KK
B'rapa Lama Kita Bernyanyi
Until All Are Fed
Informasi Lagu
580
Nomor
do = es
Nada Dasar
Kode
KK 580
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
do = es
Ketukan
4/4 ketuk
Metronom
76
Jumlah Bait
4 bait
Pencipta Lagu
Sally Morris and Bryan Field McFarland (2010)
Pencipta Syair
Tommy Brown and Bryan Field McFarland (2010)
Penerjemah
Yamuger (2016)
Cross Ref.
WCC 21
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
4 bait
B’rapa lama kita bernyanyi,
berdoa dan t’rus menulis?
B’rapa lama kita mengubah
semua yang tak benar?
Reff
Sampai tiap orang makan
dan semuanya kenyang.
S’perti Tuhan mengasihi kita,
marilah melayani!
B’rapa lama kita bicara
dan juga kita ‘kan diam?
B’rapa lama kita ‘kan resah,
dan harus tetap tegar?
Reff
Bagaimana kita ‘kan tegak
dan melakukan yang baik?
Bagaimana kita merendah
dan melihat sinar t’rang?
Reff
S’perti rumput hijau di taman,
mereka terus menyatu.
Mari kita satu, saling memberi,
teruslah melayani.
Reff
Slide Lirik
4 slide
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sama Tema
Pelayanan (Diakonia)
Sejarah Lagu
Lagu "B'rapa Lama Kita Bernyanyi / Until All Are Fed" adalah salah satu lagu ibadah kontemporer yang paling kuat dan menantang, dikenal karena liriknya yang menggugah hati dan melodi yang sederhana namun mendalam. Kisah di balik penciptaannya adalah perpaduan antara pencerahan spiritual dan panggilan untuk keadilan sosial.
Mari kita selami kisah detail di balik lagu ini:
### 1. Bryan Field McFarland: Sebuah Pencerahan di Meja Perjamuan Kudus
Kisah lagu ini bermula dari seorang pendeta Presbyterian bernama **Bryan Field McFarland**. Ia adalah penulis lirik lagu ini.
Pada awal tahun 1990-an, McFarland bertugas di sebuah gereja di kawasan sub-urban yang makmur di pinggiran kota Atlanta, Georgia, AS. Suatu Minggu, saat memimpin Perjamuan Kudus (Eucharist/Komuni), ia mengalami sebuah momen pencerahan spiritual yang sangat mendalam dan mengubah pandangannya.
Saat ia memegang roti dan anggur, dan melihat jemaat yang berbaris maju untuk menerima sakramen—kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berkecukupan, rapi, dan kenyang—McFarland tiba-tiba diliputi oleh perasaan tidak nyaman yang kuat. Ia merenungkan kontras yang mencolok antara kelimpahan di meja perjamuan gerejanya dan realitas kelaparan serta kemiskinan yang melanda miliaran orang di seluruh dunia.
Dalam hati McFarland, muncul pertanyaan-pertanyaan yang menusuk:
* "Berapa lama lagi kita akan bernyanyi di sini, di dalam kenyamanan kita?"
* "Bagaimana kita bisa benar-benar merayakan tubuh Kristus, yang hancur untuk dunia, sementara sebagian besar tubuh-Nya di luar sana kelaparan?"
* "Apakah perjamuan ini hanya untuk kita yang ada di sini, atau ada implikasi yang lebih besar?"
Saat ia kembali ke kursinya setelah mendistribusikan sakramen, perasaan tersebut semakin kuat. Sebuah pemikiran yang jelas dan tak terbantahkan muncul di benaknya, hampir seperti sebuah suara yang bergema: **"Until all are fed."** (Sampai semua orang diberi makan).
Kata-kata itu menjadi sebuah penugasan ilahi baginya. McFarland menyadari bahwa Perjamuan Kudus bukan hanya ritual spiritual pribadi, tetapi juga sebuah panggilan radikal untuk aksi sosial dan keadilan. Ia merasa bahwa perayaan Perjamuan Kudus tidak akan lengkap, dan nyanyian pujian mereka tidak akan benar-benar bergema, sampai gereja secara aktif bekerja untuk memberi makan yang lapar, baik secara fisik maupun spiritual.
Dari momen pencerahan inilah, McFarland menulis lirik yang kuat dan langsung menyentuh hati:
"B'rapa lama kita bernyanyi lagu-lagu kita?" (How long shall we sing our songs?)
"B'rapa lama kita berdoa doa-doa kita?" (How long shall we pray our prayers?)
"B'rapa lama kita percaya iman kita?" (How long shall we believe our faith?)
"Sampai semua orang diberi makan." (Until all are fed.)
### 2. Sally Morris: Melodi yang Mengangkat Panggilan
Setelah menulis lirik tersebut, Bryan Field McFarland menyadari bahwa kata-kata itu membutuhkan melodi yang tepat untuk menyampaikan urgensi dan kedalamannya. Ia kemudian mengirimkan lirik tersebut kepada **Sally Morris**, seorang komposer dan pemimpin ibadah yang dikenal karena kemampuannya menciptakan lagu-lagu ibadah yang menyentuh jiwa.
Sally Morris adalah seorang musisi berbakat yang telah menulis banyak himne dan lagu rohani. Ketika ia menerima lirik dari McFarland, ia segera merasakan kekuatan dan kebenaran pesannya. Ia memahami bahwa lagu ini harus memiliki melodi yang sederhana namun berwibawa, yang dapat dengan mudah dinyanyikan oleh jemaat dan mampu menyoroti pesan inti tanpa mengalihkannya.
Morris kemudian menciptakan melodi yang kini dikenal luas—nada yang agak melankolis namun penuh harapan, yang secara sempurna menangkap esensi lirik McFarland. Melodi ini memiliki kualitas yang meditatif namun juga mendesak, yang cocok dengan tema perjamuan dan panggilan untuk keadilan. Kolaborasi mereka menghasilkan sebuah lagu yang memiliki resonansi spiritual dan sosial yang luar biasa.
### 3. Tommy Brown dan Bryan Field McFarland (Penjelasan atas Variasi Penulis):
Dalam beberapa kredit atau versi, nama **Tommy Brown** juga muncul bersama Bryan Field McFarland, terutama dalam konteks aransemen atau penerbitan. Namun, untuk lirik dan melodi inti yang dikenal luas dari "Until All Are Fed," kontribusi utama adalah Bryan Field McFarland (lirik) dan Sally Morris (melodi).
Kemungkinan, Tommy Brown terlibat dalam proses aransemen musik, produksi rekaman, atau mungkin ada versi musik lain yang ia kontribusikan. Namun, jika merujuk pada lagu yang paling sering dinyanyikan dan diterbitkan secara internasional, kredit utama untuk melodi adalah Sally Morris.
### 4. Resonansi dan Dampak "Until All Are Fed"
Sejak dirilis, lagu "Until All Are Fed" dengan cepat menyebar dan diadopsi oleh berbagai denominasi Kristen di seluruh dunia. Pesannya yang kuat dan relevan menjadikannya favorit dalam ibadah-ibadah yang menekankan keadilan sosial, perayaan Perjamuan Kudus, dan panggilan untuk pelayanan.
* **Panggilan untuk Aksi:** Lagu ini berfungsi sebagai pengingat yang kuat bahwa ibadah tidak berhenti di dalam gedung gereja. Perayaan iman harus mengarah pada tindakan nyata untuk menolong mereka yang membutuhkan.
* **Teologi Perjamuan Kudus:** Lagu ini memperdalam pemahaman tentang Perjamuan Kudus, menjadikannya bukan hanya momen refleksi pribadi tetapi juga pernyataan komitmen untuk menjadi tangan dan kaki Kristus di dunia yang lapar.
* **Relevansi Lintas Budaya:** Pesan tentang kelaparan dan kebutuhan universal akan makanan (fisik dan spiritual) melampaui batasan budaya dan geografis, membuat lagu ini mudah diterjemahkan dan diterima di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, lagu ini dikenal luas dengan judul **"B'rapa Lama Kita Bernyanyi"**. Terjemahan liriknya mempertahankan kekuatan pesan aslinya, dan sering dinyanyikan dalam ibadah Perjamuan Kudus atau dalam konteks pelayanan sosial gereja-gereja.
Secara keseluruhan, "B'rapa Lama Kita Bernyanyi / Until All Are Fed" bukan hanya sebuah lagu, tetapi sebuah seruan kenabian yang lahir dari kontemplasi mendalam tentang makna iman Kristen dan panggilan untuk mewujudkan kerajaan Allah di bumi, di mana "sampai semua orang diberi makan."
Mari kita selami kisah detail di balik lagu ini:
### 1. Bryan Field McFarland: Sebuah Pencerahan di Meja Perjamuan Kudus
Kisah lagu ini bermula dari seorang pendeta Presbyterian bernama **Bryan Field McFarland**. Ia adalah penulis lirik lagu ini.
Pada awal tahun 1990-an, McFarland bertugas di sebuah gereja di kawasan sub-urban yang makmur di pinggiran kota Atlanta, Georgia, AS. Suatu Minggu, saat memimpin Perjamuan Kudus (Eucharist/Komuni), ia mengalami sebuah momen pencerahan spiritual yang sangat mendalam dan mengubah pandangannya.
Saat ia memegang roti dan anggur, dan melihat jemaat yang berbaris maju untuk menerima sakramen—kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berkecukupan, rapi, dan kenyang—McFarland tiba-tiba diliputi oleh perasaan tidak nyaman yang kuat. Ia merenungkan kontras yang mencolok antara kelimpahan di meja perjamuan gerejanya dan realitas kelaparan serta kemiskinan yang melanda miliaran orang di seluruh dunia.
Dalam hati McFarland, muncul pertanyaan-pertanyaan yang menusuk:
* "Berapa lama lagi kita akan bernyanyi di sini, di dalam kenyamanan kita?"
* "Bagaimana kita bisa benar-benar merayakan tubuh Kristus, yang hancur untuk dunia, sementara sebagian besar tubuh-Nya di luar sana kelaparan?"
* "Apakah perjamuan ini hanya untuk kita yang ada di sini, atau ada implikasi yang lebih besar?"
Saat ia kembali ke kursinya setelah mendistribusikan sakramen, perasaan tersebut semakin kuat. Sebuah pemikiran yang jelas dan tak terbantahkan muncul di benaknya, hampir seperti sebuah suara yang bergema: **"Until all are fed."** (Sampai semua orang diberi makan).
Kata-kata itu menjadi sebuah penugasan ilahi baginya. McFarland menyadari bahwa Perjamuan Kudus bukan hanya ritual spiritual pribadi, tetapi juga sebuah panggilan radikal untuk aksi sosial dan keadilan. Ia merasa bahwa perayaan Perjamuan Kudus tidak akan lengkap, dan nyanyian pujian mereka tidak akan benar-benar bergema, sampai gereja secara aktif bekerja untuk memberi makan yang lapar, baik secara fisik maupun spiritual.
Dari momen pencerahan inilah, McFarland menulis lirik yang kuat dan langsung menyentuh hati:
"B'rapa lama kita bernyanyi lagu-lagu kita?" (How long shall we sing our songs?)
"B'rapa lama kita berdoa doa-doa kita?" (How long shall we pray our prayers?)
"B'rapa lama kita percaya iman kita?" (How long shall we believe our faith?)
"Sampai semua orang diberi makan." (Until all are fed.)
### 2. Sally Morris: Melodi yang Mengangkat Panggilan
Setelah menulis lirik tersebut, Bryan Field McFarland menyadari bahwa kata-kata itu membutuhkan melodi yang tepat untuk menyampaikan urgensi dan kedalamannya. Ia kemudian mengirimkan lirik tersebut kepada **Sally Morris**, seorang komposer dan pemimpin ibadah yang dikenal karena kemampuannya menciptakan lagu-lagu ibadah yang menyentuh jiwa.
Sally Morris adalah seorang musisi berbakat yang telah menulis banyak himne dan lagu rohani. Ketika ia menerima lirik dari McFarland, ia segera merasakan kekuatan dan kebenaran pesannya. Ia memahami bahwa lagu ini harus memiliki melodi yang sederhana namun berwibawa, yang dapat dengan mudah dinyanyikan oleh jemaat dan mampu menyoroti pesan inti tanpa mengalihkannya.
Morris kemudian menciptakan melodi yang kini dikenal luas—nada yang agak melankolis namun penuh harapan, yang secara sempurna menangkap esensi lirik McFarland. Melodi ini memiliki kualitas yang meditatif namun juga mendesak, yang cocok dengan tema perjamuan dan panggilan untuk keadilan. Kolaborasi mereka menghasilkan sebuah lagu yang memiliki resonansi spiritual dan sosial yang luar biasa.
### 3. Tommy Brown dan Bryan Field McFarland (Penjelasan atas Variasi Penulis):
Dalam beberapa kredit atau versi, nama **Tommy Brown** juga muncul bersama Bryan Field McFarland, terutama dalam konteks aransemen atau penerbitan. Namun, untuk lirik dan melodi inti yang dikenal luas dari "Until All Are Fed," kontribusi utama adalah Bryan Field McFarland (lirik) dan Sally Morris (melodi).
Kemungkinan, Tommy Brown terlibat dalam proses aransemen musik, produksi rekaman, atau mungkin ada versi musik lain yang ia kontribusikan. Namun, jika merujuk pada lagu yang paling sering dinyanyikan dan diterbitkan secara internasional, kredit utama untuk melodi adalah Sally Morris.
### 4. Resonansi dan Dampak "Until All Are Fed"
Sejak dirilis, lagu "Until All Are Fed" dengan cepat menyebar dan diadopsi oleh berbagai denominasi Kristen di seluruh dunia. Pesannya yang kuat dan relevan menjadikannya favorit dalam ibadah-ibadah yang menekankan keadilan sosial, perayaan Perjamuan Kudus, dan panggilan untuk pelayanan.
* **Panggilan untuk Aksi:** Lagu ini berfungsi sebagai pengingat yang kuat bahwa ibadah tidak berhenti di dalam gedung gereja. Perayaan iman harus mengarah pada tindakan nyata untuk menolong mereka yang membutuhkan.
* **Teologi Perjamuan Kudus:** Lagu ini memperdalam pemahaman tentang Perjamuan Kudus, menjadikannya bukan hanya momen refleksi pribadi tetapi juga pernyataan komitmen untuk menjadi tangan dan kaki Kristus di dunia yang lapar.
* **Relevansi Lintas Budaya:** Pesan tentang kelaparan dan kebutuhan universal akan makanan (fisik dan spiritual) melampaui batasan budaya dan geografis, membuat lagu ini mudah diterjemahkan dan diterima di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, lagu ini dikenal luas dengan judul **"B'rapa Lama Kita Bernyanyi"**. Terjemahan liriknya mempertahankan kekuatan pesan aslinya, dan sering dinyanyikan dalam ibadah Perjamuan Kudus atau dalam konteks pelayanan sosial gereja-gereja.
Secara keseluruhan, "B'rapa Lama Kita Bernyanyi / Until All Are Fed" bukan hanya sebuah lagu, tetapi sebuah seruan kenabian yang lahir dari kontemplasi mendalam tentang makna iman Kristen dan panggilan untuk mewujudkan kerajaan Allah di bumi, di mana "sampai semua orang diberi makan."