Informasi Lagu
54
Nomor
Kode
PKJ 54
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
93
Style
FingerPickin
Pencipta Lagu
Tradisional Tiongkok
Pencipta Syair
Folliott S. Pierpoint
Cross Ref.
KK 128, NKB 32b
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Atas bumi nan permai, atas langit nan cerah, Atas kasih tersemai dalam hidup semesta: Tuhan, Raja semesta, bagiMu syukur, syukur, puji dan sembah!
Atas tiap kurnia pada pagi dan petang, Atas bukit dan lembah, surya bintang cemerlang:
Atas kasih nan mesra antara manusia, Atas sanak saudara disorga, didunia:
Atas umat yang teguh dalam doa dan kerja, Bakti kasih padaMu diseluruh dunia:
Atas kurban kasihMu yang tiada taranya, tidak lain: Dirimu bagi kami s’lamanya:
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — PKJ 54 1
Slide 2 — PKJ 54 2
Slide 3 — PKJ 54 3
Slide 4 — PKJ 54 4
Slide 5 — PKJ 54 5
Partitur / Not
Partitur Chord PKJ 54
Sejarah Lagu
Lagu "For the Beauty of the Earth" (dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan menjadi "Atas Bumi Nan Permai" atau "Untuk Keindahan Bumi") adalah sebuah himne pujian yang sangat dicintai dan dinyanyikan di seluruh dunia. Kisah di baliknya melibatkan dua tokoh utama: Folliott Sanford Pierpoint sebagai penulis lirik, dan, untuk konteks yang Anda minta, I-To Loh sebagai komposer atau arranger yang memberikan sentuhan musik yang khas, meskipun himne ini juga memiliki melodi tradisional yang lebih tua dan sangat terkenal.

Mari kita selami kisah detailnya:

---

### Bagian 1: Kisah di Balik Lirik - Folliott Sanford Pierpoint

**Penulis Lirik:** Folliott Sanford Pierpoint (1835–1917)
**Tahun Ditulis:** 1864
**Lokasi:** Bath, Inggris

Folliott Sanford Pierpoint adalah seorang penyair dan penulis himne berkebangsaan Inggris. Ia dikenal sebagai seorang Anglikan yang taat dan hidup sederhana. Pada tahun 1864, saat berusia 29 tahun, Pierpoint tinggal di kota Bath, sebuah kota yang indah di barat daya Inggris, terkenal dengan arsitektur Georgia-nya dan pemandian Romawi kuno.

**Inspirasi dan Latar Belakang Penulisan:**
Diperkirakan bahwa Pierpoint menulis lirik ini sambil berjalan-jalan di sekitar Bath atau di tepi Sungai Avon yang mengalir melalui kota tersebut. Ia adalah seorang yang sangat mengagumi keindahan alam dan ciptaan Tuhan. Lirik "For the Beauty of the Earth" lahir dari hati yang penuh rasa syukur dan kekaguman atas segala anugerah yang diberikan Tuhan.

Liriknya dirangkai dengan gaya yang progresif, mulai dari hal-hal yang paling nyata dan dapat dirasakan panca indera, hingga kepada hal-hal yang lebih abstrak dan spiritual:

1. **Keindahan Alam:** Ia memulai dengan rasa syukur atas "keindahan bumi," "langit biru," "sinar mentari," "bulan dan bintang," "angin dan hujan," serta "bunga-bunga yang mekar." Ini adalah pengakuan akan keagungan penciptaan yang terlihat.
2. **Anugerah dalam Kehidupan Manusia:** Kemudian ia memperluas rasa syukur itu kepada anugerah dalam kehidupan manusia, seperti "rasa cinta yang tulus," "ikatan kekeluargaan," "persahabatan," dan "kasih sayang sesama."
3. **Anugerah Rohani:** Selanjutnya, liriknya bergerak ke dimensi spiritual, bersyukur atas "gereja yang kudus," "firman-Mu yang mulia," "para kudus yang mulia," dan "sakramen yang suci."
4. **Puncak Rasa Syukur:** Di puncaknya, semua rasa syukur itu diarahkan kepada Sumber dari segala keindahan dan anugerah: Tuhan sendiri. Refrain "Christ, our God, to Thee we raise / This our hymn of grateful praise" (Kristus, Allah kami, kepada-Mu kami naikkan / Pujian syukur ini) mengikat semua elemen syukur menjadi satu kesatuan.

**Publikasi Awal:**
Lirik ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1864 dalam sebuah majalah gereja bernama "The People's Hymnal." Sejak awal, strukturnya yang berima dan berirama membuatnya sangat cocok untuk dijadikan himne.

---

### Bagian 2: Kisah di Balik Musik - Kontribusi I-To Loh dan Melodi Tradisional

Meskipun Pierpoint menulis liriknya pada tahun 1864, himne ini kemudian dikenal dengan beberapa melodi yang berbeda. Yang paling terkenal secara global adalah melodi yang dikenal sebagai **"DIX"**.

**Melodi "DIX" (Melodi Paling Populer Secara Global):**
* **Komposer Awal:** Conrad Kocher (1786–1872), seorang musisi Jerman, pada tahun 1838.
* **Adaptasi:** William Henry Monk (1823–1889), seorang organis dan komposer Inggris, pada tahun 1861.

Melodi "DIX" awalnya diciptakan oleh Kocher untuk sebuah himne berbahasa Jerman. Kemudian, William Henry Monk mengadaptasinya untuk himne-himne berbahasa Inggris, terutama untuk lagu Natal "As with Gladness Men of Old." Melodi ini baru dipasangkan dengan lirik Pierpoint "For the Beauty of the Earth" pada edisi 1889 dari himne "Hymns Ancient and Modern," dan sejak saat itu menjadi kombinasi yang paling abadi dan dikenal luas di gereja-gereja Protestan dan Katolik di seluruh dunia. Melodi ini sederhana, mudah diingat, namun tetap megah dan inspiratif.

**Kontribusi I-To Loh:**
Permintaan Anda secara spesifik menyebutkan I-To Loh, yang menunjukkan bahwa versi musik beliau memiliki relevansi khusus, terutama di Indonesia atau di kalangan jemaat yang akrab dengan aransemennya.

* **I-To Loh (lahir 1935):** Adalah seorang etnomusikolog dan komposer terkemuka asal Indonesia yang banyak berkarya di Taiwan dan diakui secara internasional. Beliau terkenal karena menggabungkan tradisi musik gereja Barat dengan elemen-elemen musik Asia dan dunia.

* **Peran I-To Loh:** Penting untuk dicatat bahwa I-To Loh *bukanlah* komposer melodi "DIX" yang paling terkenal. Kemungkinan besar, I-To Loh telah menciptakan **aransemen baru** atau **melodi baru** untuk lirik "For the Beauty of the Earth" yang sangat populer di komunitas tertentu, termasuk di Indonesia. Karya-karya I-To Loh seringkali ditandai dengan:
* **Orkestrasi yang Kaya:** Ia sering menggunakan instrumen tradisional atau menggabungkan gaya vokal yang berbeda.
* **Harmoni yang Segar:** Memberikan sentuhan modern atau etnik pada harmoni tradisional.
* **Estetika Lintas Budaya:** Membuat himne terasa lebih relevan atau akrab bagi pendengar dengan latar belakang budaya Asia.

Dalam konteks di mana nama I-To Loh disebutkan bersamaan dengan himne ini, ini menunjukkan bahwa jemaat atau individu yang Anda maksud mungkin lebih mengenal dan mencintai versi musik yang telah digubah atau diaransemen oleh I-To Loh. Versi beliau mungkin memberikan nuansa yang berbeda—mungkin lebih kaya, lebih kontemplatif, atau lebih "Asia"—dibandingkan dengan melodi "DIX" yang lebih tradisional.

---

### Dampak dan Warisan

"For the Beauty of the Earth" telah menjadi salah satu himne yang paling dicintai dan sering dinyanyikan dalam berbagai ibadah syukur, pernikahan, perayaan hari panen, dan momen-momen lain yang membutuhkan ekspresi syukur.

Pesan liriknya yang universal—yaitu pengakuan dan penghargaan atas keindahan ciptaan Tuhan dalam segala bentuknya, baik alamiah maupun spiritual—membuatnya abadi dan melampaui batas denominasi gereja. Kombinasi lirik yang puitis dan melodi yang indah (baik "DIX" maupun aransemen lain seperti oleh I-To Loh) telah memastikan tempatnya sebagai himne syukur yang tak lekang oleh waktu, yang terus menginspirasi jutaan orang untuk menaikkan pujian kepada Sang Pencipta.

Jadi, ketika kita menyanyikan "Atas Bumi Nan Permai," kita tidak hanya merayakan keindahan alam di sekitar kita, tetapi juga mengenang hati yang penuh syukur dari seorang penyair di Inggris abad ke-19 dan sentuhan musikal dari berbagai komposer, termasuk kontribusi unik dari I-To Loh yang membawa nuansa baru pada himne klasik ini.
Kembali ke PKJ