Informasi Lagu
264
Nomor
Kode
KK 264
Buku
Kidung Keesaan
Metronom
0
Pencipta Lagu
Charles Austi N Miles
Pencipta Syair
Charles Austin Miles
Cross Ref.
PKJ 246
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 3 bait
Waktu fajar di taman sepi datanglah Maria ke kubur; kubur kosong yang ditemukannya. Tílah bangkit Tuhan Yesus! Dan suara Yesus memanggilnya, bergembiralah hatinya! Sungguh indah persekutuannya bersama dengan Yesus.
Dan sekarang di saat teduh aku datang mencari Tuhan; ingin ëku ikut dan menyapaNya, bersatu dengan Tuhan. Dan suara Yesus memanggilku, bergembiralah hatiku! Sungguh indah persekutuanku bersama dengan Yesus.
Ingin ëku tetap bersamaNya hidup damai aman sentosa; namun Tuhan mengutus ëku pergi, bíritakan kebangkitan. Dan suara Yesus memanggilku, bergembiralah hatiku! Sungguh indah persekutuanku bersama dengan Yesus.
Slide Lirik 3 slide
Slide 1 — KK 264 1
Slide 2 — KK 264 2
Slide 3 — KK 264 3
Partitur / Not
Partitur Chord KK 264
Cross Reference
Sejarah Lagu
"Waktu Fajar Di Taman Sepi" atau yang lebih dikenal dengan judul aslinya, "In The Garden" (terkadang juga "Come To The Garden Alone"), adalah salah satu lagu himne Injili paling dicintai dan abadi yang pernah ditulis. Diciptakan pada tahun 1912 oleh Charles Austin Miles, lagu ini memiliki kisah inspiratif yang mendalam di baliknya, yang mencerminkan kerinduan akan persekutuan pribadi dengan Tuhan.

Berikut adalah kisah detail di balik lagu tersebut:

**1. Sang Komposer: Charles Austin Miles (1868-1946)**

Charles Austin Miles adalah seorang penulis lagu, penyair, dan komposer himne asal Amerika yang sangat produktif. Lahir di Lake Swatara, Pennsylvania, ia awalnya dilatih sebagai ahli farmasi, lulus dari Philadelphia College of Pharmacy. Namun, passion-nya terhadap musik dan iman Kristen mendorongnya untuk mengejar karir di bidang musik dan penerbitan.

Miles kemudian belajar musik di University of Pennsylvania dan menjadi direktur musik untuk Hall-Mack Company, sebuah penerbit musik Kristen terkemuka, dan kemudian untuk Hope Publishing Company. Sepanjang hidupnya, ia menulis lebih dari 300 lagu Injili, banyak di antaranya menjadi sangat populer, tetapi "In The Garden" tetap menjadi karyanya yang paling terkenal dan bertahan lama. Miles adalah seorang pria yang sangat religius, dengan iman yang kuat pada hubungan pribadi dengan Yesus Kristus.

**2. Momen Inspirasi yang Mendalam (1912)**

Kisah di balik penciptaan "In The Garden" seringkali diceritakan sebagai pengalaman spiritual yang sangat kuat bagi Miles. Ia sendiri menyatakan bahwa lagu ini tidak sekadar "ditulis," tetapi lebih seperti "diberikan" kepadanya melalui momen inspirasi ilahi.

Suatu malam di musim dingin tahun 1912, Miles sedang duduk di ruang musik di rumahnya di Philadelphia. Ia sedang merenungkan bagian Alkitab dari Injil Yohanes pasal 20, yang menceritakan peristiwa kebangkitan Yesus. Secara khusus, pikirannya terpusat pada adegan di mana Maria Magdalena pertama kali menemukan kuburan Yesus kosong, kemudian berbalik dan melihat seseorang yang ia kira adalah tukang kebun, tetapi ternyata adalah Yesus yang telah bangkit.

Miles menggambarkan bahwa saat itu, ia seolah-olah dibawa ke dalam adegan itu sendiri. Ia merasakan kehadiran Tuhan dengan sangat kuat. Ia memejamkan mata dan "melihat" kuburan yang kosong, taman yang sunyi di pagi hari, dan Maria Magdalena yang sedang menangis. Kemudian, ia "mendengar" suara Yesus memanggil nama Maria, dan tanggapan Maria yang penuh kerinduan, "Rabboni!" (Guru!).

Miles sendiri pernah berkata, "It was in 1912 that I was pondering over John 20... I wrote it out in the studio of my home in Philadelphia. The picture that I had before me was Mary Magdalene and her visit to the tomb. She had just found it empty and, as she stood there weeping, she turned around and saw a Man standing beside her, and she thought it was the gardener. Her eyes were so filled with tears she couldn't see Him. But when He spoke, she recognized Him. It was the Christ." (Pada tahun 1912 saya sedang merenungkan Yohanes 20... Saya menuliskannya di studio rumah saya di Philadelphia. Gambaran yang ada di depan saya adalah Maria Magdalena dan kunjungannya ke makam. Dia baru saja menemukan makam itu kosong dan, saat dia berdiri di sana menangis, dia berbalik dan melihat seorang Pria berdiri di sampingnya, dan dia mengira itu adalah tukang kebun. Matanya begitu penuh air mata sehingga dia tidak bisa melihat-Nya. Tetapi ketika Dia berbicara, dia mengenali-Nya. Itu adalah Kristus.)

**3. Penulisan Lirik dan Melodi**

Dalam momen inspirasi yang mendalam itu, lirik dan melodi lagu "In The Garden" mengalir keluar dari Charles Austin Miles dengan cepat. Ia tidak perlu bersusah payah mencari kata-kata atau nada; ia merasa seolah-olah sedang "mendikte" apa yang ia dengar dan rasakan secara spiritual.

Lirik lagu dengan indah menangkap esensi persekutuan pribadi dengan Tuhan:

* **Verse 1:** Menggambarkan kedatangan ke taman di pagi hari, saat embun masih menempel di mawar, sebuah metafora untuk kesegaran dan permulaan yang baru dalam persekutuan.
* "I come to the garden alone, While the dew is still on the roses, And the voice I hear, Falling on my ear, The Son of God discloses."
* (Ku datang ke taman sendiri, Sementara embun masih di mawar, Dan suara yang kudengar, Jatuh di telingaku, Sang Anak Allah menyatakan.)

* **Chorus:** Ini adalah inti dari lagu tersebut, mengungkapkan kedekatan dan jaminan ilahi.
* "And He walks with me, and He talks with me, And He tells me I am His own; And the joy we share as we tarry there, None other has ever known."
* (Dan Dia berjalan bersamaku, dan Dia berbicara denganku, Dan Dia memberitahuku bahwa aku milik-Nya; Dan sukacita yang kami bagi saat kami tinggal di sana, Belum pernah diketahui orang lain.)

* **Verse 2 & 3:** Terus mengembangkan tema persekutuan yang manis dan kesediaan untuk tetap berada di hadirat-Nya, bahkan ketika orang lain mungkin tidak memahami kedalaman pengalaman tersebut.

**4. Makna dan Dampak**

"In The Garden" segera diterbitkan oleh Hall-Mack Company dan dengan cepat menyebar ke seluruh gereja-gereja Protestan di Amerika Utara. Daya tariknya terletak pada kesederhanaan lirik dan melodi yang mudah diingat, serta pesan yang kuat tentang hubungan pribadi dan intim dengan Yesus.

Lagu ini menangkap kerinduan universal banyak orang percaya untuk mengalami kedekatan yang nyata dengan Tuhan, bukan hanya melalui doktrin atau ritual, tetapi sebagai teman yang berjalan dan berbicara. Melodi yang menenangkan dan lirik yang menghibur memberikan pengharapan dan kedamaian bagi jutaan orang.

Meskipun kadang-kadang dikritik karena dianggap terlalu sentimental atau terlalu "akrab" dalam menggambarkan hubungan dengan Yesus (beberapa merasa itu mengurangi keilahian-Nya), bagi sebagian besar orang, justru inilah kekuatannya. "In The Garden" menjadi lagu yang sering dinyanyikan di kebaktian gereja, pemakaman, dan momen-momen refleksi pribadi.

**5. Warisan Abadi**

Hingga hari ini, "In The Garden" tetap menjadi salah satu himne Injili paling populer dan diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia ("Waktu Fajar Di Taman Sepi" atau "Ku Datang Pada Yesus"). Kisah di baliknya – tentang seorang komposer yang mengalami momen persekutuan ilahi yang mendalam dan mengubahnya menjadi melodi dan kata-kata – terus menginspirasi dan mendorong orang untuk mencari hubungan pribadi yang sama dengan Sang Pencipta.

Lagu ini adalah pengingat bahwa iman bukanlah sekadar serangkaian aturan atau ritual, tetapi sebuah perjalanan personal di mana kita dapat mengalami kehadiran Tuhan yang nyata, berjalan dan berbicara dengan-Nya, dan merasakan sukacita yang tak tertandingi karena mengetahui bahwa kita adalah milik-Nya.
Kembali ke KK