PKJ
Kita Ini Seperti Bunga-Bunga
Masao Takenaka, Jepang, We who bear the human name
Informasi Lagu
210
Nomor
Kode
PKJ 210
Buku
Pelengkap Kidung Jemaat
Metronom
0
Pencipta Lagu
M. Karatem
Pencipta Syair
Kred Kaan
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik
3 bait
Kita ini seperti bunga-bunga berseri
tanpa nama terkenal, dirundungi banyak hal,
tanpa atap peneduh bila badai menderu.
Berbungalah, berbungalah,
hai ladang dunia!
Bahkan Raja Salomo, berbusana beledu,
tak seindah dandanannya dengan bunga di lembah.
Insan ramah dan sabar bagai bunga memekar.
Kita, bunga yang lemah di benua Asia,
membuahkan kiranya damai dan sejahtera.
Doa kita beriman, agar Tuhan berkenan!
Partitur / Not
Partitur chord belum tersedia
Sejarah Lagu
Lagu yang Anda maksud, **"Kita Ini Seperti Bunga-Bunga"** (atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan judul *We Who Bear the Human Name*), adalah salah satu lagu gerejawi yang paling menyentuh dan memiliki latar belakang sejarah yang sangat kuat, yang menghubungkan penderitaan di Jepang dengan perjuangan kemanusiaan di tempat lain.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan dan penyebaran lagu tersebut:
### 1. Pencipta Asli: Masao Takenaka (Jepang)
Lagu ini lahir dari refleksi mendalam seorang teolog dan pakar seni Kristen asal Jepang, **Profesor Masao Takenaka (1925–2006)**.
* **Latar Belakang:** Masao Takenaka adalah tokoh yang sangat peduli pada hubungan antara iman Kristen, seni, dan perjuangan keadilan sosial di Asia. Ia sangat dipengaruhi oleh realitas pahit Jepang pasca-Perang Dunia II dan semangat perdamaian.
* **Makna Teologis:** Lirik aslinya dalam bahasa Jepang ditulis dengan metafora bunga. Bunga adalah simbol kehidupan yang rapuh namun indah. Bagi Takenaka, manusia—terutama mereka yang tertindas atau terpinggirkan—bagaikan bunga di padang; mereka memiliki keindahan yang diberikan Tuhan, namun sering kali terinjak-injak oleh kekuasaan dan ketidakadilan.
### 2. "We Who Bear the Human Name" dan M. Karatem
Lagu ini kemudian dikenal di dunia internasional melalui terjemahan dan adaptasi. Nama **M. Karatem** (atau sering dikaitkan dengan **Kred Kaan** sebagai penerjemah/adaptator) muncul dalam buku-buku nyanyian gerejawi seperti *Sound the Bamboo* (kumpulan lagu gereja Asia).
* **Adaptasi:** Judul *"We Who Bear the Human Name"* (Kita yang Memikul Nama Manusia) memberikan penekanan baru yang lebih politis dan humanis. Jika lirik asli Jepang fokus pada keindahan bunga, adaptasi ini menekankan tanggung jawab moral manusia. Bahwa menjadi manusia berarti memikul martabat yang harus diperjuangkan, terutama bagi mereka yang hidup dalam penindasan.
* **Konteks Perjuangan:** Lagu ini sering dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan Dewan Gereja se-Asia (Christian Conference of Asia/CCA). Pada tahun 70-an dan 80-an, lagu ini menjadi "anthem" bagi gerakan hak asasi manusia di Asia, termasuk di Korea Selatan (melawan rezim militer), Filipina (era Marcos), dan di Indonesia dalam konteks perjuangan keadilan sosial.
### 3. Filosofi Lagu
Lirik lagu ini mengandung pesan mendalam:
* **Kerendahan Hati:** Seperti bunga yang tidak sombong meski mekar dengan indah, manusia diingatkan untuk hidup dalam kerendahan hati.
* **Solidaritas:** Frasa "Kita yang memikul nama manusia" adalah pengingat bahwa di balik perbedaan bangsa, ras, dan status sosial, kita semua memiliki satu derajat yang sama di mata Sang Pencipta.
* **Harapan di Tengah Penderitaan:** Bunga seringkali harus tumbuh di tanah yang keras. Begitu pula manusia, mereka dipanggil untuk tetap "mekar" (berkarya dan bersuara) meskipun berada dalam situasi yang tidak menguntungkan.
### 4. Mengapa Lagu ini Penting?
Lagu ini menjadi jembatan antara teologi Jepang yang halus dengan semangat perjuangan sosial di Asia. Di Indonesia, lagu ini sangat populer di lingkungan gereja-gereja beraliran oikumenis dan sering digunakan dalam ibadah yang bertema keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan (JPIC).
**Intisari dari lagu ini adalah:**
Bahwa martabat manusia itu suci. Seperti bunga yang mekar di padang, manusia hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menyatakan kemuliaan Tuhan melalui kehidupan yang saling menghargai dan berjuang melawan ketidakadilan.
Jika Anda mendengarkan melodinya, lagu ini memiliki nada yang cenderung meditatif dan tenang. Kelembutan nada tersebut sengaja kontras dengan liriknya yang tajam tentang tanggung jawab manusia, menciptakan perpaduan antara refleksi spiritual dan dorongan untuk bertindak bagi sesama.
Berikut adalah detail kisah di balik penciptaan dan penyebaran lagu tersebut:
### 1. Pencipta Asli: Masao Takenaka (Jepang)
Lagu ini lahir dari refleksi mendalam seorang teolog dan pakar seni Kristen asal Jepang, **Profesor Masao Takenaka (1925–2006)**.
* **Latar Belakang:** Masao Takenaka adalah tokoh yang sangat peduli pada hubungan antara iman Kristen, seni, dan perjuangan keadilan sosial di Asia. Ia sangat dipengaruhi oleh realitas pahit Jepang pasca-Perang Dunia II dan semangat perdamaian.
* **Makna Teologis:** Lirik aslinya dalam bahasa Jepang ditulis dengan metafora bunga. Bunga adalah simbol kehidupan yang rapuh namun indah. Bagi Takenaka, manusia—terutama mereka yang tertindas atau terpinggirkan—bagaikan bunga di padang; mereka memiliki keindahan yang diberikan Tuhan, namun sering kali terinjak-injak oleh kekuasaan dan ketidakadilan.
### 2. "We Who Bear the Human Name" dan M. Karatem
Lagu ini kemudian dikenal di dunia internasional melalui terjemahan dan adaptasi. Nama **M. Karatem** (atau sering dikaitkan dengan **Kred Kaan** sebagai penerjemah/adaptator) muncul dalam buku-buku nyanyian gerejawi seperti *Sound the Bamboo* (kumpulan lagu gereja Asia).
* **Adaptasi:** Judul *"We Who Bear the Human Name"* (Kita yang Memikul Nama Manusia) memberikan penekanan baru yang lebih politis dan humanis. Jika lirik asli Jepang fokus pada keindahan bunga, adaptasi ini menekankan tanggung jawab moral manusia. Bahwa menjadi manusia berarti memikul martabat yang harus diperjuangkan, terutama bagi mereka yang hidup dalam penindasan.
* **Konteks Perjuangan:** Lagu ini sering dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan Dewan Gereja se-Asia (Christian Conference of Asia/CCA). Pada tahun 70-an dan 80-an, lagu ini menjadi "anthem" bagi gerakan hak asasi manusia di Asia, termasuk di Korea Selatan (melawan rezim militer), Filipina (era Marcos), dan di Indonesia dalam konteks perjuangan keadilan sosial.
### 3. Filosofi Lagu
Lirik lagu ini mengandung pesan mendalam:
* **Kerendahan Hati:** Seperti bunga yang tidak sombong meski mekar dengan indah, manusia diingatkan untuk hidup dalam kerendahan hati.
* **Solidaritas:** Frasa "Kita yang memikul nama manusia" adalah pengingat bahwa di balik perbedaan bangsa, ras, dan status sosial, kita semua memiliki satu derajat yang sama di mata Sang Pencipta.
* **Harapan di Tengah Penderitaan:** Bunga seringkali harus tumbuh di tanah yang keras. Begitu pula manusia, mereka dipanggil untuk tetap "mekar" (berkarya dan bersuara) meskipun berada dalam situasi yang tidak menguntungkan.
### 4. Mengapa Lagu ini Penting?
Lagu ini menjadi jembatan antara teologi Jepang yang halus dengan semangat perjuangan sosial di Asia. Di Indonesia, lagu ini sangat populer di lingkungan gereja-gereja beraliran oikumenis dan sering digunakan dalam ibadah yang bertema keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan (JPIC).
**Intisari dari lagu ini adalah:**
Bahwa martabat manusia itu suci. Seperti bunga yang mekar di padang, manusia hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menyatakan kemuliaan Tuhan melalui kehidupan yang saling menghargai dan berjuang melawan ketidakadilan.
Jika Anda mendengarkan melodinya, lagu ini memiliki nada yang cenderung meditatif dan tenang. Kelembutan nada tersebut sengaja kontras dengan liriknya yang tajam tentang tanggung jawab manusia, menciptakan perpaduan antara refleksi spiritual dan dorongan untuk bertindak bagi sesama.