GB
Abadi Tak Nampak
Immortal, Invisible
Informasi Lagu
17
Nomor
Kode
GB 17
Buku
Gita Bakti
Metronom
0
Cross Ref.
KMM 1 ,PKJ 1 ,NKB 8, BLP 270
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
Abadi, tak nampak, Yang Maha Esa,
yang tak terhampiri terang takhta-Nya,
yang dalam Putra-Nya telah di kenal,
bagi-Nyalah hormat dan kuasa kekal
Ibarat cahaya berkarya tenang,
wibawa rajawi kekal Kaupegang.
Teguh bagai gunung keadilan-Mu,
dan awan-Mu sarat dengan kasih-Mu
Engkaulah yang hidup kekal s’lamanya;
segala yang hidup, Engkau dasarnya.
Terbataslah hidup bagaikan kembang;
Engkau, Surya Hidup yang tak terbenam.
Ya Bapa, Pencipta segala terang,
dipuji malaikat di sorga cerlang;
Pun kami memuji, pun kami sembah
Engkau yang bertakhta di cah’ya baka.
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Cross Reference
KMM 1 ,PKJ 1 ,NKB 8, BLP 270
Abadi Tak Nampak
BLP
Abadi Tak Nampak
KMM
Abadi Tak Nampak
NKB
Abadi Tak Nampak
PKJ
Sama Tema
Awal Ibadah
Pujilah Sang Pencipta
GB
Haleluya! Puji Tuhan, Puji Namanya
GB
Mari Menyembah
GB
Bersorak Bagi Tuhan
GB
Bernyanyilah Biduan Muda-Mudi
GB
Bernyanyilah Orang Percaya
GB
Marilah, Nyanyilah Puji Tuhan
GB
Kulayangkan Mataku
GB
Pujilah Tuhan, Hai Jiwaku
GB
Kupuji Yesus, Tuhanku
GB
Gloria, Gloria Diberi Kepada Allah
GB
Masuklah Semua Menghadap Tuhan
GB
Mari, Puji Raja Sorga
GB
Haleluya, Haleluya!
GB
Haleluya, Puji Tuhan
GB
'Kau Yang Layak
GB
Marilah Bernyanyi Puji Tuhan
GB
Ya Tuhan, Siapakah Yang Boleh Diam
GB
Umat Tuhan, Mari Datanglah
GB
Tuhan, Layakkan Kami
GB
Besar Dan Ajaib
GB
Bersoraklah, Hai Alam Semesta
GB
Mari Menghadap Allah
GB
Sejarah Lagu
Lagu pujian (hymn) **"Immortal, Invisible, God Only Wise"** (diterjemahkan ke bahasa Indonesia sebagai **"Abadi, Tak Nampak"**) adalah salah satu karya sastra rohani yang paling dihormati dalam tradisi Kristen.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis: Walter Chalmers Smith
Lagu ini ditulis oleh **Walter Chalmers Smith** (1824–1908), seorang pendeta dari *Free Church of Scotland*. Smith adalah seorang tokoh yang intelektual, seorang penyair, dan pengamat budaya yang tajam. Ia tidak hanya menulis lagu rohani, tetapi juga banyak menulis puisi sekuler.
Ia menulis lirik ini pada tahun **1867** dan pertama kali menerbitkannya dalam bukunya yang berjudul *Hymns of Christ and the Christian Life*.
### 2. Inspirasi Teologis: Sifat Allah yang Tak Terjangkau
Inspirasi utama lagu ini berasal dari **1 Timotius 1:17**, yang berbunyi:
> *"Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa. Amin."*
Smith ingin menangkap konsep teologis yang sangat agung, yaitu **transendensi Allah**. Dalam masa di mana banyak orang mencoba mendefinisikan atau "menjinakkan" Tuhan melalui logika manusia, Smith justru menekankan bahwa Tuhan itu melampaui pemahaman manusia. Ia menggunakan istilah seperti:
* *Immortal* (Abadi/Kekal)
* *Invisible* (Tak Nampak)
* *Inaccessible* (Tak Terjangkau)
* *Invisible light* (Cahaya yang tak terlihat)
Smith mengajak jemaat untuk kagum (awe) terhadap kebesaran Allah yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, namun nyata melalui karya penciptaan-Nya.
### 3. Melodi: "St. Denio" (Tradisi Wales)
Meskipun liriknya ditulis oleh Smith, keindahan lagu ini tidak lepas dari melodinya yang megah. Melodi ini dikenal dengan nama **"St. Denio"**.
* **Asal-usul:** Melodi ini berasal dari lagu rakyat tradisional Wales yang berjudul *"Can Mlynedd i nawr"* (Seratus Tahun dari Sekarang).
* **Adaptasi:** Melodi rakyat ini kemudian diadaptasi menjadi melodi pujian. Karena berasal dari tradisi Wales—yang dikenal dengan tradisi menyanyi paduan suara yang kuat dan megah—melodi "St. Denio" memiliki karakter yang sangat gagah, kuat, dan penuh kemenangan.
Kombinasi antara lirik yang sangat dalam/filosofis dengan melodi rakyat Wales yang semangat menciptakan kontras yang indah: kita memuji Tuhan yang jauh tak terjangkau, namun dengan nada yang bersemangat dan inklusif.
### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Keunikan lagu ini terletak pada cara Smith menggambarkan "Paradoks Tuhan":
* Tuhan digambarkan sebagai cahaya, namun cahaya yang terlalu terang sehingga manusia tidak bisa melihat-Nya (*"In light inaccessible hid from our eyes"*).
* Tuhan digambarkan sebagai sumber kehidupan, namun Ia sendiri tidak memiliki awal atau akhir.
Lagu ini menjadi pengingat bagi manusia untuk tidak merasa sudah "mengenal segalanya" tentang Tuhan. Ini adalah sebuah pujian yang penuh kerendahan hati.
### Kesimpulan
"Abadi Tak Nampak" adalah perpaduan antara **intelektualitas teologi Skotlandia** (melalui Walter Chalmers Smith) dan **semangat kemegahan musik tradisional Wales**. Lagu ini bertahan selama lebih dari 150 tahun karena ia berhasil menjawab kerinduan manusia untuk menyembah sesuatu yang jauh lebih besar, lebih mulia, dan lebih abadi daripada kehidupan duniawi yang fana.
Dalam ibadah, lagu ini sering digunakan untuk membuka kebaktian karena nadanya yang membangkitkan rasa hormat dan kekaguman terhadap keagungan Tuhan.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan lagu ini:
### 1. Penulis: Walter Chalmers Smith
Lagu ini ditulis oleh **Walter Chalmers Smith** (1824–1908), seorang pendeta dari *Free Church of Scotland*. Smith adalah seorang tokoh yang intelektual, seorang penyair, dan pengamat budaya yang tajam. Ia tidak hanya menulis lagu rohani, tetapi juga banyak menulis puisi sekuler.
Ia menulis lirik ini pada tahun **1867** dan pertama kali menerbitkannya dalam bukunya yang berjudul *Hymns of Christ and the Christian Life*.
### 2. Inspirasi Teologis: Sifat Allah yang Tak Terjangkau
Inspirasi utama lagu ini berasal dari **1 Timotius 1:17**, yang berbunyi:
> *"Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa. Amin."*
Smith ingin menangkap konsep teologis yang sangat agung, yaitu **transendensi Allah**. Dalam masa di mana banyak orang mencoba mendefinisikan atau "menjinakkan" Tuhan melalui logika manusia, Smith justru menekankan bahwa Tuhan itu melampaui pemahaman manusia. Ia menggunakan istilah seperti:
* *Immortal* (Abadi/Kekal)
* *Invisible* (Tak Nampak)
* *Inaccessible* (Tak Terjangkau)
* *Invisible light* (Cahaya yang tak terlihat)
Smith mengajak jemaat untuk kagum (awe) terhadap kebesaran Allah yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, namun nyata melalui karya penciptaan-Nya.
### 3. Melodi: "St. Denio" (Tradisi Wales)
Meskipun liriknya ditulis oleh Smith, keindahan lagu ini tidak lepas dari melodinya yang megah. Melodi ini dikenal dengan nama **"St. Denio"**.
* **Asal-usul:** Melodi ini berasal dari lagu rakyat tradisional Wales yang berjudul *"Can Mlynedd i nawr"* (Seratus Tahun dari Sekarang).
* **Adaptasi:** Melodi rakyat ini kemudian diadaptasi menjadi melodi pujian. Karena berasal dari tradisi Wales—yang dikenal dengan tradisi menyanyi paduan suara yang kuat dan megah—melodi "St. Denio" memiliki karakter yang sangat gagah, kuat, dan penuh kemenangan.
Kombinasi antara lirik yang sangat dalam/filosofis dengan melodi rakyat Wales yang semangat menciptakan kontras yang indah: kita memuji Tuhan yang jauh tak terjangkau, namun dengan nada yang bersemangat dan inklusif.
### 4. Mengapa Lagu Ini Begitu Berkesan?
Keunikan lagu ini terletak pada cara Smith menggambarkan "Paradoks Tuhan":
* Tuhan digambarkan sebagai cahaya, namun cahaya yang terlalu terang sehingga manusia tidak bisa melihat-Nya (*"In light inaccessible hid from our eyes"*).
* Tuhan digambarkan sebagai sumber kehidupan, namun Ia sendiri tidak memiliki awal atau akhir.
Lagu ini menjadi pengingat bagi manusia untuk tidak merasa sudah "mengenal segalanya" tentang Tuhan. Ini adalah sebuah pujian yang penuh kerendahan hati.
### Kesimpulan
"Abadi Tak Nampak" adalah perpaduan antara **intelektualitas teologi Skotlandia** (melalui Walter Chalmers Smith) dan **semangat kemegahan musik tradisional Wales**. Lagu ini bertahan selama lebih dari 150 tahun karena ia berhasil menjawab kerinduan manusia untuk menyembah sesuatu yang jauh lebih besar, lebih mulia, dan lebih abadi daripada kehidupan duniawi yang fana.
Dalam ibadah, lagu ini sering digunakan untuk membuka kebaktian karena nadanya yang membangkitkan rasa hormat dan kekaguman terhadap keagungan Tuhan.