Informasi Lagu
127
Nomor
Kode
PKJ 127
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
George C. Stebbins
Pencipta Syair
Adelaide A. Pollard
Cross Ref.
NKB 14, KK 396, NP 241, NKI 102, KPPK 248
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 4 bait
Jadilah, Tuhan, kehendakMu: ‘ku tanah liat di tanganMu. Bentuklah aku sesukaMu, aku nantikan sentuhanMu.
Jadilah, Tuhan, kehendakMu! Sucikan hati, pikiranku. Tiliklah aku dan ujilah ‘ku di depanMu sujud sembah.
Jadilah, Tuhan, kehendakMu! Segala kuasa di tanganMu. Tolonglah, Tuhan, aku lemah, jamahlah aku, kuatkanlah.
Jadilah, Tuhan, kehendakMu! Berilah RohMu kepadaku. Kehidupanku kuasailah hingga t’rang Kristus tampak cerah.
Slide Lirik 4 slide
Slide 1 — PKJ 127 1
Slide 2 — PKJ 127 2
Slide 3 — PKJ 127 3
Slide 4 — PKJ 127 4
Partitur / Not
Partitur Chord PKJ 127
Sejarah Lagu
Kisah di balik lagu rohani yang sangat dicintai, "Jadilah, Tuhan, Kehendak-Mu" (Have Thine Own Way, Lord!), adalah narasi yang mengharukan tentang penyerahan diri, iman di tengah keputusasaan, dan inspirasi ilahi. Lagu ini adalah buah dari kolaborasi antara lirik yang ditulis oleh **Adelaide Addison Pollard** dan melodi yang digubah oleh **George Coles Stebbins**.

Mari kita selami kisah detailnya:

---

### Latar Belakang Adelaide Addison Pollard (Penulis Lirik)

Adelaide Addison Pollard (1862–1934) adalah seorang wanita yang dikenal dengan kepribadiannya yang tenang dan sederhana. Ia adalah seorang guru dan penulis himne yang hidup pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sebuah periode di mana lagu-lagu rohani kebangunan rohani menjadi sangat populer. Meskipun ia menulis beberapa himne lain, "Have Thine Own Way, Lord!" adalah karyanya yang paling terkenal dan abadi.

Pada tahun 1907, Adelaide Pollard mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Ia merasa sangat tertekan, kecewa, dan frustrasi. Ia merasa bahwa usahanya untuk melayani Tuhan dan melakukan kehendak-Nya tampaknya tidak membuahkan hasil atau diterima. Hatinya dipenuhi dengan perasaan tidak memadai dan keputusasaan tentang arah hidupnya. Ia berdoa agar Tuhan menunjukkan kepadanya jalan dan tujuannya, tetapi jawabannya terasa jauh.

### Momen Inspirasi yang Tak Terduga

Suatu malam di tahun 1907, dalam keadaan yang sangat terbeban, Adelaide Pollard menghadiri sebuah pertemuan doa atau kebaktian kecil di sebuah misi di Brooklyn, New York. Saat itu adalah salah satu malam di mana ia merasa sangat rendah, meragukan panggilannya dan perannya dalam rencana Tuhan.

Selama pertemuan tersebut, ia mendengar seorang wanita tua, mungkin seorang imigran, yang dikenal karena kesalehannya, bangkit untuk berdoa. Wanita tua itu tidak menggunakan kata-kata yang muluk-muluk atau tata bahasa yang sempurna, tetapi doanya berasal dari hati yang murni dan penuh iman. Dengan kesederhanaan namun keyakinan yang mendalam, wanita tua itu berdoa, mengucapkan kata-kata yang menusuk hati Adelaide Pollard:

"**It's all right, Lord. It doesn't matter what you bring to our lives, just 'have Thine own way' with us. It’s all right, Lord, whatever it is. Just 'have Thine own way' with us.**"

(Kurang lebih: "Tidak apa-apa, Tuhan. Tidak peduli apa yang Engkau bawa ke dalam hidup kami, cukuplah 'Jadilah Kehendak-Mu' saja atas kami. Tidak apa-apa, Tuhan, apa pun itu. Cukuplah 'Jadilah Kehendak-Mu' saja atas kami.")

Doa yang tulus dan penuh penyerahan diri dari wanita tua yang sederhana itu menjadi pencerahan bagi Adelaide. Kata-kata "Jadilah Kehendak-Mu" atau "Have Thine Own Way" bergaung dalam jiwanya. Ia menyadari bahwa ia telah mencoba melakukan hal-hal dengan caranya sendiri, berjuang dengan frustrasi karena ia merasa Tuhan tidak mendukung "rencana"-nya. Namun, yang Tuhan inginkan hanyalah penyerahan total, untuk membiarkan Dia menjadi Penjunan dan dirinya menjadi tanah liat.

### Proses Penulisan Lirik

Terinspirasi secara mendalam oleh doa itu, Adelaide Pollard segera pulang ke rumah. Perasaan tertekan dan kekecewaannya lenyap, digantikan oleh kedamaian dan penyerahan diri. Ia duduk dan menuliskan empat bait lirik yang sekarang kita kenal, dengan referensi jelas pada Yeremia 18:1-6 dan Yesaya 64:8 tentang Allah sebagai Penjunan dan manusia sebagai tanah liat.

Setiap bait liriknya mencerminkan perjalanan iman menuju penyerahan yang sempurna:

1. **Ayat pertama:** Menggambarkan kerelaan total untuk dibentuk oleh Tuhan, bahkan jika itu berarti kehancuran dan pembangunan kembali.
> *Jadilah, Tuhan, Kehendak-Mu! Engkau sang Penjunan, aku tanah liat.*
> *Bentulah dan ubahlah aku, menurut kehendak-Mu, sambil aku menunggu, rendah hati dan patuh.*

2. **Ayat kedua:** Permohonan untuk disucikan dan dibersihkan dari segala dosa dan kelemahan, agar menjadi layak bagi Tuhan.
> *Jadilah, Tuhan, Kehendak-Mu! Selidikilah aku, dan cobalah.*
> *Putihkan aku lebih putih daripada salju, Tuhan, Penjunan yang sejati.*

3. **Ayat ketiga:** Permohonan agar Tuhan menguasai dan memenuhi dirinya, mengisinya dengan Roh Kudus dan kuasa-Nya.
> *Jadilah, Tuhan, Kehendak-Mu! Penuhilah aku dengan kuasa-Mu.*
> *Sentuh dan gerakkanlah jiwaku, kuasailah, Tuhanku, sekarang.*

4. **Ayat keempat:** Mengungkapkan janji untuk setia dan patuh, dan kerinduan agar hidupnya memuliakan Tuhan.
> *Jadilah, Tuhan, Kehendak-Mu! Berilah aku janji-Mu yang penuh.*
> *Baik yang suci dan murni seperti Engkau, oleh Roh dan Firman-Mu.*

### George Coles Stebbins (Komposer Melodi)

Adelaide Pollard kemudian menyerahkan liriknya kepada **George Coles Stebbins** (1846–1945), seorang komposer himne gospel terkemuka yang dikenal karena karyanya dengan evangelis besar Dwight L. Moody dan Ira D. Sankey. Stebbins adalah seorang musisi yang sangat berbakat dan peka terhadap kekuatan lirik rohani.

Ketika Stebbins membaca lirik yang ditulis oleh Adelaide Pollard, ia sangat tersentuh oleh kedalaman emosi dan teologi di dalamnya. Ia menyadari bahwa lirik tersebut berbicara tentang perjuangan universal manusia untuk menyerahkan kendali kepada Tuhan. Dengan kepekaan artistiknya, Stebbins menggubah melodi yang sederhana namun kuat, yang sangat cocok dengan nada penyerahan, kerendahan hati, dan harapan dalam lirik tersebut. Melodinya mengalir dengan lembut, namun memiliki resonansi yang mendalam, memungkinkan jemaat untuk meresapi setiap kata.

### Penerbitan dan Warisan

Lagu "Have Thine Own Way, Lord!" dengan lirik Adelaide Pollard dan melodi George C. Stebbins diterbitkan pada tahun **1907**. Lagu ini dengan cepat menyebar dan menjadi favorit di gereja-gereja, pertemuan kebangunan rohani, dan ibadah pribadi di seluruh dunia berbahasa Inggris, dan kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa lain, termasuk Indonesia ("Jadilah, Tuhan, Kehendak-Mu").

Pesannya yang sederhana namun mendalam berbicara langsung ke hati banyak orang yang sedang bergumul dengan penyerahan diri, mencari tujuan hidup, atau menghadapi kesulitan. Ini menjadi himne penghiburan dan kekuatan, mengingatkan orang-orang percaya bahwa Tuhan adalah Penjunan yang bijaksana, yang membentuk dan mengubah kita untuk kemuliaan-Nya sendiri, jika saja kita bersedia menyerahkan diri sepenuhnya sebagai tanah liat di tangan-Nya.

Hingga hari ini, lagu ini tetap menjadi salah satu himne yang paling dicintai, sering dinyanyikan dalam berbagai kesempatan, mulai dari saat-saat duka dan krisis pribadi hingga momen-momen dedikasi dan pujian di gereja. Ini adalah bukti kekuatan kolaborasi antara lirik yang terinspirasi oleh pengalaman pribadi dan doa, serta melodi yang mengangkut pesan tersebut ke dalam jiwa.
Kembali ke PKJ