Informasi Lagu
95
Nomor
Kode
NR 95
Buku
Nyanyian Rohani
Metronom
0
Cross Ref.
KPKA 189, KPJ 205
Dengarkan di YouTube
Syair / Lirik 5 bait
Firman Hu berprintahlah sampai ujung dunia. Oleh-Nya dijadikan kita pun sekalian.
Firman Bapa yang menang, sudah menerbitkan trang. Maksud-Nya kekal tentu, perjanjian-Nya teguh.
Firman Anak, yang telah angkut utang dunia. kematian-Nya membri kita pun diampuni.
Firman Roh membebaskan, memberi kesungguhan. Kita masuk oleh-Nya, ke krajaan yang baka.
Firman hidup, datanglah, bangkitkan manusia. Bangsa-bangsa mengeluh: Datanglah perintah-Mu!
Slide Lirik 5 slide
Slide 1 — NR 95 1
Slide 2 — NR 95 2
Slide 3 — NR 95 3
Slide 4 — NR 95 4
Slide 5 — NR 95 5
Partitur / Not
Partitur Chord NR 95
Sejarah Lagu
Lagu yang Anda maksud, **"Walte, walte, nah und fern"** (dalam bahasa Indonesia sering dikenal dengan judul **"Sabda Allah, Makarti"** atau dalam nyanyian gerejawi Indonesia "Firman Allah, Berkaryalah"), adalah salah satu himne klasik Jerman yang sangat berpengaruh dalam sejarah musik gerejawi.

Berikut adalah detail kisah di balik lagu tersebut:

### 1. Penulis dan Latar Belakang
Lagu ini ditulis oleh **Jonathan Friedrich Bahnmeier** (1774–1841), seorang teolog dan pendeta Jerman. Bahnmeier adalah seorang tokoh yang hidup di masa transisi pemikiran teologis di Jerman. Ia dikenal karena dedikasinya dalam pelayanan pastoral dan penulisan puisi religius yang sederhana namun mendalam.

Lirik asli dalam bahasa Jerman, *"Walte, walte, nah und fern,"* secara harfiah berarti "Bekerjalah, bekerjalah, di dekat dan di jauh." Lagu ini ditulis pada tahun **1827**.

### 2. Konteks "Kitab Nyanyian Freylinghausen"
Perlu diklarifikasi bahwa lagu ini secara historis tidak langsung muncul di *Freylinghausensches Gesangbuch* (Kitab Nyanyian Freylinghausen) yang terbit lebih awal (1704). Namun, lagu Bahnmeier ini sering dikategorikan dalam tradisi yang sama karena semangat **Pietisme** yang diusung.

**Pietisme** adalah gerakan dalam kekristenan yang menekankan kesalehan pribadi, kerendahan hati, dan penyebaran kabar baik (penginjilan) ke seluruh dunia. Lagu "Walte, walte" adalah perwujudan dari semangat misi Pietisme tersebut: doa agar Firman Tuhan tersebar luas ("dekat dan jauh") dan mengubah hati manusia.

### 3. Makna Lirik: "Sabda Allah, Makarti"
Dalam versi bahasa Indonesia (biasanya terdapat di Kidung Jemaat atau buku nyanyian gerejawi lainnya), judulnya diubah menjadi *"Sabda Allah, Makarti"* (Makarti dalam bahasa Jawa berarti "bekerja").

Pesan utama lagu ini adalah sebuah **doa permohonan**:
* **Penyebaran Injil:** Penulis meminta agar Firman Tuhan (Sabda) tidak hanya berhenti di satu tempat, tetapi bergerak ke seluruh penjuru dunia ("nah und fern").
* **Transformasi Hati:** Lagu ini bukan sekadar tentang penyebaran fisik buku atau suara, melainkan tentang kerja Firman Tuhan dalam mengubah hati yang keras menjadi lembut, serta membimbing manusia menuju keselamatan.
* **Kedaulatan Tuhan:** Kata *Walte* (berkuasalah/bekerjalah) mencerminkan kepasrahan bahwa manusia hanyalah alat, sementara Tuhanlah yang "bekerja" melalui Firman-Nya.

### 4. Melodi dan Pengaruh
Melodi yang paling dikenal untuk lirik ini adalah gubahan yang sering dikaitkan dengan tradisi musik gereja Jerman abad ke-19. Melodinya dirancang untuk dinyanyikan secara jemaat (kongregasional) dengan tempo yang tenang namun penuh semangat (maestoso/andante).

Lagu ini menjadi sangat populer di Jerman dan negara-negara lain karena:
1. **Struktur yang sederhana:** Mudah diingat dan dinyanyikan oleh jemaat awam.
2. **Universalitas:** Pesan tentang "penyebaran Firman Tuhan" relevan bagi semua denominasi Kristen, terutama dalam konteks misi penginjilan.

### 5. Signifikansi di Indonesia
Dalam konteks gereja-gereja di Indonesia (terutama di lingkungan gereja-gereja yang menggunakan lagu-lagu berakar dari tradisi Eropa), lagu ini sering dinyanyikan dalam acara perayaan misi, pengutusan pendeta, atau ibadah minggu biasa. Kata "Makarti" yang diserap dari bahasa Jawa ke dalam judul lagu tersebut memberikan nuansa lokal yang unik, di mana "bekerjanya" Tuhan diibaratkan seperti orang yang sedang menggarap ladang agar menghasilkan buah.

**Kesimpulan:**
Lagu ini adalah sebuah doa misi. Ia lahir dari kerinduan seorang pendeta Jerman abad ke-19 agar pesan cinta kasih Tuhan (Firman/Sabda) menjangkau setiap sudut bumi. Ia adalah pengingat bahwa tugas gereja bukanlah sekadar duduk diam, melainkan memohon agar "Sabda Allah" terus "makarti" (bekerja) di dalam dan melalui kehidupan manusia.