Informasi Lagu
115
Nomor
la=d
Nada Dasar
Kode
KK 115
Buku
Kidung Keesaan
Nada Dasar
la=d
Ketukan
2/4 ketuk
Metronom
54
Jumlah Bait
5 bait
Pencipta Lagu
Willem Vogel (1959)
Pencipta Syair
Willem Barnard (1959)
Penerjemah
Hermanus Arie Pandopo (H.A. Van Dop) (1984)
Cross Ref.
KJ 46
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Besarkan nama Tuhan, Haleluya; kasih-Nya tak berkurang, Haleluya! Sekalipun keluhan menimpa umat-Nya, berkat-Nya ditemukan, Haleluya!
Dibri-Nya hidup baru, gelap menjadi trang; sabda-Nya besertamu di ngarai yang kelam. Hai kamu yang selalu pada-Nya berpegang, tak usah ragu-ragu: tuntunan-Nya tentram!
Di dalam kekurangan – Kyrie eleison – di tanah pembuangan di tanah Babilon, kendati musim zaman menghitam dan mendung, nama-Mu dibesarkan, pujian mendengung.
Kecapi digantungkan – Misericordia – ke pohon gandarusa, terbungkam suaranya; tetapi kasih Tuhan di Galilea akhirnya menghiburkan, Haleluya!
Besarkan nama Tuhan, Haleluya; di dunia serukan kemuliaan-Nya! Janji-Nya dikukuhkan demi manusia: besarkan nama Tuhan, Haleluya!
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — KK 115 1
Slide 2 — KK 115 2
Slide 3 — KK 115 3
Slide 4 — KK 115 4
Slide 5 — KK 115 5
Partitur / Not
Partitur Chord KK 115
Cross Reference
Sejarah Lagu
Lagu "Besarkan Nama Tuhan" (KJ 243) adalah salah satu lagu pujian yang sangat dikenal dan dicintai di gereja-gereja Indonesia. Namun, di baliknya tersembunyi sebuah kisah lintas budaya dan teologis yang menarik, melibatkan dua tokoh penting dalam dunia himnologi, baik di Belanda maupun di Indonesia.

Mari kita selami kisah detail di balik lagu ini:

### **1. Willem Barnard (Guillaume van der Graft) dan Konteks Belanda**

Lagu "Besarkan Nama Tuhan" berasal dari lagu berbahasa Belanda berjudul **"Wij Moeten Gode Zingen"** yang ditulis oleh **Willem Barnard** (lahir 1920, meninggal 2010). Willem Barnard adalah seorang teolog, pendeta Reformed, dan salah satu penyair serta penulis himne paling berpengaruh di Belanda pada abad ke-20. Ia dikenal dengan nama pena **Guillaume van der Graft**.

* **Latar Belakang dan Semangat Pembaharuan:**
Setelah Perang Dunia II, gereja-gereja di Eropa, termasuk Belanda, mengalami masa refleksi dan pembaharuan yang intens. Ada keinginan kuat untuk menghadirkan lagu-lagu gereja yang lebih relevan, puitis, dan teologis dalam, tanpa kehilangan akar tradisi. Lagu-lagu lama sering dianggap kaku atau tidak lagi relevan dengan pengalaman iman kontemporer.

* **Peran Willem Barnard:**
Barnard menjadi figur kunci dalam gerakan pembaharuan musik gereja ini. Ia adalah salah satu inisiator dan penyumbang utama dalam proyek penyusunan **"Liedboek voor de Kerken"** (Buku Nyanyian untuk Gereja-gereja), yang diterbitkan pada tahun 1973 dan menjadi buku nyanyian standar bagi banyak gereja Protestan di Belanda. Barnard memiliki talenta luar biasa dalam menggabungkan keindahan puitis dengan kedalaman teologis. Ia sering menulis lirik baru untuk melodi-melodi lama yang sudah dikenal, atau bekerja sama dengan komposer untuk menciptakan melodi baru.

* **Kelahiran "Wij Moeten Gode Zingen":**
Lagu "Wij Moeten Gode Zingen" ditulis oleh Willem Barnard pada tahun **1957**. Melodinya sendiri bukan melodi baru ciptaan Barnard, melainkan adaptasi dari melodi rakyat Belanda yang sudah ada, yang disusun oleh **Frits Mehrtens** (1922-1975) untuk "Liedboek voor de Kerken." Lagu ini adalah seruan langsung dan mendesak untuk memuji Tuhan. Liriknya mencerminkan semangat post-perang dan optimisme yang diperbarui: meskipun ada keraguan, kejatuhan, atau kesulitan, umat dipanggil untuk tetap menyanyi dan memuliakan Tuhan. Ini adalah pengingat bahwa pujian adalah respons yang tepat atas kasih dan kesetiaan Tuhan yang tak pernah padam.

Lagu ini dengan cepat menjadi populer di Belanda karena liriknya yang kuat, jujur, dan melodi yang akrab serta mudah dinyanyikan.

### **2. Willem Vogel dan Konteks Indonesia**

Di sisi lain dunia, ada seorang misionaris Belanda bernama **Willem Vogel** (lahir 1920 di Surakarta, Hindia Belanda, meninggal 2011 di Belanda) yang mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan gereja di Indonesia, khususnya dalam bidang musik gereja.

* **Latar Belakang dan Misi:**
Willem Vogel adalah seorang misionaris yang memiliki pemahaman mendalam tentang budaya dan bahasa Indonesia. Ia menyadari pentingnya lagu-lagu gereja yang dapat berbicara langsung kepada hati jemaat Indonesia, baik melalui lagu-lagu ciptaan lokal maupun terjemahan/adaptasi dari himne-himne Barat yang relevan. Ia adalah salah satu tokoh sentral di balik penyusunan buku nyanyian **"Kidung Jemaat" (KJ)**, yang diterbitkan pada tahun 1980 dan menjadi buku nyanyian yang paling banyak digunakan di gereja-gereja Protestan di Indonesia.

* **Pencarian Materi dan Peran Penerjemah/Adaptor:**
Dalam proses penyusunan Kidung Jemaat, Vogel secara aktif mencari lagu-lagu dari berbagai sumber yang dapat memperkaya khazanah musik gereja Indonesia. Ia menaruh perhatian pada perkembangan musik gereja di Belanda, termasuk lagu-lagu baru yang muncul dari gerakan pembaharuan yang dipimpin oleh Barnard dan kawan-kawan.

Ketika Vogel menemukan "Wij Moeten Gode Zingen" karya Willem Barnard, ia tentu terkesan dengan kekuatan liriknya dan relevansinya. Lagu ini menangkap esensi panggilan untuk memuji Tuhan dalam segala situasi, suatu tema universal yang resonan dengan jemaat di mana pun.

* **Adaptasi Menjadi "Besarkan Nama Tuhan":**
Willem Vogel tidak hanya menerjemahkan lirik Barnard secara harfiah. Sebagai seorang yang sangat peka terhadap bahasa dan konteks budaya Indonesia, ia melakukan **adaptasi** yang cemerlang. Ia berusaha menangkap semangat asli lagu tersebut dan menyajikannya dalam bahasa Indonesia yang mengalir indah, mudah dipahami, dan tetap berbobot teologis.

Pilihan frasa **"Besarkan Nama Tuhan"** sangatlah kuat dan langsung. Ini adalah seruan yang jelas untuk memuliakan dan meninggikan Tuhan. Meskipun ada sedikit perbedaan dalam penekanan antara "Wij Moeten Gode Zingen" (Kita harus menyanyi bagi Allah) dan "Besarkan Nama Tuhan", esensinya tetap sama: panggilan untuk memuji dan memuliakan Allah.

### **3. Warisan dan Dampak Lintas Budaya**

Lagu "Besarkan Nama Tuhan" dalam Kidung Jemaat bukan sekadar terjemahan, melainkan jembatan budaya dan teologis. Ini adalah contoh bagaimana sebuah karya seni rohani dapat melampaui batas geografis dan bahasa, menemukan makna baru dalam konteks yang berbeda.

* **Popularitas yang Lestari:**
Di Indonesia, "Besarkan Nama Tuhan" segera menjadi salah satu lagu favorit. Melodinya yang ceria namun khusyuk, serta liriknya yang mengajak pada pujian yang tulus, membuatnya cocok untuk berbagai ibadah. Lagu ini mengingatkan jemaat untuk selalu memuliakan Tuhan, dalam suka maupun duka.

* **Kolaborasi Rohani:**
Kisah di balik lagu ini adalah testimoni atas kolaborasi rohani antara dua Willem—Willem Barnard yang menciptakan lirik aslinya dengan semangat pembaharuan di Belanda, dan Willem Vogel yang dengan cerdas dan penuh dedikasi mengadaptasikannya untuk gereja di Indonesia. Keduanya memiliki visi yang sama: menghadirkan lagu-lagu yang hidup dan bermakna untuk memuliakan Tuhan.

Jadi, ketika kita menyanyikan "Besarkan Nama Tuhan", kita tidak hanya menyanyikan sebuah himne indah, tetapi juga mengenang perjalanan panjang sebuah lagu dari hati seorang penyair Belanda, melintasi samudra, dan berakar kuat di hati umat Kristiani Indonesia berkat kerja keras seorang misionaris yang visioner.
Kembali ke KK