GB
Hidup Yang Jujur
Living For Jesus
Informasi Lagu
226
Nomor
Kode
GB 226
Buku
Gita Bakti
Metronom
0
Cross Ref.
KMM 125, GB226, KK 550
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Hidup yang jujur hendak ku serah
pada Yesusku yang aku sembah.
Persekutuan, mesra dan kudus,
ingin kuikat dengan Penebus.
Ya Yesus, Kaukorbankan darah-Mu bagiku;
kubri masa depanku dan hidup bagi-Mu.
Hatiku kuserahkan menjadi takhta-Mu.
Kuminta, kuasailah seluruh hidupku.
Bagiku Yesus membri nyawa-Nya
menanggung dosaku di Golgota.
Terdorong kasih begitu mulia,
seluruh hidup kubri pada-Nya.
Di mana-mana, setiap kerja
kan kulakukan demi nama-Nya.
Rela menanggung sengsara pedih,
ku ikut Yesus, kupikul salib.
Memuji Yesus dengan hidupku
mau berkenan pada Dia penuh,
ikut mencari yang hilang sesat,
bawa pada-Nya yang susah, penat.
Slide Lirik
5 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
Sama Tema
Penyerahan Diri
Sejarah Lagu
Lagu **“Hidup Yang Jujur”** (atau dalam versi asli bahasa Inggris berjudul ***“Living for Jesus”***) adalah salah satu lagu himne Kristen klasik yang sangat dicintai di seluruh dunia. Lagu ini merupakan buah kolaborasi yang luar biasa antara seorang komponis berbakat, **Carl Harold Lowden**, dan salah satu penulis lirik himne terbesar abad ke-20, **Thomas Obadiah Chisholm**.
Di balik melodi yang megah dan lirik yang penuh komitmen ini, terdapat kisah kerja sama yang unik dan refleksi iman yang mendalam. Berikut adalah kisah detail di balik terciptanya lagu tersebut pada tahun **1917**.
---
### 1. Sang Komponis: Carl Harold Lowden dan Melodi yang Lahir Lebih Dulu
Biasanya, dalam pembuatan sebuah himne, lirik ditulis terlebih dahulu, baru kemudian dicarikan melodinya. Namun, kasus lagu *“Living for Jesus”* adalah kebalikannya.
Pada suatu hari di tahun **1917**, Carl Harold Lowden (1883–1963), yang saat itu bekerja sebagai direktur musik, guru, dan penerbit musik di Philadelphia, Amerika Serikat, sedang duduk di depan pianonya. Tiba-tiba, sebuah melodi yang indah dan bertenaga mengalir begitu saja dari jemarinya.
Lowden segera menuliskan notasi melodi tersebut. Ia merasa melodi ini memiliki kekuatan spiritual yang besar, namun ia kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk mengimbanginya. Lowden sempat mencoba menulis liriknya sendiri dengan tema "hidup untuk Yesus", tetapi ia merasa hasil karyanya kurang puitis dan kurang memiliki kedalaman teologis.
Sadar akan keterbatasannya dalam merangkai kata, Lowden memutuskan untuk mengirimkan melodi tersebut kepada seorang penulis lirik profesional yang sangat ia hormati.
---
### 2. Sang Penulis Lirik: Thomas Obadiah Chisholm
Pilihan Lowden jatuh kepada **Thomas Obadiah Chisholm** (1866–1960), yang tinggal di Vineland, New Jersey. Chisholm adalah seorang mantan editor surat kabar dan pendeta Metodis yang terpaksa pensiun dini karena masalah kesehatan fisik yang kronis.
Meskipun fisiknya lemah dan hidup dalam keterbatasan ekonomi, Chisholm memiliki iman yang luar biasa tangguh. Ia dikenal luas karena kemampuannya menulis puisi spiritual yang sangat menyentuh hati (ia juga menulis himne terkenal lainnya seperti *"Great Is Thy Faithfulness"* atau *"Setia-Mu, Tuhanku"*).
Lowden mengirimkan manuskrip melodinya melalui pos kepada Chisholm, disertai dengan catatan kecil:
> *“Saya mengirimkan melodi ini kepada Anda dengan harapan Anda dapat menuliskan lirik yang sesuai. Saya merasa lagu ini harus berbicara tentang komitmen total untuk hidup bagi Yesus.”*
---
### 3. Proses Penulisan Lirik yang Cepat dan Sempurna
Ketika Chisholm menerima melodi tersebut, ia langsung memainkannya (atau meminta seseorang memainkannya) untuk merasakan ketukan dan jiwanya. Chisholm langsung menangkap gairah dan ketulusan dari melodi ciptaan Lowden.
Hanya dalam waktu singkat (konon hanya beberapa hari), Chisholm berhasil merangkai kata-kata yang sangat presisi dengan ketukan melodi tersebut. Liriknya berfokus pada penyerahan diri yang radikal, kesetiaan, dan integritas hidup di hadapan Tuhan.
Bait pertama yang ditulis Chisholm berbunyi:
> *"Living for Jesus, a life that is true, striving to please Him in all that I do..."*
Kata **"true"** di sini dalam konteks bahasa Inggris abad ke-20 tidak hanya berarti "benar", tetapi juga berarti **"jujur, setia, tulus, dan otentik"**. Inilah mengapa dalam terjemahan bahasa Indonesia, lagu ini sering diberi judul **"Hidup Yang Jujur"** (atau di beberapa buku nyanyian gereja diterjemahkan sebagai *"Hidup bagi Yesus"* atau *"Hidup yang Nyata bagi Yesus"*).
Chisholm mengirimkan kembali lirik tersebut kepada Lowden. Ketika Lowden membaca lirik tersebut sambil memainkan melodinya, ia menangis karena terharu. Lirik tersebut sangat sempurna, bahkan melebihi apa yang ia bayangkan.
---
### 4. Makna di Balik Lirik: Komitmen di Tengah Badai Dunia
Lagu ini diterbitkan pertama kali pada tahun **1917**, tepat ketika Perang Dunia I sedang berkecamuk. Di tengah ketidakpastian dunia, ketakutan akan perang, dan kemerosotan moral, lagu *“Living for Jesus”* hadir sebagai proklamasi iman yang kokoh.
* **Bait 1:** Berbicara tentang dedikasi harian untuk menyenangkan hati Tuhan dan menjauhi dosa (*"striving to please Him in all that I do"*).
* **Bait 2:** Mengakui pengorbanan Kristus di kayu salib, yang memotivasi kita untuk rela memikul salib kita sendiri demi mengikut-Nya.
* **Bait 3:** Berbicara tentang kepatuhan di tengah pencobaan dan badai hidup.
* **Refrein (Korus):** Adalah doa penyerahan diri yang sangat indah:
> *"O Jesus, Lord and Savior, I give myself to Thee, for Thou in Thy atonement didst give Thyself for me..."*
> (Ya Yesus, Tuhan dan Juru Selamat, kuberikan diriku pada-Mu, karena dalam penebusan-Mu, Kau telah memberikan diri-Mu bagiku...)
---
### 5. Dampak dan Terjemahan di Indonesia
Lagu ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Di Indonesia, lagu ini dapat ditemukan di berbagai buku nyanyian gereja (seperti *Nyanyian Kemenangan Iman*, *Puji-Pujian Kristen*, dll.) dengan judul **"Hidup Yang Jujur"** atau **"Hidup Bagi Yesus"**.
Lagu ini sering dinyanyikan dalam ibadah pemuda, kebaktian komitmen, atau momen penyerahan diri (altar call). Pesan moral dan spiritualnya sangat jelas: **menjadi orang Kristen bukan sekadar status, melainkan sebuah gaya hidup yang jujur, tulus, dan setia di hadapan Allah dan sesama manusia setiap hari.**
### Kesimpulan
Kisah di balik *“Living for Jesus / Hidup Yang Jujur”* adalah bukti keindahan kolaborasi tubuh Kristus. Carl Lowden memberikan melodi dari hatinya, dan Thomas Chisholm memberikan kata-kata dari jiwanya yang saleh. Melalui keterbatasan fisik Chisholm dan kepekaan seni Lowden, lahirlah sebuah mahakarya yang terus menantang setiap generasi untuk hidup tulus dan jujur bagi Yesus Kristus.
Di balik melodi yang megah dan lirik yang penuh komitmen ini, terdapat kisah kerja sama yang unik dan refleksi iman yang mendalam. Berikut adalah kisah detail di balik terciptanya lagu tersebut pada tahun **1917**.
---
### 1. Sang Komponis: Carl Harold Lowden dan Melodi yang Lahir Lebih Dulu
Biasanya, dalam pembuatan sebuah himne, lirik ditulis terlebih dahulu, baru kemudian dicarikan melodinya. Namun, kasus lagu *“Living for Jesus”* adalah kebalikannya.
Pada suatu hari di tahun **1917**, Carl Harold Lowden (1883–1963), yang saat itu bekerja sebagai direktur musik, guru, dan penerbit musik di Philadelphia, Amerika Serikat, sedang duduk di depan pianonya. Tiba-tiba, sebuah melodi yang indah dan bertenaga mengalir begitu saja dari jemarinya.
Lowden segera menuliskan notasi melodi tersebut. Ia merasa melodi ini memiliki kekuatan spiritual yang besar, namun ia kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk mengimbanginya. Lowden sempat mencoba menulis liriknya sendiri dengan tema "hidup untuk Yesus", tetapi ia merasa hasil karyanya kurang puitis dan kurang memiliki kedalaman teologis.
Sadar akan keterbatasannya dalam merangkai kata, Lowden memutuskan untuk mengirimkan melodi tersebut kepada seorang penulis lirik profesional yang sangat ia hormati.
---
### 2. Sang Penulis Lirik: Thomas Obadiah Chisholm
Pilihan Lowden jatuh kepada **Thomas Obadiah Chisholm** (1866–1960), yang tinggal di Vineland, New Jersey. Chisholm adalah seorang mantan editor surat kabar dan pendeta Metodis yang terpaksa pensiun dini karena masalah kesehatan fisik yang kronis.
Meskipun fisiknya lemah dan hidup dalam keterbatasan ekonomi, Chisholm memiliki iman yang luar biasa tangguh. Ia dikenal luas karena kemampuannya menulis puisi spiritual yang sangat menyentuh hati (ia juga menulis himne terkenal lainnya seperti *"Great Is Thy Faithfulness"* atau *"Setia-Mu, Tuhanku"*).
Lowden mengirimkan manuskrip melodinya melalui pos kepada Chisholm, disertai dengan catatan kecil:
> *“Saya mengirimkan melodi ini kepada Anda dengan harapan Anda dapat menuliskan lirik yang sesuai. Saya merasa lagu ini harus berbicara tentang komitmen total untuk hidup bagi Yesus.”*
---
### 3. Proses Penulisan Lirik yang Cepat dan Sempurna
Ketika Chisholm menerima melodi tersebut, ia langsung memainkannya (atau meminta seseorang memainkannya) untuk merasakan ketukan dan jiwanya. Chisholm langsung menangkap gairah dan ketulusan dari melodi ciptaan Lowden.
Hanya dalam waktu singkat (konon hanya beberapa hari), Chisholm berhasil merangkai kata-kata yang sangat presisi dengan ketukan melodi tersebut. Liriknya berfokus pada penyerahan diri yang radikal, kesetiaan, dan integritas hidup di hadapan Tuhan.
Bait pertama yang ditulis Chisholm berbunyi:
> *"Living for Jesus, a life that is true, striving to please Him in all that I do..."*
Kata **"true"** di sini dalam konteks bahasa Inggris abad ke-20 tidak hanya berarti "benar", tetapi juga berarti **"jujur, setia, tulus, dan otentik"**. Inilah mengapa dalam terjemahan bahasa Indonesia, lagu ini sering diberi judul **"Hidup Yang Jujur"** (atau di beberapa buku nyanyian gereja diterjemahkan sebagai *"Hidup bagi Yesus"* atau *"Hidup yang Nyata bagi Yesus"*).
Chisholm mengirimkan kembali lirik tersebut kepada Lowden. Ketika Lowden membaca lirik tersebut sambil memainkan melodinya, ia menangis karena terharu. Lirik tersebut sangat sempurna, bahkan melebihi apa yang ia bayangkan.
---
### 4. Makna di Balik Lirik: Komitmen di Tengah Badai Dunia
Lagu ini diterbitkan pertama kali pada tahun **1917**, tepat ketika Perang Dunia I sedang berkecamuk. Di tengah ketidakpastian dunia, ketakutan akan perang, dan kemerosotan moral, lagu *“Living for Jesus”* hadir sebagai proklamasi iman yang kokoh.
* **Bait 1:** Berbicara tentang dedikasi harian untuk menyenangkan hati Tuhan dan menjauhi dosa (*"striving to please Him in all that I do"*).
* **Bait 2:** Mengakui pengorbanan Kristus di kayu salib, yang memotivasi kita untuk rela memikul salib kita sendiri demi mengikut-Nya.
* **Bait 3:** Berbicara tentang kepatuhan di tengah pencobaan dan badai hidup.
* **Refrein (Korus):** Adalah doa penyerahan diri yang sangat indah:
> *"O Jesus, Lord and Savior, I give myself to Thee, for Thou in Thy atonement didst give Thyself for me..."*
> (Ya Yesus, Tuhan dan Juru Selamat, kuberikan diriku pada-Mu, karena dalam penebusan-Mu, Kau telah memberikan diri-Mu bagiku...)
---
### 5. Dampak dan Terjemahan di Indonesia
Lagu ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Di Indonesia, lagu ini dapat ditemukan di berbagai buku nyanyian gereja (seperti *Nyanyian Kemenangan Iman*, *Puji-Pujian Kristen*, dll.) dengan judul **"Hidup Yang Jujur"** atau **"Hidup Bagi Yesus"**.
Lagu ini sering dinyanyikan dalam ibadah pemuda, kebaktian komitmen, atau momen penyerahan diri (altar call). Pesan moral dan spiritualnya sangat jelas: **menjadi orang Kristen bukan sekadar status, melainkan sebuah gaya hidup yang jujur, tulus, dan setia di hadapan Allah dan sesama manusia setiap hari.**
### Kesimpulan
Kisah di balik *“Living for Jesus / Hidup Yang Jujur”* adalah bukti keindahan kolaborasi tubuh Kristus. Carl Lowden memberikan melodi dari hatinya, dan Thomas Chisholm memberikan kata-kata dari jiwanya yang saleh. Melalui keterbatasan fisik Chisholm dan kepekaan seni Lowden, lahirlah sebuah mahakarya yang terus menantang setiap generasi untuk hidup tulus dan jujur bagi Yesus Kristus.