan awan. Ini adalah gambaran langsung dari Mazmur 104.
* **Bait 3:** Mengungkapkan pemeliharaan Tuhan atas ciptaan-Nya – gunung, laut, guntur, angin badai, semuanya melayani kehendak-Nya.
* **Bait 4:** Menekankan kebaikan dan kemurahan Tuhan yang tak terbatas, bagaimana Dia menyediakan bagi semua makhluk.
* **Bait 5:** Mengakui keterbatasan manusia dan memohon anugerah Tuhan, serta menekankan kesetiaan Tuhan yang tak pernah gagal.
* **Bait 6:** Puncak pujian, menyatakan bahwa Tuhan adalah Bapa, Pelindung, dan Sahabat abadi yang harus disembah selamanya.
* Liriknya dicirikan oleh bahasa yang agung namun mudah dipahami, penuh dengan citra-citra alam dan ekspresi kekaguman.
---
### Bagian 2: Melodi – "Lyons" (Dikaitkan dengan Johann Michael Haydn)
Melodi yang paling umum digunakan untuk "O Worship the King" adalah **"Lyons"**. Melodi ini memiliki sejarah yang menarik dan sering dikaitkan dengan **Johann Michael Haydn (1737-1806)**, adik dari komposer Joseph Haydn yang lebih terkenal.
1. **Siapa Johann Michael Haydn?**
* Seorang komposer Austria yang sangat produktif di era Klasik.
* Ia menghabiskan sebagian besar karirnya di Salzburg, di mana ia adalah direktur musik katedral dan juga guru dari Carl Maria von Weber.
* Ia dikenal terutama untuk musik sakralnya: misanya, requiem, te deum, dan berbagai karya gerejawi lainnya. Karya-karyanya dihargai karena keindahan melodi dan kekayaan harmoninya.
2. **Asal Usul Melodi "Lyons":**
* Melodi "Lyons" diyakini berasal dari bagian-bagian dalam **"Deutsches Hochamt" (Misa Agung Jerman)** atau karya sakral lainnya oleh Johann Michael Haydn.
* Khususnya, bagian **"Tantum Ergo"** (sebuah himne Ekaristi yang liriknya ditulis oleh Thomas Aquinas) atau "Te Deum" dari Haydn sering disebut sebagai sumber inspirasi atau adaptasi.
* Penting untuk dicatat bahwa Haydn sendiri tidak menulisnya sebagai "himne" dalam format yang kita kenal sekarang, melainkan sebagai bagian dari karya musik gerejawi yang lebih besar. Melodi tersebut kemudian diadaptasi dan disederhanakan agar cocok untuk nyanyian jemaat di gereja.
* Nama "Lyons" kemungkinan diberikan oleh penyusun himne setelah melodi tersebut diadopsi ke dalam himne bahasa Inggris, meskipun alasannya tidak selalu jelas dan bisa saja merujuk pada kota atau individu tertentu.
3. **Karakteristik Melodi "Lyons":**
* Melodi ini memiliki nuansa yang megah dan penuh semangat, cocok dengan keagungan liriknya.
* Struktur melodinya kuat, mudah diingat, dan memiliki ritme yang mantap, membuatnya ideal untuk dinyanyikan oleh jemaat.
* Kombinasi antara lirik yang inspiratif dan melodi yang agung menciptakan pengalaman pujian yang powerful.
---
### Bagian 3: Pertemuan Lirik dan Melodi, serta Perjalanan ke Indonesia
1. **Penyatuan Lirik dan Melodi:**
* Lirik Robert Grant dan melodi Johann Michael Haydn (atau adaptasinya) bertemu di himnal-himnal Inggris pada pertengahan hingga akhir abad ke-19.
* Para penyusun himnal, seperti yang terlibat dalam pembuatan *Hymns Ancient and Modern* (1861), sering mencari melodi yang tepat untuk lirik-lirik baru atau yang sudah ada. Melodi "Lyons" terbukti menjadi pasangan yang sempurna untuk keagungan "O Worship the King".
* Sejak saat itu, kombinasi ini menjadi sangat populer di seluruh dunia Kristen berbahasa Inggris.
2. **"Hai Mari Sembah" di Indonesia:**
* Lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Hai Mari Sembah".
* Terjemahan ini (seperti banyak terjemahan himne lainnya) dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gereja-gereja di Indonesia agar jemaat dapat menyanyikan lagu pujian dalam bahasa mereka sendiri.
* "Hai Mari Sembah" menjadi salah satu lagu yang paling dikenal dan dinyanyikan di gereja-gereja Protestan dan Katolik di Indonesia, dan termasuk dalam koleksi himne seperti *Kidung Jemaat (KJ)* dan *Puji Syukur*.
* Makna dan pesan pujiannya yang universal membuatnya relevan bagi umat beriman di berbagai budaya dan bahasa.
---
### Kesimpulan
Jadi, kisah di balik "Hai Mari Sembah / O Worship the King" adalah kisah tentang perpaduan sempurna antara:
* **Lirik yang agung dan terinspirasi Mazmur 104** dari **Sir Robert Grant** (abad ke-19).
* **Melodi yang megah dan penuh semangat** yang diadaptasi dari karya musik sakral **Johann Michael Haydn** (abad ke-18).
Bersama-sama, mereka menciptakan sebuah himne abadi yang telah mengangkat hati jutaan orang untuk memuji Tuhan atas keagungan-Nya sebagai Pencipta dan Pemelihara semesta. Meskipun William Kethe adalah figur penting dalam sejarah himne, ia tidak terkait langsung dengan penciptaan lagu "O Worship the King".